Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas.
“Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya.
Sejak itu, dia berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun untuk mengamati kucing besar yang sulit dijumpai tersebut. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi pencariannya. Dari pengalaman lapangan, Ignaz mulai memperhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. Kemarau menjadi pertimbangan karena menyusutnya sumber air dapat membuat satwa mendatangi titik air yang tersisa.
Namun, dia tidak menganggap kondisi tertentu sebagai jaminan keberhasilan. Perilaku macan tutul dipengaruhi banyak faktor yang masih memerlukan penelitian. Dia pun lebih sering memilih menunggu daripada bergerak mengejar. Kesabaran menjadi bagian dari pengamatan, termasuk menerima kemungkinan pulang tanpa satu pun perjumpaan.
Salah satu pengalaman membekas bermula dari laporan warga tentang kawanan monyet yang berperilaku tidak biasa di sekitar pohon. Setelah informasi diteruskan kepada petugas taman nasional, Ignaz berangkat dari Banyuwangi. Dia mendapati macan tutul jantan beristirahat di pohon asam. Melalui lensa telefoto, dia mengetahui satwa itu tetap memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dalam kesempatan lain, dekat Jembatan Curahuling, seekor macan tutul muda mendekat hingga sekitar 7-8 meter, lalu duduk di akar liana sambil mengamati Ignaz dan rekannya.
Perjumpaan-perjumpaan itu menghasilkan dokumentasi perilaku yang jarang disaksikan langsung. Ignaz merekam macan tutul minum, tidur, menjilat kaki depan, hingga berguling telentang. “Beberapa gerakannya mengingatkan pada kucing rumahan,” ujarnya.
Foto-foto tersebut menyimpan informasi tentang aktivitas satwa, selain memperlihatkan penampilannya. Dokumentasi dapat menjadi bahan pengamatan lebih lanjut, meskipun satu perjumpaan belum cukup untuk menyimpulkan pola perilaku seluruh populasi. Ignaz berharap pengenalan terhadap kehidupan macan tutul, termasuk sejak usia dini, dapat membantu masyarakat memahami perannya dalam ekosistem hutan.
Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, menekankan bahwa pendidikan konservasi merupakan bagian penting perlindungan, tetapi bukan solusi tunggal. Ketika macan tutul memangsa ternak, kerugian warga perlu dipahami bersama kemungkinan penyebab konflik, seperti perubahan habitat, ketersediaan mangsa, dan kondisi peternakan.
Penelitian Raharja dan kolega pada 2025 terhadap 160 responden di sekitar Gunung Sawal menemukan hubungan antara tingkat pendidikan dan pemahaman mengenai konflik manusia-macan tutul. Temuan itu memperkuat kebutuhan edukasi yang menjelaskan perilaku satwa serta cara mengurangi risiko. Memahami predator ini membutuhkan perhatian terhadap kehidupan macan tutul sekaligus warga yang berbagi ruang dengannya.
Foto utama: Macan tutul jawa, sang penjaga hutan Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.