Pola totol pada tubuh hiu paus menyimpan petunjuk tentang perjalanan hidupnya. Melalui corak yang berbeda pada setiap individu, peneliti dapat mengenali ikan yang sama ketika kembali terlihat, bahkan setelah bertahun-tahun.
Di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, cara ini mengungkap bahwa sejumlah hiu paus muda berulang kali mengunjungi perairan yang sama. Kawasan tersebut menjadi tempat mencari makan dan tumbuh bagi ikan terbesar di dunia itu. Namun, di sekitar bagan tempat mereka mendapatkan makanan, risiko luka juga mengintai.
Temuan tersebut berasal dari penelitian sepanjang September 2010 hingga Oktober 2023 yang dipimpin Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia. Pengamatan mencakup Teluk Cendrawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak. Dengan identifikasi fotografis atau Foto ID, tim mengenali 268 individu dari 1.118 catatan perjumpaan. Selain memotret pola tubuh, peneliti mencatat lokasi, ukuran, jenis kelamin, perilaku, serta luka yang terlihat. Sekitar 90% individu yang teridentifikasi merupakan jantan, dengan ukuran rata-rata 4-5 meter.
Dominasi hiu muda menunjukkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat pertumbuhan.
Hiu paus di Teluk Cendrawasih memiliki rata-rata masa tinggal sekitar 77 hari, dibandingkan 38 hari di Kaimana. Lebih dari separuh individu teramati kembali, dengan rentang antar pengamatan mencapai 11 tahun. Ada pula seekor jantan yang tercatat hingga 34 kali dalam tiga tahun.
“Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun,” ungkap Edy.
Kemunculan kembali itu menunjukkan keterikatan dengan kawasan, meskipun tidak berarti mereka tinggal di sana terus-menerus. Iqbal Herwata dari Konservasi Indonesia menilai Teluk Cendrawasih dan Kaimana berperan penting sebagai habitat pembesaran hiu paus muda.
Sebagian besar perjumpaan terjadi di sekitar bagan apung, tempat hiu paus memakan ikan kecil seperti teri. Mereka dapat berenang mendatar, mengarahkan kepala ke atas, atau mengisap ikan langsung dari jaring. Interaksi tersebut membawa risiko. Sebanyak 76,9% individu yang diamati memiliki luka, termasuk lecet, sayatan, amputasi sirip, dan bekas gigitan pemangsa.
Tidak seluruh luka berasal dari aktivitas manusia, tetapi gesekan atau benturan dengan bagan dan perahu menjadi perhatian peneliti. Lecet merupakan luka yang umum ditemukan, sedangkan cedera serius lebih jarang terjadi.
Tim merekomendasikan penghilangan bagian tajam pada penyangga perahu dan bingkai jaring, disertai aturan wisata serta pengawasan perikanan dan pelayaran. Pemantauan Foto ID lintas lembaga juga perlu diperluas untuk memahami penggunaan habitat dan pergerakan hiu paus. “Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus terkelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem,” kata Iqbal.
Bagi spesies yang masuk kategori terancam punah ini, menjaga tempat tumbuh berarti juga mengurangi bahaya dalam aktivitas sehari-harinya.