Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis.
Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada dan sembilan jari-jari sirip punggung. Kepala serta lehernya tidak memiliki sisik. Individu jantan dapat dikenali dari warna merah cerah dengan bintik dan pola biru di bagian punggung.
Keunikan utama ikan ini terletak pada siklus hidupnya yang disebut amfidromus. Telur menetas di sungai, kemudian larvanya terbawa arus menuju laut. Setelah berkembang, ikan kembali ke perairan tawar dan hidup hingga dewasa untuk berkembang biak. Artinya, kelangsungan hidupnya bergantung pada hubungan yang tidak terputus antara sungai dan laut.
Perairan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah penting bagi persebaran ikan gobi. Sejumlah sungai di Halmahera Tengah, seperti Sungai Sagea, Ake Sawai, DAS Kobe, dan Muara Sungai Waibulen, menjadi habitat berbagai ikan endemik Halmahera, termasuk S. annieae.
Namun, keberadaan ikan ini disebut mulai berkurang. Iwan Kader, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate, mengatakan bahwa S. annieae semakin sulit dijumpai. “Jenis ikan ini makin langka ditemukan,” ujarnya.
Awalnya, S. annieae dianggap memiliki wilayah persebaran sangat sempit karena hanya diketahui berada di Halmahera. Namun, penelitian berikutnya menemukan ikan ini di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sekitar 500-600 kilometer di sebelah barat Halmahera.
Tim peneliti mengumpulkan 23 spesimen dari tiga sungai pesisir yang tidak saling terhubung di Luwuk Banggai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa S. annieae mampu menyebar melintasi perairan laut, sebagaimana ikan lain dalam genus Stiphodon.
Identifikasi individu betina masih menjadi tantangan. Ikan jantan dan betina dalam kelompok ini memiliki perbedaan fisik atau dimorfisme seksual. Perbedaannya dapat terlihat pada jumlah sisik, jari-jari sirip punggung, sirip dada, dan bagian insang.
Identifikasi individu betina Stiphodon memang relatif sulit, karena genus ini dan genus-genus Sicydiine biasanya menunjukkan perbedaan fisik sistematis antara jantan dan betina dalam satu spesies yang sama (dimorfisme seksual). Terutama, pada karakter ikan yang dapat dihitung seperti jumlah sisik, jari-jari pada sirip punggung, dada, insang dan sebagainya.
“Studi lebih komprehensif tentang betins dari genus ini perlu dilakukan,” jelas tim riset.