<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=noer-fauzi-rachman&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/noer-fauzi-rachman/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 02 Nov 2026 10:00:26 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
				<item>
					<title>Belum Pulih dari Bencana, Warga Padang Kembali Diterjang Banjir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 10:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24094312/WhatsApp-Image-2026-10-24-at-02.39.25-e1792835097199-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135676</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya. Yuli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/">Belum Pulih dari Bencana, Warga Padang Kembali Diterjang Banjir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya. Yuli baru sebulan menumpang di rumah kerabat sambil menunggu hunian tetap. Bencana kembali memaksanya menghadapi kehilangan rasa aman, bersama sekitar 165 keluarga atau 615 jiwa yang mengungsi. Di perumahan Lumin Park Cluster, Kelurahan Lubuk Minturun, tanggul pembatas jebol dan air naik hingga sekitar 1,5-2 meter. Pintu, jendela, serta pagar rumah rusak, sementara lumpur menutupi bagian dalam bangunan. Herawati, yang tinggal di sana sejak 2019, mengaku kini segera mengungsi ketika langit menggelap. Pengalaman warga mendorong Walhi Sumatera Barat mempertanyakan dasar pembangunan perumahan tersebut. Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyebut lokasinya berada di tikungan Sungai Batang Aia Dingin yang rawan banjir dan erosi. Ia mendesak evaluasi tata ruang, perizinan, serta pengawasan pembangunan, bukan hanya penanganan setelah bencana. Pengembang Lumin Park membantah pembangunan melanggar sempadan sungai atau tata ruang. Melalui kuasa hukumnya, Mettalia Yolanda, perusahaan menyatakan telah melakukan studi kelayakan dan kajian teknis tata air sebelum membangun. “Tidak ada bangunan rumah yang kami dirikan melanggar batas sempadan atau mencaplok kawasan lindung sungai.” Pengembang juga menyebut telah meninggikan tanah dasar dan mengajukan perbaikan infrastruktur kepada instansi terkait. Menurut mereka, sedimentasi setelah banjir November 2025 menurunkan kapasitas sungai sehingga kawasan yang sebelumnya dinilai aman menjadi rentan. Perbedaan penjelasan ini memperkuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Maluku Utara Hanguskan Hutan sampai Kebun Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 06:23:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal &amp; Fadly Kayoa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02060448/2-Kebakaran-di-aera-taman-nasional-aketajawe-lolobata.jpeg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135826</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara dan ternate]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sejak awal Oktober lalu api mulai melahap sekitar 20 hektar hutan dan kebun warga di Taman Love, Kelurahan Moya, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Api muncul melalap  kebun warga dan hutan, serta terus meluas. Saat ini, hujan mulai turun. Hingga pertengahan Oktober  lalu, asap masih menyelimuti Ternate dan Halmahera. Badan Meteorologi Klimatologi, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/">Kebakaran Maluku Utara Hanguskan Hutan sampai Kebun Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sejak awal Oktober lalu api mulai melahap sekitar 20 hektar hutan dan kebun warga di Taman Love, Kelurahan Moya, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Api muncul melalap  kebun warga dan hutan, serta terus meluas. Saat ini, hujan mulai turun. Hingga pertengahan Oktober  lalu, asap masih menyelimuti Ternate dan Halmahera. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan asap akan bertahan beberapa hari, berasal dari kebakaran di Halmahera dan Ternate, serta kiriman dari Papua dan Maluku. Di lokasi lain, asap mengepul di jalanan Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu sore 7 Oktober. Bau plastik terbakar menyengat sepanjang jalan, lebih dari satu kilometer dari titik api di tempat pembuangan akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome. Angin membawa asap itu ke kawasan konservasi Pulo Tareba dan kelurahan lain di Ternate Barat, hingga Kelurahan Kulaba. Kebakaran bermula pada Sabtu, 3 Oktober sekitar pukul 13.00 WIT. Api diduga muncul dari gubuk kosong di area TPA, lalu menjalar ke zona aktif karena angin kencang dan sampah kering. TPA itu luasnya sekitar 31 hektar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan area terdampak sekitar 11 hektar. Lima hari berselang, api belum juga padam dan merembet ke Sulamadaha serta jalan menuju wisata Jikomalamo. Pemerintah Kota Ternate menetapkan status tanggap darurat karhutla untuk 3-16 Oktober. Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga Dari Morotai hingga Taliabu Ternate hanyalah satu titik. Karhutla juga melanda Tidore Kepulauan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Pulau Morotai, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Biru Terdampar di Ngada Berhasil Kembali ke Laut Dalam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 04:05:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/01161108/2A-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135795</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu paus biru (Balaenoptera musculus) berukuran 24 meter terdampar di pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (30/10/26) pagi. Meski susah payah, spesies dengan ukuran yang lebih besar dari bus itu akhirnya berhasil didorong kembali ke perairan lepas. Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT katakan, kabar insiden [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/">Paus Biru Terdampar di Ngada Berhasil Kembali ke Laut Dalam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu paus biru (Balaenoptera musculus) berukuran 24 meter terdampar di pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (30/10/26) pagi. Meski susah payah, spesies dengan ukuran yang lebih besar dari bus itu akhirnya berhasil didorong kembali ke perairan lepas. Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT katakan, kabar insiden itu pertama kali dilaporkan anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MPP), sekitar pukul 05. 30. Satu jam kemudian, petugas dari Resor KSDA Wilayah Riung tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi. “Paus Biru ini ditemukan terdampar pada perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 2-3 meter di areal pesisir dalam blok perlindungan bahari kawasan TWAL 17 Pulau. Ditemukan dalam kondisi hidup,” katanya  melalui keterangan tertulisnya kepada Mongabay, Sabtu (31/10/26). Dia bilang,  dari hasil identifikasi, spesies itu merupakan paus Biru (Balaenoptera musculus) dengan panjang tubuh 20, 5 meter, lebar kepala 3, 25 meter dan lebar badan tengah/lingkar perut 4, 3 meter. Dari pengukuran, panjang ekor paus malang itu memiliki panjang 4 meter dengan labar 4, 75 meter. Lalu, panjang sirip 2, 35 meter, panjang kepala 4, 55 meter serta lebar tubuh bagian ekor 4, 22 meter. Spesies ini memiliki aktivitas semburan dalam rentang 1,7 menit. Tim gabungan harus berusah payah mengevakuasi badan paus biru yang lebih besar dari ukuran bus kembali ke laut lepas. Foto: BKSDA NTT. Upaya penyelamatan Ukuran paus yang sangat besar membuat proses evakuasi berlangsung sulit. Petugas bahkan harus menunggu bantuan dari satuan lain. Sembari itu, petugas dan relawan terus menyirami badan paus dan menjaga lubang napas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Danau Deduhuk Semende yang Kehilangan Gajah Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 01:45:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02013740/Kawasan-rawa-Danau-Deduhuk-di-Dusun-Rantau-Dedap-Semende-Darat-Ulu-Kabupaten-Muara-Enim-dulunya-tempat-puluhan-gajah-sumatera-berendam.-Foto-drone-Iwan-CheristianMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah tahun 2003, Danau Dedughuk atau Deduhuk selalu dikunjungi kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Tapi selama 20 tahun terakhir, danau yang berada di Dusun Rantau Dedap di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak lagi dikunjungi gajah. Mengapa? “Kami tidak paham mengapa bujang besak (anak laki-laki besar) itu tidak pernah lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/">Danau Deduhuk Semende yang Kehilangan Gajah Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah tahun 2003, Danau Dedughuk atau Deduhuk selalu dikunjungi kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Tapi selama 20 tahun terakhir, danau yang berada di Dusun Rantau Dedap di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak lagi dikunjungi gajah. Mengapa? “Kami tidak paham mengapa bujang besak (anak laki-laki besar) itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali (44), warga Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (26/10/26). Bujang besak adalah penyebutan masyarakat Semende untuk gajah sumatera. Danau Deduhuk berada di lembah perbukitan Gunung Patah atau yang dikenal sebagai kawasan Hutan Lindung Jambul Nanti Patah. Nama Deduhuk diambil dari tanaman semak liar atau perdu (Melastoma malabathricum). Masyarakat di Indonesia mengenalnya sebagai senduduk atau senggani. Disebut Danau Deduhuk, sebab di masa lalu tanaman perdu banyak tumbuh di pinggiran danau. Gajah sumatera bagi masyarakat Semende sangat dihormati. Sebab, di hutan gajah dapat dijadikan petunjuk jalur atau jalan teraman dan petunjuk sumber air beserta makanan. “Kalau kita masuk hutan, maka ikutilah jejak gajah. Kita pasti akan menemukan sumber air dan makanan. Hampir semua buah-buahan atau umbut tanaman yang dimakan gajah, dapat dimakan manusia. Selain itu jalur gajah adalah jalur aman. Pengetahuan ini sudah diturunkan jeme (orang) Semende dalam beberapa generasi,” jelas Zali. Dengan pentingnya peranan gajah tersebut, maka masyarakat Semende tidak pernah atau memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Kawasan rawa Danau Deduhuk di Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita dari Pesisir Cilacap Hingga Mama-mama di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 00:58:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14135556/ubur1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=135721</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, featured, hutan indonesia, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Alam terus menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Cuaca yang tak menentu dan eksploitasi alam berdampak bagi kehidupan masyarakat. Sudah empat bulan, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan memberikan dampak kesehatan, ekonomi, pendidikan hingga sosial. Di Cilacap, kemarau panjang membuka peluang bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/">Cerita dari Pesisir Cilacap Hingga Mama-mama di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Alam terus menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Cuaca yang tak menentu dan eksploitasi alam berdampak bagi kehidupan masyarakat. Sudah empat bulan, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan memberikan dampak kesehatan, ekonomi, pendidikan hingga sosial. Di Cilacap, kemarau panjang membuka peluang bagi nelayan untuk memanen ubur-ubur. Perempuan nelayan di Kampung Atuka, Papua mengandalkan hasil hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, perdagangan ilegal mengancam kelestarian biota laut dan praktik tambang emas ilegal menyisakan kerusakan lingkungan dan risiko keselamatan jiwa. Ada lima artikel pilihan Mongabay Snaps kali ini mengangkat beragam cerita tersebut, mulai dari cerita inisiatif masyarakat, perjuangan masyarakat pesisir, hingga persoalan perdagangan ilegal dan dampak eksploitasi alam. Lalu, apa yang terjadi di balik setiap peristiwa tersebut? 1. El niño datang, nelayan Cilacap panen ubur-ubur hingga dua ton  Para nelayan antre untuk menyetorkan hasil tangkapan ubur-ubur di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Fenomena El Niño membawa berkah bagi nelayan di Cilacap, Jawa Tengah. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, mereka menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah. Dengan perahu kecil, nelayan bahkan bisa mendapatkan hingga dua ton ubur-ubur dalam sekali melaut. Hasil tangkapan ini menjadi peluang bagi para nelayan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Namun, kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena musiman yang tidak terjadi setiap tahun. Dalam lima tahun terakhir, tercatat dua tahun ketika nelayan tidak mendapatkan hasil tangkapan ubur-ubur. Lantas, bagaimana nelayan memanfaatkan musim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pando, Satu Organisme Raksasa dengan 47.000 Batang Pohon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/pando-satu-organisme-raksasa-dengan-47-000-batang-pohon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/pando-satu-organisme-raksasa-dengan-47-000-batang-pohon/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 00:30:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005313/Pando-trees-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135674</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berjalan di antara pepohonan Pando berarti melintasi bagian-bagian tubuh satu organisme raksasa. Sekitar 47.000 batang aspen di Fishlake National Forest, Utah, Amerika Serikat, tampak seperti hutan yang terdiri atas banyak pohon. Namun, di bawah tanah, batang-batang itu terhubung melalui sistem akar yang sama. Koloni seluas sekitar 43 hektar ini diperkirakan memiliki berat 6.500 ton, menjadikannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/pando-satu-organisme-raksasa-dengan-47-000-batang-pohon/">Pando, Satu Organisme Raksasa dengan 47.000 Batang Pohon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berjalan di antara pepohonan Pando berarti melintasi bagian-bagian tubuh satu organisme raksasa. Sekitar 47.000 batang aspen di Fishlake National Forest, Utah, Amerika Serikat, tampak seperti hutan yang terdiri atas banyak pohon. Namun, di bawah tanah, batang-batang itu terhubung melalui sistem akar yang sama. Koloni seluas sekitar 43 hektar ini diperkirakan memiliki berat 6.500 ton, menjadikannya salah satu organisme terberat di bumi. Kehidupannya berlangsung melalui pergantian batang: ketika sebagian menua dan mati, tunas baru tumbuh untuk meneruskan keberadaan koloni. Pando merupakan koloni klonal dari spesies aspen Populus tremuloides. Namanya berasal dari bahasa Latin yang berarti “saya menyebar”, sesuai dengan kemampuannya menghasilkan tunas melalui akar. Seluruh koloni berasal dari satu individu awal yang kemudian memperluas pertumbuhannya secara vegetatif. Karena itu, usia batang yang terlihat di permukaan tidak sama dengan usia Pando secara keseluruhan. Batang-batangnya dapat berganti generasi, sementara organisme yang menaunginya terus bertahan. Cara hidup ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana Pando mampu melewati rentang waktu yang jauh melampaui umur satu batang pohon. Analisis DNA memperkirakan usia Pando antara 16.000 hingga 80.000 tahun. Untuk menelusurinya, peneliti mempelajari ratusan sampel dari akar, kulit, daun, dan cabang. Meski berasal dari satu garis klonal, jaringan Pando tetap dapat mengumpulkan mutasi selama pertumbuhan. Variasi genetik tersebut memberi petunjuk mengenai sejarah panjangnya. Namun, rentang perkiraan usia yang lebar juga menunjukkan bahwa menentukan waktu kelahirannya bukan perkara sederhana. Yang dipelajari ilmuwan adalah jejak perubahan dalam organisme yang terus memperbarui bagian tubuhnya selama ribuan tahun. Kini, proses pembaruan itu menghadapi hambatan. Penelitian pada 2018 yang menelaah foto udara selama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/pando-satu-organisme-raksasa-dengan-47-000-batang-pohon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/pando-satu-organisme-raksasa-dengan-47-000-batang-pohon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Tepi Kebun Sawit, Peneliti Temukan Nyamuk yang Membawa DNA Parasit Malaria Monyet</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/01/di-tepi-kebun-sawit-peneliti-temukan-nyamuk-yang-membawa-dna-parasit-malaria-monyet/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/01/di-tepi-kebun-sawit-peneliti-temukan-nyamuk-yang-membawa-dna-parasit-malaria-monyet/#respond</comments>
					<pubDate>01 Nov 2026 13:36:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29022542/Tesso-Nilo-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135791</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus malaria pada manusia sudah jauh berkurang dalam beberapa dekade terakhir, meski kemajuannya mulai melambat di sejumlah kawasan. Di Asia Tenggara, perhatian kini juga tertuju pada jenis malaria yang berasal dari monyet. Parasit penyebabnya, Plasmodium knowlesi, secara alami hidup di tubuh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk, lalu dapat berpindah ke manusia lewat gigitan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/di-tepi-kebun-sawit-peneliti-temukan-nyamuk-yang-membawa-dna-parasit-malaria-monyet/">Di Tepi Kebun Sawit, Peneliti Temukan Nyamuk yang Membawa DNA Parasit Malaria Monyet</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus malaria pada manusia sudah jauh berkurang dalam beberapa dekade terakhir, meski kemajuannya mulai melambat di sejumlah kawasan. Di Asia Tenggara, perhatian kini juga tertuju pada jenis malaria yang berasal dari monyet. Parasit penyebabnya, Plasmodium knowlesi, secara alami hidup di tubuh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk, lalu dapat berpindah ke manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles. Di Indonesia, kasus pertama pada manusia tercatat di Kalimantan Selatan pada 2010, lalu menyusul laporan dari sejumlah provinsi lain di Kalimantan dan Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Utara. Sumatera Utara mencatat 377 kasus malaria knowlesi pada manusia pada 2017, tetapi nyamuk yang menularkannya belum pernah diketahui. Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports tahun ini memberi petunjuk pertama dari sebuah desa di Kabupaten Langkat yang dikelilingi kebun sawit. Para peneliti memastikan lewat tes DNA bahwa dua spesies nyamuk, Anopheles dirus dan Anopheles scanloni, ada di Indonesia, sesuatu yang belum pernah dikonfirmasi sebelumnya. Pada sebagian An. dirus, mereka juga menemukan DNA parasit malaria monyet sekaligus malaria manusia. Dua Spesies yang Nyaris Kembar Penelitian dilakukan di dua dusun di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian. Desa ini berada di daerah perbukitan pada ketinggian 300 hingga 600 meter di atas permukaan laut, dikelilingi perkebunan sawit, kebun campuran milik warga, dan petak-petak hutan yang sudah terganggu. Lokasinya dipilih berdasarkan peta risiko yang memperhitungkan sebaran nyamuk, keberadaan monyet, kepadatan penduduk, dan jenis lahan, serta karena kasus malaria knowlesi pada warga pernah ditemukan di sana pada 2022 hingga 2023. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) . Primata ini merupakan salah satu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/di-tepi-kebun-sawit-peneliti-temukan-nyamuk-yang-membawa-dna-parasit-malaria-monyet/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/01/di-tepi-kebun-sawit-peneliti-temukan-nyamuk-yang-membawa-dna-parasit-malaria-monyet/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Penanganan Kukang Jawa yang Ditemukan di Luar Habitatnya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/01/bagaimana-penanganan-kukang-jawa-yang-ditemukan-di-luar-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/01/bagaimana-penanganan-kukang-jawa-yang-ditemukan-di-luar-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Nov 2026 10:38:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/01101840/Kukan-Jawa-hasil-rehabilitasi-YIARI-Falahi-Mubarok-IMG_4657-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135781</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang harus kita lakukan saat menemukan kukang jawa berada di luar habitat alaminya? Apakah Nycticebus javanicus bisa langsung dikembalikan ke hutan, atau harus menjalani rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam? Pertanyaan ini muncul setelah seekor kukang ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada 23 September 2026 lalu. Primata beracun ini kemudian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/bagaimana-penanganan-kukang-jawa-yang-ditemukan-di-luar-habitatnya/">Bagaimana Penanganan Kukang Jawa yang Ditemukan di Luar Habitatnya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang harus kita lakukan saat menemukan kukang jawa berada di luar habitat alaminya? Apakah Nycticebus javanicus bisa langsung dikembalikan ke hutan, atau harus menjalani rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam? Pertanyaan ini muncul setelah seekor kukang ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada 23 September 2026 lalu. Primata beracun ini kemudian dievakuasi ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Konservasi Sumber Daya alam (BKSDA) Jawa Timur di Sidoarjo. Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jawa Timur, mengatakan kukang tersebut ditangani intensif. Tahapannya mencakup pemeriksaan medis, karantina, pemulihan kondisi, hingga penilaian perilaku untuk mengetahui kemampuannya bertahan hidup di alam. Penanganan tak berhenti pada penyelamatan dari lokasi penemuan. Petugas juga harus memastikan kesehatan dan perilaku satwa, sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. “Pemeriksaan awal meliputi kondisi fisik, kemungkinan adanya luka, serta tanda-tanda penyakit. Pemeriksaan lanjutan sesuai rekomendasi dokter hewan,” jelasnya, Senin (24/10/26). Karantina jadi bagian penting dari tahapan awal. Tujuannya, mencegah kemungkinan penularan penyakit pada satwa lain yang ada di fasilitas penyelamatan. “Kondisi fisik yang terlihat sehat belum tentu cukup untuk menentukan bahwa seekor kukang siap dilepasliarkan. Kemampuan menjalankan perilaku alaminya juga jadi pertimbangan.” Kukang jawa yang hanya ada di Pulau Jawa. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Perilaku alami jadi pertimbangan Penilaian perilaku mencakup aktivitas nokturnal atau aktif malam hari, kemampuan bergerak di pepohonan, mencari pakan secara alami, serta merespons lingkungan tanpa ketergantungan berlebihan terhadap manusia. “Keputusan pelepasliaran didasarkan pada kesehatan, perilaku, kemampuan bertahan hidup, serta risiko terhadap individu maupun populasi di lokasi tujuan,” jelasnya. Pelepasliaran bukan hanya memindahkan satwa dari fasilitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/bagaimana-penanganan-kukang-jawa-yang-ditemukan-di-luar-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/01/bagaimana-penanganan-kukang-jawa-yang-ditemukan-di-luar-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset 13 Tahun Ungkap Tempat Tumbuh Hiu Paus Muda di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/riset-13-tahun-ungkap-tempat-tumbuh-hiu-paus-muda-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/riset-13-tahun-ungkap-tempat-tumbuh-hiu-paus-muda-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>01 Nov 2026 10:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/28152143/Whale-Shark_West-Papua-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135672</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pola totol pada tubuh hiu paus menyimpan petunjuk tentang perjalanan hidupnya. Melalui corak yang berbeda pada setiap individu, peneliti dapat mengenali ikan yang sama ketika kembali terlihat, bahkan setelah bertahun-tahun. Di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, cara ini mengungkap bahwa sejumlah hiu paus muda berulang kali mengunjungi perairan yang sama. Kawasan tersebut menjadi tempat mencari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/riset-13-tahun-ungkap-tempat-tumbuh-hiu-paus-muda-di-papua/">Riset 13 Tahun Ungkap Tempat Tumbuh Hiu Paus Muda di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pola totol pada tubuh hiu paus menyimpan petunjuk tentang perjalanan hidupnya. Melalui corak yang berbeda pada setiap individu, peneliti dapat mengenali ikan yang sama ketika kembali terlihat, bahkan setelah bertahun-tahun. Di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, cara ini mengungkap bahwa sejumlah hiu paus muda berulang kali mengunjungi perairan yang sama. Kawasan tersebut menjadi tempat mencari makan dan tumbuh bagi ikan terbesar di dunia itu. Namun, di sekitar bagan tempat mereka mendapatkan makanan, risiko luka juga mengintai. Temuan tersebut berasal dari penelitian sepanjang September 2010 hingga Oktober 2023 yang dipimpin Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia. Pengamatan mencakup Teluk Cendrawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak. Dengan identifikasi fotografis atau Foto ID, tim mengenali 268 individu dari 1.118 catatan perjumpaan. Selain memotret pola tubuh, peneliti mencatat lokasi, ukuran, jenis kelamin, perilaku, serta luka yang terlihat. Sekitar 90% individu yang teridentifikasi merupakan jantan, dengan ukuran rata-rata 4-5 meter. Dominasi hiu muda menunjukkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat pertumbuhan. Hiu paus di Teluk Cendrawasih memiliki rata-rata masa tinggal sekitar 77 hari, dibandingkan 38 hari di Kaimana. Lebih dari separuh individu teramati kembali, dengan rentang antar pengamatan mencapai 11 tahun. Ada pula seekor jantan yang tercatat hingga 34 kali dalam tiga tahun. “Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun,” ungkap Edy. Kemunculan kembali itu menunjukkan keterikatan dengan kawasan, meskipun tidak berarti mereka tinggal di sana terus-menerus. Iqbal Herwata dari Konservasi Indonesia menilai Teluk Cendrawasih dan Kaimana berperan penting sebagai habitat pembesaran hiu paus muda. Sebagian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/riset-13-tahun-ungkap-tempat-tumbuh-hiu-paus-muda-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/riset-13-tahun-ungkap-tempat-tumbuh-hiu-paus-muda-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>9 Tahun Vonis untuk Kurir Penyelundup 3 Ton Sisik Trenggiling,  Bongkar Jaringannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/01/9-tahun-vonis-untuk-kurir-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-bongkar-jaringannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/01/9-tahun-vonis-untuk-kurir-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-bongkar-jaringannya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Nov 2026 05:54:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/30032106/sisik-trenggiling1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135745</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menghukum Tonny Tumbeleka (TT), kurir penyelundupan tiga ton sisik trenggiling dengan hukuman sembilan tahun penjara  dan denda Rp1 miliar. Terdakwa pun menerima putusan itu dan tak ajukan banding. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai TT terbukti melakukan tindak pidana pengangkutan dan perdagangan bagian tubuh satwa lindung secara ilegal. Selain itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/9-tahun-vonis-untuk-kurir-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-bongkar-jaringannya/">9 Tahun Vonis untuk Kurir Penyelundup 3 Ton Sisik Trenggiling,  Bongkar Jaringannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menghukum Tonny Tumbeleka (TT), kurir penyelundupan tiga ton sisik trenggiling dengan hukuman sembilan tahun penjara  dan denda Rp1 miliar. Terdakwa pun menerima putusan itu dan tak ajukan banding. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai TT terbukti melakukan tindak pidana pengangkutan dan perdagangan bagian tubuh satwa lindung secara ilegal. Selain itu, dia juga majelis nilai sengaja mengatur pengiriman dengan menyamarkan sebagai barang guna kelabui petugas Bea Cukai. Majelis menyebut, perbuatan TT bukan hanya merugikan negara, juga bertentangan dengan upaya pelestarian trenggiling. Majelis juga mempertimbangkan sejumlah hal yang meringankan terdakwa. Antara lain, bersikap sikap sopan selama persidangan. “Hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan selama persidangan, mengakui perbuatannya, berjanji tidak mengulanginya lagi. Terdakwa hanya sebagai pengurus jasa pengiriman sisik trenggiling, bukan pemiliknya. Terdakwa sudah berusia lanjut dan belum pernah dihukum,” kata Sorta Ria Neva, Ketua Majelis Hakim, saat membacakan vonis. TT terbukti melanggar Pasal 21 ayat (2) huruf c juncto Pasal 40A ayat (1) huruf f UU  Nomor 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Konservasi), serta juncto Pasal 20 huruf b dan Pasal 79 ayat (1)  UU  Nomor 1/2023 tentang Kitab UU  Hukum Pidana (KUHP). Vonis terhadap TT lebih rendah ketimbang tuntutan jaksa. Pada sidang sebelumnya, jaksa menuntut TT dengan pidana penjara 11 tahun dan denda Rp2 miliar dan menjadikannya sebagai yang tertinggi dalam sejarah penuntutan kasus perdagangan satwa liar di Indonesia. Sisik trenggiling yang diamankan pelaku di Kalimantan Selatan dengan total 57 kg. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Modus operasi Kasus penyelundupan sisik trenggiling ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/01/9-tahun-vonis-untuk-kurir-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-bongkar-jaringannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/01/9-tahun-vonis-untuk-kurir-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-bongkar-jaringannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kakao di Tengah Pusaran El Nino: Pohon Masih Hidup, Panen Belum Tentu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kakao-di-tengah-pusaran-el-nino-pohon-masih-hidup-panen-belum-tentu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kakao-di-tengah-pusaran-el-nino-pohon-masih-hidup-panen-belum-tentu/#respond</comments>
					<pubDate>01 Nov 2026 04:49:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26060630/Petani-Cokelat-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135644</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, komunitas lokal, nusa tenggara, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ember demi ember air dibawa Wayan Merte mengelilingi kebun kakaonya di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik September, dia menyirami pohon satu per satu sambil membersihkan buah yang menghitam. Kebun seluas 50 are itu dahulu menjadi tumpuan penghasilan. Kini, menjaga pohon tetap hidup pun membutuhkan tenaga tambahan, tanpa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kakao-di-tengah-pusaran-el-nino-pohon-masih-hidup-panen-belum-tentu/">Kakao di Tengah Pusaran El Nino: Pohon Masih Hidup, Panen Belum Tentu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ember demi ember air dibawa Wayan Merte mengelilingi kebun kakaonya di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik September, dia menyirami pohon satu per satu sambil membersihkan buah yang menghitam. Kebun seluas 50 are itu dahulu menjadi tumpuan penghasilan. Kini, menjaga pohon tetap hidup pun membutuhkan tenaga tambahan, tanpa kepastian buahnya bisa dipanen. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” katanya. Selama empat tahun terakhir, Merte dan sejumlah petani di desanya menghadapi hasil kebun yang terus merosot, harga jual rendah, serta cuaca yang semakin panas. Sebelum 2022, Merte mengaku mampu memanen sekitar 1-1,5 kuintal kakao dalam sekali panen, dengan frekuensi hingga enam kali setahun. Kondisi sekarang mendorongnya menanam mangga dan kelapa di sela kakao. “Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” ujarnya. Petani lain, Gede Juandra, mengalami penurunan hasil panen hingga 60% dibandingkan rata-rata sebelumnya. Dia menduga kemarau panjang mengganggu pembuahan. Buah yang terbentuk pun sebagian terserang jamur. Menurutnya, hujan tidak turun sejak Mei, memperberat keterbatasan air yang sudah lama dihadapi wilayah tersebut. Kesulitan petani tidak langsung terlihat dari angka produksi tingkat provinsi. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat produksi kakao meningkat dari 2.566 ton pada 2020 menjadi 2.717 ton pada 2025. Namun, luas lahannya juga bertambah, dari 4.733 hektar menjadi 5.006 hektar. Indriyatno, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, menilai kenaikan tersebut belum menunjukkan perbaikan hasil kebun. “Jadi sebenarnya, hasil panennya tidak membaik, hanya karena luas lahannya saja yang bertambah.” Di Lombok Utara, yang merupakan penghasil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kakao-di-tengah-pusaran-el-nino-pohon-masih-hidup-panen-belum-tentu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kakao-di-tengah-pusaran-el-nino-pohon-masih-hidup-panen-belum-tentu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ambisi Becak Listrik di Jogja, Bom Waktu Limbah Baterai?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/ambisi-becak-listrik-di-jogja-bom-waktu-limbah-baterai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/ambisi-becak-listrik-di-jogja-bom-waktu-limbah-baterai/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 22:57:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Olivia Subandi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26230904/Becak-listrik-Oliv-8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135763</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Mentari begitu terik menyengat jalanan Jogja, siang itu. Ponijo sedang mengayuh becak listriknya untuk antar penumpang dari Pasar Ngasem ke Pojok Benteng Wetan, berjarak sekitar dua kilometer. Ctek. Tiba-tiba bunyi patahan logam menghentikan laju roda. Bunyi itu terasa merambat dari bagian bawah becak listrik hingga ke pegangan kemudi. Becak listrik Selis,  becak listrik generasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/ambisi-becak-listrik-di-jogja-bom-waktu-limbah-baterai/">Ambisi Becak Listrik di Jogja, Bom Waktu Limbah Baterai?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Mentari begitu terik menyengat jalanan Jogja, siang itu. Ponijo sedang mengayuh becak listriknya untuk antar penumpang dari Pasar Ngasem ke Pojok Benteng Wetan, berjarak sekitar dua kilometer. Ctek. Tiba-tiba bunyi patahan logam menghentikan laju roda. Bunyi itu terasa merambat dari bagian bawah becak listrik hingga ke pegangan kemudi. Becak listrik Selis,  becak listrik generasi pertama dari program Dana Keistimewaan milik pria 72 tahun ini berhenti bergerak. Dinamo pecah tepat di bagian roda giginya. Kamsi, sesama pengayuh becak juga sahabat Ponijo datang menyelamatkan. Kerangka besi becak listrik itu terlampau berat untuk Ponijo kayuh, Kamsi pun mendorong becak Ponijo dengan kaki dari atas sepeda motornya sejauh 8,7 kilometer menuju bengkel listrik di Jalan Imogiri. “Tak stut pakai motor kok. Kan nggak kuat itu,” kenang Kamsi. Petaka Ponijo belum usai. Tak lama setelah dia mengganti dinamo, layar indikator becak kembali membawa kabar buruk. Dalam perjalanan pulang menyusuri Jalan Parangtritis menuju rumahnya di Manding, daya baterai tiba-tiba anjlok tak tersisa. Tujuh dari 16 lempeng sel baterai mati. Tak mudah menemukan bengkel kendaraan listrik. Dia harus menempuh perjalanan jauh untuk memperbaiki becaknya. “Itu di bengkel. Tapi bengkelnya, sulit. Soale kan kalau nggak listrik kan nggak bisa.” Bagian alur kelistrikan di becak milik Ponijo. Foto: Olivia Subandi/Mongabay Indonesia Bengkel mematok harga Rp350.000 per sel. Total Ponijo harus merogoh kocek nyaris Rp10 juta. Padahal, penghasilan bawa becak tiap hari tak menentu, jauh dari nilai baterai itu. Tiap hari Ponijo mangkal di depan Pasar Beringharjo, sedari pagi hingga siang, biasa mengantongi penghasilan Rp60. 000-Rp100.000. “Baterainya itu yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/ambisi-becak-listrik-di-jogja-bom-waktu-limbah-baterai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/ambisi-becak-listrik-di-jogja-bom-waktu-limbah-baterai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Masa Depan Lobster Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 15:36:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/10/22044159/A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135758</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, Kelautan perikanan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/10/26) di Jakarta. Tujuannya, mengendalikan benih bening lobster dari penyelundupan atau aktivitas ilegal. Irzal Effendi, pakar budidaya lobster dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, berpendapat ada tiga persoalan besar terkait penyelundupan BBL. Permasalahan itu adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/">Bagaimana Masa Depan Lobster Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/10/26) di Jakarta. Tujuannya, mengendalikan benih bening lobster dari penyelundupan atau aktivitas ilegal. Irzal Effendi, pakar budidaya lobster dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, berpendapat ada tiga persoalan besar terkait penyelundupan BBL. Permasalahan itu adalah penyelundupan yang digerakkan permintaan pasar Vietnam, ketertinggalan pengembangan budi daya nasional, serta belum memadainya pengetahuan tentang sumber daya dan lokasi pemijahan lobster. “Indonesia menjadi pemasok benih, sedangkan nilai tambah lebih besar muncul pada tahap pembesaran dan penjualan lobster konsumsi,” ucapnya, Kamis (15/10/26). Perubahan nilai tambah, membuat harga BBL meroket saat sudah besar dan dijual untuk konsumsi. Sebagai contoh, jika harga BBL di Indonesia sebesar Rp8.500 per ekor, maka nilainya melonjak jadi Rp100.000 per ekor di Vietnam. Namun, dia menegaskan bahwa itu hanya contoh, bukan nilai sesungguhnya. Artinya, jika satgas hanya fokus pada penindakan, maka risiko terjadinya perubahan modus dan jalur penyelundupan sangat mungkin terjadi. Tegasnya, menangkap pelaku memang sangat penting dilakukan Satgas. Tapi, jangan pernah dilupakan mengungkap jaringan pengendali tak kalah penting dan harus dilakukan. “Pemeriksaan harus fokus pada lokasi penangkapan BBL di Indonesia dan pasokan yang tiba di Vietnam.” Nursiwan menunjukkan lobster jenis mutiara yang dipelihara di keramba miliknya di dekat Gili Beleq. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia. Di sisi lain, saat ini masih ada ketimpangan perhatian antara tata niaga BBL dengan pengembangan budidaya. Budidaya bisa ikut mengendalikan sosial ekonomi, karena ada keterlibatan pengusaha dan masyarakat melalui sentra pendederan di wilayah penghasil benih dan pendekatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>PSN Tambak,  Surat Edaran Menhut Bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 10:40:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/13010438/mangrove-pesisir-jawa-barat-dan-nelayan-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135737</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jaka Natawiguna, warga Subang, Jawa Barat (Jabar), sempat melihat secercah harapan saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan Putusan 181/XXII/2024, 16 Oktober 2025. Putusan itu, mengecualikan mereka miliki izin berusaha karena sudah turun-temurun di dalam kawasan hutan. Modal berguna untuk memperjuangkan ruang hidup dari caplokan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak. Masyarakat hidup beregenerasi dari tambak tradisional [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/">PSN Tambak,  Surat Edaran Menhut Bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jaka Natawiguna, warga Subang, Jawa Barat (Jabar), sempat melihat secercah harapan saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan Putusan 181/XXII/2024, 16 Oktober 2025. Putusan itu, mengecualikan mereka miliki izin berusaha karena sudah turun-temurun di dalam kawasan hutan. Modal berguna untuk memperjuangkan ruang hidup dari caplokan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak. Masyarakat hidup beregenerasi dari tambak tradisional di kawasan hutan sebelum terbentur PSN. Mereka pun sudah mengurus permohonan pengakuan formal. Perjuangan itu berlangsung sejak 2021-2023, berlarut tanpa ada respons. “Kami sudah berusaha di sini jauh sebelum republik berdiri. Tiba-tiba kami dibenturkan dengan PSN  revitalisasi pangan,” katanya. Karena itu, masyarakat antusias dengan putusan MK. “Sosialisasi dari warung kopi ke warung kopi.” Sayangnya, kegembiraan itu berumur singkat. Karena, Menteri Kehutanan terbitkan Surat Edaran 1/2026, 5 Februari, sebagai tindak lanjut putusan itu, yang justru memperumit penerapan putusan karena membedakan kebutuhan sehari-hari dan kegiatan komersial. “Sekarang kami jadi bingung. Aturan dan Undang-undang mana yang harus kami pakai untuk membela diri. Ini mengecewakan.” Walhi dan perwakilan warga di Jabar sampaikan penolakan PSN revitalisasi tambak kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Foto: Muhammad Iqbal/Mongabay Indonesia. Achmad Surambo, Direktur Sawit Watch, menyebut SE Menhut ini mengangkangi putusan MK. Sawit Watch merupakan pengaju uji materiil Pasal 12a, 17a, dan 110b UU Cipta Kerja (omnibus law) yang jadi dasar putusan MK. Seharusnya, putusan MK membuat masyarakat membuktikan status turun-temurun di sana cukup secara faktual. “Untuk membedakannya dengan pendatang baru, cukup diverifikasi oleh tetangga atau kades dan melihat jejak sejarah, tidak harus sampai ke level pemda,” katanya. Putusan ini, katanya, hanya berlaku&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Kepala Ular, Cara Kepompong Dynastor Hadapi Ancaman Predator</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 10:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230254/17384055265_2d62a4ee90_c-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135687</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sepasang bercak gelap tampak seperti mata pada kepala ular yang menggantung di antara dedaunan. Bagian depannya menonjol menyerupai moncong, sementara permukaan cokelat keemasannya memperkuat kesan tubuh reptil. Ketika disentuh, sosok itu menggeliat cepat. Namun, tidak ada ular di sana. Wujud tersebut adalah kepompong kupu-kupu Dynastor darius, serangga Amerika Selatan yang memiliki penampilan mencolok saat menjalani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/">Ilusi Kepala Ular, Cara Kepompong Dynastor Hadapi Ancaman Predator</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sepasang bercak gelap tampak seperti mata pada kepala ular yang menggantung di antara dedaunan. Bagian depannya menonjol menyerupai moncong, sementara permukaan cokelat keemasannya memperkuat kesan tubuh reptil. Ketika disentuh, sosok itu menggeliat cepat. Namun, tidak ada ular di sana. Wujud tersebut adalah kepompong kupu-kupu Dynastor darius, serangga Amerika Selatan yang memiliki penampilan mencolok saat menjalani metamorfosis. Pada fase ketika kemampuannya berpindah tempat sangat terbatas, bentuk tubuh dan gerakan menjadi bagian menarik dari pertahanannya terhadap gangguan. Kemiripan ini kerap dijelaskan sebagai mimikri Batesian, yaitu ketika organisme yang tidak berbahaya menyerupai organisme berbahaya sehingga berpotensi dihindari predator. Pada kepompong Dynastor, gabungan bentuk, warna, dan bercak menyerupai mata menciptakan ilusi kepala ular. Gerakan menggeliat ketika terganggu menambah kesan bahwa sosok tersebut hidup dan siap bereaksi. Pengamatan yang dibagikan melalui video pada 2021 memperlihatkan respons gerak itu. Meski demikian, rekaman tersebut memperlihatkan perilaku kepompong, bukan bukti langsung tentang seberapa sering predator tertipu atau membatalkan serangan. Keunikan kepompong Dynastor telah didokumentasikan oleh Aiello dan Silberglied sejak akhir 1970-an. Namun, efektivitas penyamarannya tetap perlu dibedakan dari kemiripan visual yang mudah dikenali manusia. Dalam sumber yang dirujuk, belum tersedia pengujian eksperimental berskala besar yang secara khusus mengukur penurunan risiko dimangsa akibat penampilan tersebut. Karena itu, menyebutnya sebagai peniru ular yang paling sukses masih terlalu jauh. Penjelasan yang lebih hati-hati adalah bahwa ciri-cirinya diduga membantu menghalangi predator, dengan manfaat yang masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Kehidupan serangga ini bermula sebagai ulat yang memanfaatkan bromelia sebagai tumbuhan pakan. Sebelum menjadi kepompong, ulatnya juga memiliki respons pertahanan: bagian dada dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Sipil Asia Pasifik Sebut Kebakaran Hutan sebagai Ekosida</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 03:42:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135678</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan aktivis yang mewakili puluhan organisasi masyarakat sipil di Asia Pasifik menyerukan  perubahan sistem mendasar di tengah memburuknya krisis iklim, konflik sosial-ekologi dan militerisme. Seruan itu mereka sampaikan dalam pertemuan bertajuk Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, 17-21 Oktober 2026. Pertemuan ini merupakan inisiatif Friends of the Earth Asia Pacific (FoE Asia Pacific) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/">Masyarakat Sipil Asia Pasifik Sebut Kebakaran Hutan sebagai Ekosida</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan aktivis yang mewakili puluhan organisasi masyarakat sipil di Asia Pasifik menyerukan  perubahan sistem mendasar di tengah memburuknya krisis iklim, konflik sosial-ekologi dan militerisme. Seruan itu mereka sampaikan dalam pertemuan bertajuk Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, 17-21 Oktober 2026. Pertemuan ini merupakan inisiatif Friends of the Earth Asia Pacific (FoE Asia Pacific) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) selaku FoE Indonesia.  Pertemuan itu juga melibatkan komunitas akar rumput, masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan. Perwakilan pekerja, peneliti, pengacara, hingga seniman juga turut hadir dalam pertemuan itu. Selama lima hari, mereka terlibat aktif dalam diskusi seputar ekspansi industri ekstraktif, krisis iklim, penghancuran hutan, perampasan tanah, konflik bersenjata, dan ketimpangan sosial yang mengancam kehidupan masyarakat. Dalam siaran pers yang Mongabay terima, selain dari negara-negara Asia Pasifik, seperti Palestina, Malaysia, Pakistan, Nepal, hingga Korea Selatan, perwakilan dari negara kawasan lain juga turut hadir. Antara lain Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, hingga Eropa. Walhi dalam pernyataannya menyebut, keadilan ekologis, kedaulatan rakyat, solidaritas internasional, dan pemenuhan hak-hak komunitas sebagai fondasi masa depan yang adil dan berkelanjutan. Dana Prima Tarigan, Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan Walhi mengatakan, berbagai krisis yang terjadi di Asia Pasifik tidak berdiri sendiri. Krisis itu berakar pada model pembangunan yang menempatkan alam dan manusia sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi dan akumulasi keuntungan. ”Perubahan sistem hanya dapat diwujudkan melalui kekuatan rakyat yang terorganisir dengan menempatkan keadilan ekologis, kedaulatan rakyat, solidaritas internasional, dan hak-hak komunitas sebagai fondasi masa depan,” kata Dana. Untuk itu, penting penguatan gerakan rakyat di berbagai sektor,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Lensa, Mengintip Keseharian Macan Tutul Jawa di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 00:30:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/29060410/Macan-tutul1_Dokumentasi-Ignatius-Dwi-Wardhana-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135677</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Di Balik Lensa, Mengintip Keseharian Macan Tutul Jawa di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya. Sejak itu, dia berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun untuk mengamati kucing besar yang sulit dijumpai tersebut. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi pencariannya. Dari pengalaman lapangan, Ignaz mulai memperhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. Kemarau menjadi pertimbangan karena menyusutnya sumber air dapat membuat satwa mendatangi titik air yang tersisa. Namun, dia tidak menganggap kondisi tertentu sebagai jaminan keberhasilan. Perilaku macan tutul dipengaruhi banyak faktor yang masih memerlukan penelitian. Dia pun lebih sering memilih menunggu daripada bergerak mengejar. Kesabaran menjadi bagian dari pengamatan, termasuk menerima kemungkinan pulang tanpa satu pun perjumpaan. Salah satu pengalaman membekas bermula dari laporan warga tentang kawanan monyet yang berperilaku tidak biasa di sekitar pohon. Setelah informasi diteruskan kepada petugas taman nasional, Ignaz berangkat dari Banyuwangi. Dia mendapati macan tutul jantan beristirahat di pohon asam. Melalui lensa telefoto, dia mengetahui satwa itu tetap memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dalam kesempatan lain, dekat Jembatan Curahuling, seekor macan tutul muda mendekat hingga sekitar 7-8 meter, lalu duduk di akar liana sambil mengamati Ignaz dan rekannya. Perjumpaan-perjumpaan itu menghasilkan dokumentasi perilaku yang jarang disaksikan langsung. Ignaz merekam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Massa Gugat Negara Serius Tangani Bencana dan Derita Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 19:30:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/30191411/DSC03958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135698</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Kami sangat menderita. Tidak ada satupun manusia yang pantas menghirup udara beracun. Pendidikan tergerus, ekonomi tergerus, semua tergerus,” teriak Naomi Artika Simamora, mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah saat orasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, (28/10/26). Lebih lima bulan masyarakat Kalimantan menderita karena kabut asap beracun dari kebakaran hutan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/">Aksi Massa Gugat Negara Serius Tangani Bencana dan Derita Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Kami sangat menderita. Tidak ada satupun manusia yang pantas menghirup udara beracun. Pendidikan tergerus, ekonomi tergerus, semua tergerus,” teriak Naomi Artika Simamora, mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah saat orasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, (28/10/26). Lebih lima bulan masyarakat Kalimantan menderita karena kabut asap beracun dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama itu pula, mereka harus hidup di tengah ketidakpastian jaminan kesehatan dan sosial yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi rakyat dalam kondisi apapun. Kementerian Kesehatan mencatat, hingga dari 18 Agustus-21 Oktober 2026, akumulasi kasus infeksi saluran permapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Dari total itu, 258.298 kasus ISPA dialami warga dengan usia di atas lima tahun, sedangkan 75.172 kasus pada usia 0–5 tahun. Masyarakat terpapar ISPA di Kalteng berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mencapai 121.220 kasus dan 26.864 kasus diare sepanjang 1 Januari-19 Oktober 2026.  Saat sama, ada 329.632 titik panas dan 6.705 kejadian karhutla. “Sampai hari ini Kalimantan masih dibakar, jutaan warga terancam ISPA. Di Kalimantan Tengah khususnya  sudah lebih 100.000 lebih yang terpapar, khususnya bayi dan lansia. Pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi belum memberikan jaminan kesehatan.” Aksi massa 28 Oktober di Bundaran HI Jakarta. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Naomi bilang, pemerintah gagal melindungi masyarakat dan ekosistem hutan penopang kehidupan. Penetapan status bencana nasional pada karhutla urung pemerintah lakukan karena pengaruh kepentingan politik dan bisnis. Korban warga berjatuhan termasuk belasan petugas dan relawan pemadam kebakaran. Satwa mati terpanggang, gambut ludes&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal?  Jatam:  Tetap Kejar Aktor Intelektual</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 07:37:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/20233940/Tambang-emas-ilegal-di-kawasan-hutan-desa-di-Birun.dok_.-LPHD-Birun-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135649</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penegakan hukum lingkungan masih belum tegas dan memberikan efek jera. Pemerintah pun kerap memberikan terobosan yang salah kaprah dan membahayakan upaya penegakan hukum. Seperti Rilke Jeffri Huwae, Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Gakkum KESDM), yang mengatakan tengah merancang pilot project alih mata pencaharian para penambang ilegal menjadi bagian dari rantai pasok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/">Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal?  Jatam:  Tetap Kejar Aktor Intelektual</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penegakan hukum lingkungan masih belum tegas dan memberikan efek jera. Pemerintah pun kerap memberikan terobosan yang salah kaprah dan membahayakan upaya penegakan hukum. Seperti Rilke Jeffri Huwae, Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Gakkum KESDM), yang mengatakan tengah merancang pilot project alih mata pencaharian para penambang ilegal menjadi bagian dari rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan ini sontak mendapat kritik keras masyarakat sipil. Dia bilang, nantinya para penambang ilegal akan beralih kerja di sektor pertanian dan peternakan. Hasilnya akan jadi bahan baku MBG di masing-masih daerah tempat mereka tinggal. Menurut dia, para penambang melakukan tindakan ilegal itu semata-mata untuk bertahan hidup hingga perlu maklum dan cari solusinya. Selama ini, negara terlalu banyak berfokus pada penindakan, tetapi tidak menyiapkan alternatif. Akibatnya, setelah penertiban, masyarakat kembali melakukan aktivitas yang sama karena sumber penghidupannya tidak berubah. “Kalau cuma kita kejar-kejar mereka saja, mau bertahan berapa lama aparat penegak hukum menjaga di lokasi itu? Enggak lama,” kata Jeffri, baru-baru ini. Pilot project ini akan mereka terapkan untuk para penambang di area Agincourt Resources Martabe Gold Mine di Sumatera Utara. Pemerintah daerah, perusahaan, dan pemerintah pusat terlibat dalam proyek ini. Alternatif lainnya, Gakkum ESDM akan mendorong para penambang ilegal bekerja di bawah perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). Ini untuk penambang ilegal yang sudah tidak mungkin beralih kerja di sektor pertanian dan peternakan. Misal, para penambang ilegal di Manado yang menunjukkan tubuhnya terpapar racun merkuri berat. Dia menyebut paparan merkuri itu  membuat fisik masyarakat rusak sehingga tidak mampu lagi melakukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Perdagangan 57 Kg Sisik Trenggiling di Kalimantan Selatan, Pelaku Pemain Lama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 03:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/30032106/sisik-trenggiling1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polisi menggagalkan perdagangan ilegal sisik trenggiling (Manis javanica) seberat 57,88 kilogram di Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Jumat, 18 September 2026. Sigit Haryono, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan, menjelaskan, pengungkapan berawal dari pengembangan kasus perdagangan bagian tubuh satwa liar lintas negara. Akhir Juli lalu, pihaknya juga menggagalkan penyelundupan 64 kilogram sisik trenggiling di Banjarmasin. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/">Kasus Perdagangan 57 Kg Sisik Trenggiling di Kalimantan Selatan, Pelaku Pemain Lama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polisi menggagalkan perdagangan ilegal sisik trenggiling (Manis javanica) seberat 57,88 kilogram di Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Jumat, 18 September 2026. Sigit Haryono, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan, menjelaskan, pengungkapan berawal dari pengembangan kasus perdagangan bagian tubuh satwa liar lintas negara. Akhir Juli lalu, pihaknya juga menggagalkan penyelundupan 64 kilogram sisik trenggiling di Banjarmasin. Penyidik sempat bergerak ke Surabaya untuk menelusuri barang ilegal yang diduga berkaitan dengan jaringan tersebut. Namun, barang bukti yang dicari masih di Banjarmasin, sehingga penelusuran belum maksimal. “Ada pihak lain yang melakukan tindak pidana serupa,” jelasnya, Jumat (2/10/26). Di Kalsel, penyelidikan berlanjut dengan menelusuri data telepon seluler para pelaku. Petugas memperoleh informasi sebuah mobil mencurigakan di Desa Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, sekitar pukul 19.40 WITA. Tiga orang di kendaraan tersebut, yakni RJ, RZ, dan AN, ditangkap. Saat diperiksa ditemukan dua kardus berisikan karung putih dengan lakban coklat berisi sisik trenggiling. “Masing-masing seberat 31,84 kilogram dan 26,04 kilogram.” Hasil pemeriksaan menunjukkan, sisik diperoleh dari tangan pertama seharga Rp800.000 per kilogram. Selanjutnya, barang ditawarkan melalui Facebook seharga Rp3 juta per kilogram. Nilai jual yang direncanakan senilai Rp46,308 juta. “Barang ini ditawarkan langsung melalui media sosial.” Polisi meyakini, sebagian besar trenggiling berasal dari kawasan hutan. “Dari sisi rantai pasok, beberapa pelaku mengungkapkan berasal dari Kalimantan Tengah, termasuk Muara Teweh.” Sisik trenggiling yang diamankan pelaku di Kalimantan Selatan dengan total 57 kg. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Dua paruh rangkong gading Petugas kepolisian juga mengamankan dua paruh rangkong seberat 90 gram dalam kardus terpisah. Rencananya, akan diijual seharga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>