<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=riza-salman-kendari-tomohon&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/riza-salman-kendari-tomohon/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 08 Sep 2026 04:22:38 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 04:22:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051902/Asap-dari-Gunung-Anak-Krakatau-semakin-pekat-awal-April-2020.-Foto-KPHK-Kepulauan-Krakatau.-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, msyarakat adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan,  debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi. Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung. “Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu. Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nurhayat, warga Tancang mengatakan,  kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air. “Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya. Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah. Maryana berharap,  pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik. “Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.” Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 01:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121329/Siswa-terpapar-kabut-asap-di-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133163</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga 29 Agustus. Sebanyak 71 di antaranya menerpa wilayah Landasan Ulin Selatan. Rabu (19/8/26) sore, api tiba-tiba berkobar di area yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari rumah perempuan 33 tahun itu. &#8220;Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar,&#8221; ceritanya, (23/8/26). Raungan meminta tolong menggema di penjuru kampung. &#8220;Saya juga ikut memadamkan api dengan memukul-mukulnya pakai kayu,&#8221; katanya. Petugas pemadam kebakaran datang, berjibaku mengendalikan api, hingga akhirnya kobaran berhasil mereda sebelum menjalar ke rumah warga. Dua hari berselang, Jumat (21/8/26), kebakaran besar yang membuatnya gentar kembali muncul di Pengayuan. Namun, kali ini api berkobar di lokasi yang lebih jauh dari rumah Sarah dan tak sampai melumat permukiman. &#8220;Syukurnya petugas pemadam kebakaran sigap untuk memadamkan.&#8221; Namun, rentetan insiden itulah yang meninggalkan trauma dan kekhawatiran terhadapnya. Dia jadi takut jika meninggalkan rumah, dan susah tidur saat malam. “Cemas api tetiba menyala.&#8221; Peristiwa kebakaran itu membuatnya jadi korban pertama yang menanggung derita kabut asap. Jerubu masuk rumah hingga membuatnya susah melihat. Baunya tercium hingga kamar. Dia mengalami gangguan kesehatan, mulai batuk, pilek, radang tenggorokan hingga pusing. Kian berat karena sejak kecil mengidap asma. &#8220;Ini juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22052755/Trenggiling-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133032</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, poiitik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, atau harimau dalam kampanye konservasi, mamalia bersisik ini diburu dalam jumlah sangat besar. Sisik, daging, bahkan janinnya diperdagangkan untuk memenuhi permintaan pasar, terutama di Asia Timur. Salah satu pemicu utamanya adalah kepercayaan bahwa sisik trenggiling memiliki khasiat pengobatan. Sisik tersebut dianggap mampu mengatasi berbagai penyakit, meningkatkan vitalitas, hingga menyembuhkan kanker. Padahal, klaim itu tidak memiliki dasar ilmiah. Sisik trenggiling tersusun dari keratin, bahan yang sama seperti kuku dan rambut manusia. Mengonsumsinya tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tertentu. Selain sisiknya, daging trenggiling juga dianggap sebagai makanan mewah. Di sejumlah wilayah Asia Timur, menyantap daging atau janin trenggiling dipandang sebagai simbol status sosial. Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi menjadi sarana untuk menunjukkan kekayaan dan gengsi. Mitos kesehatan dan gaya hidup konsumtif tersebut menciptakan permintaan tinggi yang kemudian dimanfaatkan jaringan perdagangan ilegal. Skala perdagangannya sangat mengkhawatirkan. Sejak 2000, puluhan ribu trenggiling dilaporkan diperdagangkan dari berbagai negara di Asia dan Afrika. Data Yayasan SCENTS menunjukkan ada 354 pelaku dengan 299 operasi penangkapan di seluruh Indonesia pada 2022. Pada 2023, ada 267 operasi penangkapan dengan 217 pelaku ditangkap. Dan 3 bulan 2024 baru 35 operasi penangkapan. Trenggiling menempati peringkat pertama dari barang bukti yang disita oleh aparat sejak 2003.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 07:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07064315/Kupu-kupu-TNGGP-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133085</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengumpulan data biodiversitas di kawasan yang tengah dikembangkan untuk ekowisata minat khusus. EIGER Nature mengantongi Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) seluas 253,6 hektare di Zona Pemanfaatan TNGGP. “Untuk sampel, kita ambil berdasarkan karakteristik kawasan seperti hutan sekunder, riparian, hutan pinus hingga area pemanfaatan. Hasilnya, hingga tahun 2025 kami menemukan lebih dari 70 jenis serangga,” kata Caesar. Sebanyak 43 jenis yang ditemukan belum memiliki status konservasi. Jenis lainnya berstatus risiko rendah (Least Concern/LC) dan kekurangan data (Data Deficient/DD). Di antara temuan itu terdapat capung batu bercak biru endemik jawa (Rhinocypha heterostigma) yang berstatus hampir terancam. Tim juga mencatat capung jarum Drepanosticta sundana serta kupu-kupu raja helena (Troides helena) yang masuk dalam Appendix II CITES. Tim peneliti mengamati satwa di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Bagi Caesar, keberadaan serangga penting untuk membaca hubungan antarspesies. Serangga berperan dalam penyerbukan, jaring makanan, hingga proses yang memengaruhi kondisi tanah. Data pemantauan pun tidak cukup dilakukan sekali. Pengumpulan data dilakukan berulang pada musim hujan dan kemarau untuk melihat perubahan kualitas lingkungan dan kemungkinan dampak aktivitas manusia. “Repetisi ini penting agar kita punya basis data yang valid untuk menilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 06:46:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01170111/Amphilophus_citrinellus_2015_G5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133000</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo. Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus. Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum. “Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles. Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan. Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir. Penelitian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 05:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044132/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133102</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). “Baru sekarang merasakan langsung,” ujar bapak empat anak ini, Kamis (27/8/26). Sebanyak 6 individu kukang jawa dibawa ke area TNUK untuk dilepasliarkan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Melalui pelepasan yang diinisiasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Rosid juga baru tahu bahwa kukang merupakan satwa dilindungi. “Primata yang memiliki racun ini, punya nilai penting bagi ekosistem sehingga harus dijaga.” Masyarakat sekitar menyebut satwa yang bergerak lamban ini muka. Bagi Rosid, mengembalikan kukang ke hutan, tak sekadar mengantar, tetapi juga memastikan kehidupan mereka baik-baik saja di habitatnya. “Jangan sampai ada yang memburu.” Harapannya, kukang bisa hidup aman. Hutan tak hanya tempat mencari makan, melainkan juga rumah aman tanpa gangguan manusia. Rute menuju lokasi pelepasliaran di TNUK ditempuh berjalan kaki menelusuri hutan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Pelepasliaran bukan persoalan sederhana Indri Saptorini, dokter hewan yang merawat dan merehabilitasi satwa liar -khususnya kukang- di pusat rehabilitasi YIARI, mengatakan mengembalikan kukang ke hutan bukan perkara sederhana. Sebelum dilepasliarkan, setiap individu harus melewati proses panjang, tubuh dan sifat alaminya harus benar-benar siap menghadapi kehidupan di alam. Enam kukang yang ditranslokasi ini terdiri satu individu jantan dan lima individu betina, yaitu Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka dibawa dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 04:01:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07035732/Sea-snake-728x546-1-728x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133095</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun ulang lingkungan purba yang sudah lama hilang, termasuk mengungkap keberadaan hewan-hewan berukuran raksasa yang dulu menghuninya. Di tengah Gurun Sahara yang kering, tersimpan bukti bahwa kawasan tersebut pernah memiliki dunia yang sama sekali berbeda. Jutaan tahun lalu, sebagian Afrika Barat dilintasi laut dangkal yang menjadi habitat ikan, penyu, buaya purba, dan seekor ular air berukuran luar biasa bernama Palaeophis colossaeus. Ular purba ini diperkirakan dapat mencapai panjang 8,1 hingga 12,3 meter, namun angka tertinggi itu bukan hasil pengukuran kerangka lengkap. Para ilmuwan memperolehnya dari beberapa ruas tulang belakang saja, sebab fosil Palaeophis colossaeus yang diketahui hingga kini belum cukup lengkap untuk memperlihatkan bentuk seluruh tubuhnya. Bagaimana Ukuran Raksasa Ini Diperkirakan Palaeophis colossaeus hidup pada kala Eosen, sekitar 56 hingga 33,9 juta tahun lalu, ketika permukaan laut lebih tinggi dan sebagian Afrika Utara serta Afrika Barat terhubung oleh perairan yang dikenal sebagai Trans-Saharan Seaway. Fosilnya ditemukan dalam endapan laut dangkal Formasi Tamaguelelt di Mali, kawasan dengan lapisan fosfat yang menunjukkan lingkungan pesisir yang produktif. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh paleontolog Prancis Jean-Claude Rage pada 1983, dan termasuk dalam Palaeophiidae, kelompok ular purba yang telah punah dengan ukuran tubuh yang sangat beragam. Pada 2018, tim peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekosistem Rusak, Nelayan Desak Hentikan Tambang Timah Ilegal di Teluk Kelabat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 02:35:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07095444/foto-nelayan-3-e1783418199804-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada Juni lalu, Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat mendesak pemerintah untuk penghentian permanen aktivitas tambang timah ilegal di kawasan teluk kelabat yang disebut telah berlangsung lama di wilayah tangkap nelayan. Ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas di kawasan tersebut. Aktivitas pertambangan itu berdampak bagi ribuan nelayan di 12 desa di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/">Ekosistem Rusak, Nelayan Desak Hentikan Tambang Timah Ilegal di Teluk Kelabat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada Juni lalu, Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat mendesak pemerintah untuk penghentian permanen aktivitas tambang timah ilegal di kawasan teluk kelabat yang disebut telah berlangsung lama di wilayah tangkap nelayan. Ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas di kawasan tersebut. Aktivitas pertambangan itu berdampak bagi ribuan nelayan di 12 desa di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Induk. Mulai dari kerusakan mangrove, terumbu karang, terganggunya jalur lintas nelayan, dan mulai menyempitnya wilayah tangkap. Dampaknya, hasil tangkapan menurun secara signifikan.  Sejak tambang ilegal marak terjadi dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan nelayan menurun 60-70%. “Kalau dulu kami mancing ikan itu dari pagi sampai sore bisa mendapatkan satu fiber. Tapi setelah dirusak oleh kapal isap, dirusak oleh ponton, maka ikan-ikan ini enggak bisa berkembang biak,” katanya. Mereka menduga PT Timah merupakan dalang dari beroperasinya tambang-tambang ilegal ini. Berdasarkan data DKP Babel menegaskan bahwa berdasarkan Perda  No. 3 Tahun 2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), Teluk Kelabat termasuk sebagai zona pelabuhan, perikanan tangkap, dan pariwisata. “Daerah tersebut merupakan kawasan bebas tambang atau zero tambang.” Devi, perwakilan Timah mengakui memiliki IUP terhadap wilayah tersebut. Namun, mereka membantah terlibat dalam pengoperasian ratusan ponton ilegal. Hingga saat ini perusahaan belum pernah mengeluarkan surat perintah kerja (SPK) untuk penambangan di Teluk Kelabat. “Kami (sejak) 2022 sudah tidak ada penambangan di ketiga IUP tersebut, karena terkait zona zero tambang tadi,” kata Devi, sebagaimana rekaman video yang nelayan kirim kepada Mongabay. Mendengar penjelasan itu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Babel pun meminta kepolisian dan instansi terkait melakukan penertiban. Menindaklanjuti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 01:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi dari Sumatera, Kalimantan sampai Papua. Temuan organisasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup memperlihatkan, titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) terindentifikasi di konsesi perusahaan maupun proyek pangan skala besar (food estate) seperti di Merauke, Papua Selatan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, menyatakan, karhutla yang merebak dari timur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/">Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi dari Sumatera, Kalimantan sampai Papua. Temuan organisasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup memperlihatkan, titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) terindentifikasi di konsesi perusahaan maupun proyek pangan skala besar (food estate) seperti di Merauke, Papua Selatan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, menyatakan, karhutla yang merebak dari timur hingga barat Indonesia sebagian besar terjadi di area berizin. Kenyataan ini mematahkan pernyataan pemerintah yang menjadikan masyarakat akar masalah atau penyebab karhutla. Di Papua, misal, titik api bahkan teridentifikasi di kawasan proyek strategis nasional (PSN) food estate. Seperti di Kabupaten Merauke, Papua Selatan hingga Papua Pegunungan. Ada relasi pembukaan lahan yang mencapai 2,5 juta hektar untuk proyek pemerintah dengan meningkatnya titik api itu. “Karhutla semakin masif di tanah Papua. Verifikasi lapangan, hampir semua titik panas menimbulkan titik api. Ini jadi isu krusial untuk tanah Papua,” kata Maikel Primus Peuki, Direktur Walhi Papua. Identifikasi Walhi Papua, karhutla berulang setidaknya tiga tahun terakhir. Ia berdampak langsung bagi masyarakat adat terutama yang masih hidup dalam kawasan hutan, karena sebagian besar masih bergantung pada alam dan lingkungan. Di Pulau Borneo, titik api dan titik panas melonjak Agustus 2026. Titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar) sempat menempati posisi terbanyak di Indonesia. Secara keseluruhan, Januari-Juli 2026, terdapat 4.638 titik panas tersebar di 14 kabupaten.  Pada 1-25 Agustus saja, terdapat 4.683 titik panas. Per 25 Agustus, luas karhutla di Kalbar 38.310 hektar. Paling luas di Kabupaten Ketapang, 12.443 hektar. Rata-rata kebakaran di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Kebanyakan berada di kawasan perizinan berusaha&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 23:37:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baitri dan Febrianti]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06232437/Walter-Samalelet-65-tahun-adalah-Sikerei-dari-Dusun-Rogdok_Desa-Madobag-Kecamatan-Siberut-Selatan_-Kabupaten-Kepulauan-Mentawai_1288125-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133068</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[mentawai]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, pangan, dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  Pagi itu, Walter Samalelet beranjak masuk hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kabit di pinggang, ikat kepala luat dengan tiga mawar merah menyala. Kalung manik tudak. Walter adalah seorang sikerei atau tabib tradisional,  yang memberikan pengobatan dengan tumbuhan obat dan ritual. Lelaki 65 tahun ini gesit melangkah menapaki ladang dengan tanaman campuran. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/">Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  Pagi itu, Walter Samalelet beranjak masuk hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kabit di pinggang, ikat kepala luat dengan tiga mawar merah menyala. Kalung manik tudak. Walter adalah seorang sikerei atau tabib tradisional,  yang memberikan pengobatan dengan tumbuhan obat dan ritual. Lelaki 65 tahun ini gesit melangkah menapaki ladang dengan tanaman campuran. Ia terbentang dari depan rumah hingga berbatasan dengan hutan di kaki bukit di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan itu. Ladang dan hutan itu seluas sekitar 323 hektar. Di ladang tak jauh dari rumahnya ada kolam dangkal dengan banyak tumbuhan keladi. Umbinya sehari-hari mereka andalkan sebagai bahan makanan pokok selain sagu. Di sekitar kolam tanaman pinang mengelilingi. Semakin menjauhi rumah, aneka pohon buah-buahan seperti rambutan, jengkol, dan durian. Ada juga pohon gaharu dan baiko. Pohon baiko penting bagi seorang sikerei, karena kulit untuk bahan pembuat kabit, semacam kain yang dililitkan menyerupai celana pendek untuk sikerei. Di bawah rindang pepohonan rimbun itu aneka jenis tumbuhan obat yang biasa Walter gunakan untuk mengobati warga yang datang berobat. Sebagai seorang sikerei, Walter ahli meramu tumbuhan itu untuk mengobati bermacam penyakit. “Ini lemu-lemu, daunnya untuk campuran obat sakit perut dan akarnya untuk obat cacing,” katanya. Dia petik pula tumbuhan keluarga jahe-jahean dengan bunga merah. “Ini bakgli-bakgli, bunganya digiling dan oleskan ke kepala untuk obat sakit kepala,” katanya. Sikerei Siberut,  kaya dengan pengetahuan tumbuhan obat. Mereka memiliki ratusan jenis tumbuhan obat. Walter menceritakan sebagian besar tumbuhan obat itu terdapat di dalam hutan di belakang kebunnya. Hutan di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Proyek Pangan di Merauke</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 16:56:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Merauke dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus berambisi mengembangkan proyek ‘pangan’ berskala besar di Merauke. Mulai dari Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga food estate di era Prabowo Subianto sekarang ini. Di balik ambisi besar untuk mencetak sawah baru dalam skala besar Merauke itu, tersisip pertanyaan yang mesti terjawab, bakal seberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/">Belajar dari Proyek Pangan di Merauke</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus berambisi mengembangkan proyek ‘pangan’ berskala besar di Merauke. Mulai dari Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga food estate di era Prabowo Subianto sekarang ini. Di balik ambisi besar untuk mencetak sawah baru dalam skala besar Merauke itu, tersisip pertanyaan yang mesti terjawab, bakal seberapa besar proyek-proyek ini berhasil. “Apa yang berbeda dari proyek ini dan mengapa publik harus menerima program tersebut,” kata Fredian Tonny Nasdian, saat mengikuti uji disertasi di ruang Auditorium Andi Hakim Nasoetion,  Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga belum lama ini. Dalam penelitiannya, Ferdian tidak hanya menguji keberhasilan proyek pangan pemerintah juga mempertanyakan bagaimana pembangunan pangan berjalan ketika berhadapan dengan masyarakat adat, hak ulayat, serta keragaman komunitas lokal di Papua Selatan. Salah satu pertanyaan yang hendak Ferdian cari jawabnya adalah: mengapa suatu program diterima di satu kampung, tetapi ditolak di kampung lain. Padahal, program atau kebijakan yang pemerintah buat sama. Selama bertahun-tahun, Papua, terutama  Merauke, telah menjadi laboratorium berbagai proyek pangan berskala besar. Proyek MIFEE masih melekat kuat dalam ingatan publik sebagai simbol investasi pangan yang menuai kontroversi karena mengabaikan hak masyarakat adat, mengubah bentang alam, dan membuka ruang ekspansi korporasi. Pengalaman itu membentuk persepsi bahwa setiap program pembukaan sawah baru merupakan kelanjutan dari pendekatan lama. Karena itulah, Fredian merasa perlu menempatkan proyek  cetak sawah rakyat dalam konteks berbeda. Dia tidak berangkat dari asumsi bahwa seluruh kebijakan pemerintah identik satu sama lain. Sebaliknya, dia menggali lebih jauh implementasi di tingkat komunitas dan respons masyarakat atas kebijakan pemerintah,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/02015904/bering-sea-patrol-3e03af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132967</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum Terusan Panama menyediakan jalur alternatif. Selat Drake berada di titik pertemuan dua samudra dan berbatasan langsung dengan perairan Antartika. Keganasannya dipengaruhi kondisi yang disebut infinite fetch. Angin dan ombak dapat mengumpulkan energi sepanjang ribuan kilometer tanpa terhalang daratan, sebelum dipaksa melewati celah antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika. Selat ini juga berada di lintang 50-60 derajat selatan, wilayah yang dijuluki Furious Fifties dan Screaming Sixties. Badai bertekanan rendah bergerak mengelilingi Antartika hampir tanpa hambatan sehingga dapat terus menguat sebelum mencapai Selat Drake. Topografi dasar laut turut memperbesar turbulensi. Shackleton Fracture Zone memaksa arus dari kedalaman ribuan meter naik mendekati permukaan. Proses tersebut menciptakan pusaran dan gelombang tidak beraturan. Arus yang melintasinya adalah Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi Bumi tanpa terhalang benua. Volume transpornya diperkirakan mencapai 141–173 juta meter kubik per detik, menjadikannya salah satu arus terbesar di planet ini. Meski terkenal berbahaya, kurang dari seperempat penyeberangan dilaporkan benar-benar ganas. Selebihnya relatif tenang dan disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga telah dilengkapi stabilizer untuk mengurangi guncangan. Di balik ombak besarnya, dasar Selat Drake menyimpan sedimen yang merekam perubahan iklim selama 140.000 tahun. Rekaman tersebut membantu ilmuwan menelusuri perubahan kecepatan Arus Lingkar Antartika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 07:21:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/02/22080804/Lumba-lumba-hidung-botol-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133052</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad Sahri, Pakar Mamalia Laut dari Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan peristiwa itu hal biasa. Paus pilot merupakan spesies yang memiliki ikatan sosial sangat tinggi. Biasanya, komunitas yang dibentuk beranggotakan 50 hingga ratusan individu. Saat satu individu mengalami masalah, baik itu karena faktor kesehatan ataupun karena alam dan manusia, yang lain akan menemani. Paling buruk, kawanan tersebut akan terdampar. “Meski mendekati coastal, mereka terus bersama, hingga terdampar. Jadi, murni karena social bond,” ungkap Peneliti Ahli Madya itu, Kamis (27/8/26). Sahri menyebut, kasus paus pilot sirip pendek menjadi contoh mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba terdampar. Ada dua hal utama penyebabnya, selain faktor alamiah seperti penyakit atau berusia tua, ada juga karena antropogenik dari aktivitas manusia. Paus atau lumba-lumba mengalami keterdamparan, bisa karena faktor biologis atau lingkungan. Bisa tunggal atau kombinasi keduanya. Namun, perlu penelitian lebih lanjut dengan membedah tubuh mereka secara medis. “Faktor alamiah bisa juga karena badai matahari, sesuatu yang mungkin tidak bisa diukur.” Antropogenik dikarenaka penurunan daya dukung lingkungan yang mengakibatkan pencemaran dan perubahan ekosistem laut, seperti sampah. Atau, ada pembangunan pesisir dan penggunaan sonar bawah laut pada eksplorasi minyak dan gas. “Paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 05:49:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06054023/Eiger-land-16-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132979</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi Erlan. Dua tahun lalu, ia bahkan belum membayangkan bakal bekerja keluar-masuk hutan. Ketika itu, ia baru pulang ke kampung setelah mencoba mengadu nasib di Jakarta sebagai buruh serabutan. Kini kesehariannya berubah setelah bekerja sebagai pekerja harian EIGER Nature. “Sudah satu tahun bekerja di sini,” katanya. Sebagai pekerja harian, ia mendapat upah sekitar Rp100 ribu per hari. EIGER Nature merupakan kawasan yang tengah dikembangkan dengan konsep ekowisata di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan areal PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Kebun Gunung Mas. Pada tahap awal, EIGER Nature menyebut telah mempekerjakan lebih dari 500 orang warga lokal, termasuk Erlan. Meski sebelumnya tak banyak mengenal hutan, pekerjaan Erlan kini justru lekat dengan kegiatan konservasi dan ekologi. Bersama timnya, ia ikut memonitor kawasan, memetakan jalur, mengecek keberadaan satwa, dan menandai titik-titik yang kelak dapat digunakan untuk interpretasi habitat. Hutan perlahan menjadi ruang belajar baru baginya. “Gigitan pacet ini bagian dari menyerap pengetahuan baru soal hutan,” ujarnya sambil mencabut pacet dari tangannya. Foto udara kawasan Eiger Nature di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Pilihan Kerja yang Menyempit Bagi sebagian warga Sukagalih, hadirnya pekerjaan baru menjadi berarti ketika pilihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 05:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05104420/DSC05066-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133002</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya. Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/">Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya. Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang musim kemarau parah. “Di tempat lain tidak ada yang berbuah. Hanya disini yang ada, aneh juga,” katanya, heran. Pinan jelaskan nama lokal buah itu satu persatu. Mulai dari yang cukup terkenal hingga jenis yang mulai langka dan hanya tumbuh di pedalaman hutan. Salah satunya kapul atau tampui (Baccaurea macrocarpa). Buah eksotis ini masih berkerabat dengan menteng, rambai, dan manggis. Ada juga kulidang atau keledang (Artocarpus lanceifolius), dari keluarga Moraceae atau nangka-nangkaan. Buah ini berkerabat dengan mentawa, kluwih, pintau, cempedak, sukun, selanking, benda, dan nangka. Kata Pinan, buah kulidang kini makin jarang warga temukan seiring berkurangnya hutan alami. “Ini tidak ada di Banua (sebutan bagi wilayah hulu Banjar), kan?” Keledang mulai langka di berbagai wilayah di Borneo. Buah ini memiliki banyak nama lokal, antara lain bangsal, binturung, bunon, kayu dadak, emputu, kakian, sedah, dan tempunang. Durian menjadi salah satu yang paling melimpah ketika kami tiba di Juhu. Buah berduri itu berjatuhan dari pohonnya di jalur perjalanan. “Durian kita, kah ini, Abah?” tanya Ayyub Muhajad, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat. Bagi masyarakat setempat, buah itu sudah menjadi bagian dari keseharian dan kami pun bisa makan sepuasnya. “Banyak durian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kakapo, Burung Nuri Terberat di Dunia yang Hampir Musnah karena Kucing dan Cerpelai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 03:02:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06025715/25728409257_57e91d9608_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133033</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kakapo (Strigops habroptilus) adalah salah satu burung paling unik yang masih bertahan hidup di dunia. Burung asli Selandia Baru ini merupakan satu-satunya jenis burung nuri yang bersifat nokturnal sekaligus tidak bisa terbang, dan tercatat sebagai burung nuri terberat yang pernah ada, dengan bobot dewasa yang bisa mencapai 4 kilogram. Nama kakapo berasal dari bahasa Māori [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/">Kakapo, Burung Nuri Terberat di Dunia yang Hampir Musnah karena Kucing dan Cerpelai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kakapo (Strigops habroptilus) adalah salah satu burung paling unik yang masih bertahan hidup di dunia. Burung asli Selandia Baru ini merupakan satu-satunya jenis burung nuri yang bersifat nokturnal sekaligus tidak bisa terbang, dan tercatat sebagai burung nuri terberat yang pernah ada, dengan bobot dewasa yang bisa mencapai 4 kilogram. Nama kakapo berasal dari bahasa Māori yang berarti &#8220;burung nuri malam&#8221;, sesuai kebiasaannya yang aktif mencari makan sepanjang malam dan bersembunyi di lantai hutan pada siang hari.Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), kakapo berstatus kritis terancam punah (critically endangered), kategori tertinggi sebelum sebuah spesies dinyatakan punah di alam liar. Populasi kakapo saat ini hanya bertahan berkat pengelolaan intensif manusia di sejumlah pulau bebas predator, jauh berbeda dari kondisi aslinya ketika burung ini pernah tersebar luas di seluruh daratan Selandia Baru. Fakta dan Keunikan Biologi Kakapo Karena tidak bisa terbang, kakapo mengandalkan kaki yang kuat untuk berjalan jauh dan memanjat pohon, lalu meluncur turun dengan bantuan sayapnya yang pendek layaknya parasut. Bulunya berwarna hijau lumut berbintik kuning dan cokelat, corak yang berfungsi sebagai kamuflase sempurna di lantai hutan Selandia Baru pada masa ketika predator alaminya hanya berupa burung pemangsa dari udara. Kakapo juga memiliki wajah menyerupai burung hantu lengkap dengan kumis sensorik di sekitar paruh, sehingga kadang dijuluki owl parrot. Indra penciumannya termasuk yang paling tajam di antara jenis burung, kemampuan yang digunakan untuk melacak sumber pangan di kegelapan malam. Kakapo termasuk burung dengan usia hidup terpanjang di dunia. Umurnya diperkirakan bisa mencapai 60 hingga 80 tahun, jauh melampaui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 02:11:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22013941/Gajah-CRU1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132607</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu  di Malang Creative Center (MCC).  Acan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/">Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu  di Malang Creative Center (MCC).  Acan mengisahkan dua anak gajah, kakak beradik, Gogo dan Gigi. Sang adik, Gigi terpisah dari rombongan gajah karena pemburu yang meletuskan senjatanya. Setelah aman, Gogo pun mencari Gigi di hutan rimba. “Gogo harus mengarungi hutan, sungai dan perbukitan,” kata Kak Acan. Menembus semak belukar dan berbagai halangan ia hadapi untuk bertemu dengan sang adik. Akhirnya, mereka bertemu, Gigi kembali bersama rombongan gajah. Mereka kembali berjalan bersama-sama menembus hutan belantara. “Dimana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. “Di hutan,” jawab anak-anak penyandang disabilitas. Mereka antusias, menyimak dan menghayati pesan dari cerita Kak Acan. Kegiatan mendongeng gajah merupakan kerja sama antara Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial (Linksos) dengan Geopix. Kak Acan melontarkan pertanyaan kepada para penonton. Mereka yang menjawab benar mendapat hadiah. Selama tiga jam, mereka duduk tepekur menyimak Kak Acan. Edukasi ringan terkait dengan hutan dan satwa mengawali kegiatan edukasi itu. Di sela-sela mendongeng, mereka mengisinya dengan pentas seni. Dari membaca puisi, menyanyi, hingga membaca Quran. Selain peringati Hari Gajah Sedunia, kegiatan itu juga bagian dari kampanye bersama bertema ”Make Elephant Great Again atau Kembalikan Kejayaan Gajah”. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan perlindungan gajah Indonesia di habitatnya melalui aksi kreatif, edukasi publik, serta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 00:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/16054522/Ular-lanang-sapi1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132974</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/">Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, sebagian cara itu tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berbahaya. Penggunaan setrum di persawahan bahkan pernah menimbulkan korban jiwa. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang tetap relevan hingga kini: bisakah predator alami dikembalikan untuk mengendalikan tikus dengan lebih aman? Salah satu percobaannya dilakukan melalui program “Ular Sahabat Tani”. Pada 8 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Panji Petualang serta sejumlah pegiat media sosial melepas 200 ular ke area persawahan. Ular yang dilepaskan terdiri dari ular jali (Ptyas mucosa), koros (Ptyas korros), dan lanang sapi (Coelognathus radiatus). Ketiganya tidak berbisa dan merupakan bagian dari ekosistem setempat. Selain tikus, ular-ular tersebut juga memangsa burung dan kodok. Keberadaan ular di sawah sebenarnya bukan hal baru. Namun, populasinya semakin sulit ditemukan karena habitatnya berubah dan ular kerap dibunuh. Hilangnya predator alami membuat tikus lebih leluasa berkembang di kawasan pertanian monokultur yang menyediakan makanan berlimpah. Amir Hamidy, herpetolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa hanya sekitar lima persen ular darat di Jawa yang berbisa. Jenis rat snake yang dilepas di Indramayu umumnya memilih menghindar ketika bertemu manusia dan tidak menyerang kecuali diganggu. Secara biologis, ular dapat menjadi pengendali tikus yang efektif. Ular jali mampu memangsa hingga 12 tikus sehari.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya RUU Reforma Agraria Masuk Meja DPR</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 23:22:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24075153/Hari-Tani-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133021</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Konflik agraria banyak terjadi di berbagai penjuru negeri. Atas desakan berbagai organisasi masyarakat sipil, akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026 sebagai inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi (Baleg) sampaikan keputusan ini saat rapat kerja dengan pemerintah dan Panitia Perancang Undang-undang (PPUU), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/">Akhirnya RUU Reforma Agraria Masuk Meja DPR</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Konflik agraria banyak terjadi di berbagai penjuru negeri. Atas desakan berbagai organisasi masyarakat sipil, akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026 sebagai inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi (Baleg) sampaikan keputusan ini saat rapat kerja dengan pemerintah dan Panitia Perancang Undang-undang (PPUU), Senin (24/8/26). “RUU tentang Pengaturan Reforma Agraria dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik agraria struktural yang sampai saat ini belum tuntas,” ujar Bob Hasan. Dia mengatakan, inisiatif pembentukan RUURA berlatar belakang marak konflik agraria karena dua tata kelola hukum. Yakni,  kawasan hutan lewat UU Kehutanan,  dan non kawasan hutan melalui UU Pokok Agraria (UUPA), termasuk perkebunan. Bob bilang, RUURA akan mengadopsi beberapa pasal atau ketentuan yang sebelumnya ada dalam UUPA dan UU Kehutanan. Dia bilang, sejak 2008, masyarakat sudah menuntut agar ada UU khusus yang mengatur reforma agraria. Berdasarkan hasil rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR, menyepakati, pembahasan RUURA kepada Baleg dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Bapak-ibu pimpinan memberikan tugas ke Baleg,” ucap Bob. Ahmad Doli Kurnia, Wakil Ketua Baleg menambahkan, RUURA sangat mendesak sebab UUPA, yang secara khusus mengatur agraria dan penguasaan sumber daya alam sudah berusia puluhan tahun. “UU Pokok Agraria itu kan tahun 1960, bayangkan saja 1960 sampai sekarang itu udah berapa tahun? 60 tahun! Justru kami mendorong itu UUPA direvisi, namun sekarang kami lebih memilih buat RUU-RA,” ucap Doli. Perwakilan pemerintah yang menghadiri rapat kerja itu, Edward Omar Sharif Hiariej Wakil Menteri Hukum, menyepakati RUU-RA sebagai inisiatif DPR dan masuk bahasan Baleg. “Disepakati. Biar cepat, Pak,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 17:23:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/05/22084841/hutan-siosar3-Gunung-Sinabung-yang-terus-erupsi-Ayat-S-Karokaro.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132848</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul 10.00 WIB. Dia mengajak istrinya berlindung di pondok sambil memantau arah sebaran abu. Sebelumnya, dua bulan terakhir, dia mengamati asap tipis keluar dari puncak, namun tidak menganggapnya mengkhawatirkan. Saat erupsi, dia sedang memanen wortel lebih dari 75 kilogram dan markisa sekitar 42 kilogram. Hasil kebun dia hendak kirim ke Berastagi dan menjualnya ke penampung maupun Pasar Buah Berastagi. &#8220;Mudah-mudahan Sinabung reda dan tidak erupsi lagi seperti tahun 2023,&#8221; katanya. Dia sadar risiko tinggal di Sinabung. Satu sisi, aktivitas vulkanisme memang membuat subur, tetapi sisi lain, aktivitas vulkanisme itu mengancam keberadaan warga. Kajian ilmiah Sutawidjaja, Iguchi, dan Pusat Penelitian Pertanian, Kementerian Pertanian menyebut,  Sinabung gunung api strato atau kerucut berlapis yang terbentuk pada zaman Pleistosen hingga Holosen. Batuan penyusun utamanya berjenis basaltik-andesit hingga andesit, kaya mineral plagioklas, piroksen, dan hornblenda. Material vulkanik yang dilapuk mengandung unsur hara kalsium, magnesium, kalium, dan fosfor yang tinggi sehingga menjadi tanah sangat subur bagi pertanian. &nbsp; Pemandangan ini terlihat indah dari atas bukit Gundaling. Tampak Gunung Sinabung mengeluarkan debu vulkanik tipis dari dalam kawahnya. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia. Mengungsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>