Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun ulang lingkungan purba yang sudah lama hilang, termasuk mengungkap keberadaan hewan-hewan berukuran raksasa yang dulu menghuninya.
Di tengah Gurun Sahara yang kering, tersimpan bukti bahwa kawasan tersebut pernah memiliki dunia yang sama sekali berbeda. Jutaan tahun lalu, sebagian Afrika Barat dilintasi laut dangkal yang menjadi habitat ikan, penyu, buaya purba, dan seekor ular air berukuran luar biasa bernama Palaeophis colossaeus. Ular purba ini diperkirakan dapat mencapai panjang 8,1 hingga 12,3 meter, namun angka tertinggi itu bukan hasil pengukuran kerangka lengkap. Para ilmuwan memperolehnya dari beberapa ruas tulang belakang saja, sebab fosil Palaeophis colossaeus yang diketahui hingga kini belum cukup lengkap untuk memperlihatkan bentuk seluruh tubuhnya.
Bagaimana Ukuran Raksasa Ini Diperkirakan
Palaeophis colossaeus hidup pada kala Eosen, sekitar 56 hingga 33,9 juta tahun lalu, ketika permukaan laut lebih tinggi dan sebagian Afrika Utara serta Afrika Barat terhubung oleh perairan yang dikenal sebagai Trans-Saharan Seaway. Fosilnya ditemukan dalam endapan laut dangkal Formasi Tamaguelelt di Mali, kawasan dengan lapisan fosfat yang menunjukkan lingkungan pesisir yang produktif. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh paleontolog Prancis Jean-Claude Rage pada 1983, dan termasuk dalam Palaeophiidae, kelompok ular purba yang telah punah dengan ukuran tubuh yang sangat beragam.
Pada 2018, tim peneliti yang dipimpin Jacob A. McCartney menganalisis ulang fosil ular dari endapan Paleogen di Mali dengan membandingkan ukuran vertebra Palaeophis colossaeus terhadap hubungan antara ukuran vertebra dan panjang tubuh pada ular yang masih hidup saat ini. Dua bagian vertebra dipakai dalam perhitungan, yaitu lebar antara titik persendian di sisi tulang dan lebar cotyle, permukaan cekung tempat satu ruas bertemu ruas berikutnya. Dari dua fosil berbeda, model tersebut menghasilkan perkiraan panjang 8,1 meter dan 12,3 meter. Kedua angka itu bukan rentang ukuran satu individu, melainkan hasil dari dua spesimen dengan ukuran vertebra yang berbeda.

Peneliti juga mencatat sejumlah keterbatasan dalam perhitungan ini. Posisi pasti setiap vertebra dalam tubuh dan jumlah total ruas tulang belakang ular ini belum diketahui, dan ukuran Palaeophis colossaeus berada di luar rentang data ular modern yang menjadi pembanding, sehingga hasilnya termasuk ekstrapolasi. Karena itu, angka 12,3 meter sebaiknya dipahami sebagai estimasi tertinggi berdasarkan bukti yang tersedia, bukan ukuran yang sudah dipastikan dari kerangka utuh. Sebagai perbandingan, Titanoboa cerrejonensis dari Kolombia diperkirakan memiliki panjang serupa, sekitar 12 hingga 13 meter, dengan fosil yang lebih lengkap termasuk bagian tengkorak, meski tubuh lengkapnya juga belum ditemukan. Penelitian utama 2018 tidak memberikan estimasi massa tubuh Palaeophis colossaeus, sehingga tidak ada dasar untuk menyebut beratnya mencapai angka tertentu seperti 1.000 kilogram.
Yang Masih Menjadi Teka-Teki
Anatomi vertebranya memberi petunjuk bahwa Palaeophis colossaeus beradaptasi dengan kehidupan di air. Permukaan tempat tulang rusuk menempel menghadap lebih ke bawah, sehingga rusuk dapat berada lebih dekat di bawah tulang belakang dan tubuhnya menjadi lebih sempit. Namun vertebranya tetap lebar dan tidak menunjukkan tubuh yang sangat pipih seperti pada beberapa anggota Palaeophiidae lain yang lebih khusus hidup di laut, sehingga peneliti belum bisa memastikan apakah ular ini sepenuhnya hidup di laut atau juga menghuni perairan pesisir, muara, dan sungai.
Makanan Palaeophis colossaeus juga masih belum diketahui karena belum ada tengkorak atau gigi yang ditemukan. Tanpa bagian tersebut, ilmuwan tidak dapat memastikan lebar bukaan mulut, bentuk gigi, atau cara ular ini menangkap mangsa. Endapan di kawasan yang sama mengandung fosil ikan, penyu, mamalia, dan dyrosaurid, kelompok reptil mirip buaya yang hidup di perairan, sehingga hewan-hewan tersebut diduga menjadi mangsa potensial, meski belum ada bukti langsung. Ukurannya yang besar juga membuat individu dewasa kemungkinan hanya memiliki sedikit pemangsa, dengan hiu besar dan dyrosaurid berukuran besar sebagai kandidat yang mungkin mampu menyerangnya.

Karena ular termasuk hewan berdarah dingin yang metabolismenya dipengaruhi suhu lingkungan, ukuran tubuh Palaeophis colossaeus turut mendukung gambaran bahwa wilayah tropis pada awal Paleogen lebih panas daripada sekarang, dengan sejumlah penelitian memperkirakan suhu tahunan rata-rata saat itu mencapai sekitar 30 hingga 34 derajat Celsius. Namun hubungan antara suhu dan ukuran tubuh pada ular air belum dipahami sebaik pada ular darat, karena ketersediaan makanan, luas habitat, dan kadar oksigen turut memengaruhi ukuran tubuh.
Berdasarkan bukti yang ada, Palaeophis colossaeus tetap menjadi anggota terbesar Palaeophiidae yang diketahui hingga saat ini, dengan panjang yang mungkin mendekati 12 meter. Namun sebagian besar tubuhnya, mulai dari tengkorak, tulang rusuk, ekor, hingga massa tubuh dan pola makannya, masih belum terungkap. Penemuan fosil yang lebih lengkap di masa depan berpotensi mengubah banyak perkiraan yang saat ini masih bersifat sementara.
McCartney, J. A., Roberts, E. M., Tapanila, L., & O’Leary, M. A. (2018). Large palaeophiid and nigerophiid snakes from Paleogene Trans-Saharan Seaway deposits of Mali. Acta Palaeontologica Polonica, 63(2), 207-220. https://doi.org/10.4202/app.00442.2017