Alam kerap menyimpan strategi predasi yang tidak terduga, dan laba-laba termasuk kelompok hewan yang paling banyak mengembangkan cara unik untuk menangkap mangsa, mulai dari jaring lengket, jaring pelontar, hingga jebakan yang meniru gerakan mangsanya sendiri. Sebagian besar strategi ini berevolusi untuk menghadapi mangsa yang jauh lebih kecil dan lemah dibanding pemangsanya. Namun, temuan terbaru menunjukkan ada laba-laba yang justru mengembangkan perangkap untuk menaklukkan mangsa yang jauh lebih berbahaya daripada dirinya sendiri.
Di Australia, para peneliti menemukan spesies laba-laba yang membangun perangkap sutra dengan mekanisme pegas paling kuat yang pernah tercatat pada laba-laba. Perangkap ini dirancang khusus untuk menangkap satu jenis mangsa saja, yaitu semut rangrang atau green tree ant (Oecophylla smaragdina), salah satu semut paling agresif di benua tersebut.
Spesies laba-laba yang belum diberi nama ilmiah lengkap ini disebut sementara sebagai “ballista spider” atau “laba-laba ketapel” dan masuk dalam genus Propostira. Penelitian yang dipimpin Ajay Narendra dari Macquarie University dan Jonas O. Wolff dari University of Greifswald ini dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 2026.
Semut rangrang dikenal sangat teritorial dan mampu mencengkeram permukaan dengan kekuatan lebih dari seratus kali bobot tubuhnya sendiri. Koloninya bisa mencapai lima juta pekerja dalam satu sarang. Bagi kebanyakan predator, mengambil satu ekor semut dari kerumunan seagresif ini bukan perkara mudah. Namun laba-laba ini justru memanfaatkan sifat agresif semut tersebut sebagai pemicu perangkapnya sendiri.
Cara Kerja Perangkap
Pengamatan dilakukan pada pohon-pohon di sepanjang jalur jelajah semut rangrang. Pada siang hari, laba-laba bersembunyi di balik daun. Sekitar 30 menit setelah matahari terbenam, laba-laba mulai bekerja membangun perangkapnya.
Laba-laba turun menggunakan untaian sutra dan merajut susunan benang berbentuk kipas, terdiri dari 15 hingga 60 helai yang dijalin rapat. Benang-benang ini ditambatkan ke permukaan dan ditarik kembali ke titik pusat jaring. Di titik tambatan itu, laba-laba membentuk sebuah kerucut kecil dari sutra, lalu membungkusnya dengan lapisan sutra yang lebih halus. Setelah itu, laba-laba mundur dan menunggu beberapa sentimeter di atasnya.
Dari 15 individu laba-laba yang diamati, semut rangrang tertarik mendekati kerucut sutra yang baru selesai dibungkus dalam waktu 5 hingga 55 detik. Peneliti menduga laba-laba mungkin menambahkan senyawa kimia yang menyerupai feromon pada tahap pembungkusan terakhir, meskipun hal ini belum dikonfirmasi secara kimiawi. Menariknya, tiga spesies semut lain yang hidup di pohon yang sama melewati kerucut tersebut tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Ketika seekor semut rangrang mendekat, ia akan meraba kerucut dengan antenanya sebentar, lalu bereaksi sesuai kebiasaannya, yaitu menyerang. Semut mengangkat bagian belakang tubuhnya dan menggigit sutra tersebut. Gigitan inilah yang menjadi pemicu perangkap.
Dalam waktu sekitar 42 milidetik, jauh lebih cepat dari yang bisa ditangkap mata manusia, kerucut sutra terlepas dan untaian benang yang tadinya tertarik kencang melontar balik seperti pegas yang dilepaskan. Semut yang masih menggigit kerucut tersebut terangkat dari permukaan dan terlempar ke atas, bisa mencapai jarak sekitar 28 sentimeter, sebelum sempat menyadari apa yang terjadi. Barulah setelah itu laba-laba mendekat untuk membungkus mangsanya dengan sutra.
Kekuatan di Balik Perangkap
Kerucut sutra tersebut bekerja seperti pegas yang menyimpan energi elastis dan melepaskannya secara hampir instan. Peneliti menghitung daya keluaran puncak dari perangkap ini dan mendapati angkanya jauh melampaui kemampuan otot semata. Perangkap ini disebut mengungguli seluruh mekanisme jaring laba-laba bertipe pegas yang pernah tercatat, termasuk milik laba-laba slingshot, dan diperkirakan berevolusi secara independen dari mekanisme lainnya.
Kekuatan ekstrem ini diperlukan karena cengkeraman semut rangrang yang sangat kuat. Perangkap harus mampu mengatasi resistensi tersebut sebelum bisa mengangkat semut dari permukaan, yang menjelaskan mengapa dibutuhkan ratusan untaian benang yang dijalin bersama.
Dari total 35 kali pengamatan dalam penelitian ini, semut rangrang adalah satu-satunya jenis semut yang berhasil ditangkap. Peneliti juga menguji reaksi spesies semut nokturnal lain dari pohon yang sama saat laba-laba sedang menunggu, dan tidak satu pun yang bereaksi maupun tertangkap.
Para peneliti menyebut temuan ini sebagai kemungkinan satu-satunya perangkap laba-laba yang menunjukkan preferensi kuat terhadap satu spesies mangsa saja, yaitu mangsa yang berbahaya, bersenjata alami kuat, dan dikelilingi jutaan anggota koloni yang siap membalas. Alih-alih menghindari risiko tersebut, laba-laba ini justru mengubahnya menjadi sumber makanan yang andal sepanjang tahun, sebuah peluang yang jarang dimanfaatkan predator lain.
Sifat agresif yang selama ini menjadi senjata utama semut rangrang justru menjadi faktor yang membuatnya mudah dikenali dan ditangkap oleh laba-laba ini.
**
Referensi:
Narendra, A., Joshi, P., Liprandi, D., Anderson, G. J., & Wolff, J. O. (2026). Ballistic high-powered spider webs overcome dangerous prey defenses. Current Biology, 36, R691–R692.