<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=richaldo-harandja&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/richaldo-harandja/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 02 Sep 2026 13:18:19 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 13:18:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/02015904/bering-sea-patrol-3e03af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132843</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/">Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan Amerika untuk berpindah antara Samudra Pasifik dan Atlantik, jauh sebelum Terusan Panama dibangun sebagai jalur alternatif. Posisinya yang berada di titik pertemuan dua samudra sekaligus berbatasan langsung dengan perairan Antartika membuat selat ini tidak pernah benar-benar lepas dari perhatian ahli kelautan maupun pelaut komersial. Ombak besar menghantam geladak kapal saat melintasi Selat Drake, dampak dari infinite fetch yang membuat angin dan arus menumpuk energi tanpa halangan daratan di zona Furious Fifties dan Screaming Sixties. Turbulensi semacam ini justru menjadi bagian dari mekanisme yang membantu Samudra Selatan menyerap karbon dan panas dari atmosfer. (Foto: W. Bulach/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0) Namun di balik reputasi itu, selat ini juga menjadi tempat mengalirnya Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi bumi tanpa terhalang daratan benua. Dasar laut di selat ini bahkan menyimpan rekaman sedimen berusia 140.000 tahun yang membantu ilmuwan merekonstruksi bagaimana arus ini berubah dari masa ke masa, dan bagaimana perubahan itu berkaitan dengan penyerapan karbon oleh Samudra Selatan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada November 2025 baru saja mengungkap bagaimana arus ini tetap bertahan stabil di tengah perubahan pola angin global, temuan yang memperkuat posisi Selat Drake sebagai salah satu penjaga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 11:15:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02110631/Rancapinang_Foto-10-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132826</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  &#160; Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang menyatakan tak menerima atau niet ontvankeljike verklaard (NO) gugatan enam warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, terkait penerbitan sertifikat hak pakai (SHP) Nomor 1/2012 atas nama Kementerian Pertahanan. Putusan perkara Nomor 10/G/2026/PTUN.SRG itu tercatat dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Serang pada Kamis, (6/8/26). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/">Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  &nbsp; Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang menyatakan tak menerima atau niet ontvankeljike verklaard (NO) gugatan enam warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, terkait penerbitan sertifikat hak pakai (SHP) Nomor 1/2012 atas nama Kementerian Pertahanan. Putusan perkara Nomor 10/G/2026/PTUN.SRG itu tercatat dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Serang pada Kamis, (6/8/26). Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan,  gugatan para penggugat tidak dapat diterima dan menghukum mereka membayar biaya perkara sebesar Rp7.599.000. Abdul Rohim Marbun, Pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sekaligus kuasa hukum warga Rancapinang, menilai, Majelis Hakim PTUN Serang gagal dalam melihat substansi perkara. Kasus ini, katanya, merupakan sengketa tata usaha negara karena tindakan badan atau pejabat pemerintah dalam hal ini Kepala Kantor Pertanahan Pandeglang yang menerbitkan sertifikat hak pakai dengan tidak ada bukti perolehan yang jelas dan terang selama proses persidangan. Menurut dia, tak ada bukti yang menunjukkan ada jual-beli antara masyarakat dengan PT Mandirinusa Grahaperkasa (MGP),  sebagai bentuk perusahaan itu melakukan ruislag dengan TNI-AD. “Putusan ini mencerminkan kegagalan lembaga peradilan yang memiliki kewenangan untuk memeriksa dan menyelesaikan sengketa administrasi atas tindakan badan atau pejabat pemerintah,” kata Rohim kepada Mongabay, Senin, (10/8/26). Sengketa itu berkaitan dengan sekitar 364 hektar tanah di Desa Rancapinang yang masuk klaim SHP pemerintah. Enam warga yang menjadi penggugat  yaitu, Tajudin, Masdoni, Rohani, Hamjah, Marki, dan Mista. Para penggugat menyatakan, mereka dan keluarga sudah menguasai dan mengelola tanah itu secara turun-temurun untuk pertanian dan perkebunan. Dalam persidangan, warga antara lain mempersoalkan tak ada bukti pelepasan hak atas tanah yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 10:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/08131237/Ikan-Gobi-jenis-baru-di-Halmahera-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132625</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, Lahan Basah, maluku, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis. Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/">Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis. Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada dan sembilan jari-jari sirip punggung. Kepala serta lehernya tidak memiliki sisik. Individu jantan dapat dikenali dari warna merah cerah dengan bintik dan pola biru di bagian punggung. Keunikan utama ikan ini terletak pada siklus hidupnya yang disebut amfidromus. Telur menetas di sungai, kemudian larvanya terbawa arus menuju laut. Setelah berkembang, ikan kembali ke perairan tawar dan hidup hingga dewasa untuk berkembang biak. Artinya, kelangsungan hidupnya bergantung pada hubungan yang tidak terputus antara sungai dan laut. Perairan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah penting bagi persebaran ikan gobi. Sejumlah sungai di Halmahera Tengah, seperti Sungai Sagea, Ake Sawai, DAS Kobe, dan Muara Sungai Waibulen, menjadi habitat berbagai ikan endemik Halmahera, termasuk S. annieae. Namun, keberadaan ikan ini disebut mulai berkurang. Iwan Kader, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate, mengatakan bahwa S. annieae semakin sulit dijumpai. “Jenis ikan ini makin langka ditemukan,” ujarnya. Awalnya, S. annieae dianggap memiliki wilayah persebaran sangat sempit karena hanya diketahui berada di Halmahera. Namun, penelitian berikutnya menemukan ikan ini di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sekitar 500-600 kilometer di sebelah barat Halmahera. Tim peneliti mengumpulkan 23 spesimen dari tiga sungai pesisir yang tidak saling terhubung di Luwuk Banggai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa S.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Marak, Maklumat Forkopimda Aceh Tidak Dianggap?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 04:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/08/22012015/Tambang3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132796</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI), mendapat perhatian serius Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh. Para pimpinan daerah itu mengultimatum, seluruh kegiatan pertambangan emas ilegal harus dihentikan paling lambat 17 Agustus 2026. Hal tersebut disampaikan melalui Maklumat Bersama Forkopimda Aceh yang dikeluarkan Rabu (22/7/26). Mereka juga meminta penggunaan bahan berbahaya merkuri dan sianida dihentikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/">Tambang Emas Ilegal Marak, Maklumat Forkopimda Aceh Tidak Dianggap?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI), mendapat perhatian serius Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh. Para pimpinan daerah itu mengultimatum, seluruh kegiatan pertambangan emas ilegal harus dihentikan paling lambat 17 Agustus 2026. Hal tersebut disampaikan melalui Maklumat Bersama Forkopimda Aceh yang dikeluarkan Rabu (22/7/26). Mereka juga meminta penggunaan bahan berbahaya merkuri dan sianida dihentikan. Forkopimda Aceh terdiri Wali Nanggroe Aceh, Gubernur Aceh, Ketua DPRA, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Kabinda Aceh, Danlanud Sultan Iskandar Muda, Danlanal Sabang, Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh, dan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Dalam maklumat disebutkan, praktik PETI menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengancam keselamatan manusia dan makhluk hidup lain. Seluruh pelaku diminta segera menghentikan penambangan, termasuk pengadaan, penyimpanan, penggunaan, dan perdagangan merkuri maupun sianida tanpa izin. Forkopimda mengingatkan, pelaku PETI dapat dijerat sejumlah ketentuan hukum. Ada UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, serta UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Seluruh bupati dan wali kota di Aceh, diinstruksikan meningkatkan pengawasan dan mengambil tindakan terhadap aktivitas PETI. “Seluruh pelaku diwajibkan menghentikan operasional serta mengeluarkan alat berat dan peralatan tambang, paling lambat 17 Agustus 2026.” M. Nasir, Sekretaris Daerah Aceh, mengungkapkan bahwa pemerintah masih menemukan kegiatan penambangan emas ilegal di sejumlah daerah, yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 02:40:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010713/Kabut-asap-akibat-kebakaran-lahan-dan-hutan-tidak-menghentikan-pengangkutan-batubara-di-Sungai-Musi-Palembang.-Foto-Mahesa-Putra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132741</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menguasai 47,3% pangsa pasar dunia untuk ekspor batubara termal—kalori rendah, juga sedang—yang jadi primadona untuk bahan bakar pembangkit listrik di kawasan Asia,  tetapi, harga jual berada di bawah pasaran (underpricing). Jika berlanjut, kondisi ini akan mengorbankan lingkungan dan perekonomian. Kajian Transisi Bersih bertajuk Reformasi Tata Kelola Ekspor: Mengakhiri Era batubara Underpricing yang rilis Juli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan/">Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menguasai 47,3% pangsa pasar dunia untuk ekspor batubara termal—kalori rendah, juga sedang—yang jadi primadona untuk bahan bakar pembangkit listrik di kawasan Asia,  tetapi, harga jual berada di bawah pasaran (underpricing). Jika berlanjut, kondisi ini akan mengorbankan lingkungan dan perekonomian. Kajian Transisi Bersih bertajuk Reformasi Tata Kelola Ekspor: Mengakhiri Era batubara Underpricing yang rilis Juli lalu menyebut,  kondisi underpricing tak hanya bermakna menjual batubara dengan harga murah, tetapi ketika nilai ekspor berada di bawah harga pasar yang wajar, setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi. “Sederhananya, harga rendah belum tentu bermasalah. Transaksi tergolong underpriced apabila selisihnya tetap signifikan meski seluruh faktor tersebut telah diperhitungkan,” kata  Muhammad Irfan Islami, analis senior Transisi Bersih, saat peluncuran laporan. Penelitian itu menggunakan selisih harga komoditas ini Indonesia dengan indeks acuan dunia, seperti Newcastle Australia 6.000 kcal/kg Net As Received (NAR) yang biasa pasar gunakan untuk batubara kualitas tinggi. Secara teori ekonomi, katanya, dua komoditas energi yang dapat saling menggantikan seharusnya hanya memiliki perbedaan harga yang mencerminkan kualitas, kandungan energi, dan biaya pengangkutan. &#8220;Namun yang kami temukan, batubara Indonesia diperdagangkan dengan diskon yang jauh lebih besar daripada sekadar penyesuaian kandungan energinya.&#8221; Tim riset juga menganalisis ekspor 20 negara eksportir terbesar, terutama Australia, Rusia, Afrika Selatan, dan Kolombia, sepanjang 2020–2024. Tidak hanya harga per ton, juga mengonversinya ke satuan energi US$ per gigajoule (GJ). Hasilnya, harga ekspor batubara Indonesia secara konsisten berada pada kisaran US$50–60 per ton. Lebih murah ketimbang eksportir lain—dan tetap bertahan, terlepas dari naik-turunnya harga batubara acuan (HBA)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 00:30:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/08/22045614/Falahi-Mubarok-Nelayan-Pencari-Kerang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132717</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, kelautan dan perikanan, komunita lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni. Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir/">Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni. Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang langsung di alam. Kini, perubahan lanskap pesisir, reklamasi Teluk Jakarta, hilangnya mangrove, serta pencemaran laut membuat kerang semakin sulit ditemukan. Budidaya kemudian beralih menggunakan keramba jaring apung yang dapat dipindahkan saat kualitas air memburuk. Namun, investasi awalnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas keramba pun dimiliki pemodal dari luar, sedangkan warga Dadap menjadi buruh budidaya dan pengupas kerang. Ida, salah seorang perempuan Dadap, mampu mengupas 12–15 kilogram kerang per hari. Dengan upah Rp4.000 per kilogram, penghasilannya berkisar Rp50.000–Rp60.000 sehari. Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, mengatakan perempuan harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja sebagai pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pengolah hasil laut. Ikan yang kurang diminati pasar diolah menjadi kerupuk dan produk UMKM lain. Sebagian keluarga nelayan juga terjerat pinjaman bank keliling dan rentenir. Kesulitan ekonomi semakin berat karena banjir rob membawa lumpur dan sampah ke rumah hampir setiap hari. Perempuan yang seharusnya dapat mencari penghasilan harus menghabiskan waktu membersihkan rumah. Kelelahan fisik dan emosional itu turut memengaruhi hubungan mereka dengan anak. “Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”, kata Imah. Kerusakan pesisir juga menekan pendapatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Alarm Lingkungan dari Berbagai Penjuru Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/alarm-lingkungan-dari-berbagai-penjuru-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/alarm-lingkungan-dari-berbagai-penjuru-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 23:36:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/05170006/PLTA-Kerinci-16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=132557</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Energi, hutan indonesia, pangan, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Bencana datang silih berganti. Banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hingga gempa bumi. Meski begitu, pemerintah terlihat abai pada peringatan ancaman lingkungan yang muncul. Banyak program-program prioritas pemerintah yang tak mementingkan pada aspek lingkungan dan sosial. Alih-alih melestarikan alam, kelalaian manusia nyatanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/alarm-lingkungan-dari-berbagai-penjuru-indonesia/">Alarm Lingkungan dari Berbagai Penjuru Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Bencana datang silih berganti. Banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hingga gempa bumi. Meski begitu, pemerintah terlihat abai pada peringatan ancaman lingkungan yang muncul. Banyak program-program prioritas pemerintah yang tak mementingkan pada aspek lingkungan dan sosial. Alih-alih melestarikan alam, kelalaian manusia nyatanya menciptakan kondisi yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.  Dari Sumatera hingga Nusa Tenggara, ada isu kegagalan proyek food estate andalan pemerintah, krisis lingkungan akibat PLTA, ancaman perburuan satwa liar hingga tambang ilegal.  Berbagai peristiwa yang terjadi di bulan Agustus tak hanya menunjukkan kerusakan lingkungan tapi juga menyiratkan lemahnya pengawasan dan keseriusan pemerintah dalam melindungi alam dan manusia di dalamnya. Simak lebih lanjut kisah lengkapnya pada artikel pilihan di bulan Agustus dalam Mongabay Snaps! 1. Cerita untung dan buntung petani Belu akibat proyek food estate di NTT Tanaman jagung menghijau di lahan food estate blok B seluas 65 are di Desa Fatuketi. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Ada empat blok yang menjadi kawasan food estate di Kabupaten Belu, NTT. Luasnya sekitar 559 hektar. Rencananya kala itu, tahun 2022 saat peresmian, akan ditanami jagung dan padi.  Sayangnya, program ini mengubah sistem tanam tumpang sari ke monokultur dan juga ketergantungan pada bantuan pemerintah. Namun sejak 2024, bantuan benih, pupuk, dan pestisida dari pemerintah berhenti dan membuat kerugian bagi petani. Padahal, peralihan sistem tanam ini meningkatkan risiko kekeringan, serangan hama, penurunan kesuburan tanah, dan ketergantungan pada bantuan.  Program yang menjadi bagian dari PSN ini nyatanya juga membuat petani kehilangan keragaman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/alarm-lingkungan-dari-berbagai-penjuru-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/alarm-lingkungan-dari-berbagai-penjuru-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Hilangnya Hutan, Ada Kucing Batu yang Terdesak Hidupnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 10:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/03/22014801/kucing-batu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132718</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan. Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/">Di Balik Hilangnya Hutan, Ada Kucing Batu yang Terdesak Hidupnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan. Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, tetapi penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa gaya hidupnya membuat kucing batu lebih rentan terhadap kerusakan hutan. Para peneliti menganalisis foto kamera jebak dari berbagai wilayah Asia Tenggara. Mereka membandingkan penggunaan habitat kucing batu dengan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing liar yang lebih sering beraktivitas di darat. Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok. Kucing kuwuk masih dapat memanfaatkan perkebunan sawit untuk berburu tikus. Sebaliknya, kucing batu memberikan respons buruk terhadap pembukaan hutan dan perkebunan sawit. Kamera jebak memperlihatkan bahwa kucing batu merupakan spesialis hutan interior. Ia lebih sering ditemukan di kawasan hutan utuh yang luas dan saling terhubung. Perkebunan sawit tidak dapat menggantikan fungsi habitat tersebut meskipun sama-sama dipenuhi pepohonan. Perubahan lingkungan juga memengaruhi perilakunya. Kucing batu biasanya aktif pada siang hari. Namun, di kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, satwa ini beberapa kali terekam saat senja. Perubahan waktu aktivitas mungkin menjadi cara kucing batu menghindari manusia. Akan tetapi, strategi itu memiliki konsekuensi. Waktu berburu dan menjelajahnya menjadi lebih singkat. Kucing batu juga berisiko bertemu pesaing atau predator baru yang aktif pada waktu berbeda. Ancaman semakin besar ketika hutan terpecah menjadi petak-petak kecil. Fragmentasi dapat memutus jalur pergerakan, menyulitkan pencarian makanan dan pasangan, serta mengisolasi populasi. Bagi satwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 09:17:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Leah VarjacquesRizky RahadSandy Watt]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01091324/Masyarakat-Adat-Balik-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=132784</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika Indonesia membangun ibu kota barunya di pegunungan Kalimantan Timur, deru gergaji mesin mulai menenggelamkan suara hutan hujan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Masyarakat Adat Balik. Sebuah film dokumenter terbaru, Sound Guardians hasil kolaborasi Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli berupaya merekam kondisi hutan tersebut dengan melibatkan ilmuwan dan penduduk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/">Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika Indonesia membangun ibu kota barunya di pegunungan Kalimantan Timur, deru gergaji mesin mulai menenggelamkan suara hutan hujan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Masyarakat Adat Balik. Sebuah film dokumenter terbaru, Sound Guardians hasil kolaborasi Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli berupaya merekam kondisi hutan tersebut dengan melibatkan ilmuwan dan penduduk setempat. Mantan Presiden Joko Widodo dikenal sebagai penggagas pemindahan pusat administrasi Indonesia dari Jakarta, kota yang diprediksi tenggelam paling cepat di dunia. Para ahli memperkirakan, sepertiga wilayah Jakarta akan terendam air pada 2050 akibat kenaikan permukaan laut dan eksploitasi air tanah berlebihan. Sementara itu, pihak resmi IKN menyebut Nusantara sebagai &#8220;kota hutan pintar&#8221; yang ditargetkan rampung pada 2045. Wendy Erb, ilmuwan bioakustik dari Cornell Lab of Ornithology, Amerika Serikat, telah merekam lanskap suara hutan Kalimantan selama satu dekade terakhir, termasuk sepanjang masa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berlangsung. Bersama timnya, dia mengumpulkan rekaman dari berbagai titik, mulai dari puncak gunung, hutan bakau, hingga gua. Erb menyebut, kumpulan data tersebut sebagai &#8220;kapsul waktu&#8221; yang memungkinkan peneliti membandingkan perubahan lingkungan seiring laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Data ini berpotensi mengungkap titik-titik yang paling terdampak, yaitu tempat satwa liar mulai tergusur, di habitatnya. &#8220;Mungkin di situlah lebih banyak investasi konservasi perlu diarahkan,&#8221; ujar Erb dalam film dokumenter tersebut. &#8220;Pertanyaannya adalah, bisakah kita mempertajam pendengaran kita? Bisakah kita benar-benar memperhatikan, menyadari bahwa alam sedang kita sakit?&#8221; Bagi Abidin, anggota komunitas adat Balik sekaligus warga Pemaluan, satu desa di kawasan IKN, suara hutan bukan sekadar suara &#8220;ambience&#8221; biasa, melainkan penopang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Mata di Dalam Gua, Ikan &#8220;Iblis&#8221; Ini Diduga Salah Satu yang Terlangka di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 07:21:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01071423/amblyopsis-hoosieri-29330-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132776</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah survei rutin di Gua Bobcat, dekat Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, berujung pada penemuan tak terduga berupa spesies dan genus baru ikan gua. Ikan ini dideskripsikan dalam jurnal Scientific Reports bulan Juli 2026, oleh tim peneliti yang dipimpin Dr. Matthew L. Niemiller, profesor madya biologi sekaligus direktur Cave Bio Lab di Universitas Alabama di Huntsville. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/">Hidup Tanpa Mata di Dalam Gua, Ikan &#8220;Iblis&#8221; Ini Diduga Salah Satu yang Terlangka di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah survei rutin di Gua Bobcat, dekat Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, berujung pada penemuan tak terduga berupa spesies dan genus baru ikan gua. Ikan ini dideskripsikan dalam jurnal Scientific Reports bulan Juli 2026, oleh tim peneliti yang dipimpin Dr. Matthew L. Niemiller, profesor madya biologi sekaligus direktur Cave Bio Lab di Universitas Alabama di Huntsville. Ikan tersebut diberi nama ilmiah Demogorgonichthys arcanus, dan langsung menarik perhatian karena penampilannya yang tidak lazim serta lokasi penemuannya yang selama ini dianggap sudah dipelajari secara menyeluruh. Gua Bobcat terletak di kawasan Redstone Arsenal, fasilitas militer milik Angkatan Darat AS, dan telah dipantau para peneliti secara berkala, setidaknya setiap tiga bulan, selama lebih dari 30 tahun. Gua ini dikenal sebagai habitat udang gua Alabama yang berstatus terancam punah, dua spesies udang karang gua, serta ikan gua selatan (Typhlichthys subterraneus). Pada Februari 2025, saat melakukan survei rutin untuk memantau spesies-spesies tersebut, Niemiller menemukan seekor ikan yang tampilannya berbeda dari ikan gua selatan yang biasa ia jumpai di lokasi yang sama. Bagi para ahli biologi gua, famili Amblyopsidae, tempat ikan ini akhirnya diklasifikasikan, sudah menjadi objek kajian sejak abad ke-19 dan dianggap salah satu kelompok ikan gua yang paling dipahami di dunia. Famili ini mencakup beberapa genus yang sudah dikenal luas, termasuk Amblyopsis dan Typhlichthys, yang tersebar di berbagai sistem gua di Amerika Serikat bagian tenggara. Karena kelompok ini sudah lama dan intensif diteliti, penemuan genus baru di dalamnya dianggap kejadian yang sangat jarang terjadi, apalagi di gua yang sudah dipantau selama puluhan tahun seperti Gua Bobcat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Ular Spesies Baru dari Papua Bernama Gitaris Guns N’ Roses</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 06:15:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01060154/Ular-Slash1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132770</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular. Medan yang sulit dan luas menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu pengetahuan untuk menguak tabir kekayaan hayati pulau terbesar kedua di dunia ini. Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/">Ada Ular Spesies Baru dari Papua Bernama Gitaris Guns N’ Roses</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular. Medan yang sulit dan luas menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu pengetahuan untuk menguak tabir kekayaan hayati pulau terbesar kedua di dunia ini. Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris baru-baru ini mengumumkan penemuan spesies baru ular tanah dari Papua. Hasil penelitian mereka dimuat dalam jurnal Zootaxa, Agustus 2026, dengan judul “A new species of Papuan groundsnake (Squamata: Colubridae: Lielaphis) from New Guinea.” Dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern, mereka berhasil mengidentifikasi spesies ular tanah baru. Uniknya, spesies baru ini diberi nama salah satu personel Guns N’ Roses, sebuah grup band rock asal Amerika yang pernah menghasilkan lagu “Welcome to the Jungle.” &#8220;Guns N&#8217; Roses merupakan band favorit saya sejak saya kelas satu, dan pada kelas lima, saya sudah mengatakan kepada guru saya bahwa saya ingin menjadi herpetologi&#8211;ilmuwan yang mempelajari reptil&#8211;saat saya dewasa,&#8221; kata Sara Ruane, peneliti dan penulis laporan itu mewakili rekan-rekannya, dikutip dari Phys.org. Suatu ketika Ruane menerima majalah Reptiles, dan ada foto Slash (Saul Hudson), gitaris Guns N’. Roses sedang memegang  ular phyton. Ruane terkesan dengan tampilan Slash dan menganggapnya keren. &#8220;Saya membaca ulang wawancaranya, dan dia berbicara tentang betapa dia mencintai museum, kebun binatang, dan sejarah alam, dan tentang bagaimana saat dia kecil, dia keluar dan mencari ular&#8211;semua itu adalah hal yang sangat saya hubungkan, dan itu membuat saya berpikir bahwa dia akan menjadi orang yang tepat untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 04:35:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17025305/20260304_165328-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132726</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat sebagian rakyat Indonesia bersukacita merayakan Kemerdekaan Indonesia, hal sebaliknya terjadi di Kampung Kalat, Pantai Melayu, Rempang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Disana, warga justru bersitegang dengan aparat. Ketegangan itu terjadi setelah sejumlah alat berat yang mendapat kawalan berbagai unsur keamanan tiba di lokasi guna melakukan pematangan lahan di lokasi proyek pembangunan sekolah terintegrasi (sebelumnya Sekolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/">Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat sebagian rakyat Indonesia bersukacita merayakan Kemerdekaan Indonesia, hal sebaliknya terjadi di Kampung Kalat, Pantai Melayu, Rempang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Disana, warga justru bersitegang dengan aparat. Ketegangan itu terjadi setelah sejumlah alat berat yang mendapat kawalan berbagai unsur keamanan tiba di lokasi guna melakukan pematangan lahan di lokasi proyek pembangunan sekolah terintegrasi (sebelumnya Sekolah Rakyat/SR). Padahal, sejak awal proyek itu berlangsung, warga sudah menolaknya. “Kejadian seperti ini yang terus membuat kami tidak tenang. Kami selalu waswas,” kata Sopia, Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) akhir Agustus. Menurut  dia, ada dua warga di Kampung Kalat yang sampai hari ini belum melepas lahan untuk proyek itu,  yakni Gerisman dan Rosnah. Pemerintah bergeming. Alih-alih menghargai keputusan keduanya, pemerintah justru turunkan alat berat dan menggusur paksa mereka dari tanahnya sendiri. Proses pengukuran lahan untuk Sekolah Rakyat di Rempang yang sempat diwarnai ketegangan lantaran &#8216;mencaplok&#8217; lahan warga. Foto: Amar GB. Pemerintah tak mau belajar Sopia katakan, penurunan alat berat dengan kawalan penuh mempertegas bahwa pemerintah seolah tak mau belajar dari konflik Rempang Ecocity (ERC) 2023. Kendati mendapat penolakan warga, aparat dan pemerintah ngotot untuk menggusur paksa melakukan pematangan terhadap lahan Gerisman dan Rosnah. Alat berat bekerja dalam kawalan polisi, Ditpam BP Batam dan Satpol PP,  lebih banyak daripada warga yang berkumpul.  Aksi saling dorong dan cekcok antara petugas kembali terjadi. Rosnah bahkan nekat menerobos barisan petugas menuju alat berat. Petugas yang mencoba menghalau menyebabkan Rosnah terjatuh dan terguling sampai tak sadarkan diri. Video kejadian itu juga viral di media sosiali.  “Warga semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Berulang, Gambut Sumatera Selatan Terus Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 00:30:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145823/Anggota-Manggala-Agni-wilayah-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel-tengah-memadamkan-api-di-lahan-gambut-terbakar-di-Desa-Babatan-Saudagar-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132624</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Sumatera Selatan. Api yang membakar lahan gambut dan mineral menghadirkan kabut asap hingga ke Palembang. Persoalan ini terus berulang meski berbagai program penanggulangan telah berjalan sejak awal 2000-an. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, sekitar 1.926 hektar lahan terbakar sepanjang 1 Januari–23 Agustus 2026. Dari 17 kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/">Karhutla Berulang, Gambut Sumatera Selatan Terus Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Sumatera Selatan. Api yang membakar lahan gambut dan mineral menghadirkan kabut asap hingga ke Palembang. Persoalan ini terus berulang meski berbagai program penanggulangan telah berjalan sejak awal 2000-an. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, sekitar 1.926 hektar lahan terbakar sepanjang 1 Januari–23 Agustus 2026. Dari 17 kabupaten dan kota, hanya Lubuklinggau dan Pagaralam yang tidak mencatat kebakaran. Kabut asap telah menyelimuti Palembang selama beberapa hari. Pada 25 Agustus 2026, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 285,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori berbahaya. Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik UIN Raden Fatah Palembang, menilai karhutla berulang karena masyarakat dan perusahaan sama-sama memandang gambut sebagai lahan yang dapat dijadikan perkebunan. “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” katanya. Masyarakat yang dahulu tidak terbiasa memanfaatkan gambut kini mulai menanam sawit di lahan seluas setengah hingga puluhan hektar. Pengetahuan tersebut diperoleh dari praktik perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Akibatnya, gambut tidak lagi dipahami sebagai ekosistem hutan yang harus tetap basah. Cara membuka dan mengolah lahan juga menjadi persoalan. Membakar masih dianggap sebagai metode termurah dan tercepat karena belum tersedia teknologi alternatif yang mudah dijangkau. Pengeringan rawa, gambut, dan mangrove melalui pembangunan kanal pun telah menjadi praktik umum. Menurut Yulion, pemerintah tidak cukup hanya melarang dan menghukum pelaku pembakaran. Pemerintah perlu mengembangkan teknologi pengelolaan lahan yang murah, cepat, dan berkelanjutan. Pengetahuan tersebut harus dapat diterapkan oleh perusahaan maupun masyarakat. Krisis iklim juga membuat gambut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 14:45:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31034611/IMG_20260718_140652-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132709</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan poiitik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. Saban pagi, dia awali hari dengan menyusuri lorong koridor kebun buah naga yang dia tanam. Suroto bukanlah petani yang baru datang ketika buah naga sedang naik daun. Lima tahun setelah tsunami melanda Dusun Pancer, 1994, Suroto menjadi petani dan mengelola kawasan yang masuk dalam skema perhutanan sosial itu. &#8220;Dari tahun 1999, saya menggarap lahan di sini,&#8221; katanya, Sabtu (18/7/26). Saat itu, warga masih banyak menanam palawija sebagai komoditas. Sedang buang naga, baru mulai warga tanam beberapa tahun kemudian, termasuk Suroto. Lelaki 76 tahun itu mulai membangun pondokan, sekaligus memasang lampu-lampu sebagai rekayasa agar buah naga tetap berbunga pada musim kemarau. &#8220;Modalnya besar. Untuk lampu, kabel, sama listrik habis sekitar Rp40 juta  untuk kapasitas 5.500 watt,&#8221; ujarnya. Saat harga baik, Suroto bisa raup Rp60 juta sekali panen. Beberapa petani lain dengan lahan lebih luas bisa lebih dari itu. Namun di balik cerita itu, keresahan meliputi Suroto dan petani lain. Bukan hanya lahan yang mereka kelola masuk konsesi PT Damai Suksesindo Indonesia (DSI), juga aktivitas penambangan emas ilegal yang kian marak. DSI, merupakan anak perusahaan PT Bumi Suksesindo (BSI) dengan kepemilikan saham 99%. IUP eksplorasi DSI, sesuai SK Gubernur Jawa Timur No. P2T/83 tertanggal 17 Mei 2018&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 11:43:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Dedek Putri Mufarroha]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31231711/IMG_7565-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132732</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat makin parah sejak akhir bulan lalu. Hingga pekan ini, kabut asap pun menyelimuti Kalimantan Barat. Sekolah-sekolah seperti di Kota Pontianak,  beberapa kali belajar daring ketika udara memburuk. Daniel, Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Provinsi (Pusdalop), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar mengatakan, terdapat 355 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/">Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat makin parah sejak akhir bulan lalu. Hingga pekan ini, kabut asap pun menyelimuti Kalimantan Barat. Sekolah-sekolah seperti di Kota Pontianak,  beberapa kali belajar daring ketika udara memburuk. Daniel, Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Provinsi (Pusdalop), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar mengatakan, terdapat 355 daerah desa dan kelurahan di 125 kecamatan di provinsi ini yang berpotensi karhutla. Di Kalbar, terdapat sembilan dari 14 kabupaten, kota alami karhutla, yakni, Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, Sambas, Sanggau, Kayong Utara, Melawi, Sintang dan Landak. “Daerah-daerah ini masuk dalam wilayah rawan. Dalam artian sering terjadi kebakaran, lahan gambut banyak dan kejadian selalu berulang disitu-situ saja,” kata Daniel, 27 Agustus lalu. Angka luasan karhutla melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi mencatat,  luas kebakaran lahan di Kalbar mencapai 38.310,86 hektar sejak Januari-Juni 2026. Sebaran titik panas (hotspot) per 27 Agustus 2026 berdasarkan data dari satelit NASA-MODIS dalam SiPongi  mencapai 225 titik. Jumlah titik hotspot dengan kepercayaan tinggi berada di Ketapang 35 titik, Melawi (24) dan Kapuas Hulu (5). Seorang bapak yang coba jaga lahannya dengan memadamkan api di Kubu Raya, Kalbar, dengan siram air pakai jerigen. Foto: Widya/Mongabay Indonesia Warga padamkan api swadaya dan alat seadanya Di Dusun Maju Bersama, Desa Kalibandung, Kubu Raya, warga berjibaku memadamkan api gambut yang membara. Hayet, warga dusun mengatakan, sejak 27 Juli, api mulai memasuki wilayah Hutan Desa Kalibandung dan menjalar hingga ke area kelola warga. Lahan seluas 30 hektar yang Hayet kelola bersama Kelompok&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 11:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30155418/Iguana-laut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132630</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup dengan kulit berwarna abu-abu kehitaman dan deretan sisik berbentuk piramida di sepanjang punggung. Kuku tajam serta penampilannya yang garang semakin membuat satwa ini terlihat seperti Godzilla. Meski tampil menyeramkan, iguana laut bukan pemakan daging. Satwa ini merupakan herbivora yang memakan alga dan rumput laut. Iguana laut juga menjadi satu-satunya spesies kadal yang mencari makanan di laut. Untuk memperoleh makanan, iguana laut menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tubuhnya dapat tumbuh sepanjang 1,2 meter. Ekornya yang berbentuk pipih membantu satwa ini berenang dan bergerak dengan lincah di dalam air. Namun, iguana laut merupakan hewan eksotermik yang mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur panas tubuh. Karena tidak dapat terlalu lama berada di air dingin, iguana harus kembali ke daratan dan berjemur di bawah sinar matahari setelah menyelam. Tubuhnya juga memiliki kelenjar yang membantu menyaring dan membuang kelebihan garam. Kemampuan tersebut penting karena iguana laut menghabiskan banyak waktu untuk mencari makanan di perairan laut. Ketergantungannya terhadap alga membuat iguana laut rentan terhadap perubahan suhu laut. Ketika El Niño terjadi, suhu air meningkat dan menyebabkan ganggang merah serta hijau yang menjadi makanan utamanya menghilang. Ganggang cokelat memang bertambah, tetapi sulit dicerna dan kemungkinan beracun bagi iguana. Kelangkaan makanan dapat mengakibatkan kematian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 09:47:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074543/Serak-Jawa-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132719</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[gotontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, pada Agustus 2026, seekor burung hantu yang diduga celepuk flores (Otus alfredi), dipukul dan dibakar hidup-hidup oleh tiga pria di Manggarai Barat. Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, menyayangkan tindak kekerasan tersebut. Menurutnya, perbuatan melukai atau membunuh satwa dilindungi merupakan pelanggaran berat. Pelaku dapat terancam 15 tahun penjara sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. &#8220;Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,&#8221; ujar Adhi, dikutip dari detik.com, Kamis (13/8/26).Namun yang paling mengkhawatirkan adalah alasan di balik aksi tersebut. Ketika diperiksa, ketiga pelaku mengaku membakar burung hantu karena percaya kehadirannya merupakan pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Dengan aksi membakar burung hantu tersebut, para pelaku meyakini ancaman sihir dapat dilenyapkan. Serak jawa, jenis burung hantu yang merupakan sahabat petani karena kemampuan hebatnya memburu tikus. Foto: Asep Ayat. Kenapa dijuluki burung hantu? Nama burung hantu bukan sekadar julukan seram tanpa dasar. Ada dua alasan biologis yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah bertahun-tahun. Alasan pertama adalah gaya hidupnya yang benar-benar nokturnal alias aktif malam hari. Studi genom komparatif terhadap 11&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 02:26:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26045337/C0251T01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132417</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. Tim menempuh beberapa jembatan gantung yang  rusak dan rapuh, perbukitan curam, bebatuan licin, sungai deras dengan lebar beragam, hutan lebat, dan lembah dengan jurang yang dalam untuk mewujudkan akses energi bersih bagi Masyarakat Adat Meratus di sana. Perjalanan panjang mulai dari Desa Hinas Kiri, batas RW05/RW03 tempat terakhir masih terjangkau kendaraan bermotor. Kemudian tim menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Arloji mencatat jarak tempuh sekitar 18,59 kilometer, total tanjakan curam 1.343 meter dan turunan menukik 1.711 meter. Titik awal di koordinat -2.703160, 115.673370, perjalanan berakhir di -2.622290, 115.581510. Jika tim perlu dua hari, warga desa yang terbiasa hanya butuh 18 jam sekali jalan, Sejak meninggalkan Puncak Tiranggan, persimpangan menuju Gunung Halau-Halau, tim berada di bawah arahan Pinan, tetua  adat Dayak Meratus yang  turun gunung untuk menjemput. Sehari sebelumnya, kami berempat menemuinya di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ada juga Ketua Rubi, Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PW AMAN) Kalsel. Sepanjang perjalanan, Pinan selalu mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk arah, susunan kelompok harus tetap terjaga. Tidak seorang pun boleh mendahului atau tertinggal. “Jangan ada yang mendahului, pamali (tabu),” ucapnya. Saat itu, akhir Juli 2026, musim kemarau tengah berlangsung. Di bawah rapatnya kanopi hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 00:30:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/17162701/Merauke-food-estate--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132617</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut mempersulit warga mengakses air sungai. Ketika musim hujan, mereka menghadapi banjir, sedangkan kemarau panjang memicu krisis air. Situasi serupa berlangsung di Lelilef Sawai, Halmahera Tengah. Sebelum industri pengolahan nikel berkembang, masyarakat menggantungkan hidup pada kebun, hutan, dan laut. Ekspansi industri memang membawa pekerjaan dan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus mempersempit ruang hidup sebagian warga. Bagi Oktaviana Takuling, Ketua Komunitas Fagawene, kemerdekaan tidak cukup diperingati melalui upacara tahunan. “Bukan sekadar pembacaan Proklamasi, melainkan regulasi yang melindungi kepentingan seluruh masyarakat dan kelompok adat,” katanya. Di Kepulauan Aru, masyarakat Marafenfen dan Popjetur juga menghadapi pembatasan akses terhadap wilayah adat. Kehadiran Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut membuat warga khawatir membuka kebun dan mengakses tempat berburu. Rencana investasi peternakan sapi menambah kecemasan bahwa lahan mereka akan semakin dikuasai perusahaan. Tekanan industri juga dirasakan masyarakat Sulawesi Tenggara. Warga di sekitar kawasan pengolahan nikel menghadapi pencemaran air, banjir berlumpur, serta kerusakan tambak dan sawah. Di Desa Lamedai, Kolaka, hasil panen menurun setelah lumpur mengendap di lahan pertanian. Air bersih berubah keruh dan berbau sehingga warga harus membeli air atau mengambilnya dari sumur yang jauh. Sementara itu, masyarakat Rempang masih hidup dalam kekhawatiran kehilangan tanah akibat proyek Rempang Eco City dan pembangunan Sekolah Terintegrasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 22:33:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30223005/image_9470_1-Aquilolamna-milarcae.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132701</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali ditemukan oleh pekerja tambang pada 2012, kemudian digali secara hati-hati oleh ahli paleontologi setempat, sebelum akhirnya dideskripsikan secara ilmiah  dalam jurnal Science oleh tim peneliti dari Universitas Rennes dan Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS). Perpaduan Ciri Pari Manta dan Hiu Fosil Aquilolamna milarcae diperkirakan berasal dari pertengahan periode Kapur, sekitar 93 juta tahun lalu, atau lebih tua dari Tyrannosaurus rex. Pada masa itu, permukaan air laut global jauh lebih tinggi dibanding sekarang akibat minimnya lapisan es di kutub, sehingga benua Amerika Utara terbagi menjadi dua daratan besar yang dipisahkan oleh jalur laut luas. Vallecillo, yang kini berupa dataran semi-kering, dulunya merupakan bagian dari dasar laut yang cukup jauh dari garis pantai. Hewan ini memiliki rentang sirip dada mencapai hampir 1,9 meter, sementara panjang tubuhnya dari kepala hingga ekor hanya sekitar 1,6 meter, sehingga tubuhnya lebih lebar daripada panjang. Kepala yang lebar dan sirip dada yang memanjang membuat bagian depan tubuhnya sangat mirip pari manta. Namun bagian belakang tubuhnya bercerita lain. Sirip ekor Aquilolamna milarcae berbentuk khas hiu, dan berdasarkan struktur tulang belakang serta sirip ekor tersebut, tim peneliti mengelompokkan spesies ini ke dalam ordo Lamniformes, kelompok yang juga mencakup hiu pemakan plankton, hiu mako,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>