<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=rena-tri-hernawati&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/rena-tri-hernawati/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2026 10:00:55 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
				<item>
					<title>Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02060158/5-Pemadaman-Api-Kebakaran-Hutan-dan-Lahan-Karhutla-Kawasan-Tempat-Pembuangan-Akhir-TPA-Kelurahan-Takome-Ternate-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/">Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya. Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas. Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak. Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak. Kepala BPBD Maluku Utara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 05:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zulkifli Mangkau]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/06012623/Foto-6-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135994</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Devianti Sesa, perempuan adat Suku Nafswa, Papua Barat Daya, begitu bersemangat keluar-masuk hutan adat yang masih terjaga dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan adalah sumber penghidupan baginya dan warga Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Dia tidak merasa khawatir saat berada di dalam hutan, dengan bebas melanglang buana di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/">Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Devianti Sesa, perempuan adat Suku Nafswa, Papua Barat Daya, begitu bersemangat keluar-masuk hutan adat yang masih terjaga dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan adalah sumber penghidupan baginya dan warga Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Dia tidak merasa khawatir saat berada di dalam hutan, dengan bebas melanglang buana di sana dan manfaatkan semua yang ada untuk menunjang sumber penghidupan. Obat-obatan alami pun dan sumber pangan bisa dia dapatkan dari tanaman yang tumbuh di hutan adatnya. “Tidak perlu keluar uang banyak, asal hutan masih ada, semua kebutuhan hidup bisa terpenuhi,” ucapnya kepada Mongabay. Selain aktif berkegiatan di kebun, perempuan 37 tahun ini juga rajin membuat noken. Kebutuhan bahan baku kerajinan itu dia dapat dari hutan. Memanfaatkan pohon-pohon melinjo atau genemo yang tumbuh alami di wilayah adatnya. Kerajinan menganyam noken sudah menjadi tradisi dan budaya bagi Orang Papua. Devi, sapaan akrabnya, bilang, noken melambangkan kehidupan. Ia memiliki banyak fungsi, untuk mengangkut hasil kebun dan hasil hutan. Dalam pernikahan, noken seringkali jadi syarat utama. Tidak boleh sembarangan pakai yang berbahan plastik atau tali yang terjual di pasaran. Harus dari hutan (kulit kayu). “Sudah jadi ketentuan adat seperti itu. Noken bagi kami adalah lambang budaya dan tradisi adat. Dan juga noken ini erat hubungannya dengan hutan. Semua sumber utama noken berasal dari hutan adat yang kami jaga.” Namun, tantangan mulai muncul. Baginya, generasi muda kurang meminati tradisi membuat noken dan tidak ada lagi yang mau melanjutkan dari generasi berikutnya. Jika ini terjadi, pikirnya, budaya asli Orang Papua dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 03:44:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/06033614/Ikan-Pelangi-Boeseman1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=136013</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepala dan bagian depan tubuhnya abu-abu kebiruan. Kadang hampir kehitaman, dengan sirip dan bagian belakang tubuh sebagian besar berwarna merah jingga. Di belakang sirip dada, terdapat garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Ukuran tubuhnya dapat mencapai maksimum 12 cm, tetapi biasanya kurang dari 10 cm. Itulah penampakan ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani). Di dunia, ikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/">Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepala dan bagian depan tubuhnya abu-abu kebiruan. Kadang hampir kehitaman, dengan sirip dan bagian belakang tubuh sebagian besar berwarna merah jingga. Di belakang sirip dada, terdapat garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Ukuran tubuhnya dapat mencapai maksimum 12 cm, tetapi biasanya kurang dari 10 cm. Itulah penampakan ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani). Di dunia, ikan ini hanya tercatat di sebuah tempat kecil Pulau Papua, tepatnya di Danau Ayamaru, Kabupaten Maybrat, serta beberapa danau di sekitarnya seperti Aitinjo (Aitinyo) dan Uter, Papua Barat Daya. Ikan ini baru dideskripsikan tahun 1980 oleh ilmuwan Gerald Allen dari spesimen yang dikumpulkan ahli ikan Belanda, Marinus Boeseman, pada Maret 1955 di sekitar Ayamaru. Nama boesemani kemudian disematkan sebagai penghormatan untuk sang kurator ikan tersebut, Marinus Boeseman. Meski demikian, pada label spesimen 1955 itu tercatat nama lokal bagi orang-orang Maybrat untuk ikan ini: sekiak. Secara umum, namanya sering disebut ikan pelangi boeseman dan memiliki ciri fisik unik serta punya perbedaan seksual (dimorfisme seksual) yang sangat jelas antara jantan dan betina. Sang jantan sangat mencolok dengan warna abu-abu kebiruan terang (kadang hampir kehitaman) pada kepala hingga setengah tubuh bagian depan, serta warna oranye-merah terang pada setengah tubuh bagian belakang dan sirip-siripnya. Sementara betina, memiliki garis membujur gelap yang lebar di tengah tubuh, diiringi deretan garis-garis longitudinal sempit berwarna kuning atau oranye-kemerahan. Betina tua kadang menunjukkan warna mirip jantan subordinat. Keunikan paling menonjol yang membuat ikan pelangi boeseman populer di kalangan pencinta ikan hias global karena disebut memiliki pola warna &#8220;separuh-separuh&#8221; (Half-and-half colouration), yakni warna ikan jantan matang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 02:41:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/05154213/Warga-tolak-eksplorasi-LTJ-di-Mamuju-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135980</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ardi Basir terperangah saat ekskavator menarik mesin bor PT Perusahaan Mineral Nasional  (Perminas)  masuk ke Dusun Palada, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) awal September 2026. Apalagi, alat berat itu juga membuka lahan berukuran sekitar 10&#215;10 meter untuk setiap titik bor yang jaraknya hanya 50 meter satu sama lain. Basir sadar bahwa ruang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/">Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ardi Basir terperangah saat ekskavator menarik mesin bor PT Perusahaan Mineral Nasional  (Perminas)  masuk ke Dusun Palada, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) awal September 2026. Apalagi, alat berat itu juga membuka lahan berukuran sekitar 10&#215;10 meter untuk setiap titik bor yang jaraknya hanya 50 meter satu sama lain. Basir sadar bahwa ruang hidup mereka sedang terancam kehancuran. “Otomatis lahan itu sudah hancur dengan limbah-limbah mesin, baik dari mesin pembor maupun ekskavator,” ujar Basyir, yang merupakan Koordinator Lingkar Aksi Warga Tapalang, organisasi warga yang menolak aktivitas eksplorasi logam tanah jarang  oleh Perminas. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pada 2024, polusi dan limbah dari pengeboran berdampak langsung pada tanaman warga. Pohon  cengkih dan durian  warga mati tak lama setelah pengeboran itu. Kecamatan Tapalang,  berada di ketinggian sekitar 200 mdpl merupakan  wilayah penghasil durian jenis montong di Sulbar. Warga rata-rata memiliki lahan sedikitnya setengah hektar,  berisi 40 pohon durian dengan jarak tanam sekitar 5&#215;10 meter. Satu pohon durian produktif menghasilkan nilai ekonomi Rp5.000.000 per tahun, dengan satu siklus berbuah  dua kali dalam satu tahun. Di sela-sela itu, warga juga memanfaatkan dengan menanam cengkih dan kakao. Kekhawatiran  meluasnya dampak itu pula yang membuat Basir dan warga lain menolak rencana perusahaan meneruskan rencananya. “Kami juga tidak mau kalau kebun (kami) digantikan dengan tambang. Karena memang itu ruang hidup kami,” ujar Basir. Menurut dia, tanah bukan sekadar benda yang dapat dihitung berdasarkan kandungan mineral di dalamnya. Tanah adalah ruang hidup yang memiliki nilai ekonomi, sosial budaya, dan ekologis. Akhir September, warga Takandeang menggelar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 00:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03051309/Dewi-sedang-menyelesaikan-tenun-Pandai-Sikek-motif-Saga-Merah-Novia-Harlina-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135914</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/">Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing. Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak. Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap. Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan. Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 23:55:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana dan Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/11/Sawit-Rendy-1.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135987</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing!” teriak massa dari koalisi masyarakat sipil di tengah hadangan petugas keamanan di depan ruangan Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di PIK 2, Tangerang, Selasa, (3/11/26). Belasan orang aktivis dari Walhi dan TuK Indonesia datang sekitar pukul 10.30 WIB, mendesak RSPO bertanggung jawab atas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/">Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing!” teriak massa dari koalisi masyarakat sipil di tengah hadangan petugas keamanan di depan ruangan Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di PIK 2, Tangerang, Selasa, (3/11/26). Belasan orang aktivis dari Walhi dan TuK Indonesia datang sekitar pukul 10.30 WIB, mendesak RSPO bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Sebagai lembaga sertifikasi berlabel keberlanjutan, mereka nilai RSPO hanya jadi wadah kamuflase menutupi dosa ekologi korporasi perkebunan sawit alias greenwashing. Poster-poster tuntutan dan sindiran terhadap RSPO massa bentangkan. Mereka menuntut RSPO tidak sekedar menjadi penonton saat hutan dan lahan Indonesia terbakar. Pemicu api juga terdeteksi ada bersumber dari konsesi perkebunan sawit sertifikasi RSPO. Kedatangan mereka langsung disambut petugas keamanan yang mencoba menghentikan aksi. Dorong-dorongan antara kedua belah pun tak terhindarkan, namun, massa tetap lantang bersuara dan mengangkat poster. Tak lama kemudian, koalisi masyarakat sipil terpaksa mundur meninggalkan lokasi karena terus mendapat tekanan. Abdul Haris,  Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia mengatakan, RSPO tidak pernah serius menyelesaikan masalah lingkungan dan sosial anggotanya lakukan. Aksi di luar gedung pertemuan RSPO di PIK 2, 4 November 2016. Puluhan massa koalisi masyarakat sipil dari Satya Bumi, Transnational Palm Oil Labour Solidarity (TPOLS), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Lingkaran Advokasi dan Riset (LinkAR) Borneo turut bersolidaritas.Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Mekanisme penanganan keluhan RSPO sangat lambat dan cenderung berbelit-belit, hingga terkesan lebih berpihak pada citra korporasi ketimbang pemulihan lingkungan dan hak masyarakat terdampak. “Kami disini berteriak untuk menyampaikan kepada kawan-kawan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 10:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074346/Babi-berjanggut-733x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/">Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, atau keputihan. Tubuhnya cukup besar. Panjang jantan dapat mencapai sekitar satu setengah meter, sementara betina umumnya lebih kecil. Kajian Matthew S. Luskin dan Alison Ke membedakan dua subspesies berdasarkan wilayah sebarannya. Sus barbatus oi dikaitkan dengan Sumatera, sedangkan Sus barbatus barbatus menghuni Kalimantan, Semenanjung Malaysia, serta sejumlah pulau di sekitarnya. Namun, batas sebaran kedua kelompok itu belum sepenuhnya jelas. Para peneliti menyebut babi berjanggut di Bangka dan sebagian Kepulauan Riau sulit dipastikan termasuk kelompok mana. Kemampuan satwa ini berenang di perairan terbuka membuat para peneliti menduga bahwa penyeberangan Selat Malaka mungkin pernah terjadi. Mereka juga menilai hilangnya hutan di kedua pesisir mengurangi kemungkinan penyeberangan tersebut. Di darat, babi berjanggut berpindah mengikuti musim buah. Satwa ini menghuni berbagai tipe hutan hujan tropis dan dapat dijumpai pula di hutan yang telah ditebang. Buah bukan satu-satunya makanan: babi berjanggut juga mencari biji, umbi, cacing, dan serangga di tanah. Pencarian pakan kadang membawanya masuk ke lahan pertanian. Kebiasaan berpindah itu memperlihatkan mengapa kondisi hutan di sepanjang jalur pergerakannya penting, terutama ketika sumber makanan di satu tempat mulai berkurang. Perjumpaan di ladang juga menjadi bagian dari hubungan warga dengan satwa ini. Dalam penelitian Nining Liswanti dan kolega di Malinau, masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 08:47:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/05083311/2-Petugas-Stasiun-Reintroduksi-memberikan-buah-buahan-pakan-kepada-orangutan-yang-masih-berada-di-kandang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135966</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh, orangutan sumatera (Pongo abelii) yang pernah kehilangan kebebasannya, mendapat kesempatan hidup di alam liar. Mereka harus mencari makanan sendiri, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengenali sumber pakan, memilih tempat yang aman, hingga membangun sarang tidur. Tidak ada manusia yang menyiapkan makanan setiap hari. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/">Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh, orangutan sumatera (Pongo abelii) yang pernah kehilangan kebebasannya, mendapat kesempatan hidup di alam liar. Mereka harus mencari makanan sendiri, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengenali sumber pakan, memilih tempat yang aman, hingga membangun sarang tidur. Tidak ada manusia yang menyiapkan makanan setiap hari. Namun, bagi orangutan yang pernah dipelihara manusia, kembali menjadi satwa liar bukan perkara mudah. Ini yang dialami Bombom, orangutan jantan yang diselamatkan pada 2019 di Babahrot, Aceh Barat Daya. “Setelah menjalani rehabilitasi di Sumatera Utara, pada pertengahan 2026, Bombom dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho untuk menjalani pelatihan bertahap sebelum benar-benar dilepasliarkan,” kata Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, Jumat (25/9/26). Orangutan sumatera jantan duduk di kandang yang terbuka saat dilatih di Stasiun Reintroduksi Orangutan Jantho. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Proses tersebut meru[akan metode soft release, yaitu pendekatan pelepasliaran yang memberi kesempatan kepada orangutan untuk beradaptasi dengan lingkungan sebelum hidup sepenuhnya mandiri. Mengembalikan orangutan ke alam bukan pekerjaan yang selesai ketika satwa dipindahkan dari pusat rehabilitasi ke hutan. “Proses adaptasi orangutan bergantung tingkat kemandirian bertahan di alam liar.” Pengalaman tim menunjukkan, tidak semua orangutan langsung menjauh dari manusia setelah dilepasliarkan. Ada individu yang kembali ke stasiun. Beberapa individu, bahkan mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujar Hafid. Petugas Stasiun Reintroduksi Janho memberikan buah-buahan pakan kepada orangutan yang masih berada di kandang. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Citrakasih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 04:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011222/Nikel-laut-Wawonii-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135910</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Perusahaan bukan kasih hidup, dia mau kasih mati.” Begitu kata Utete, perempuan Adat Bajo yang tinggal di Morombo Pantai, Sulawesi Tenggara (Sultra), gambarkan kehidupan warga setelah ada industri nikel di wilayahnya, dalam dokumenter pendek “Busy Surviving: Women on Indonesia’s Nickel Frontier” besutan Climate Rights International (CRI). Dia harus merasakan seabrek kesulitan setelah perusahaan nikel beroperasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/">Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Perusahaan bukan kasih hidup, dia mau kasih mati.” Begitu kata Utete, perempuan Adat Bajo yang tinggal di Morombo Pantai, Sulawesi Tenggara (Sultra), gambarkan kehidupan warga setelah ada industri nikel di wilayahnya, dalam dokumenter pendek “Busy Surviving: Women on Indonesia’s Nickel Frontier” besutan Climate Rights International (CRI). Dia harus merasakan seabrek kesulitan setelah perusahaan nikel beroperasi di sana. Memasang lebih banyak jaring dan melaut makin jauh, sementara tangkapan ikan pun menyusut. Jika biasa dalam satu malam dia sudah mendapat ikan yang banyak. Kini, dia harus berusaha ‘setengah mati’. Kesulitan itu dia rasakan setelah air laut berubah menjadi merah, tercampur limbah dari aktivitas tambang nikel di perbukitan, tepat di atas desanya. Kerugian itu hanya perusahaan ganti dengan sebatas ‘uang debu’ yang cair 90 hari sekali. Tak sebanding dengan kerugiannya. Dia pun harus beberapa kali demo untuk menagih haknya. Imbas air laut tercemar bukan hanya menyulitkan dia menangkap ikan untuk kebutuhan sehari-hari, tradisi Suku Bajo pun ikut terancam. Utete juga merupakan dukun beranak. Mempraktikkan ritus kelahiran khas masyarakat adat Bajo puluhan tahun lamanya. Ketika bayi lahir, masyarakat Adat Bajo melakukan ritual mencelupkan bayi ke laut. Praktik itu biasanya pada hari ke-3 setelah lahir dan saat bayi berusia 40 hari. Plasenta atau ari-ari bayi juga harus dihanyutkan ke laut sebagai bentuk penyatuan dengan alam. Ritual itu sudah tak bisa dia lakukan karena tak tega mencelupkan bayi di laut yang tercemar. “Bidan dulu belum ada, hanya kita-kita di dukun orang Bajo. Kita orang Bajo itu mi kekuatannya kita air asin,” ucapnya. Esti, perempuan yang tinggal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 02:10:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022140/Bintang-laut-mahkota-berduri-di-Kepulauan-Togean-Kabupaten-Tojo-Una-Una-Sulawesi-Tengah.-Foto_-Christopel-Paino-di-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135956</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya. Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/">Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya. Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, keberadaannya merupakan bagian dari ekosistem terumbu. Ketika populasinya melonjak, pemangsaan dapat meluas hingga menghabiskan sebagian besar karang hidup di lokasi terdampak. Neviaty P. Zamani, peneliti yang mengkaji kelimpahan bintang laut berduri di perairan Pulau Tunda, Banten, menyebut satu individu dapat memangsa karang seluas 5–6 meter persegi dalam setahun. Angka itu memberi gambaran mengapa perubahan jumlah satwa ini begitu berarti. Dalam kondisi normal, kepadatannya dapat berkisar sekitar 10 ekor per hektar, tetapi saat terjadi ledakan populasi jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor pada luasan yang sama. Di Pulau Tunda sendiri, penelitian tersebut menemukan kelimpahan yang masih berada dalam kisaran alami dan belum menjadi ancaman berarti bagi terumbu. Apa yang membuat jumlahnya melonjak? Neviaty menjelaskan tiga kemungkinan. Pertama, populasi bintang laut memang dapat naik turun secara alami. Kedua, berkurangnya hewan pemangsa dapat membuat lebih banyak bintang laut bertahan hidup. Ketiga, aktivitas manusia di darat dan pesisir dapat menambah ketersediaan makanan bagi larva di laut. Jika lebih banyak larva bertahan, lebih banyak pula yang berpeluang tumbuh menjadi pemangsa karang. Ketiganya merupakan penjelasan yang dibahas dalam kajian tersebut. Lonjakan populasi di suatu lokasi belum cukup untuk menentukan penyebabnya. Di Togean, pengelola kawasan telah mencoba menekan jumlah bintang laut di lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hujan Redakan Api Kalteng, Proses Hukum Karhutla Harus Tetap Jalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 22:50:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04223946/Krismes-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hujan sudah mengguyur Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlahan padam. Meski begitu, pegiat lingkungan ingatkan, meskipun api padam tetapi penegakan hukum  terhadap korporasi yang diduga terlibat karhutla harus tetap berjalan. BMKG mencatat, curah hujan cukup signifikan turut membasahi lahan gambut dan diikuti penurunan drastis titik panas. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/">Hujan Redakan Api Kalteng, Proses Hukum Karhutla Harus Tetap Jalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hujan sudah mengguyur Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlahan padam. Meski begitu, pegiat lingkungan ingatkan, meskipun api padam tetapi penegakan hukum  terhadap korporasi yang diduga terlibat karhutla harus tetap berjalan. BMKG mencatat, curah hujan cukup signifikan turut membasahi lahan gambut dan diikuti penurunan drastis titik panas. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) pada 28 Oktober 2026, tidak terdeteksi titik panas di Kalteng selama 12 jam terakhir, baik pada tingkat kepercayaan rendah, sedang, maupun tinggi. Agung Sesa, Manager Advokasi, Kajian dan Kampanye Walhi Kalimantan Tengah, mengatakan,  hujan turun dalam beberapa hari terakhir memang membantu meredakan kabut asap dan mengurangi ancaman kesehatan bagi masyarakat. Namun, katanya, kondisi itu tak boleh menjadi alasan untuk menghentikan penegakan hukum terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam karhutla. “Hujan memang membantu meredakan dampak karhutla, terutama kabut asap dan ancaman kesehatan bagi masyarakat. Tetapi, bukan berarti persoalannya selesai,” katanya kepada Mongabay Indonesia. Penegakan hukum terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam kebakaran harus tetap berjalan. Pemerintah, katanya, tak boleh berhenti pada pemadaman api, juga harus menelusuri akar persoalan dan memastikan perusahaan yang terbukti melanggar bertanggung jawab. Penegakan hukum terhadap pelaku karhutla harus tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu. Penegakan hukum, katanya,  tak boleh sekadar menjadi respons sesaat atau momentum menunjukkan seolah-olah pemerintah sudah bekerja. Aparat penegak hukum, katanya,  harus menelusuri dugaan keterlibatan korporasi, memastikan pertanggungjawaban hukum terhadap setiap pelaku. Juga, mendorong sanksi administratif hingga pencabutan perizinan bagi perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran. Aksi massa pada 19 Oktober di Palangka Raya, Kalteng, protes penanganan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hirup Asap Karhutla Berulang, Tidak Berarti Tubuh Kebal Polutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03015613/Karhutla-Krismes-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Langit yang kembali cerah belum tentu menandai berakhirnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang berhari-hari menghirup asap, persoalan kesehatan dapat berlanjut setelah titik api padam. Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) mengingatkan bahwa penanganan karhutla perlu mencakup perlindungan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan. Mengutip data Kementerian Kesehatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/">Hirup Asap Karhutla Berulang, Tidak Berarti Tubuh Kebal Polutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Langit yang kembali cerah belum tentu menandai berakhirnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang berhari-hari menghirup asap, persoalan kesehatan dapat berlanjut setelah titik api padam. Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) mengingatkan bahwa penanganan karhutla perlu mencakup perlindungan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan. Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, yayasan itu menyebut terdapat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 75.172 kasus, atau sekitar 22,5%, terjadi pada balita. Angka tersebut menjadi peringatan mengenai besarnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah yang diselimuti asap. Herawati Supolo Sudoyo, pembina YSSTI, menilai perhatian selama ini terlalu sering terpusat pada pemadaman, sementara warga yang terus terpapar belum memperoleh perlindungan memadai. “Perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan terus sejak sebelum asap datang hingga setelah langit kembali cerah,” katanya. Menurut Herawati, kesiapsiagaan perlu memasukkan perlindungan sebelum kebakaran, respon selama paparan, serta pemantauan medis setelahnya. Terbiasa menghadapi musim asap tidak berarti tubuh menjadi kebal terhadap polutan. Feni Fitriani Taufik, dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menjelaskan bahwa asap karhutla merupakan campuran partikel halus, gas beracun, dan senyawa berbahaya. Di dalamnya terdapat PM2.5, PM10, karbon monoksida, nitrogen oksida, benzena, serta formaldehida. Partikel PM2.5 dapat mencapai kantung udara terdalam di paru-paru, sementara paparannya berkaitan dengan peradangan dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular. Karbon monoksida juga mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Dengan demikian, dampak asap tidak terbatas pada batuk atau mata perih, tetapi dapat melibatkan fungsi organ dan kesehatan jangka panjang. Di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seluruh Habitat Asalnya Ada di Satu Air Terjun, Katak Kihansi Sempat Punah di Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 09:44:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04094402/1280px-Kihansi_spray_toad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135927</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Katak kihansi (Nectophrynoides asperginis) merupakan salah satu contoh ekstrem satwa dengan spesialisasi habitat mikro. Spesies ini hanya ditemukan secara alami di zona percikan air terjun Kihansi, Tanzania, pada area seluas beberapa hektare. Ketergantungan penuh pada satu ekosistem sempit membuat populasinya rentan musnah begitu terjadi intervensi fisik pada sumber air. Populasi liar katak ini hilang setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/">Seluruh Habitat Asalnya Ada di Satu Air Terjun, Katak Kihansi Sempat Punah di Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Katak kihansi (Nectophrynoides asperginis) merupakan salah satu contoh ekstrem satwa dengan spesialisasi habitat mikro. Spesies ini hanya ditemukan secara alami di zona percikan air terjun Kihansi, Tanzania, pada area seluas beberapa hektare. Ketergantungan penuh pada satu ekosistem sempit membuat populasinya rentan musnah begitu terjadi intervensi fisik pada sumber air. Populasi liar katak ini hilang setelah proyek pembangkit listrik tenaga air mengalihkan sebagian besar aliran air sungai pada akhir 1990-an. Penurunan kelembapan yang drastis memicu kekeringan mikro dan kemunculan wabah penyakit jamur. Pada 2009, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan spesies ini berstatus punah di alam liar (Extinct in the Wild). Spesies ini hanya bertahan hidup melalui program penangkaran di luar negeri. Upaya reintroduksi telah mengembalikan katak ini ke ngarai asalnya. Namun, ekosistem tersebut tidak lagi berfungsi secara alami. Kelangsungan hidup katak di habitat aslinya kini bergantung sepenuhnya pada jaringan pipa dan penyemprot mekanis yang dipasang untuk meniru percikan air terjun. Spesialisasi Ekologis dan Gangguan PLTA Katak kihansi pertama kali diidentifikasi oleh peneliti pada 1996. Amfibi berwarna kuning ini memiliki panjang tubuh sekitar dua sentimeter. Reproduksinya unik karena betina melahirkan anak katak secara langsung, tanpa melalui fase berudu. Spesies ini tidak bisa bertahan di tepi sungai biasa. Mereka membutuhkan vegetasi yang terus-menerus basah oleh kabut air dari air terjun. Percikan air tersebut menjaga mikroklimat tetap sejuk dan lembap secara konstan di tengah kawasan tebing yang kering. Kondisi hidrologis tersebut berubah drastis ketika Pembangkit Listrik Tenaga Air Lower Kihansi beroperasi. Pembangunan bendungan memotong volume aliran air menuju air terjun hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 08:38:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135801</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polres Pelabuhan Tanjung Priok menetapkan sembilan tersangka kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap awak kapal perikanan (AKP) KM Maulana 23. Termasuk antara lain, Suyadi pemilik kapal KM Maulana 23, sekaligus Direkrut PT Anugrah Maritim Indonesia Raya (AMIR). AKBP Alrasyidin Fajri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok mengatakan, perkara itu  telah memenuhi tiga unsur utama TPPO, sesuai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/">Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polres Pelabuhan Tanjung Priok menetapkan sembilan tersangka kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap awak kapal perikanan (AKP) KM Maulana 23. Termasuk antara lain, Suyadi pemilik kapal KM Maulana 23, sekaligus Direkrut PT Anugrah Maritim Indonesia Raya (AMIR). AKBP Alrasyidin Fajri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok mengatakan, perkara itu  telah memenuhi tiga unsur utama TPPO, sesuai Pasal 455 KUHP, yakni, proses, cara, dan tujuan eksploitasi. Mereka, memiliki peran berbeda, mulai dari perekrutan, penampungan, pemalsuan dokumen, hingga praktik perbudakan di atas kapal. Dia bilang, para korban terjerat utang, mengalami pemotongan gaji tanpa persetujuan, serta menjadi korban penyiksaan. Dokumen perjanjian kerja mereka pun dipalsukan. “ Dari janji gaji Rp4 juta per bulan, korban justru hanya diberi upah Rp35.000 per hari,&#8221; ujar Fajri saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/10/26). Menurut Fajri, para tersangka memiliki latar belakang dan peran berbeda. Mulai dari kapten, pengurus dokumen, penampung AKP, hingga pemilik kapal. Para korban direkrut melalui Facebook. Sarman, Kapten KM Maulana 23, berperan memberikan target kerja berlebihan, melakukan penyiksaan, menyita 10 ponsel milik awak, serta membatasi makanan dan minuman layak apabila target kerja tidak tercapai. Tersangka lain, Ahmad Ramadhan alias Rama bertugas mengoordinasikan pendaftaran dan penampungan para awak yang dia rekrut melalui Facebook. Selain itu, dia juga memotong uang kasbon secara sepihak serta memobilisasi korban untuk bekerja di KM Maulana 23. Asep Saepudin alias Ujang bertugas menjemput dan mengawasi AKP di tempat penampungan serta mengawal mereka agar tidak melarikan diri sebelum naik kapal. Kusdinar alias Babe Bule, tersangka lainnya bertugas menjemput dan menyalurkan korban ke jaringan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perlindungan Kawasan Skala Besar Jamin Masa Depan Perikanan Indonesia dan Mamalia Laut?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 03:50:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04034010/Ikan-di-pelabuhan2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135915</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia bersiap membentuk kawasan konservasi laut skala besar atau large scale marine protected area (LSMPA) di dua lokasi, perairan Laut Banda yang menghadap ke Samudra Pasifik dan Barat Sumatera yang menghadap Samudra Hindia. Proses tersebut untuk mencapai target luas kawasan konservasi perairan sebesar 30 persen pada 2045, atau 97,5 juta ha dari total wilayah laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/">Perlindungan Kawasan Skala Besar Jamin Masa Depan Perikanan Indonesia dan Mamalia Laut?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia bersiap membentuk kawasan konservasi laut skala besar atau large scale marine protected area (LSMPA) di dua lokasi, perairan Laut Banda yang menghadap ke Samudra Pasifik dan Barat Sumatera yang menghadap Samudra Hindia. Proses tersebut untuk mencapai target luas kawasan konservasi perairan sebesar 30 persen pada 2045, atau 97,5 juta ha dari total wilayah laut Indonesia seluas 325 juta ha. Dengan target itu, luas zona inti diproyeksikan mencapai 29,25 juta ha. Namun hingga 2025, luas kawasan konservasi yang tercapai baru 30,97 juta ha. Artinya, diperlukan tambahan minimal 66,53 juta ha untuk mewujudkan target 2045. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan beberapa lokasi potensial untuk pembentukan LSMPA dengan luas minimal 10 juta ha. Jimy Kalther, Marine Ecology Manager Konservasi Indonesia, menjabarkan urgensi pembentukan LSMPA di dua lokasi tersebut. “Solusi memulihkan stok ikan yang terancam akibat overfishing dan eksploitasi berlebihan, serta sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati laut,” ungkapnya, Selasa (20/10/26). Potensi ikan yang melimpah menjadi sumber pendapatan nelayan di Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Nilai ekologis Indonesia membutuhkan kawasan konservasi baru untuk melindungi mamalia laut, termasuk paus dan lumba-lumba. Kawasan perairan Barat Sumatera juga penting untuk melindungi area pemijahan ikan pelagis, seperti cakalang dan layang. Selama ini, perairan Barat Sumatera menjadi wilayah penangkapan ikan paling produktif di Indonesia, dengan produksi tertinggi di Sumatra Barat. Namun, tekanan penangkapan yang tinggi menjadi dasar kuat penerapan pengelolaan berbasis kawasan. “Perairan ini juga habitat 23 spesies mamalia laut kelompok paus dan lumba-lumba.” Gambaran serupa ditemukan di Laut Banda. Selain area penting tuna sirip kuning, juga habitat reguler&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proyek Tol Ancam Kehidupan Masyarakat Pandai Sikek</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 01:53:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03051607/Spanduk-penolakan-warga-Pandai-Sikek-terhadap-rencana-pembangunan-jalan-tol-Novia-Harlina-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dewi menyusun benang warna merah dan emas menggunakan alat tenun tua peninggalan neneknya dengan teliti. Helai demi helai benang dia sisipkan mengikuti motif. Sesekali, tangannya bergerak mengatur tegangan benang agar tetap rapat dan tidak kusut. Dia belajar kerajinan ini sejak masih SMA, sekitar 2006. Kini, dia sudah mahir membuat songket Pandai Sikek yang terkenal di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/">Proyek Tol Ancam Kehidupan Masyarakat Pandai Sikek</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dewi menyusun benang warna merah dan emas menggunakan alat tenun tua peninggalan neneknya dengan teliti. Helai demi helai benang dia sisipkan mengikuti motif. Sesekali, tangannya bergerak mengatur tegangan benang agar tetap rapat dan tidak kusut. Dia belajar kerajinan ini sejak masih SMA, sekitar 2006. Kini, dia sudah mahir membuat songket Pandai Sikek yang terkenal di Indonesia hingga mancanegara. Beberapa pelanggannya pun ada dari Malaysia. Saat kuliah di Universitas Andalas, Padang, Dewi bahkan membawa alat tenun ke rumah kos agar tetap bisa bekerja di sela-sela kuliah. “Selain saya dan suami menenun, kami juga ada perajin yang menenun di rumah mereka masing-masing. Jadi, semua modal mulai dari benang, kain, dan motif itu kami sediakan, dengan sistem upah,” katanya, Sabtu (31/10/26). Pembayaran upah berdasar kain songket yang mereka hasilkan. Besaran bergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain. Biasanya, berkisar Rp500.000-Rp3.000.000 per lembar. “Kalau yang Rp3.000.000 itu pengerjaannya bisa satu bulanan, kalau Rp500.000  sekitar satu minggu,” kata  perempuan 39 tahun itu. Dewi memasarkan songket melalui toko suvenir di Bukittinggi, di galerinya, serta penjualan daring. Harga kain antara berkisar jutaan hingga belasan juta. Selendang Saga Merah sepanjang 1,8 meter yang sedang dia kerjakan misal, seharga Rp3,5 juta. Kini, dia merasa waswas atas  rencana pembangunan jalan tol yang bakal melintasi Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar). Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KIPP) menyebut, tol di Tanah Datar merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru sepanjang 244 kilometer. Pembangunan seksi I yang meliputi Padang-Sicincin (28 kilometer)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 00:30:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030328/Claudia-mahasiswa-Meksiko-yang-jatuh-cinta-dengan-tempe.-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135842</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010. Selama empat tahun, dia mengembangkan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/">Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010. Selama empat tahun, dia mengembangkan dan mengenalkan produk tersebut. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanannya mengolah tempe, yang kemudian berkembang menjadi kelas-kelas pembuatan tempe organik dan pendampingan perajin. Ketertarikan Agus pada pertanian organik bermula ketika menjadi pendamping korban konflik Aceh pada 2008. Pengalaman tersebut mendorongnya memikirkan hubungan antarmakhluk hidup dan cara manusia memproduksi pangan. Saat bekerja bersama petani di Majalengka, dia melihat peluang dari keragaman biji-bijian lokal. “Kita kaya akan biji-bijian, bisa tidak tergantung dari kedelai,” katanya. Bagi Agus, memperluas bahan baku tempe merupakan cara mengangkat tanaman setempat. Dia juga mengembangkan tempe kedelai lokal sebagai bagian dari upayanya mendukung penggunaan hasil pertanian dalam negeri. Pengetahuan itu dibagikannya melalui kelas yang kebanyakan berlangsung secara daring. Peserta belajar teori dan praktik pembuatan tempe, mengenali bahan baku, hingga membuat ragi. Pada tingkat lanjutan, Agus memperkenalkan variasi tempe dengan kunyit, kencur, kayumanis, kelor, stevia, dan spirulina. Ada pula kelas pengolahan tempe dari beragam kacang-kacangan. Pesertanya datang dari berbagai kalangan, termasuk luar negeri. “Sekarang kita sudah era global. Tempe itu sudah mendunia,” ujarnya. Dia ingin keterampilan membuat pangan yang lekat dengan kehidupan Indonesia ini tetap dikenal dan diwariskan oleh masyarakatnya sendiri. Di Gunungkidul, Agus mendampingi perajin tempe Playen, kawasan yang menurutnya dahulu dikenal sebagai penghasil tempe&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Konservasi Monyet Ekor Panjang Berjalan Tanpa Libatkan Petani?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 13:39:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03133156/Monyet-ekor-panjang-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-FAM_6945-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135895</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengusir monyet dari kebun mungkin bisa menyelamatkan tanaman untuk sementara. Namun, bagaimana bila primata Macaca fascicularis itu kembali beberapa hari kemudian, merusak tanaman lain, atau bikin petani gagal panen? Bagi warga yang hidup berdampingan dengan primata cerdas nan adaptif, persoalan ini tak sekadar gangguan, melainkan juga menyangkut ekonomi dan tata kelola lingkungan. Mihra Fauzia Mafaz, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/">Bisakah Konservasi Monyet Ekor Panjang Berjalan Tanpa Libatkan Petani?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengusir monyet dari kebun mungkin bisa menyelamatkan tanaman untuk sementara. Namun, bagaimana bila primata Macaca fascicularis itu kembali beberapa hari kemudian, merusak tanaman lain, atau bikin petani gagal panen? Bagi warga yang hidup berdampingan dengan primata cerdas nan adaptif, persoalan ini tak sekadar gangguan, melainkan juga menyangkut ekonomi dan tata kelola lingkungan. Mihra Fauzia Mafaz, peneliti yang mengkaji konflik masyarakat dan monyet ekor panjang di Desa Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menemukan bahwa berbagai upaya pengusiran yang dilakukan warga belum memberikan hasil berkelanjutan. “Ada yang mengusir dengan melempar batu, menyalakan petasan, hingga memasang orang-orangan sawah, tapi kawanan monyet tetap kembali ke kebun petani,” terangnya, Selasa (27/10/26). Dalam penelitiannya, Mihra melibatkan 30 responden melalui wawancara juga observasi lapangan. Hasilnya menunjukkan 76,6 persen responden menganggap primata cerdas itu sebagai gangguan, sedangkan 56,6 persen mengaku khawatir terhadap keberadaan satwa yang disebut juga monyet kra ini. Mihra bilang, gangguan monyet tersebut berlangsung bertahun. Dari keterangan warga, konflik terjadi sekitar satu dekade atau lebih. Gangguan, terutama menyasar lahan pertanian yang ditanami pisang, nangka, pepaya, dan singkong. Intensitasnya dilaporkan meningkat pada musim panen. Pada musim kemarau, macaca dilaporkan makin sering mendekati permukiman saat sumber makanan, karena di habitatnya sulit ditemukan. “Misalnya, hari ini mereka rombongan ke kebun pisang, kemudian diusir petani. Namun, monyet mempunyai sifat yang gampang beradaptasi. Kalau caranya itu-itu saja, monyet tidak takut dan kembali lagi.” Monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang hidupnya di alam liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Habitat terganggu Dari 30 responden yang diwawancarai, Mihra mendapati sebanyak 26 orang atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Danau Deduhuk dan Jalur Gajah Sumatera yang Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 10:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02013841/Danau-Deduhuk-yang-dikelilingi-perbukitan-Gunung-Patah.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135843</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade. “Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/">Danau Deduhuk dan Jalur Gajah Sumatera yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade. “Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali. Sebutan bujang besak, yang berarti anak laki-laki besar, mencerminkan kedekatan masyarakat Semende dengan satwa yang mereka hormati sebagai sesama penghuni hutan. Danau Deduhuk berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, dalam bentang perbukitan Gunung Patah. Menurut penuturan Zali, dahulu gajah mengunjunginya dua kali setahun. Kawanan datang dari arah Gunung Patah menuju Isau-Isau, kemudian kembali melintas beberapa bulan berikutnya. Di rawa yang disebut Danah Tiga Panggung, mereka berdiam dan berendam. Ingatan tentang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa danau merupakan bagian dari ruang jelajah gajah, bersama rawa Pama dan Danau Gerak di wilayah Semende. Kini, jalur yang pernah dilalui kawanan itu menyisakan pertanyaan tentang keberadaan mereka. Bagi masyarakat Semende, jejak gajah juga menyimpan pengetahuan tentang hutan. Secara turun-temurun, warga mengenalnya sebagai petunjuk jalur, sumber air, dan tumbuhan pangan. Zali mengatakan masyarakatnya tidak memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Ahmad Juraidi, warga tepian danau, menyampaikan cerita serupa dari kakeknya: kawanan gajah pernah singgah selama beberapa hari tanpa mengganggu kebun dan pondok warga. Kesaksian tersebut merekam pengalaman hidup berdampingan yang masih dijaga dalam ingatan keluarga. Namun, keberadaan gajah di kawasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Dayak Meratus Maknai Tiap Mimpi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 09:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16120218/IMG_34090-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135852</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), miliki cara memaknai mimpi. Bukan hanya bunga tidur, mimpi memiliki beragam tafsiran sebagai pertanda yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Juga, pengingat untuk berhati-hati memperlakukan alam. Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/">Masyarakat Adat Dayak Meratus Maknai Tiap Mimpi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), miliki cara memaknai mimpi. Bukan hanya bunga tidur, mimpi memiliki beragam tafsiran sebagai pertanda yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Juga, pengingat untuk berhati-hati memperlakukan alam. Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki tafsir berbeda. Matahari terbenam biasa mereka kaitkan dengan kematian laki-laki, sedangkan bulan terbenam dengan kematian perempuan. Pria 64 tahun ini bilang, penafsiran juga berkaitan dengan kekerabatan. Matahari dapat diibaratkan ayah, sedangkan bulan sebagai ibu. Mimpi melihat matahari atau bulan terbit juga memiliki tafsir tersendiri. Matahari terbit mereka kaitkan dengan kelahiran anak laki-laki, sementara bulan terbit dengan kelahiran anak perempuan. Masyarakat, katanya, tidak memandang semua mimpi pertanda baik. Mimpi membunuh binatang tertentu, seperti beruang, musang, atau ular, seringkali dianggap membawa peringatan. Mimpi membunuh beruang mereka tafsirkan kemungkinan datangnya bahaya. Sementara itu, membunuh musang dengan perasaan gelisah atau sakit hati. Adapun mimpi membunuh ular mereka hubungkan dengan kemungkinan terjadinya kematian akibat tindakan manusia terhadap manusia lain. Mimpi tergigit ular juga masyarakat pandang sebagai pertanda. Dalam penuturannya, ada pula kemungkinan mimpi tentang ular berkaitan dengan kedatangan anak atau anggota keluarga. Di balik penafsiran mimpi, dia mengingatkan agar manusia tidak sembarangan mengambil atau merusak hewan dan tumbuhan. Menurut dia, manusia tidak seharusnya bertindak sembarangan terhadap makhluk hidup, terutama jika tidak memiliki keperluan untuk mengambil atau merusaknya. Orang Dayak Meratus berfoto bersama usai menghadiri diskusi publik di Kota Banjarbaru. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Kaitan dengan berladang Penafsiran mimpi juga bersinggungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>