- Mongabay mendatangi Desa Juhu, desa tertinggi di Kalsel, lokasi masyarakat adat dayak meratus, dalam ekspedisi mewujudkan akses energi bersih bagi masyarakat adat di sana.
- Tulisan pertama ini menggambarkan medan sulit yang tim tempuh untuk menuju desa. Menggambarkan bagaimana kondisi alam dan tutupan hutan di sana.
- Arloji mencatat jarak tempuh sekitar 18,59 kilometer, total tanjakan curam 1.343 meter dan turunan menukik 1.711 meter. Titik awal di koordinat -2.703160, 115.673370, sementara perjalanan berakhir di -2.622290, 115.581510. Jika tim perlu 2 hari, warga desa yang terbiasa hanya butuh 18 hari sekali jalan.
- Setelah menempuh perjalanan panjang dua hari satu malam, Desa Juhu akhirnya terlihat, tempat yang tampak indah dan lapang. Anjing-anjing kampung peliharaan warga dengan warna yang hampir serupa berkeliaran.
Dua hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu, pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana.
Tim menempuh beberapa jembatan gantung yang rusak dan rapuh, perbukitan curam, bebatuan licin, sungai deras dengan lebar beragam, hutan lebat, dan lembah dengan jurang yang dalam untuk mewujudkan akses energi bersih bagi Masyarakat Adat Meratus di sana.
Perjalanan panjang mulai dari Desa Hinas Kiri, batas RW05/RW03 tempat terakhir masih terjangkau kendaraan bermotor. Kemudian tim menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Arloji mencatat jarak tempuh sekitar 18,59 kilometer, total tanjakan curam 1.343 meter dan turunan menukik 1.711 meter. Titik awal di koordinat -2.703160, 115.673370, perjalanan berakhir di -2.622290, 115.581510. Jika tim perlu dua hari, warga desa yang terbiasa hanya butuh 18 jam sekali jalan,
Sejak meninggalkan Puncak Tiranggan, persimpangan menuju Gunung Halau-Halau, tim berada di bawah arahan Pinan, tetua adat Dayak Meratus yang turun gunung untuk menjemput.
Sehari sebelumnya, kami berempat menemuinya di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ada juga Ketua Rubi, Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PW AMAN) Kalsel.
Sepanjang perjalanan, Pinan selalu mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk arah, susunan kelompok harus tetap terjaga. Tidak seorang pun boleh mendahului atau tertinggal.
“Jangan ada yang mendahului, pamali (tabu),” ucapnya.
Saat itu, akhir Juli 2026, musim kemarau tengah berlangsung. Di bawah rapatnya kanopi hutan, terik matahari tak sepenuhnya mampu menembus pepohonan. Berbanding terbalik dengan suasana di kota yang panas karena minim pepohonan yang menaungi.
“Inilah fungsi hutan, makanya harus kita jaga,” katanya, tersenyum.
Pria 64 tahun ini memang terkenal sebagai sosok yang teguh menolak ekspansi tambang, termasuk rencana penetapan taman nasional seluas 119.779,05 hektar. Dia aktif menyuarakan aspirasi masyarakat adat, termasuk mengikuti diskusi hingga aksi penolakan di depan Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Kota Banjarbaru, pada 2025.
Dia juga tahu betul, kalau hutan lindung yang kami lalui sudah terkepung berbagai izin konsesi.Walhi Kalsel mencatat, sisa daratan yang masih tersisa sekitar 49% dan Pegunungan Meratus menjadi salah satu benteng terakhir hutan yang masih bertahan.

Bermalam di hutan
Kami sudah menempuh perjalanan tujuh jam, tetapi belum separuh jarak terlewati. Pinan pun menyarankan tim berhenti di Pondok Kagaringan.
Tempat sederhana itu terbuat dari kayu, berukuran sekitar 5×4 meter. Warga sering gunakan bangunan ini untuk beristirahat ketika perjalanan menuju tempat tujuan sudah hampir gelap.
Istirahat pun kami ambi tidak hanya untuk menghindari risiko malam hari, tapi memberi waktu bagi rombongan beristirahat dan memulihkan tenaga. Sebab, kata Pinan, jalur yang akan kami lalui panjang, dengan medan yang makin berat.
Usai makan malam bersama, tanpa jaringan di telepon seluler, kami mengikuti kebiasaan warga Meratus menjelang tidur. Beberapa orang duduk dan saling menimpali cerita, menuturkan kisah-kisah rakyat yang mereka wariskan turun-temurun.
Cerita sejarah lisan itu sebenarnya sudah ada dalam buku-buku para peneliti atau antropolog. Antara lain, Devi Damayanti dalam “Nyanyian Sunyi di Pegunungan Borneo” dan Anna Tsing dalam catatan “Di Bawah Bayang Bayang Ratu Intan”. Namun, dongeng-dongeng yang terlontar malam itu belum pernah terdengar sebelumnya.
Iba Ariansyah, warga Juhu menuturkan kisah Kuyuk dan Menjangan, dalam bahasa Banjar bercampur Meratus. Saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dahulu kala, katanya, Kuyuk—sebutan untuk anjing—adalah seorang tumenggung, gelar atau jabatan kepada seseorang yang memiliki kedudukan penting dalam masyarakat.
“Jadi anggaplah Kuyuk itu temenggung itu sama,” ujar Iba.
Masa itu, Kuyuk bukanlah anjing seperti yang sekarang. Ia memiliki tanduk yang tumbuh di kepalanya. Tanduk itu menjadi bagian dari jati dirinya sehingga membuat berbeda dari hewan-hewan lain.
Suatu ketika, Menjangan-sebutan untuk rusa- melihat tanduk milik Kuyuk. Ia tertarik dan ingin memiliki tanduk yang sama. Menjangan kemudian meminta izin untuk meminjam.

Tanpa rasa curiga tanduk itu Kyuk berikan lalu pasang di kepala Menjangan. Ternyata, bentuk dan ukurannya sangat cocok. Menjangan merasa senang karena tanduk itu terlihat begitu serasi dengannya.
Namun, setelah meminjam tanduk itu, Menjangan tidak pernah mengembalikannya kepada Kuyuk. Ia malah membawa tanduk pergi dan menjadikannya miliknya sendiri.
Kuyuk pun merasa tertipu. Sejak saat itu, tumbuhlah dendam kepada Menjangan.
“ Makanya perselisihan keduanya berlangsung hingga sekarang dan diwariskan melalui cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
Itulah sebabnya, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat Meratus, Kuyuk dan Menjangan tergambarkan sebagai dua hewan yang tidak pernah akur.
Iba bilang, cerita tersebut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang gemar berburu di hutan. Ketika masuk ke rimba, mereka biasanya membawa Kuyuk untuk membantu mencari hewan buruan.
Dengan penciumannya yang tajam, Kuyuk dapat mengikuti jejak Menjangan di masa lalu. Seolah-olah dendam yang telah berlangsung sejak dahulu masih tersimpan dalam naluri keduanya.
“Cerita ini biasanya diturunkan ke anak-anak sebelum tidur, jadi kami mengingat,” akunya.

Menuju Puncak Kilai
Paginya, tim melanjutkan perjalanan setelah packing ulang. Seperti hari sebelumnya, Pinan tetap berada paling depan sebagai penunjuk jalan menuju Juhu. Kami berangkat sekitar pukul 08.00 Wita dari pondok tempat tadi bermalam.
Kali ini, seorang warga yang kerap disapa Paman, Jina, mengambil posisi paling belakang rombongan. Dia lebih sering berjalan miring sambil menggotong panel surya berukuran sekitar 130 hingga 158 cm, berkapasitas 200 watt.
Seperti apa yang Pinan katakan sebelumnya. Jalur hari itu terasa lebih berat. Tanjakan demi tanjakan lebih banyak kami temui ketimbang jalan menurun.
Kami melewati Jembatan Sungai Kagaharingan, kemudian tempat peristirahatan Batu Manaram, sebelum kembali menyusuri jalur menuju Sungai Panyaguan.
Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Puncak Kilai. Makin dekat puncak, tanjakan terasa makin panjang dan menguras sisa tenaga.
Beratnya medan ternyata pernah memakan korban. Sebelum mencapai Puncak Kilai, Paman Jina bercerita tentang kisah duka yang pernah terjadi di jalur yang sedang kami lewati.
Pada 2021, seorang pria meninggal dunia dalam perjalanan. Saat itu, dia hendak menghadiri Aruh, upacara syukuran Masyarakat Dayak Meratus. Jina menunjuk ke satu titik di jalur yang kami lewati.
“Di sini, dia meninggal dalam perjalanan. Terpaksa kami menginapkannya dan meninggalkan jenazah semalam di sini, karena tidak memungkinkan untuk membawanya naik ataupun turun,” katanya.
Pria itu bernama Sarbini, anggota Wanadri atau Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung. Organisasi pelopor pecinta alam pertama dan terkenal di Indonesia.
Menurut cerita Sarbini saat itu tidak melakukan perjalanan seorang diri. Dia bersama rombongan dengan tim medis dan warga. Namun, Sarbini berada di barisan paling belakang.
Di tengah perjalanan, kondisinya mulai melemah hingga tim medis yang mendapat kabar, kembali dan melakukan pemeriksaan. Hasilnya, duka. Sarbini meninggal dunia di tengah perjalanan.
Hari makin sore. Beratnya medan membuat jenazah tidak memungkinkan langsung naik atau turun.
Orang-orang terpaksa menginapkan jenazah Sarbini semalam di tengah hutan, di titik tempat dia menghembuskan napas terakhir.
Keesokan harinya, proses evakuasi baru mereka lakukan. Jenazah mereka bawa dari kawasan Puncak Gunung Kilai di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sekitar 25 orang dan tim SAR terlibat dalam proses itu.

Ritual untuk pendatang
Setelah bersusah payah mencapai Puncak Kilai, kami berhenti sejenak memulihkan tenaga. Beberapa porter lebih dahulu melanjutkan perjalanan, sementara kami berempat masih tinggal untuk menjalani sebuah ritual kecil sebelum meneruskan langkah.
Sebagai tamu yang baru pertama kali datang ke Juhu, jelas Pinan, kami perlu meminta izin kepada para leluhur dan memohon keselamatan selama berada di wilayah adat.
Pinan bersandar dengan posisi setengah duduk di atas sebatang kayu yang tumbang. Kami berdiri. Dia memanjatkan doa, sementara Paman Jina mengambil sedikit tanah di sekitar tempat kami berhenti. Lalu menempelkannya di tengah kening kami satu per satu.
Di tempat terpisah, Rubi, Ketua PW AMAN Kalimantan Selatan yang juga merupakan warga Desa Juhu, menjelaskan ritual sederhana yang kami jalani di Puncak Kilai iyalah Tanah Diagih.
Dia bilang, tanah dalam ritual memiliki makna sebagai penghubung dengan langit, tempat yang dianggap suci dan berkaitan dengan sejarah padi bagi masyarakat Meratus. Dalam keyakinan mereka, terdapat hubungan antara tanah tempat manusia berpijak dan tempat suci di atas, seperti sebuah tangga yang menghubungkan keduanya.
Karena itu, orang yang baru pertama kali datang ke Juhu perlu diberi tanda. Bukan sekadar tahu mereka adalah tamu tetapi juga tidak ada niat yang buruk.
“Makanya kalau ada orang yang baru datang harus dikasih tanda kalau mereka adalah juga bagian dari saudara kita,” katanya.
Usai menuruni Puncak Kilai, perjalanan menuju Desa Juhu masih jauh. Kami kembali menyusuri jalur hutan, melewati beberapa tempat peristirahatan, seperti Jawaling, Batang Bantai, dan Damar Laki Bini.
Sepanjang perjalanan, Pinan sesekali memperkirakan sisa jarak yang harus kami tempuh dengan hitungan persen.

Ayyub Muhajid menjadi orang yang paling sering bertanya. Setiap kali mendapat jawaban dari Pinan, kami yang mendengarnya ikut merasa lega. Terlebih ketika Pinan mengatakan perjalanan tinggal 10% lagi.
Namun, Desa Juhu belum juga terlihat. Sekitar pukul 15.00 Wita, kami kembali berhenti di Sungai Juhu untuk beristirahat sekaligus makan.
Sungai dengan lebar sekitar enam meter itu penuh bebatuan besar, beberapa batu berada di tengah aliran.
Setelah tenaga kembali terisi, kami melanjutkan perjalanan. Pinan mengatakan, masih ada satu tanjakan cukup curam sebelum benar-benar tiba di kampung.
Jalur berikutnya mengharuskan kami melewati Jembatan Duduk Tinti Tandui, Jembatan Sungai Lintah, kemudian mendaki hingga Puncak Matumbui.
Usai melewati jalur tersebut, rasa lelah seolah sedikit terbayar saat Ayyub kembali bertanya kepada Pinan.
“Berapa persen lagi, Abah?” tanyanya.
“Sekitar 300 meter lagi,” jawab Pinan.
Jawaban itu sontak membuat Ayyub dan Yuansen Tio, yang berada paling depan, kembali bersemangat. Apalagi, dari kejauhan mulai terlihat anak-anak berlarian di ujung kampung. Itulah tanda yang sejak tadi kami tunggu.
Setelah menempuh perjalanan panjang dua hari satu malam, Desa Juhu akhirnya terlihat, tempat yang tampak indah dan lapang. Anjing-anjing kampung peliharaan warga dengan warna yang hampir serupa berkeliaran.
Rumah-rumah kayu berdiri kokoh dengan jarak yang cukup berjauhan. Tanah luas ditumbuhi padang rumput hijau, rapi seperti lapangan golf.
Beberapa kerbau rawa terlihat berada di daratan, sementara bebatuan besar tersebar di sejumlah tempat. Udara di tempat ini pun menyegarkan! (Bersambung…)

*****