Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. “Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,” katanya.
Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, ikan ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimasak untuk konsumsi pribadi, kulitnya yang kasar dipakai untuk mengamplas sampan. Tapi bagi para ilmuwan, ikan buntal air tawar ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: bukti biologis tentang sungai purba yang pernah membentang jutaan tahun lalu, menghubungkan Belitung dengan Kalimantan jauh sebelum kedua wilayah ini terpisah oleh laut.
Menurut jurnal Keim dkk. (2021), ikan buntal air tawar dari genus Pao tersebar dari lembah Sungai Mekong di Indochina hingga Sumatera. Di perairan air tawar Indonesia bagian barat, ada empat spesies yang teridentifikasi: P. bergii di Kalimantan Barat, P. hilgendorfii di Kalimantan Timur, P. leiurus dari Thailand hingga Jawa, dan P. palembangensis di anak-anak Sungai Musi, Palembang. Dari keempatnya, hanya P. bergii dan P. hilgendorfii yang tidak beracun dan aman dikonsumsi.
Yang mengejutkan, spesies di Tebat Rasau justru lebih mirip dengan P. hilgendorfii dari Kalimantan Timur, bukan dengan P. bergii dari Kalimantan Barat yang secara geografis jauh lebih dekat ke Belitung. “Ikan buntal air tawar di Tebat Rasau memiliki morfologi dan etologi pemangsa yang sangat mirip dengan spesies Kalimantan Timur, P. hilgendorfii,” tulis jurnal tersebut. Kemiripan ini terlihat dari bentuk tubuh memanjang hingga bulat telur, posisi mata, serta sifat predator yang agresif, sesuatu yang juga pernah dicatat Nieuwenhuis pada 1900 berdasarkan informasi dari orang Dayak tentang P. hilgendorfii.
Di Tebat Rasau, ikan buntal ini hampir tidak punya predator selain manusia. Nasidi, Ketua Komunitas Adat Tebat Rasau, menyebut bahwa saat membedah perut ikan toman dan gabus, predator utama di rawa ini, mereka belum pernah menemukan ikan buntal di dalamnya. Justru sebaliknya, ikan buntal yang berani memangsa anak-anak ikan toman dan gabus, bersembunyi di antara kumpai sambil menunggu mangsa lewat. “Terdengar tenang, tapi ia perenang cepat, serta agresif saat memangsa,” kata Nasidi.
Pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa spesies di Belitung lebih dekat dengan kerabatnya di Kalimantan Timur daripada Kalimantan Barat yang lebih dekat secara geografis? Jawabannya ada di sejarah geologi Pleistosen. Saat permukaan laut jauh lebih rendah, terdapat dua sistem sungai purba besar di Sundaland. Sistem sungai timur mencakup sebagian besar sungai di Kalimantan, sementara sistem sungai barat mencakup Sumatera hingga Mekong, tanpa menyentuh Kalimantan. Tebat Rasau, menurut penelitian ini, adalah bagian yang tersisa dari sistem sungai timur tersebut, yang menjelaskan mengapa ikan buntalnya lebih dekat secara biologis dengan Kalimantan Timur.
Sebagian besar jejak sungai purba ini sudah tenggelam di bawah Laut Jawa sejak akhir Zaman Es, sekitar 11.000 hingga 10.000 SM. Tebat Rasau adalah salah satu sisa yang masih bertahan, ditetapkan sebagai Geosite Belitong UNESCO Global Geopark sejak 2021.