Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya.
Yuli baru sebulan menumpang di rumah kerabat sambil menunggu hunian tetap. Bencana kembali memaksanya menghadapi kehilangan rasa aman, bersama sekitar 165 keluarga atau 615 jiwa yang mengungsi.
Di perumahan Lumin Park Cluster, Kelurahan Lubuk Minturun, tanggul pembatas jebol dan air naik hingga sekitar 1,5-2 meter. Pintu, jendela, serta pagar rumah rusak, sementara lumpur menutupi bagian dalam bangunan. Herawati, yang tinggal di sana sejak 2019, mengaku kini segera mengungsi ketika langit menggelap. Pengalaman warga mendorong Walhi Sumatera Barat mempertanyakan dasar pembangunan perumahan tersebut.
Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyebut lokasinya berada di tikungan Sungai Batang Aia Dingin yang rawan banjir dan erosi. Ia mendesak evaluasi tata ruang, perizinan, serta pengawasan pembangunan, bukan hanya penanganan setelah bencana.
Pengembang Lumin Park membantah pembangunan melanggar sempadan sungai atau tata ruang. Melalui kuasa hukumnya, Mettalia Yolanda, perusahaan menyatakan telah melakukan studi kelayakan dan kajian teknis tata air sebelum membangun. “Tidak ada bangunan rumah yang kami dirikan melanggar batas sempadan atau mencaplok kawasan lindung sungai.” Pengembang juga menyebut telah meninggikan tanah dasar dan mengajukan perbaikan infrastruktur kepada instansi terkait. Menurut mereka, sedimentasi setelah banjir November 2025 menurunkan kapasitas sungai sehingga kawasan yang sebelumnya dinilai aman menjadi rentan.
Perbedaan penjelasan ini memperkuat kebutuhan pemeriksaan teknis dan keterbukaan dokumen.
Isril Berd,, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumbar, menjelaskan bahwa penumpukan pasir, lumpur, dan tanah dapat mengurangi kapasitas sungai. Ketika debit dari hulu melampaui kemampuan sungai serta drainase, air berpotensi meluap ke permukiman. Kondisi DAS Air Dingin, Kuranji, dan Arau perlu diperiksa bersama perubahan tutupan lahan di hulunya. Ahli lingkungan Universitas Negeri Padang, Indang Dewata, turut menekankan evaluasi alih fungsi lahan dan perizinan.
Penanganan, menurut para ahli, memerlukan pengendalian sedimentasi, pemulihan vegetasi, serta pengelolaan terpadu dari hulu hingga hilir.
Fadly Amran, Wali Kota Padang, meminta percepatan pengerukan, penataan alur sungai, serta pembangunan check dam dan sabo dam untuk mengendalikan aliran dan sedimen. Penentuan lokasi maupun ukurannya harus didukung kajian teknis agar sesuai dengan kondisi lapangan. BWS Sumatera V merencanakan pekerjaan rekonstruksi mulai November 2026, mencakup Batang Kuranji, Air Dingin, dan sejumlah anak sungai.
Bagi warga seperti Yuli dan Herawati, rencana tersebut menyangkut kebutuhan paling mendasar: dapat kembali tinggal di rumah tanpa harus selalu bersiap melarikan diri ketika hujan turun.
Foto utama: Sebuah mobil yang sempat terbawa arus saat banjir menerjang perumahan Lumin Park, Sabtu (10/10/26). Foto: Vinolia/Mongabay Indonesia.