Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan.
Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, tetapi penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa gaya hidupnya membuat kucing batu lebih rentan terhadap kerusakan hutan.
Para peneliti menganalisis foto kamera jebak dari berbagai wilayah Asia Tenggara. Mereka membandingkan penggunaan habitat kucing batu dengan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing liar yang lebih sering beraktivitas di darat.
Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok. Kucing kuwuk masih dapat memanfaatkan perkebunan sawit untuk berburu tikus. Sebaliknya, kucing batu memberikan respons buruk terhadap pembukaan hutan dan perkebunan sawit.
Kamera jebak memperlihatkan bahwa kucing batu merupakan spesialis hutan interior. Ia lebih sering ditemukan di kawasan hutan utuh yang luas dan saling terhubung. Perkebunan sawit tidak dapat menggantikan fungsi habitat tersebut meskipun sama-sama dipenuhi pepohonan.
Perubahan lingkungan juga memengaruhi perilakunya. Kucing batu biasanya aktif pada siang hari. Namun, di kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, satwa ini beberapa kali terekam saat senja.
Perubahan waktu aktivitas mungkin menjadi cara kucing batu menghindari manusia. Akan tetapi, strategi itu memiliki konsekuensi. Waktu berburu dan menjelajahnya menjadi lebih singkat. Kucing batu juga berisiko bertemu pesaing atau predator baru yang aktif pada waktu berbeda.
Ancaman semakin besar ketika hutan terpecah menjadi petak-petak kecil. Fragmentasi dapat memutus jalur pergerakan, menyulitkan pencarian makanan dan pasangan, serta mengisolasi populasi. Bagi satwa yang bergantung pada hutan interior, jarak di antara dua petak hutan dapat menjadi penghalang besar.
Temuan ini mendorong peneliti merekomendasikan peningkatan status konservasi kucing batu dari Hampir Terancam menjadi Rentan atau Vulnerable. Wilayah Sabah di Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan Myanmar barat laut dinilai penting untuk perlindungannya.
Dampak serupa mungkin dialami kucing semi-arboreal lain, seperti margay di Amerika Latin. Dibandingkan kucing yang lebih banyak bergerak di tanah, spesies yang bergantung pada pohon tampaknya lebih sulit menyesuaikan diri dengan lanskap perkebunan.
Masih banyak hal mengenai kucing batu yang belum diketahui. Ilmuwan belum memahami secara pasti seberapa sering satwa ini berburu di pohon, berjalan di tanah, atau memilih mangsa tertentu. Sifatnya yang misterius juga membuat catatan keberadaannya sangat terbatas.
Namun, kurangnya data bukan alasan untuk menunda perlindungan. Mempertahankan hutan yang luas serta membangun koridor penghubung di antara habitat yang terpisah menjadi langkah penting.
Bagi kucing batu, hutan bukan sekadar tempat berlindung. Keutuhan pepohonan menentukan apakah satwa pemanjat ini masih memiliki ruang untuk berburu, berkembang biak, dan bertahan hidup.
Foto utama: Seperti kucing batu, margay dianggap semi-arboreal. Bukti menunjukkan bahwa ia dapat beradaptasi dengan beberapa tingkat gangguan tetapi tidak pada perkebunan.Foto: Proyecto Asis via Flickr [CC BY-SA 2.0].