Ember demi ember air dibawa Wayan Merte mengelilingi kebun kakaonya di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik September, dia menyirami pohon satu per satu sambil membersihkan buah yang menghitam. Kebun seluas 50 are itu dahulu menjadi tumpuan penghasilan. Kini, menjaga pohon tetap hidup pun membutuhkan tenaga tambahan, tanpa kepastian buahnya bisa dipanen.
“Sekarang ini susah, gagal kita panen,” katanya.
Selama empat tahun terakhir, Merte dan sejumlah petani di desanya menghadapi hasil kebun yang terus merosot, harga jual rendah, serta cuaca yang semakin panas.
Sebelum 2022, Merte mengaku mampu memanen sekitar 1-1,5 kuintal kakao dalam sekali panen, dengan frekuensi hingga enam kali setahun. Kondisi sekarang mendorongnya menanam mangga dan kelapa di sela kakao.
“Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” ujarnya.
Petani lain, Gede Juandra, mengalami penurunan hasil panen hingga 60% dibandingkan rata-rata sebelumnya. Dia menduga kemarau panjang mengganggu pembuahan. Buah yang terbentuk pun sebagian terserang jamur. Menurutnya, hujan tidak turun sejak Mei, memperberat keterbatasan air yang sudah lama dihadapi wilayah tersebut.
Kesulitan petani tidak langsung terlihat dari angka produksi tingkat provinsi. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat produksi kakao meningkat dari 2.566 ton pada 2020 menjadi 2.717 ton pada 2025. Namun, luas lahannya juga bertambah, dari 4.733 hektar menjadi 5.006 hektar.
Indriyatno, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, menilai kenaikan tersebut belum menunjukkan perbaikan hasil kebun. “Jadi sebenarnya, hasil panennya tidak membaik, hanya karena luas lahannya saja yang bertambah.” Di Lombok Utara, yang merupakan penghasil kakao terbesar di NTB, produksi justru tercatat turun 100 ton sepanjang 2020–2024.
Ketersediaan air menjadi persoalan penting karena banyak lahan di Lombok Utara bergantung pada hujan. Menurut Fauzal dari BPBD Lombok Utara, sebagian wilayah memiliki formasi batuan dengan kemampuan menyimpan air yang rendah. Ketika kemarau memanjang, cadangan air semakin terbatas. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan Juli 2026 hanya sekitar 21-50 milimeter per bulan. BPBD kemudian menetapkan status siaga kekeringan sejak awal Agustus.
Bagi kakao, kekurangan air dapat mengganggu pembungaan, pembentukan buah muda, dan perkembangan biji.
“Pohon yang masih tampak hidup pun belum tentu menghasilkan panen yang baik,” jelas Fauzal.
Ancaman El Nino memperpanjang ketidakpastian tersebut. M. Zaldi Rahman, Kepala BPBD Lombok Utara, menyebut fenomena ini berpotensi memperpanjang kemarau dan menunda musim hujan 2026–2027. Bagi petani, dampaknya terasa sebagai tambahan pekerjaan, biaya penyiraman, dan penghasilan yang semakin sulit dipastikan.
Diversifikasi tanaman menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada kakao, tetapi membutuhkan modal baru. Merte menghadapi keputusan itu sambil terus merawat kebunnya.
“Kalau kondisinya tidak ada perubahan, ya tidak ada jalan lain selain ganti ke tanaman yang lebih menguntungkan tapi harus siapkan modal lagi,” katanya.