<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=vitri-angreni&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/vitri-angreni/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 16 Jun 2026 17:06:39 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Hutan Gambut Rawa Tripa Terbakar Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 17:06:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16170003/Rawa-Tripa1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129337</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap kembali membumbung di gambut Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Peraturan Daerah atau Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 menetapkan Rawa Tripa sebagai kawasan lindung dengan ketebalan gambut lebih dari tiga meter. Hasil pantauan citra satelit yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), menunjukkan luas tutupan hutan yang hilang di kawasan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/">Hutan Gambut Rawa Tripa Terbakar Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap kembali membumbung di gambut Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Peraturan Daerah atau Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 menetapkan Rawa Tripa sebagai kawasan lindung dengan ketebalan gambut lebih dari tiga meter. Hasil pantauan citra satelit yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), menunjukkan luas tutupan hutan yang hilang di kawasan ini meningkat. Tahun 2021 sekitar 36 hektar, 2022 (69 hektar), dan 2023 (210 hektar). “Pada 2024 sebanyak 644 hektar dan sepanjang 2025 tercatat 997 hektar. Secara kumulatif, luas tutupan hutan yang hilang periode 2021–2025 mencapai 1.955 hektar,” kata Lukmanul Hakim, Manajer Geographic Information System (GIS) Yayasan HAkA, Senin (15/6/2026). Data ini memperlihatkan, tekanan terhadap Rawa Tripa semakin masif dari tahun ke tahun. “Rawa Tripa merupakan habitat penting orangutan sumatera dan menyimpan karbon bernilai tinggi. Perlu langkah cepat dari seluruh pihak untuk menyelamatkan kawasan gambut ini.” Rawa Tripa kembali terbakar yang merupakan kejadian tahunan. Foto: Dok. APEL Green Aceh. Yayasan APEL Green Aceh mencatat, hingga pertengahan Juni 2026 sekitar 334 hektar  gambut Rawa Tripa terbakar dengan 332 titik panas terdeteksi. “Ini bukan peristiwa musiman, melainkan masalah struktural berulang setiap tahun,” jelas Rahmat Syukur, Direktur APEL Green, Senin (15/6/2026). Dalam banyak kasus, kebakaran lahan berkaitan erat dengan aktivitas manusia, baik melalui pembukaan lahan, pengeringan gambut, kelalaian, maupun lemahnya pengawasan terhadap area yang rentan terbakar. &#8220;Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Harus ditelusuri siapa yang menguasai lahan, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang lalai hingga kebakaran meluas.&#8221; Rahmat menambahkan, adanya aktivitas terorganisir di Rawa Tripa terlihat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/hutan-gambut-rawa-tripa-terbakar-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Pola Tanam Ramah Lingkungan untuk Pangan Aman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 14:50:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/03233649/Petani-di-Ternate-Mulai-Gunakan-Pupuk-Organik-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129332</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Bagi para pegiat pangan dan lingkungan, kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat.  Untuk itu, perlu mendorong gerakan menanam ramah lingkungan agar produksi pangan aman. “Tanah menjadi sangat kritis. Ibaratnya kita berbudidaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/">Dorong Pola Tanam Ramah Lingkungan untuk Pangan Aman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Bagi para pegiat pangan dan lingkungan, kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat.  Untuk itu, perlu mendorong gerakan menanam ramah lingkungan agar produksi pangan aman. “Tanah menjadi sangat kritis. Ibaratnya kita berbudidaya di tanah itu kalau nggak diberi pupuk nggak akan berhasil karena memang sudah jenuh. Contoh ketika main ke sawah,  masihkah kita sering menemukan ada belut, ada cacing, atau ada lumpur yang cukup tebal di dalam sawah? Sudah sangat jarang,” kata Sukmi Alkausar, Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI). Kondisi hari ini, katanya,  dari sistem pertanian kimia yang mulai Indonesia terapkan sejak 1960an, sebagai revolusi hijau. Sistem pertanian kimia ini membuat petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Dari data Food Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dunia, pada 2022, Indonesia tercatat sebagai negara posisi ketiga pengguna pestisida kimiawi terbesar, setelah Brazil dan Amerika Serikat. Tingginya penggunaan pestisida ini menjadi salah satu faktor berkontribusi degradasi lahan dan meningkatnya risiko kontaminasi pada rantai pangan. Dampak pertanian kimia, katanya, tak hanya pada lingkungan dan para petani yang terpapar zat kimia berbahaya juga hasil produksi pertaniannya. Buah murbei yang ditanam dalam pot di pekarangan rumah secara alami. Pupuk gunakan kompos maupun pupuk kandang. Foto: Sapariah Saturi/Mongabay Indonesia Kesadaran pangan aman masih terbatas Rentannya kontaminasi akibat pemakaian bahan kimia pada hasil produksi pertanian ini juga Sri Palupi dari The Institute for Ecosoc Rights, tegaskan. Dia mengatakan,  produksi pangan di Indonesia sudah tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/dorong-pola-tanam-ramah-lingkungan-untuk-pangan-aman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ke Mana Air Itu Mengalir?  Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 13:02:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Aziz Fardhani Jaya *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16130959/Foto-Udara-Sungai-Sagea-yang-keluar-dari-Gua-Batulubang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129311</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam tiga tahun terakhir, air di sungai Sagea di Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengalami perubahan mencolok. Setiap musim hujan, air sungai yang muncul di Gua Batulubang kerap berubah menjadi oranye kecoklatan akibat lumpur yang terbawa arus. Padahal sebelumnya sungai ini dikenal karena kejernihan airnya yang berwarna biru. Setidaknya sebagian dari sumber perubahan ini terjawab dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/">Ke Mana Air Itu Mengalir?  Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam tiga tahun terakhir, air di sungai Sagea di Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengalami perubahan mencolok. Setiap musim hujan, air sungai yang muncul di Gua Batulubang kerap berubah menjadi oranye kecoklatan akibat lumpur yang terbawa arus. Padahal sebelumnya sungai ini dikenal karena kejernihan airnya yang berwarna biru. Setidaknya sebagian dari sumber perubahan ini terjawab dari hasil investigasi Forest Watch Indonesia pada September 2023. Riset citra satelit menunjukkan adanya hubungan antara kekeruhan aliran sungai Sagea dengan deforestasi sekitar 392 hektare di bagian hulu yang merupakan konsesi tambang nikel pada periode 2021-2023. Endapan lumpur tersebut menyebabkan peningkatan suplai sedimen ke sungai. [1] Namun temuan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan utama. Jika lumpur dan sedimen berasal dari kawasan hulu, bagaimana material itu bisa keluar dari Gua Batulubang yang merupakan wilayah di hulu sungai? Lebih jauh lagi pertanyaan besar muncul: Dari mana sebenarnya sumber aliran sungai Sagea berasal? Seberapa luas daerah tangkapan air yang menyuplai sistem ini? Lalu, bagaimana perubahan di hulu dapat memengaruhi air di hilir dalam waktu relatif cepat? Foto udara sungai di bagian hulu yang hilang dan masuk ke dalam Gua Legaelol. Dok: Save Sagea Karst Sagea yang Kompleks Sagea lebih sering dikenal sebagai tujuan wisata air jernih di mulut Gua Bokimoruru. Banyak orang datang untuk melihat air biru yang keluar dari gua, berenang, atau menikmati lanskap sungai yang tenang. Tetapi di balik pemandangan itu, Sagea adalah sebuah bentang alam karst tropis yang menyimpan sistem air bawah tanah yang kompleks. Kawasan karst Sagea tersusun atas perbukitan batugamping tua berumur sekitar 65&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/ke-mana-air-itu-mengalir-dari-gua-legaelol-ke-sungai-sagea-jejak-air-yang-ungkap-ancaman-di-hulu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/07101454/evakuasi-harimau-sumatra-di-Palupuah-Agam-22-Mei-2026_Dokumentasi-BKSDA-SUmbar-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129226</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, hutan indonesia, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di Sumatera Barat (Sumbar). Sepanjang 2025, lebih 20 kasus konflik tersebar di beberapa kabupaten di Sumbar, antara lain, Kabupaten Agam, Pasaman dan Solok Selatan.  Terbaru, pada 21 Mei, harimau  anakan kena jerat babi di Pasaman,  sehari setelah itu, anakan harimau masuk kandang jebak di Agam. Kerusakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/">Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di Sumatera Barat (Sumbar). Sepanjang 2025, lebih 20 kasus konflik tersebar di beberapa kabupaten di Sumbar, antara lain, Kabupaten Agam, Pasaman dan Solok Selatan.  Terbaru, pada 21 Mei, harimau  anakan kena jerat babi di Pasaman,  sehari setelah itu, anakan harimau masuk kandang jebak di Agam. Kerusakan hutan jadi salah satu pemicu hewan belang ini keluar dari habitatnya. Analisis citra satelit sentinel oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI menemukan 20.000 hektar hutan hilang di Ranah Minang selama dua tahun belakangan (2023-2025). Pada 2023 luas tutupan hutan 1.752.567 hektar, berkurang menjadi 1.731.672 hektar pada 2025. Di kawasan konservasi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumbar mengamini kerusakan yang terjadi. Misal, di Cagar Alam (CA) Malampah, CA Barisan, CA Panti, Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang dan CA maninjau. “Ada penebangan, penambangan, illegal logging dan pembukaan kebun, tingkat kerusakan ada yang sudah parah, ada yang masih bisa tidak dilakukan rehab dan ada yang hanya butuh pengamanan saja,” kata Antonius Vevri, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Sumbar. Ade Putra, Kepala Resort Maninjau BKSDA Sumbar, menyebut, masih terdapat aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perambahan, perburuan, perkebunan maupun pertambangan di beberapa kawasan konservasi di Agam ataupun Pasaman. “Alih fungsi lahan dari hutan jadi non hutan menjadi salah satu penyebab interaksi negatif satwa liar, khususnya harimau,” katanya. Kondisi ini menjadi sorotan Walhi Sumbar. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sumbar, mengkritik lemahnya upaya perlindungan in-situ. “Lemah karena pada faktanya kawasan-kawasan habitat harimau itu sudah terfragmentasi mulai dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/harimau-makin-terdesak-ketika-hutan-sumatera-barat-terus-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 05:32:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Onrizal *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16051601/Diperkirakan-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-akan-terus-berlangsung.-Sebab-terus-dilakukan-pengeringan-rawa-gambut-untuk-perkebunan-dan-pertanian.-Foto-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129287</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, huhutan indonesia, Lahan Basah, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap musim kemarau, sebagian warga di Sumatra dan Kalimantan biasanya kembali menjalani &#8216;ritual&#8217; yang seharusnya sudah berakhir: mata perih, napas sesak, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan masker menjadi barang wajib. Fenomena itu sering disebut sebagai &#8216;kabut asap&#8217;, seolah sesuatu yang wajar dan telah lama kita terima. Padahal asap itu bukan hasil peristiwa alam, melainkan konsekuensi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/">Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap musim kemarau, sebagian warga di Sumatra dan Kalimantan biasanya kembali menjalani &#8216;ritual&#8217; yang seharusnya sudah berakhir: mata perih, napas sesak, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan masker menjadi barang wajib. Fenomena itu sering disebut sebagai &#8216;kabut asap&#8217;, seolah sesuatu yang wajar dan telah lama kita terima. Padahal asap itu bukan hasil peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari tata kelola lahan gambut yang keliru. Gambut dikeringkan dan dikonversi, lalu menjadi sangat rentan terbakar. Indonesia sendiri memiliki gambut tropis yang menyimpan cadangan karbon sangat besar dan berperan sebagai “spons” lanskap: menyimpan air saat hujan dan melepaskannya perlahan saat kering. Ketika gambut dikeringkan untuk perkebunan atau pembukaan lahan, proses oksidasi meningkat, permukaan tanah ambles (subsidence), dan risiko kebakaran melonjak. Pengelolaan gambut seharusnya tidak lagi dipandang sebagai program lingkungan semata, program pembasahan kembali gambut (rewetting) adalah bagian dari investasi kesehatan publik. Api di gambut tidak selalu terlihat; ia bisa merambat di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap pekat berhari-hari. Asap yang terhirup itu pun bukan hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal dekat titik api. Partikel halus (PM2.5) dari kebakaran gambut dapat terbawa angin lintas kabupaten, provinsi, bahkan lintas negara. Studi tentang dampak kebakaran gambut di Indonesia menunjukkan beban kesehatan yang jauh dari kecil: sebuah kajian menghitung bahwa polusi PM2.5 dari kebakaran gambut menyebabkan, rata-rata, sekitar 33.100 kematian dini pada orang dewasa dan 2.900 kematian dini pada bayi setiap tahun (untuk Sumatra dan Kalimantan), disertai ribuan rawat inap, ratusan ribu kasus asma berat pada anak, serta jutaan hari kerja yang hilang (Hein dkk., 2022). Ketika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-pembasahan-gambut-bukan-hanya-masalah-lingkungan-tapi-investasi-untuk-kesehatan-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Satgas Taman Nasional dan Sinyal Potensi Konflik Kepentingan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 01:45:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Firdaus Cahyadi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/07083424/7.-Ekspedisi-Wallacea-di-empat-bentang-alam-Karst-Sulawesi-Tenggara-yang-mengusulkan-kawasan-ini-sebagai-Taman-Nasional-dan-Warisan-Dunia.-Foto_-Dokumentasi-Naturevolution-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129267</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kesekian kalinya,  Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, menduduki jabatan strategis di negeri ini. Melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sendiri sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional. Sebelumnya, Hashim telah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Perubahan Iklim. Sejatinya ini sinyal rawan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/">Opini: Satgas Taman Nasional dan Sinyal Potensi Konflik Kepentingan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kesekian kalinya,  Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, menduduki jabatan strategis di negeri ini. Melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sendiri sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional. Sebelumnya, Hashim telah menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Perubahan Iklim. Sejatinya ini sinyal rawan konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Pada saat Presiden Prabowo Subianto menunjuk adiknya sebagai utusan khusus Presiden Indoenesia untuk perubahan iklim dan energi pun sebenarnya sudah banyak kritik bermunculan. Kritik itu berhasil diredam dengan narasi bahwa penunjukan adik Prabowo Subianto sebagai utusan khusus presiden akan dapat membawa harapan percepatan transisi energi. Narasi yang menormalisasi penunjukan Hashim sebagai utusan khusus Presiden Indonesia itu justru tidak terbukti. Alih-alih serius menjalankan agenda transisi energi, akhir 2025, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengumumkan keputusan pemerintah membatalkan rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1. Di tengah situasi sistem kelistrikan yang mengalami kelebihan pasokan, pengembangan energi terbarukan akan sulit terwujud tanpa terlebih dahulu pensiun dini PLTU. Ironisnya, hampir dalam waktu yang bersamaan beberapa media massa juga memberitakan perusahaan yang dikaitkan dengan Hashim justru mengakusisi blok migas. Pemberitaan itu tentu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang utusan khusus presiden untuk perubahan iklim dikaitkan dengan bisnis migas? Terkait dengan penunjukan kembali Hashim sebagai Ketua Satgas Taman Nasional, muncul pertanyaan baru, apakah ini murni kepentingan konservasi, ataukah sekadar pintu masuk bagi konsolidasi ekonomi hijau oleh segelintir elite? Owa jawa yang hidup nyaman di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Rahayu Oktaviani/Kiara Rentan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/16/opini-satgas-taman-nasional-dan-sinyal-potensi-konflik-kepentingan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Nyata El Nino Godzilla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jun 2026 00:06:30 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20063828/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=129264</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ancaman Nyata El Nino Godzilla]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/">Ancaman Nyata El Nino Godzilla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat lokal. Di tengah situasi kritis ini, terdapat urgensi besar untuk mempercepat mitigasi nasional melalui transisi ke energi bersih serta memperkuat kesiapan langkah institusional dalam menghadapi ketidakpastian iklim yang kian mendesak. The post Ancaman Nyata El Nino Godzilla appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/ancaman-nyata-el-nino-godzilla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 04:38:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14082058/Misna-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129210</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan madura]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi,  berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 tahun ini dia meninggalkan kampung halaman bersama istrinya untuk bekerja mencari kepiting bakau di Bangkalan. Dia sewa rumah jadi tempat tinggal sementara. “Re sarean, pak,” katanya, Minggu (10/5/26) siang itu. Maksudnya adalah berusaha mencari nafkah.  Rosidi mengatakan, pendapatan dari menangkap kepiting tak tetap. Bila beruntung, dia bisa dapat lima kilogram sehari. Hingga siang itu, dia baru mendapat 15 kepiting atau sekitar 1,5 kilogram yang telah dia ikat dengan rafia. Usai istirahat siang, dia kembali mengangkat bubu dan mendapat lima lagi.  Wawan dapat sembilan kepiting. Rosidi punya 50 pentor dan Wawan 35 pentor. Pentor bukan satu-satunya alat mereka untuk menangkap kepiting. Ada juga cara lain, bergantung pasang surut air laut.  Misal, dengan metode lu gellu. Yakni, menggunakan besi panjang berdiameter enam milimeter yang dibengkokkan pada bagian ujung untuk memaksa keluar kepiting yang bersembunyi di balik rongga-rongga.  Cara terakhir ini mereka lakukan ketika laut surut.  Dengan menggunakan sepatu air, celana panjang, kaos lengan panjang, dan topong, Rosidi dan Wawan menelusuri celah-celah mangrove, bebatuan, lumpur, satu per satu. Pohon mangnrove yang ditanam di antara tambak ikan di pesisir Bangkalan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Pindah-pindah tempat Rosidi dan Wawan kerap pindah tempat untuk menangkap kepiting. Aktivitas itu biasa mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/para-pencari-kepiting-bakau-di-pesisir-bangkalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jun 2026 02:06:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15015651/9145959089_d5326d5a35_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129228</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka bagi satwa endemik pulau tersebut. Pada 1979, sekitar 30 ekor garangan didatangkan ke Amami Oshima untuk mengendalikan populasi ular habu (Protobothrops flavoviridis), ular berbisa yang selama puluhan tahun menjadi ancaman bagi masyarakat setempat. Namun ada satu kekeliruan mendasar yang tidak diperhitungkan: garangan aktif pada siang hari, sementara ular habu berburu pada malam hari. Akibatnya, kedua spesies ini jarang bertemu di alam. Alih-alih memburu habu, garangan beralih memangsa satwa yang lebih mudah ditemukan. Ular habu (Protobothrops flavoviridis), pit viper berbisa yang menjadi alasan diperkenalkannya garangan ke Amami Oshima pada 1979, dengan akibat yang justru jauh lebih merugikan bagi ekosistem pulau tersebut. | Foto: Mmsmr/Wikimedia Commons (CC0 1.0) Amami Oshima, yang terletak di Prefektur Kagoshima, Jepang bagian selatan, adalah rumah bagi banyak satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, termasuk kelinci Amami (Pentalagus furnessi), tikus berduri Amami, berbagai katak, burung, dan reptil yang berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun. Bagi spesies yang tumbuh tanpa tekanan predator mamalia besar, kedatangan garangan menjadi ancaman yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Perlu Waktu 50 Tahun Tanpa predator alami yang efektif, populasi garangan meledak dari sekitar 30 individu menjadi sekitar 10.000 ekor pada tahun 2000. Kelinci Amami, yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/15/puluhan-garangan-dilepas-di-pulau-ini-untuk-membasmi-ular-tapi-berubah-jadi-bencana-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 10:59:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/14105109/Anakan-kucing-kuwuk_Foto-Anggun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129220</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Sempat Pelihara, Warga Pacitan Kembalikan Dua Anakan Kucing Kuwuk ke Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar. Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan. Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput di kawasan hutan tidak jauh dari desanya. Di tengah aktivitas tersebut, dia menemukan dua anakan Prionailurus bengalensis. Merasa kasihan dan khawatir, keduanya dibawa pulang. “Informasinya, ditemukan saat mencari rumput di hutan rakyat,” jelas Ganes Pramudito, Kepala Resort Konservasi Wilayah Ponorogo-Pacitan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Menurut Ganes, mereka mulai sadar satwa liar dilindungi ini tidak mudah dipelihara layaknya kucing domestik. Kesulitan pakan yang sesuai, menjadi kendala utama. Selain itu, sang induk kucing diduga datang malam hari ke sekitar rumah mereka mencari anak-anaknya. “Setelah kejadian itu, paginya mereka kembalikan ke lokasi ditemukan.” Petugas BBKSDA Jawa Timur yang mendapat laporan langsung ke lokasi dengan berkoordinasi pemerintah desa setempat. Spesies yang menghadapi ancaman penyempitan habitat ini, punya peran penting pengendali hama tikus. “Kucing kuwuk tidak boleh dipelihara. Kalau menemukan, baiknya laporkan ke kami,” kata Ganes. Meskipun warga berniat baik menyelamatkan satwa, namun membawa pulang bukan langkah tepat. Banyak kasus, anakan kucing kuwuk yang terlihat sendirian sesungguhnya dalam pengawasan induknya. “Peluang hidupnya jauh lebih besar bersama induknya di habitat alami dibandingkan dipelihara manusia.” Anakan kucing kuwuk ini dikembalikan ke hutan wilayah Pacitan, JAwa Timur, yang sebelumnya sempat dipelihara dua hari oleh warga. Foto:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/sempat-pelihara-warga-pacitan-kembalikan-dua-anakan-kucing-kuwuk-ke-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 09:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bambang Tri Daxoko*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000048/PSN-Merauke--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129191</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Opini: Film Pesta Babi dan Polemik Undang-undang Kehutanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi sorotan publik bahkan berada dalam bayang-bayang sensor. Film ini menggambarkan deforestasi hutan terbesar dalam sejarah modern, juga menampilkan gambaran watak kolonialisme negara yang merampas ruang hidup orang Papua atas nama pembangunan. Seperangkat paradigma, narasi, dan instrumen hukum yang memadai hadir untuk memuluskan jalan ini.  Salah satunya, Instruksi Presiden (Inpres) 14/2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional. Sebelumnya, sudah ada beberapa peraturan dalam tajuk kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang Pusaka Bentala Rakyat rangkum dalam linimasa PSN di Merauke. Dalih ketahanan pangan dan transisi energi telah membenarkan pembabatan 2,5 juta hektar hutan di selatan Papua untuk cetak sawah, kebun sawit, dan tebu. Akibatnya orang Papua yang hidup di atas tanah dan hutan tersebut pun terancam haknya, termasuk hak atas pangan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Pertanyaannya, mengapa orang Papua yang hidup di sana tidak memiliki klaim hukum atas tanah tersebut? Kenapa pemerintah mudah sekali mengembangkan proyek apapun di atas tanahnya? Ada asas atau norma yang mengatur pembenaran praktik klaim negara atas tanah dan hutan hingga memudahkan pengembangan proyek apapun di atasnya. Hal ini bisa terlacak dari praktik teritorialisasi penguasaan hutan oleh negara melalui UU Kehutanan. Saat ini, DPR dan Pemerintah Indonesia  melakukan revisi keempat UU Kehutanan. Kita perlu mengingat kembali bagaimana paradigma ini bermula, berkembang, dan melanggengkan perampasan tanah dan hutan yang masyarakat lokal huni serta dampak yang timbul. Hutan adat di Merauke, Papua, yang rata dengan tanah untuk proyek pangan dan energi yang pemerintah gadang-gadang. Foto: Yayasan Pusaka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/opini-film-pesta-babi-dan-polemik-undang-undang-kehutanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 06:43:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232006/taal-lake-sea-snake-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129209</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut. Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/">Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut. Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut. Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal. Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754. Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama. Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis. Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-danau-vulkanis-ini-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Kaca: Ikan Aneh dari Papua yang Jantan Mengerami Telur di Kepalanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 04:31:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022337/Ikan-kaca-yang-unik-Foto_-Hari-Suroto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129208</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/">Ikan Kaca: Ikan Aneh dari Papua yang Jantan Mengerami Telur di Kepalanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sungai-sungai berair gelap dan rawa bakau di selatan Papua, hidup seekor ikan yang sulit dijelaskan dengan singkat. Tubuhnya pipih dan tinggi seperti belah ketupat memanjang, sisi kanan dan kirinya berkilau perak seperti kaca. Tapi yang paling aneh bukan penampilannya, melainkan caranya bereproduksi: sang jantan mengerami telur-telurnya di atas kepalanya sendiri, pada sebuah tonjolan tulang berbentuk kail yang melengkung di dahi. Karena perilaku itulah ia mendapat dua nama sekaligus: ikan kaca, karena kilaunya, dan ikan perawat, karena kesetiaan sang jantan menjaga telur hingga menetas. Nama ilmiahnya Kurtus gulliveri castelnau, dideskripsikan pertama kali pada 1878 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Thomas Allen Gulliver, pegawai pos dan telegraf Australia yang tinggal di dekat Sungai Norman, Teluk Carpentaria. Nama itu sekaligus menjadi petunjuk tentang sejarah biogeografis ikan ini: ia tidak hanya hidup di Papua, tapi juga di Australia bagian utara, khususnya di Sungai Adelaide, Northern Territory. Kesamaan fauna antara Papua dan Australia bukan kebetulan. Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN, menjelaskan bahwa sekitar 17.000 tahun lalu, ketika permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, Australia dan Papua menyatu dalam satu daratan yang disebut Sahulland. Fauna dari kedua wilayah bergerak bebas melintasi daratan yang kini sudah tenggelam. Ikan kaca adalah salah satu warisan hidup dari masa itu, spesies yang masih mendiami kedua sisi dari bekas benua yang sama. Di Papua, ikan ini tersebar luas di Sungai Digul, Sungai Maro, Sungai Mappi, dan berbagai sungai serta rawa di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Mappi, Asmat, hingga Fakfak. Penelitian di Sungai Digoel dan muara Sungai Maro menunjukkan kelimpahan yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-kaca-ikan-aneh-dari-papua-yang-jantan-mengerami-telur-di-kepalanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jun 2026 03:02:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/13105303/WhatsApp-Image-2026-06-13-at-03.49.05-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/">Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) 11-12 Juni di Bali. Pertemuan yang menghadirkan para pakar, praktisi, Non Government Organization (NGO) dan berbagai pihak berkepentingan, termasuk penyedia platform, ini mencari kerangka yang tepat memerangi kekejaman satwa di dunia maya. Nicola O’Brien, Lead Coordinator AfA mengatakan, praktik kekejaman satwa  menyebar dalam skala yang lebih besar. Praktik itu tentu tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu organisasi, platform atau pemerintah. “Ini bukan hanya soal krisis kesejahteraan hewan saja, tetapi juga persoalan keamanan digital, tata kelola, dan kepercayaan publik,” katanya dalam pertemuan bertema ‘Building Cross-Sector Collaboration to End Online Animal Cruelty’ itu. AfA, kata Nicola, merancang kegiatan itu sebagai ruang konstruktif bagi para pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai ancaman daring yang terus berkembang. Selain itu, para peserta juga dapat berbagi pengalaman lapangan, saling mengeksplorasi langkah-langkah praktis guna memperkuat tata kelola digital, hingga penegakan hukum. Karena itu, forum ini tidak hanya menghadirkan para ahli, NGO dan praktisi, tetapi juga perwakilan platform untuk bersama-sama mewujudkan tindakan nyata memerangi praktik tersebut. “Kita membutuhkan dialog yang jujur, sistem yang lebih kuat dan respons yang terkoordinasi dan memahami penderitaan nyata di balik konten-konten tersebut.&#8221; AfA merupakan jaringan internasional dengan lebih dari 400 organisasi perlindungan satwa di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/14/kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>BMKG Ingatkan Lagi soal Kemarau, Karhutla dan Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 23:59:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20064132/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129193</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan monitoring dinamika atmosfer dan laut terkini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini bakal jauh lebih kering, datang lebih awal, dan berlangsung dengan durasi lebih panjang dari kondisi normal. “Terdapat peluang 50% hingga 60% El Nino dengan maksimal kategori moderat mulai pertengahan tahun, dan musim kemarau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/">BMKG Ingatkan Lagi soal Kemarau, Karhutla dan Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan monitoring dinamika atmosfer dan laut terkini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini bakal jauh lebih kering, datang lebih awal, dan berlangsung dengan durasi lebih panjang dari kondisi normal. “Terdapat peluang 50% hingga 60% El Nino dengan maksimal kategori moderat mulai pertengahan tahun, dan musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dari kondisi biasanya,” kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, dalam konferensi pers, Rabu, (10/6/26). Kondisi ini terpicu fenomena ganda, yaitu, menguatnya El-Nino di Samudra Pasifik yang berpeluang mencapai kategori moderat hingga kuat, serta potensi aktifnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Kombinasi kedua fenomena global ini secara signifikan akan menekan pertumbuhan awan dan memangkas curah hujan di sebagian besar wilayah nusantara. Berdasarkan analisis zona musim (ZOM), satuan wilayah berdasarkan karakteristik curah hujan homogen dengan referensi periode normal klimatologi (1991–2020), awal musim kemarau tahun ini datang lebih cepat. Tercatat,  308 zona musim atau setara 39,77% luas daratan Indonesia mengalami awal kemarau maju dari jadwal semestinya. Hingga akhir Mei, sebanyak 200 ZOM (11,83% daratan) sudah memasuki musim kemarau, meliputi sebagian Sumatera sampai Papua. Disusul 198 ZOM pada Juni dan 66 ZOM pada Juli. Secara umum, watak kemarau 2026 berada di bawah normal atau jauh lebih kering, mencakup 482 zona musim (56,18% daratan). Wilayah-wilayah terdampak sangat kering ini meliputi seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, sebagian NTT, Sulawesi, Maluku, hingga Pulau Papua. Ardhasena katakan, masa-masa paling kritis dari siklus kering ini akan terjadi pada pertengahan hingga akhir kuartal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/bmkg-ingatkan-lagi-soal-kemarau-karhutla-dan-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 12:34:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09050659/Latimojong-01-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129014</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Para Pihak Dorong Penguatan Perlindungan Bentang Latimojong</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kota Belopa mendung ketika puluhan orang berkumpul di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, awal Mei 2026. Di dalam ruangan, para pegiat lingkungan, masyarakat adat, akademisi, pemerintah, jurnalis, hingga kelompok tani hutan duduk dalam satu forum yang sama: membicarakan masa depan bentang alam Latimojong. Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel), Latimojong bukan sekadar pegunungan,  juga sumber air, rumah keanekaragaman hayati, penyangga pangan, sekaligus ruang hidup ribuan orang. Saat  saat  sama, gunung itu juga sedang berada dalam tekanan besar. “Kerusakan di bagian hulu akan berdampak langsung pada wilayah hilir,” kata Ismail Ishak, Direktur Yayasan Lestari Alam, saat membuka diskusi konservasi Pegunungan Latimojong bertema ‘Menjaga Latimojong berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat’. Ungkapan itu tak berlebihan. Setahun sebelumnya, sekitaran Mei 2025, banjir bandang dan longsor menerjang Lereng Latimojong. Rumah warga rusak, akses jalan terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh berhari-hari. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi banyak orang untuk melihat ulang hubungan manusia dengan gunung. Pegunungan Latimojong membentang melintasi Luwu, Enrekang, Tana Toraja, Sidrap, hingga Wajo. Dengan ketinggian mencapai 3.470 meter di atas permukaan laut, kawasan ini dikenal sebagai puncak tertinggi Sulawesi dan salah satu Seven Summit Indonesia. Namun yang membuatnya penting bukan hanya ketinggian atau panorama alam,  Latimojong adalah jantung ekologis Sulsel. Dari pegunungan ini, sejumlah sungai mengalir menuju berbagai wilayah pertanian di Sulsel. Empat kabupaten penghasil padi terbesar—Luwu, Sidrap, Wajo, dan Pinrang—bergantung pada sistem hidrologi Latimojong. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel bahkan menyebut kawasan ini menopang sekitar 41% produksi padi Sulsel. Di lereng gunung,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/para-pihak-dorong-penguatan-perlindungan-bentang-latimojong/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 08:20:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/13081214/Perdagagan-pleci-masih-marak-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129170</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan. Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan. Namun, bagi  staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai. “Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026. Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri. “Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.” Burung pleci atau kacamata yang tidak lepas dari perburuan karena kicau yang merdu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Diburu Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap. “Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan. Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang. “Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jun 2026 01:28:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/07/22023100/hasil-tangkapan-ikan-kapal-nelayan-tegal-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129152</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Menanti Perbaikan Nasib Pekerja Perikanan Pasca Indonesia Ratifikasi ILO C-188</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Endi duduk di depan pintu menuju geladak lantai dua kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta.  Beralaskan terpal warna biru, awak kapal perikanan (AKP) 42 tahun itu ceritakan pengalamannya selama bekerja di atas kapal. Dua AKP yang sekampung dengannya turut menemani ngobrol. “Kami lagi menunggu jadwal. Rencananya sehabis Idul Adha kami berangkat ke Bitung,” ucap pria asli Wonokerto,  Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) belum lama ini. Kendati membosankan, menunggu kapal berangkat adalah hal biasa bagi Endi. Bisa hanya beberapa hari, atau bahkan berbulan-bulan. Di atas kapal, para AKP mendapat upah tak sama. Mereka yang berperan sebagai anak buah kapal (ABK)  Rp25.000 per hari. Sedangkan untuk kepala kamar mesin, kisaran Rp65.000-Rp100.000 setiap hari. Itu berarti untuk dua bulan berlayar, total upah yang mereka terima Rp1.500.000-Rp6.000.000. Nilai itu, katanya, masih kecil ketimbang kebutuhan keluarga di kampung. Meski begitu, dia masih bersyukur di tengah sulitnya mencari pekerjaan. “Saya hanya lulusan SD. Pernah juga saya mencoba profesi lain seperti tukang bangunan. Tapi saya nggak kuat. Penghasilan juga kecil,” ujarnya. Meski begitu, bagi Endi dan kawan-kawannya, keputusan pemerintah meratifikasi konvensi ILO C-188 memberinya setitik harapan. Mereka berharap, adopsi aturan internasional itu bisa memperbaiki nasib mereka. “Saya akan ikuti semua syarat yang diwajibkan, selama itu bisa memperbaiki nasib saya di atas kapal perikanan.” Wahyudi dan Wasdiono, dua rekan Endi mengamini harapan itu. Tatapan mereka kosong ke depan, seolah mencoba menerabas dinding-dinding kapal yang tengah sandar di pelabuhan. “Saya tidak mau anak saya mengikuti jejak menjadi pelaut. Biar mereka mencari nafkah di darat saja,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/13/menanti-perbaikan-nasib-pekerja-perikanan-pasca-indonesia-ratifikasi-ilo-c-188/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:45:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/12093928/Hampir-semua-dangau-rumah-pondok-yang-berada-di-kebun-di-wilayah-Semende-Sumsel-penerangannya-menggunakan-listrik-dari-PLTMH.-Foto-drone-Ariadi-Damara_Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129159</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ancaman Nyata El Nino Godzilla]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Sumatera Selatan, energi bersih cenderung dikembangkan masyarakat yang tidak dapat mengakses instalasi listrik negara. Misalnya di wilayah pedalaman Semende, Kabupaten Muara Enim. Mereka mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Apakah El Nino Godzilla yang hadir pada 2026 ini berdampak pada kedaulatan energi bersih tersebut? “Kami di sini sangat mencemaskan masa depan listrik dari turbin (PLTMH) ini, sebab volume air kian berkurang. Apalagi menghadapi musim kemarau tahun ini, yang kabarnya disertai El Nino Godzilla yang membuat kemarau lebih panas dan panjang,” kata Ikral Sawabi (30), warga Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, awal Mei 2026 lalu. Di wilayah Ataran Datas Pagi, terdapat sekitar tujuh PLTMH yang disebut warga listrik turbin. Listrik ini dialirkan ke dangau (rumah pondok) untuk lampu penerangan, radio, serta mengisi baterai telepon seluler dan senter. Rata-rata, setiap PLTMH dapat menyediakan listrik untuk dua dangau. Pembuatan PLTMH di Ataran Datas Pagi yang berada di kaki Bukit Lumut Balai atau di ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut, sekitar awal tahun 2000. “Murni inisiatif masyarakat, bukan bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya.” Hampir semua dangau di ataran atau perkebunan kopi dan palawija di kaki Bukit Lumut Balai, kebutuhan listriknya dipenuhi PLTMH. Mereka memanfaatkan pancuran atau air sungai yang dialirkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Puluhan ataran di bawah kaki Bukit Lumut Balai, didiami warga dari Desa Tanjung Tiga, Desa Tanjung Agung, Desa Palak Tanah, Desa Kota Agung, hingga Desa Muara Tenang. “Saya menggunakan listrik dari air ini sudah 10 tahun.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/12/el-nino-godzilla-energi-bersih-dan-keresahan-masyarakat-semende/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jun 2026 09:34:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044447/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129160</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda. Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa. Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. &#8220;Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,&#8221; kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa. Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. &#8220;Semua jenis ular dianggap bahaya,&#8221; kata Imam. Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-papua-yang-lahir-kuning-tumbuh-hijau-dan-diburu-pedagang-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>