- Para perempuan Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, punya tanah untuk bertani atau berkebun campur (agroforestry), biasa disebut pampa. Di desa itu, para perempuan juga punya Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu. Tobine Mohintuhu dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu.
- Pampa merujuk kepada kebun dengan tanaman apa saja, termasuk pohon kayu keras seperti kopi, durian, atau kakao. Selain pampa komunitas, setiap keluarga biasa punya pampa sendiri-sendiri. Setiap pampa itu para perempuan yang mengelolanya.
- Syukur Umar, Guru Besar Ekonomi Kehutanan Universitas Tadulako, Palu, mengatakan, pampa adalah istilah masyarakat Kulawi untuk kebun permanen, yang biasa mereka tanami sayur mayur dan perempuan yang mengelolanya.
- Yarni Ijo, Kepala Desa Lonca, mengatakan, kini mereka lebih mengampanyekan kedaulatan pangan dengan berbagai sosialisasi. Termasuklah, dengan membentuk Komunitas Tobine Mohintuhu itu tiga tahun silam. Selain produksi pangan, komunitas perempuan petani ini juga menjalankan simpan-pinjam.
Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu, langit cerah. Udara segar.
Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu.
Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu. Komunitas ini dari anggota sampai pengurus adalah perempuan.
Kebun itu juga berisi ladang jagung, posisi tertinggi dibanding lahan sekitar. Ada pondok kayu di tengah-tengah lahan yang mereka sebut pampa.
“Bahasa kampung sudah itu,” kata Elna Hadajuga juga Kominas Tobine kepada Mongabay, Kamis (7/5/26).
Pampa merujuk kepada kebun dengan tanaman apa saja, termasuk pohon kayu keras seperti kopi, durian, atau kakao.
“Iya, pampa semua.”

Selain pampa komunitas, setiap keluarga biasa punya pampa sendiri-sendiri. Setiap pampa itu para perempuan yang mengelolanya.
Elda bilang, pampa di sana biasa tanam jagung, padi, sayur mayur, durian, kopi, hingga kakao.
“Biasanya jagung, kalau (lahan) baru buka, buka jagung dulu,” kata Elna.
Warga Desa Lonca biasa buka lahan di sekitar mereka, tidak jauh dari pemukiman. Saat ke lahan, mereka biasa bekerja gotong royong atau mereka sebut mapalus.
Sayur mayur seperti sawi, terung, tomat, cabai, hasil dari pampa biasa mereka konsumsi untuk keluarga, kalaupun jual, kepada tetangga dekat mereka saja.
Untuk mata pencarian, mereka lebih bergantung kepada tanaman cokelat, durian, getah pinus atau madu hutan. Kalau jagung mereka jadikan pakan ternak, kadang jual.
Dulunya, mereka juga menanam kopi, tetapi sejak harga kakao mahal, mereka memilih mengganti kopi dengan kakao.
“Kopi sudah ditebang, ganti duren, ganti cokelat,” kata Elna.
Harga cokelat 2026 sekitar Rp60.000 perkg, tetapi beberapa tahun lalu bisa lebih Rp150.000 perkg. Kakao mulai masuk hitungan sejak awal 2000-an.
Kalau perempuan lebih mendominasi bekerja di kebun sayur, maka laki lebih banyak bekerja di kebun kakao dan durian.
Dulu, mereka menggunakan sistem ladang berpindah dalam bertani, kini sistem pertanian itu mulai berkurang seiring makin banyak kebutuhan, lahan tidak lagi mereka tinggalkan.
“Kalau ditinggalkan, langsung tanam coklat,” kata Elna.
Mereka hanya menaman satu jenis tanaman.
“Untuk Lonca pada umumnya, kalau buka lahan, di samping tanam cokelat, tanam rica, tanam jagung,” kata Adi Talua, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lonca saat di Kantor Desa Lonca. Kamis (7/5/26)
Semua itu mereka lakukan untuk kemandirian pangan.
Dalam mengelola lahan, mereka punya pengaturan secara adat untuk memilih tempat-tempat yang bisa ditanami komoditas tertentu, seperti di daerah rawan bencana.
“Karena itu, sudah di orang tua dulu bilang, ini jangan … ini rawan bencana, rawan erosi,” kata Amos, warga Lonca.

Dengan ada pampa mereka tak perlu membeli keperluan konsumsi sehari-hari, bahkan bisa menambah keuangan keluarga.
Syukur Umar, Guru Besar Ekonomi Kehutanan Universitas Tadulako, Palu, mengatakan, pampa adalah istilah masyarakat Kulawi untuk kebun permanen, yang biasa mereka tanami sayur mayur dan perempuan yang mengelolanya.
Berbeda dengan bonde, ini merupakan sistem pertanian berpindah-pindah atau ladang berpindah. Meskipun bonde ini juga masyarakat Kulawi lakukan, sistem ini sudah makin kurang memungkin lagi di sana, di tengah makin banyak kebutuhan lahan.
Sejak dulu, di Pampa memang lahan tanaman beragam untuk kebutuhan pangan sehari-sehari, namun dalam perkembangannya juga ada komoditas ekspor seperti kopi dan kakao.
Kakao tidak untuk konsumsi langsung oleh masyarakat, juga tidak ada industri pengolahan di Sigi. Hasil panennya menjadi komoditas ekspor.
Yarni Ijo, Kepala Desa Lonca, mengatakan, kini mereka lebih mengampanyekan kedaulatan pangan dengan berbagai sosialisasi. Termasuklah, dengan membentuk Komunitas Tobine Mohintuhu itu tiga tahun silam. Selain produksi pangan, komunitas perempuan petani ini juga menjalankan simpan-pinjam.
Kesadaran perlunya kedaulatan pangan keluarga ini makin terpicu sejak gempa bumi Palu 2018. Dalam kondisi seperti itu, makin menyadarkan pemerintah desa dan warga betapa penting berdaulat pangan, tak tergantung pihak luar.
“Saya biasa sosialisasinya itu secara umum, bahkan saya lebih tegas lagi kalau untuk ketahanan pangan. Kalau untuk di lingkup desa ini bukan hanya di perempuan saja, di semua kepala keluarga, pemuda dan pemudi Karang Taruna juga saya ajak untuk seperti itu,” katanya kepada Mongabay. Kamis (7/5/26)
Yarni mengaku, desanya juga banyak dibantu lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan kedaulatan pangan, antara lain, berupa bantuan bibit sayur.
Sejatinya, mereka tidak ingin tergantung bantuan-bantuan pihak lain. Dia ingin desanya benar-benar mandiri pangan.
“Jangan sampai nanti kita bergantung ke itu. Jadi sebaiknya memang warga itu harus punya ketahanan pangan sendiri.”

*****