Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade.
“Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali.
Sebutan bujang besak, yang berarti anak laki-laki besar, mencerminkan kedekatan masyarakat Semende dengan satwa yang mereka hormati sebagai sesama penghuni hutan.
Danau Deduhuk berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, dalam bentang perbukitan Gunung Patah. Menurut penuturan Zali, dahulu gajah mengunjunginya dua kali setahun. Kawanan datang dari arah Gunung Patah menuju Isau-Isau, kemudian kembali melintas beberapa bulan berikutnya. Di rawa yang disebut Danah Tiga Panggung, mereka berdiam dan berendam.
Ingatan tentang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa danau merupakan bagian dari ruang jelajah gajah, bersama rawa Pama dan Danau Gerak di wilayah Semende. Kini, jalur yang pernah dilalui kawanan itu menyisakan pertanyaan tentang keberadaan mereka.
Bagi masyarakat Semende, jejak gajah juga menyimpan pengetahuan tentang hutan. Secara turun-temurun, warga mengenalnya sebagai petunjuk jalur, sumber air, dan tumbuhan pangan.
Zali mengatakan masyarakatnya tidak memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Ahmad Juraidi, warga tepian danau, menyampaikan cerita serupa dari kakeknya: kawanan gajah pernah singgah selama beberapa hari tanpa mengganggu kebun dan pondok warga. Kesaksian tersebut merekam pengalaman hidup berdampingan yang masih dijaga dalam ingatan keluarga.
Namun, keberadaan gajah di kawasan itu belum dapat dipastikan. Laporan pemetaan habitat pada 2016 oleh BKSDA Sumatera Selatan bersama Universitas Sriwijaya dan GIZ-BIOCLIME menyebut tidak ditemukan individu gajah di Hutan Lindung Jambul Nanti Patah.
Syamsuardi dari Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa memperkirakan gajah mungkin sudah tidak ada, tetapi menekankan perlunya pemeriksaan kembali. Ia mencontohkan Gunung Raya, tempat sekitar lima individu kemudian terdeteksi setelah sebelumnya dianggap tidak lagi dihuni gajah. Tidak adanya perjumpaan di Deduhuk belum menjelaskan secara pasti apakah kawanan berpindah, berkurang, atau menghilang.
Sementara menunggu jawaban, Danau Deduhuk tetap menopang kehidupan masyarakat. Warga memandangnya sebagai danau adat milik bersama, sumber air bersih dan pertanian sejak 1930-an. Aliran airnya kini juga menggerakkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro berkapasitas 18 kilowatt yang melayani 53 keluarga.
Zali dan Juraidi berharap pengembangan energi panas bumi di Rantau Dedap tetap menjamin permukiman serta kebun warga. Bagi mereka, menjaga danau berarti mempertahankan ruang hidup yang telah diwariskan lintas generasi, sekaligus menyimpan harapan bahwa suatu hari jejak bujang besak kembali terlihat.
Foto utama: Danau Deduhuk yang dikelilingi perbukitan Gunung Patah. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.