Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar.
Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia setiap tahun, ditambah ratusan juta burung dan reptil. Bukan hanya dari kucing liar, tapi juga dari kucing rumahan yang dibiarkan bebas berkeliaran. Kajian U.S. Fish and Wildlife Service mengaitkan kucing dengan kepunahan sedikitnya 33 spesies.
Dampak paling parah terjadi di ekosistem pulau, di mana fauna berevolusi tanpa predator seperti kucing sehingga tidak punya pertahanan alami. Numbat di Australia Barat kini tersisa kurang dari 1.000 individu, dengan predasi kucing sebagai ancaman utama. Burung kakapo di Selandia Baru bertahan berkat upaya konservasi masif tapi tetap rentan. Di Tasmania, seekor kucing yang masuk ke fasilitas penangkaran burung beo perut oranye pada 2013 membunuh beberapa individu dari spesies yang sudah sangat tertekan.
Ancaman dari kucing tidak hanya soal predasi langsung. Kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma gondii. Di Hawaii, parasit ini berkontribusi pada kematian burung nene dan anjing laut biksu Hawaii. Di Florida, wabah leukemia kucing menyerang macan kumbang Florida pada 2000-an. Di Eropa, kawin silang kucing liar Skotlandia dengan kucing rumahan mengancam kemurnian genetik spesies liar itu secara perlahan.
Bahkan kehadiran kucing saja sudah cukup mengubah perilaku satwa liar. Penelitian menemukan satwa kecil jauh lebih aktif ketika kucing tidak ada, tapi bersembunyi dan mengurangi aktivitas mencari makan saat kucing ada di sekitar. Dalam jangka panjang, tekanan ini memengaruhi reproduksi dan kelangsungan populasi.
Berbagai strategi pengendalian sudah dicoba, dari program tangkap-steril-lepas hingga kombinasi drone, kamera termal, dan kecerdasan buatan seperti yang diterapkan di Kangaroo Island, Australia. Tapi kunci utamanya tetap pada pemilik kucing. Mengurung kucing di dalam rumah atau membatasi waktu luarnya terbukti menurunkan risiko predasi secara signifikan.
Hewan peliharaan terpopuler di dunia ternyata bisa menjadi ancaman terbesar bagi satwa yang tidak pernah memilih untuk hidup berdampingan dengannya. Dan setiap keputusan kecil pemilik kucing, apakah membiarkan kucingnya keluar atau tidak, punya konsekuensi yang jauh lebih luas dari yang pernah mereka bayangkan.