Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut.
Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum Terusan Panama menyediakan jalur alternatif. Selat Drake berada di titik pertemuan dua samudra dan berbatasan langsung dengan perairan Antartika.
Keganasannya dipengaruhi kondisi yang disebut infinite fetch. Angin dan ombak dapat mengumpulkan energi sepanjang ribuan kilometer tanpa terhalang daratan, sebelum dipaksa melewati celah antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika.
Selat ini juga berada di lintang 50-60 derajat selatan, wilayah yang dijuluki Furious Fifties dan Screaming Sixties. Badai bertekanan rendah bergerak mengelilingi Antartika hampir tanpa hambatan sehingga dapat terus menguat sebelum mencapai Selat Drake.
Topografi dasar laut turut memperbesar turbulensi. Shackleton Fracture Zone memaksa arus dari kedalaman ribuan meter naik mendekati permukaan. Proses tersebut menciptakan pusaran dan gelombang tidak beraturan.
Arus yang melintasinya adalah Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi Bumi tanpa terhalang benua. Volume transpornya diperkirakan mencapai 141–173 juta meter kubik per detik, menjadikannya salah satu arus terbesar di planet ini.
Meski terkenal berbahaya, kurang dari seperempat penyeberangan dilaporkan benar-benar ganas. Selebihnya relatif tenang dan disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga telah dilengkapi stabilizer untuk mengurangi guncangan.
Di balik ombak besarnya, dasar Selat Drake menyimpan sedimen yang merekam perubahan iklim selama 140.000 tahun. Rekaman tersebut membantu ilmuwan menelusuri perubahan kecepatan Arus Lingkar Antartika dan kaitannya dengan kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon.
Data sedimen menunjukkan arus bergerak lebih cepat pada periode interglasial terakhir dibandingkan sekarang. Pola serupa dapat muncul kembali jika pemanasan global berlanjut, dengan risiko menurunnya kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon dioksida.
Studi lain menemukan transpor arus melalui Selat Drake tetap stabil selama tiga dekade terakhir, meskipun angin barat menguat dan bergeser ke arah kutub. Pergeseran batas utara arus mengalihkan sebagian aliran menuju pusaran subtropis.
Turbulensi Selat Drake juga membantu membawa air kaya karbon ke laut dalam dan mengangkat nutrisi ke permukaan melalui upwelling. Nutrisi tersebut menopang fitoplankton dan krill, yang menjadi dasar rantai makanan bagi paus, anjing laut, serta burung laut Antartika.
Selat Drake bukan sekadar jalur menantang bagi pelaut. Di balik gelombangnya, perairan ini turut mengatur iklim dan menopang kehidupan di Samudra Selatan.
Foto utama: lustrasichaluan kapal yang diterjang ombak di lautan lepas. Di Selat Drake, fenomena yang dikenal sebagai “Drake Shake” memaksa kapal menghadapi guncangan hebat akibat pertemuan arus deras dan angin kencang tanpa hambatan daratan. Foto: Official U.S. Coast Guard.