Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni.
Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang langsung di alam. Kini, perubahan lanskap pesisir, reklamasi Teluk Jakarta, hilangnya mangrove, serta pencemaran laut membuat kerang semakin sulit ditemukan.
Budidaya kemudian beralih menggunakan keramba jaring apung yang dapat dipindahkan saat kualitas air memburuk. Namun, investasi awalnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas keramba pun dimiliki pemodal dari luar, sedangkan warga Dadap menjadi buruh budidaya dan pengupas kerang.
Ida, salah seorang perempuan Dadap, mampu mengupas 12–15 kilogram kerang per hari. Dengan upah Rp4.000 per kilogram, penghasilannya berkisar Rp50.000–Rp60.000 sehari.
Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, mengatakan perempuan harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja sebagai pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pengolah hasil laut. Ikan yang kurang diminati pasar diolah menjadi kerupuk dan produk UMKM lain.
Sebagian keluarga nelayan juga terjerat pinjaman bank keliling dan rentenir. Kesulitan ekonomi semakin berat karena banjir rob membawa lumpur dan sampah ke rumah hampir setiap hari. Perempuan yang seharusnya dapat mencari penghasilan harus menghabiskan waktu membersihkan rumah. Kelelahan fisik dan emosional itu turut memengaruhi hubungan mereka dengan anak. “Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”, kata Imah.
Kerusakan pesisir juga menekan pendapatan nelayan. Rico Saputra dahulu dapat memperoleh Rp500.000 hingga Rp1 juta per hari. Kini, mendapat Rp300.000 saja sudah sulit. Hasil tangkapan rajungan yang pernah mencapai 10 kilogram turun menjadi paling banyak lima kilogram. Nelayan juga harus melaut lebih jauh sehingga kebutuhan bahan bakar meningkat.
Di tengah kondisi tersebut, generasi muda Dadap membangun ruang perlawanan melalui Festival Dadap. Festival yang berlangsung sejak 2020 itu kembali digelar pada 18–19 Juli 2026 dengan tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”. Kegiatannya meliputi pertunjukan musik, pengamatan burung pesisir, serta video mapping di tanggul laut.
Inisiator Festival Dadap, Deddy Sopian, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana menyuarakan kerusakan lingkungan dan pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat. Festival juga mengajak anak muda memahami persoalan kampungnya sendiri. “Kita akan semampu mungkin terus bersuara sampai kita mendapatkan keadilan.”
Upaya perempuan dan anak muda memperlihatkan daya lenting masyarakat Dadap. Namun, perjuangan mereka tetap membutuhkan tata kelola pesisir yang adil, pemulihan ekosistem, pelayanan publik yang layak, serta keterlibatan warga dalam setiap keputusan pembangunan.
Foto utama: Kerang hijau yang merupakan sumber penghasilan andalan nelayan Dadap. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.