- Inventarisasi di 64 titik pengamatan di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencatat lebih dari 70 jenis serangga, sebagai basis data untuk membaca kondisi ekosistem dan pengembangan ekowisata minat khusus.
- Sejumlah jenis yang ditemukan memiliki arti penting bagi konservasi, termasuk capung endemik jawa yang berstatus hampir terancam dan kupu-kupu raja helena yang masuk Appendix II CITES.
- Ekowisata di kawasan konservasi dapat memberi nilai ekonomi sekaligus mendukung pembiayaan konservasi, tetapi jumlah pengunjung, jalur, aktivitas, dan fasilitas perlu disesuaikan dengan daya dukung dan kerentanan ekologis kawasan.
- Data biodiversitas menjadi langkah awal. Ujian berikutnya adalah bagaimana temuan ilmiah diterjemahkan ke dalam pengelolaan wisata yang tetap menjaga habitat, melibatkan masyarakat, dan tidak mengurangi fungsi ekologis kawasan.
Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem.
Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengumpulan data biodiversitas di kawasan yang tengah dikembangkan untuk ekowisata minat khusus. EIGER Nature mengantongi Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) seluas 253,6 hektare di Zona Pemanfaatan TNGGP.
“Untuk sampel, kita ambil berdasarkan karakteristik kawasan seperti hutan sekunder, riparian, hutan pinus hingga area pemanfaatan. Hasilnya, hingga tahun 2025 kami menemukan lebih dari 70 jenis serangga,” kata Caesar.
Sebanyak 43 jenis yang ditemukan belum memiliki status konservasi. Jenis lainnya berstatus risiko rendah (Least Concern/LC) dan kekurangan data (Data Deficient/DD).
Di antara temuan itu terdapat capung batu bercak biru endemik jawa (Rhinocypha heterostigma) yang berstatus hampir terancam. Tim juga mencatat capung jarum Drepanosticta sundana serta kupu-kupu raja helena (Troides helena) yang masuk dalam Appendix II CITES.

Bagi Caesar, keberadaan serangga penting untuk membaca hubungan antarspesies. Serangga berperan dalam penyerbukan, jaring makanan, hingga proses yang memengaruhi kondisi tanah.
Data pemantauan pun tidak cukup dilakukan sekali. Pengumpulan data dilakukan berulang pada musim hujan dan kemarau untuk melihat perubahan kualitas lingkungan dan kemungkinan dampak aktivitas manusia.
“Repetisi ini penting agar kita punya basis data yang valid untuk menilai apakah lingkungan masih bersih atau justru sudah mengalami penurunan kualitas. Serangga inilah yang jadi indikator biologisnya,” katanya.
TNGGP sendiri memiliki luas sekitar 22,8 ribu hektare dan menjadi inti Cagar Biosfer Cibodas, salah satu cagar biosfer tertua di Indonesia yang ditetapkan UNESCO melalui program Man and the Biosphere pada 1977.
Di Zona Pemanfaatan, Caesar juga membangun insect hotel, susunan material alami seperti kayu lapuk, ranting, bambu, dan daun kering yang digunakan sebagai habitat sekaligus titik pengamatan serangga.

Berbagi Ruang di Kawasan Konservasi
Ekowisata kerap diposisikan sebagai cara mempertemukan kepentingan konservasi dan ekonomi. Namun, kegiatan wisata di kawasan konservasi membawa pertanyaan mendasar: sejauh mana manusia dapat menggunakan ruang tanpa mengganggu kehidupan satwa dan habitatnya?
Guru Besar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB University Mirza Dikari Kusrini mengatakan, aktivitas manusia dan kehidupan satwa liar tidak selalu harus berbenturan.
Keduanya dapat berbagi ruang sepanjang kegiatan manusia dibatasi berdasarkan daya dukung dan daya tampung ekologis kawasan.
“Dalam konteks pengelolaan taman nasional, model pariwisata harus berbasis minat khusus. Targetnya adalah pengunjung yang memang ingin mempelajari dan menyaksikan biodiversitas secara langsung,” ujar Mirza.
Konsep itu berbeda dengan pariwisata massal. Jumlah pengunjung, jalur yang digunakan, jenis aktivitas hingga pembangunan fasilitas perlu disesuaikan dengan karakter dan kerentanan masing-masing kawasan.

Zona pemanfaatan dalam taman nasional memang memungkinkan kegiatan wisata. Menurut Mirza, pemanfaatan tersebut dapat memberi nilai ekonomi bagi kawasan sekaligus membantu pembiayaan konservasi.
“Konservasi memang mahal. Kalau kita ingin memastikan satwa kita aman dan habitatnya bagus, ada biaya yang harus dikeluarkan,” katanya.
Dalam wisata minat khusus, biodiversitas justru menjadi daya tarik utama yang perlu dijaga agar kegiatan wisata tidak merusak sumber daya yang menjadi basisnya.
Mirza menilai pengelolaan kawasan konservasi juga perlu adaptif. Pengelola tidak cukup hanya menjaga batas kawasan, tetapi perlu melakukan pemantauan habitat dan biodiversitas serta mengatur kegiatan manusia di dalamnya.
Di sisi lain, keterlibatan entitas pengelola profesional, –seperti pemegang lisensi kegiatan lingkungan, dapat membantu tugas taman nasional yang selama ini dihadapkan pada luasnya wilayah dan keterbatasan jumlah petugas.
Mirza mengatakan dalam persoalan ini, ekowisata dapat menjadi instrumen daya tawar, sebuah jalan tengah yang menjembatani kepentingan pemanfaatan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
“Menjaga itu bukan berarti membiarkan kawasan begitu saja. Ada tindakan yang perlu dilakukan, terutama dalam tata kelolanya,” katanya.

Menimbang Biaya Ekologis
Potensi ekonomi ekowisata global memang besar. Lembaga riset Fortune Business Insights memperkirakan nilai pasar ekowisata global mencapai 295,83 miliar dollar AS pada 2025 dan dapat tumbuh hingga 1,12 triliun dollar AS pada 2034. Tetapi bagaimana agar alam tetap terjaga?
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Handoyo, saat dijumpai menyebut bahwa di sejumlah tempat, ekowisata memang dapat memberi insentif bagi perlindungan ekosistem.
Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya berlaku bagi satu kawasan. Pengalaman pengembangan wisata berbasis alam di berbagai tempat menunjukkan bahwa manfaat ekonomi perlu terus ditimbang bersama dampak ekologis dan sosialnya.
“Dalam prinsip ekowisata, kawasan tidak boleh diubah secara masif. Konsepnya pun bukan pariwisata massal (mass tourism). Tujuannya bukan semata-mata memaksimalkan pendapatan dan valuasi nilai ekonomi, ada sisi ekologisnya yaitu perlindungan ekosistem,” sebutnya.
Pelibatan warga lokal pun jadi mutlak, karena merekalah yang paling merasakan jika alam menjadi rusak.
Ia mencontohkan penelitiannya di Sumatra Selatan. Ketika ekosistem rawa rusak, ikan yang sebelumnya dapat diperoleh masyarakat sebagai bagian dari sumber pangan sehari-hari tidak lagi tersedia.
“Ikan yang dulunya masyarakat konsumsi secara gratis, kemudian setelah rawa itu hancur, masyarakat harus membeli ikan sekarang tiap harinya,” katanya.
Kebutuhan menjaga prinsip tersebut menjadi semakin penting jika melihat tekanan yang lebih luas terhadap bentang alam di Kabupaten Bogor. Tekanan itu tidak seluruhnya berkaitan dengan kegiatan wisata, tetapi menunjukkan kondisi ekologis kawasan tempat berbagai aktivitas ekonomi berlangsung.
Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hanya tersisa sekitar 14 persen dari total luasan sekitar 38.000 hektare.
Di Kecamatan Megamendung dan Cisarua, Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat sekitar 310 hektare hutan mengalami kerusakan sepanjang 2017–2024. Sekitar 208 hektare berubah menjadi perkebunan, 26 hektare menjadi lahan terbangun, dan 75 hektare menjadi lahan terbuka.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem juga akan membawa biaya yang kerap tidak masuk dalam perhitungan ekonomi.

***
Apa yang dilakukan Caesar dengan mencatat data biodiversitas menjadi langkah penting untuk mengenali kekayaan hayati sekaligus membaca kondisi ekosistemnya.
Tetapi, data baru langkah awal. Ketika kawasan konservasi juga menjadi ruang ekonomi berbasis wisata, tantangan berikutnya adalah bagaimana sains bertemu dengan manajemen ruang.
Serangga-serangga kecil yang dicatat Caesar hari ini dapat menjadi salah satu penanda untuk menjawab pertanyaan itu kelak: apakah kualitas hutan tetap terjaga ketika semakin banyak manusia datang untuk menikmatinya.
*****
Foto utama: Kupu-kupu rambat biasa (Loxura atymnus), salah satu kelompok serangga yang dinventarisasi di Zona Pemanfaatan lokasi Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Foto : Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia
Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung