Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya.
Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi salah satu sistem sensorik paling canggih di dunia hewan, alat navigasi yang memungkinkan kucing bergerak, berburu, dan bertahan hidup bahkan dalam kegelapan total.
Leonie Richards, kepala praktik umum di Rumah Sakit Hewan U-Vet Universitas Melbourne, menjelaskan bahwa kumis kucing berfungsi sebagai alat navigasi sekaligus petunjuk arah bahaya yang akan terjadi. Secara ilmiah, kumis disebut vibrissae, berasal dari kata Latin vibrio yang berarti bergetar. Helai sensorik serupa juga tumbuh di alis, dagu, dan bagian belakang pergelangan kaki depan, di belakang cakar. “Semua punya sifat sensorik yang dapat membantu kucing mengetahui di mana mereka berada, secara spasial. Kumis menjadi organ sensorik yang ideal,” kata Richards.
Cara kerjanya sederhana tapi sangat efektif. Setiap kali kumis menyentuh sesuatu, perubahan bentuk yang terjadi diteruskan ke mekanoreseptor di folikel pada pangkal kumis. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE (Januari 2023) menjelaskan bahwa vibrissae adalah struktur tipis, meruncing, dan fleksibel yang menjadi sumber informasi sensorik penting bagi banyak spesies mamalia, berbeda dari antena serangga yang memiliki sensor di sepanjang pangkalnya.
Dengan kumis ini, kucing bisa mengetahui apakah tubuhnya cukup kecil untuk masuk ke dalam kotak atau ruang sempit, mendeteksi aliran udara untuk mengetahui kedekatannya dengan dinding atau objek lain di ruangan gelap, dan menemukan jalan tanpa harus melihat dengan jelas. “Semua berkaitan dengan getaran, aliran udara, dan sentuhan,” ujar Richards. Itulah sebabnya kucing bisa berjalan begitu yakin di tengah ruangan yang gelap total, kumisnya sudah “memetakan” objek di sekitarnya sebelum tubuhnya sempat menyentuhnya.
Kumis di bagian belakang cakar punya fungsi spesifik: menutupi titik buta penglihatan jarak dekat ketika kucing sedang menangkap mangsa, memberi gambaran posisi mangsa tepat di bawah kakinya. Kemampuan ini tidak dimiliki anjing. Meski anjing juga memiliki kumis, fungsinya tidak semenonjol, dan mereka tidak punya sensor peraba di belakang kaki seperti yang dimiliki kucing untuk membantu navigasi saat memanjat atau berlari.
Di alam liar, kumis memberi peringatan dini tentang keberadaan mangsa atau musuh potensial. Bagi kucing rumahan, fungsinya lebih sederhana tapi tetap vital: membantu menemukan mangkuk makanan atau mainan favorit di tengah kegelapan malam.
Kumis juga menjadi jendela untuk membaca suasana hati kucing. Kumis yang rileks dan terkulai menandakan kucing tenang dan bahagia. Kumis yang tegak lurus ke depan menandakan kemarahan. Kumis yang menempel kembali ke wajah menandakan ketakutan.
Dalam kasus medis tertentu, seperti abses di pipi, dokter hewan kadang harus memotong kumis untuk mendapatkan area yang bersih. Pemotongan ini tidak menyakitkan karena tidak ada ujung saraf di dalam helai kumis itu sendiri. Tapi kehilangan kumis bisa membuat kucing kebingungan dan sedikit cemas, sampai kumisnya tumbuh kembali dalam beberapa bulan, dan untuk sementara waktu, ia mungkin benar-benar menabrak dinding.