Berjalan di antara pepohonan Pando berarti melintasi bagian-bagian tubuh satu organisme raksasa. Sekitar 47.000 batang aspen di Fishlake National Forest, Utah, Amerika Serikat, tampak seperti hutan yang terdiri atas banyak pohon. Namun, di bawah tanah, batang-batang itu terhubung melalui sistem akar yang sama. Koloni seluas sekitar 43 hektar ini diperkirakan memiliki berat 6.500 ton, menjadikannya salah satu organisme terberat di bumi. Kehidupannya berlangsung melalui pergantian batang: ketika sebagian menua dan mati, tunas baru tumbuh untuk meneruskan keberadaan koloni.
Pando merupakan koloni klonal dari spesies aspen Populus tremuloides. Namanya berasal dari bahasa Latin yang berarti “saya menyebar”, sesuai dengan kemampuannya menghasilkan tunas melalui akar. Seluruh koloni berasal dari satu individu awal yang kemudian memperluas pertumbuhannya secara vegetatif. Karena itu, usia batang yang terlihat di permukaan tidak sama dengan usia Pando secara keseluruhan. Batang-batangnya dapat berganti generasi, sementara organisme yang menaunginya terus bertahan. Cara hidup ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana Pando mampu melewati rentang waktu yang jauh melampaui umur satu batang pohon.
Analisis DNA memperkirakan usia Pando antara 16.000 hingga 80.000 tahun. Untuk menelusurinya, peneliti mempelajari ratusan sampel dari akar, kulit, daun, dan cabang. Meski berasal dari satu garis klonal, jaringan Pando tetap dapat mengumpulkan mutasi selama pertumbuhan. Variasi genetik tersebut memberi petunjuk mengenai sejarah panjangnya. Namun, rentang perkiraan usia yang lebar juga menunjukkan bahwa menentukan waktu kelahirannya bukan perkara sederhana. Yang dipelajari ilmuwan adalah jejak perubahan dalam organisme yang terus memperbarui bagian tubuhnya selama ribuan tahun.
Kini, proses pembaruan itu menghadapi hambatan. Penelitian pada 2018 yang menelaah foto udara selama 72 tahun menemukan penjarangan kanopi dan berkurangnya pengganti bagi batang-batang tua. Rusa mule dan sapi memakan tunas muda sebelum tumbuh cukup besar. Akibatnya, kemunculan tunas belum tentu diikuti keberhasilan regenerasi. Pada saat bersamaan, penyakit yang menyerang akar dan batang, termasuk infeksi jamur serta bakteri, menambah tekanan pada bagian koloni yang menua. Ketika batang lama terus menghilang sementara generasi baru sulit berkembang, keberlangsungan Pando ikut terancam.
Perlindungan Pando membutuhkan ruang bagi tunas untuk tumbuh tanpa terus dimakan hewan. Pengelolaan tekanan penggembalaan dan pemantauan kesehatan akar maupun batang menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Kelangsungan koloni ini juga berarti menjaga habitat dan sumber daya bagi berbagai tumbuhan serta hewan yang bergantung padanya. Ukuran besar dan usia panjang ternyata tidak menjamin keselamatan. Masa depan Pando justru ditentukan oleh keberhasilan bagian tubuhnya yang paling kecil: tunas muda yang kelak menggantikan batang-batang tua.
Foto utama: Pohon klonal Pando. Foto: J Zapell/Public Domain.