Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut.
Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut.
Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal.
Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754.
Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama.
Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis.
Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker (Laticauda crockeri) dari Kepulauan Solomon, yang juga tidak hidup di laut terbuka. Tapi perbedaannya fundamental. Ular laut crocker mendiami air payau dan masih bisa naik ke daratan. H. semperi adalah ular laut sejati yang benar-benar memutus seluruh hubungannya dengan lautan, satu-satunya di dunia yang melakukan lompatan fisiologis se-ekstrem itu.
Tapi keunikan evolusioner itu kini menjadi kerentanan. IUCN menetapkan statusnya sebagai Rentan karena seluruh populasinya hanya ada di satu tempat: Danau Taal. Dan danau itu berada di atas gunung berapi yang masih sangat aktif. Satu letusan besar bisa memusnahkan seluruh spesies ini dalam sekejap.
Ancaman dari manusia menambah tekanan. Pertambakan ikan nila yang masif, pencemaran limbah pertanian, dan eutrofikasi yang menurunkan kadar oksigen di danau mengancam kesehatan ekosistem dan ketersediaan mangsa utama ular ini, yaitu ikan gobi dan belut.
Di danau vulkanis yang tampak tenang itu, seekor ular laut menjalani hidupnya tanpa pernah tahu seperti apa rasanya laut. Ia adalah produk dari bencana geologi yang mengubah nasibnya untuk selamanya, dan kini menghadapi ancaman baru yang jauh lebih sulit dihindari dari letusan mana pun: kerusakan perlahan yang datang dari tepi danau itu sendiri.