- Burung kacamata atau pleci dulu sering terdengar kicaunya di hutan Muria, Jawa Tengah. Kini suaranya perlahan lenyap di hutan Muria.
- Demam lomba burung kicau, membuat ‘plecin dari Muria ini diburu sejak awal tahun 2010-an.
- Ancaman terhadap pleci kerap luput dari perhatian, meski populasinya terus menurun akibat perburuan dan perdagangan. Ini dikarenakan jenis ini tidak sekarismatik macan tutul jawa,
- Upaya penyelamatan burung pleci di hutan Muria tidak cukup dengan larangan berburu. Alternatif ekonomi seperti wisata pengamatan burung, fotografi satwa liar, dan pemandu lokal perlu dikembangkan.
Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah.
Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap.
Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan.
Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan.
Namun, bagi staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai.
“Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026.
Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri.
“Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.”

Diburu
Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap.
“Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan.
Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang.
“Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi titik balik hidup saya hingga bergabung dengan komunitas konservasi di Muria.”

Perburuan jadi faktor utama menurunnya populasi burung gesit ini. Berbeda dengan beberapa satwa lain di Muria yang terancam akibat hilangnya habitat, pleci justru jadi korban tren. Semakin populer burung itu di arena lomba, semakin besar tekanan terhadap populasi liarnya.
Kini, Setyawan mengajak warga untuk menjaga kelestarian hutan Muria, tanpa harus menguras isinya. Bersama komunitas Peka Muria, dia mengembangkan wisata pengamatan burung dan pendidikan lingkungan bagi masyarakat maupun pelajar, yang berkunjung ke pegunungan.
“Burung yang terbang bebas punya nilai jauh lebih besar dibanding yang dikurung di sangkar.”

Tak hanya terjadi di Muria
Walau belum ada penelitian khusus yang mengukur jumlah populasi pleci, Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, mengakui indikasi penurunannya di alam sangat terasa.
Dari pengamatan lapangan juga cerita masyarakat yang ditemuinya di Muria, menunjukkan perubahan drastis dua dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Muria. Ridha sebut, di sejumlah lokasi lain di Pulau Jawa, termasuk kawasan yang dulu dikenal kaya burung kacamata, kini semakin jarang terdengar.
Penyebabnya adalah tingginya permintaan pasar yang dipicu budaya memelihara dan melombakan burung berkicau.
“Kalau ada permintaan, pasti ada pasokan. Saat penangkaran belum memenuhi kebutuhan pasar, maka alam akan jadi sumber yang paling mudah dieksploitasi,” terangnya, Rabu (3/6/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, pleci bahkan punya kelas perlombaan tersendiri, katanya.
Komunitas hobi terus berkembang, sementara perburuan di alam belum sepenuhnya berhenti. Kondisi ini membuat tekanan terhadap populasi liar terus berlangsung.
Ridha katakan, fenomena ini sebagai ‘tragedy of the commons’, ketika spesies yang dianggap umum justru luput dari perhatian konservasi, hingga populasinya menurun tanpa disadari.
Tak seperti macan tutul yang mudah menarik perhatian publik, burung kecil seperti pleci kerap dianggap masih melimpah, sehingga ancamannya tak terlihat.
“Hilangnya pleci dari hutan jadi alarm penting bagi kesehatan ekosistem. Sebab, burung ini berperan dalam penyerbukan dan penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan hutan.”
Upaya penyelamatan tidak cukup hanya mengandalkan larangan berburu. Terpenting, menciptakan hubungan baru antara masyarakat dan alam. Masyarakat harus jadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek konservasi.
“Sehingga, dorongan untuk menangkap akan berkurang,” jelasnya.
*****
Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria