Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya.
Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas.
Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak.
Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak.
Kepala BPBD Maluku Utara Fehby Alting menyebut minimnya sumber air, mobil tangki, dan pompa sebagai kendala pemadaman. Angin kencang serta medan pegunungan yang terjal juga menyulitkan petugas mencapai lokasi. BPBD merekomendasikan pemadaman dari udara untuk wilayah yang sulit dijangkau. Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan pada September dan Oktober, tetapi dampaknya terhadap kebakaran masih perlu dievaluasi.
Herman Oesman, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, menilai kenaikan titik panas sejak Juni semestinya mendorong pemerintah daerah bertindak lebih dini dan memperkuat koordinasi.
Di Halmahera Timur, api bahkan masuk ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Astuti N. Kilwouw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara, meminta pemerintah menyelidiki asal api dan cara penyebarannya secara terbuka. Ia juga mendorong agar data titik panas diperiksa bersama peta konsesi dan pembukaan lahan, serta agar warga memiliki saluran pelaporan. Bagi warga Leleseng dan Buli, pekerjaan setelah pemadaman sama mendesaknya: memulihkan sumber pangan, kebun, dan hutan di sekitar mata air yang mereka andalkan.
Foto utama: Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga.