Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, atau keputihan. Tubuhnya cukup besar. Panjang jantan dapat mencapai sekitar satu setengah meter, sementara betina umumnya lebih kecil.
Kajian Matthew S. Luskin dan Alison Ke membedakan dua subspesies berdasarkan wilayah sebarannya. Sus barbatus oi dikaitkan dengan Sumatera, sedangkan Sus barbatus barbatus menghuni Kalimantan, Semenanjung Malaysia, serta sejumlah pulau di sekitarnya. Namun, batas sebaran kedua kelompok itu belum sepenuhnya jelas.
Para peneliti menyebut babi berjanggut di Bangka dan sebagian Kepulauan Riau sulit dipastikan termasuk kelompok mana. Kemampuan satwa ini berenang di perairan terbuka membuat para peneliti menduga bahwa penyeberangan Selat Malaka mungkin pernah terjadi. Mereka juga menilai hilangnya hutan di kedua pesisir mengurangi kemungkinan penyeberangan tersebut.
Di darat, babi berjanggut berpindah mengikuti musim buah. Satwa ini menghuni berbagai tipe hutan hujan tropis dan dapat dijumpai pula di hutan yang telah ditebang. Buah bukan satu-satunya makanan: babi berjanggut juga mencari biji, umbi, cacing, dan serangga di tanah. Pencarian pakan kadang membawanya masuk ke lahan pertanian.
Kebiasaan berpindah itu memperlihatkan mengapa kondisi hutan di sepanjang jalur pergerakannya penting, terutama ketika sumber makanan di satu tempat mulai berkurang.
Perjumpaan di ladang juga menjadi bagian dari hubungan warga dengan satwa ini. Dalam penelitian Nining Liswanti dan kolega di Malinau, masyarakat Dayak Merap dan Punan dilaporkan berburu babi hutan, termasuk babi berjanggut yang masuk ke wilayah pertanian. Kajian yang sama mencatat aturan adat yang membatasi pembukaan ladang dan pengambilan sumber daya di tempat tertentu.
Bagi masyarakat yang diteliti, hutan menyediakan kebutuhan sehari-hari sekaligus memiliki nilai spiritual. Aturan tersebut membantu menjaga agar sumber daya hutan dapat terus dimanfaatkan.
Kemampuan memanfaatkan beragam habitat tidak membuat babi berjanggut luput dari ancaman. Dalam penilaian IUCN yang dirujuk, spesies ini masuk kategori Rentan, dengan penurunan populasi hingga 30 persen dalam kurun 21 tahun. Kehilangan habitat akibat eksploitasi dan kerusakan hutan menjadi faktor yang disorot. Bagi satwa yang mencari makan dengan mengikuti musim buah, menjaga hutan juga berarti mempertahankan jalur yang menghubungkannya dengan sumber pakan berikutnya.
Foto utama: Babi berjanggut yang berada di Kebun Binatang San Diego, Amerika. Foto: Wikipedia/Art G. from Willow Grove, PA, USA/Creative Commons Atribusi 2.0 Generik/Free to share.