- Kungkang yang gerakannya lamban, sering disebut hewan pemalas. Namun di balik simbol kemalasannya, ada strategi evolusi unik yang ditemukan pada mamalia.
- Di balik gerakan pelan kungkang, ada DNA, yang para genetikawan menjuluki "gen loncat"; potongan-potongan kode genetik yang mampu berpindah tempat di dalam genom.
- Metabolisme yang rendah, memungkinkan kungkang bertahan dengan diet rendah kalori dari daun-daunan yang kandungan gizinya minim. Namun sisi gelapnya, kondisi ni juga membuat kungkang sangat rentan terhadap perubahan suhu.
- Kungkang dan kukang merupakan dua jenis satwa berbeda. Kukang merupakan primata nokturnal yang hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara. Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pohon, berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama di Brasil, Panama, dan Kosta Rika.
Jalannya pelan, hanya bergerak saat makan daun. Kegiatannya, nyaris tidur sepanjang hari. Inilah alasan kungkang disebut hewan pemalas.
Namun, di balik simbol malas itu, kungkang memiliki strategi evolusi paling unik. Ketika dunia berubah drastis di sekelilingnya, kungkang tetap diam di atas pohon. Bukan karena tidak bisa bergerak lebih cepat, tapi karena ia telah menemukan cara untuk tidak perlu melakukannya.
Kungkang dan kukang merupakan dua jenis satwa berbeda. Keduanya memang sama-sama bergerak lamban, sama-sama berbulu, dan namanya sama-sama membingungkan dalam Bahasa Indonesia.
Kukang (Slow Loris, Genus Nycticebus), merupakan primata nokturnal yang hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan berstatus dilindungi. Meskipun, kerap menjadi korban perdagangan ilegal karena parasnya yang menggemaskan.
Sementara kungkang, dikutip dari situs YIARI, merupakan mamalia arboreal yang hidup di pohon. Hewan ini berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama di Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Dalam Bahasa Inggris, kungkang dikenal dengan nama sloth, yang berarti “kemalasan”, karena durasi tidurnya 15-20 jam per hari.
Kungkang termasuk Ordo Pilosa, yang berkerabat dengan trenggiling bersisik dan armadillo. Kelompok ini merupakan satu garis mamalia tertua, yang telah menghuni bumi sekitar 65,5 juta tahun.

Penelitian kungkang
Para ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap kungkang, kini memiliki petunjuk mengapa jenis ini bisa bertahan hidup dengan bergerak lambat selama puluhan juta tahun. Jawabannya ada pada DNA-nya, yang oleh para genetikawan dijuluki “gen loncat”; potongan-potongan kode genetik yang mampu berpindah tempat di dalam genom.
Sebuah studi genomik terbaru berjudul “Elevated retrocopy burden and sloth-specific expansions illuminate mammalian genome evolution”, yang dipimpin Marcela Uliano-Silva dari Wellcome Sanger Institute, Inggris, bersama tim peneliti internasional dari Brasil dan Jerman, melakukan analisis komprehensif terhadap genom kungkang berjari dua (Choloepus didactylus). Mereka membandingkannya dengan puluhan mamalia lain. Laporan tersebut, diterbitkan di jurnal BMC Biology, edisi 19 Mei 2026.
Genom kungkang dipenuhi sejumlah besar transposon atau yang dalam bahasa populer disebut “gen loncat”. Transposon adalah potongan DNA yang bisa menyalin dirinya sendiri dan menyusup ke posisi baru di dalam genom.
Pada sebagian besar mamalia, termasuk manusia, transposon memang ada tapi sebagian besar sudah tidak aktif. Uniknya, pada kungkang transposonnya masih aktif, masih bergerak, dan masih membentuk ulang susunan genom.
Lebih menarik lagi, gen-gen loncat ini tidak bergerak sembarangan. Banyak di antaranya terkoneksi langsung dengan mitokondria, sebuah organel kecil di dalam sel yang berfungsi sebagai “pembangkit listrik” tubuh, tempat energi diproduksi. Mereka juga terhubung dengan jalur-jalur metabolisme, atau sistem yang mengatur bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi.
“Gen-gen loncat kungkang terhubung dengan mitokondria dan jalur metabolisme, yang mengisyaratkan keterlibatan mereka dalam evolusi metabolisme mereka yang sangat lambat,” tulis Uliano-Silva dan kolega.

Siasat genetik selama 30 juta tahun
Temuan ini makin menguat terkait usia, yakni dengan memetakan jalur evolusi secara mundur menggunakan teknik genomika. Para peneliti menemukan bahwa gen-gen loncat itu muncul sekitar 30 juta tahun lalu, tepat setelah kungkang berpisah jalur evolusinya dari trenggiling dan armadillo. Sejak saat itu, gen-gen tersebut tidak hilang. Mereka justru menjadi bagian tetap dan identitas genetik kungkang.
Para ilmuwan menjelaskan, rendahnya kebutuhan energi sel kungkang kemungkinan besar memungkinkan mutasi menumpuk dalam genom mitokondria. Dalam kondisi normal, mitokondria yang bermutasi berlebihan bisa berbahaya, tapi pada kungkang, hal itu terkompensasi oleh gen-gen loncat tersebut.
“Temuan kami menunjukkan, kungkang telah mengembangkan ‘sistem cadangan’ genetik yang membantu mengompensasi mitokondria mereka yang ‘santai’ dan mendukung gaya hidup unik mereka,” ungkap para peneliti.
Studi tentang kungkang bukan hanya soal hewan eksotis yang menarik. Ada implikasi jauh lebih luas bagi pemahaman kita tentang biologi dasar dan bahkan kesehatan manusia. Berbagai penyakit yang menjadi momok kesehatan moderen, seperti diabetes, parkinson, penuaan dini, penyusutan otot, dan bahkan beberapa jenis kanker, semuanya melibatkan disfungsi mitokondria atau gangguan produksi energi sel.
Memahami bagaimana kungkang bisa tetap sehat meski mitokondrianya “santai” dan genomnya dipenuhi gen loncat (yang pada manusia justru bisa memicu kanker) bisa membuka jendela pemahaman baru.
“Lini sel kungkang dapat menjadi model alami untuk memahami bagaimana organisme bertahan dalam kondisi energi rendah, dan apa yang salah saat penyakit terjadi.”

Studi sebelumnya berjudul “Sloth metabolism may make survival untenable under climate change scenarios”, di jurnal PeerJ (2024), mengukur laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate/RMR) kungkang. Rebecca Cliffe dari The Sloth Conservation Foundation dan kolega menemukan bahwa angka metabolisme istirahat, jauh di bawah diprediksi untuk mamalia seukuran mereka.
Metabolisme yang rendah ini memungkinkan kungkang bertahan dengan diet rendah kalori dari daun-daunan dengan kandungan gizi minim. Namun sisi gelapnya, kondisi ini juga membuat kungkang sangat rentan terhadap perubahan suhu.
Kungkang, dengan metabolisme sangat khusus dan kemampuan termoregulasi terbatas, sangat rentan terhadap krisis iklim. Jika suhu rata-rata hutan tropis Amerika Selatan dan Tengah naik, bahkan hanya beberapa derajat saja, laju metabolisme kungkang akan meningkat.
“Sementara, pasokan makanan mereka tidak akan bertambah, yang akibatnya bisa fatal bagi keberlangsungan populasi mereka,” jelas laporan tersebut.
Referensi:
Cliffe, R. N., Ewart, H. E., Scantlebury, D. M., Kennedy, S., Avey-Arroyo, J., Mindich, D., & Wilson, R. P. (2024). Sloth metabolism may make survival untenable under climate change scenarios. PeerJ, 12, e18168. https://doi.org/10.7717/peerj.18168
Uliano-Silva, M., Galante, P. A. F., Mazzoni, C. J. M., et al. (2026). Elevated retrocopy burden and sloth-specific expansions illuminate mammalian genome evolution. BMC Biology. https://doi.org/10.1186/s12915-026-02632-5
*****