<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=nami-irawan-batubara&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/nami-irawan-batubara/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 29 Oct 2026 12:59:01 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 12:59:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22001955/Warga-Pakel-Demo1-768x507.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135681</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi menyatakan tak dapat menerima gugatan PT Bumisari Maju Sukses (BMS) terhadap Suwarno dan Sagidin, dua anggota Rukun Tani Sumberejo, Pakel (RTSP), Selasa (20/10/26). Putusan itu kian melengkapi kemenangan petani setelah pada Juni, PN Banyuwangi keluarkan putusan serupa. Dalam sidang dengan agenda putusan terhadap perkara Nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw, PN Banyuwangi juga menyatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/">Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi menyatakan tak dapat menerima gugatan PT Bumisari Maju Sukses (BMS) terhadap Suwarno dan Sagidin, dua anggota Rukun Tani Sumberejo, Pakel (RTSP), Selasa (20/10/26). Putusan itu kian melengkapi kemenangan petani setelah pada Juni, PN Banyuwangi keluarkan putusan serupa. Dalam sidang dengan agenda putusan terhadap perkara Nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw, PN Banyuwangi juga menyatakan tak dapat menerima gugatan melawan hukum yang BMS ajukan terhadap Harun, petani asal Pakel lainnya. “Kami sangat menyambut baik putusan ini,” kata Pradipta Indra A, anggota Tim Advokasi untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda). Dia katakan, putusan PN yang menolak gugatan perusahaan tidak hanya memberi arti penting bagi perjuangan para petani di Pakel dalam mempertahankan haknya atas tanah juga mempertegas  apa yang selama ini mereka perjuangkan sebagai sebuah kebenaran. Sebelumnya, BMS mengajukan gugatan melawan hukum terhadap Harus, Suwarno dan Sadigin ke PN Banyuwangi. BMS menuding ketiganya memasuki area hak guna usaha (HGU) dan merusak tanaman kopi dan cengkih  perusahaan. Indra berharap kemenangan para petani ini tidak makin mengaburkan persoalan. Sebaliknya, dia mendesak agar putusan justru menjadi momentum bagi pemerintah segera menyelesaikan konflik agraria di Pakel yang  berlangsung selama beberapa dekade. “Persoalan utama yang harus segera diselesaikan adalah konflik agraria yang terus menempatkan petani Pakel dalam ketidakpastian,” katanya. Dengan membiarkan kasus ini berlarut-larut, katanya, akan makin menjadikan petani dalam ketidakpastian hukum. Menurut Indra, putusan pengadilan yang tidak menerima gugatan BMS memang menguntungkan petani. Hal itu tidak boleh mengalihkan perhatian dari persoalan penguasaan tanah yang hingga kini belum terselesaikan. “Kemenangan dalam menghadapi gugatan tidak boleh berhenti sebagai kabar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 11:00:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003207/tapir-malaya-rhett-butler.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135609</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/">Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar dari hutan. Di balik tubuh hitam-putihnya yang mudah dikenali, kehidupan satwa ini masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk berapa jumlahnya yang bertahan di Sumatera. “Tapir ini merupakan satwa dilindungi dan terancam punah namun terlupakan,” kata Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Yayasan Auriga Nusantara. Dia mengaitkan kemunculan tapir di luar habitat dengan deforestasi dan fragmentasi hutan, yakni terpecahnya kawasan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Sebagai pemakan tumbuhan dengan wilayah jelajah luas, tapir membutuhkan jalur untuk berpindah dan mencari makanan. Ronny Rachman, Guru Besar IPB, menjelaskan bahwa perluasan perkebunan dan pembangunan jalan dapat memaksanya melintasi area terbuka atau permukiman. Selain perburuan, pergerakan tersebut menghadapkan tapir pada risiko tertabrak kendaraan. Penelitian bertajuk Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra memperlihatkan pentingnya hutan dataran rendah bagi satwa yang juga disebut tenuk ini. Tim pimpinan Irene M.R. Pinondang menganalisis kawasan hutan hujan seluas 69.500 kilometer persegi. Dari 465 stasiun kamera jebak, tapir terekam di 143 titik, dengan deteksi terbanyak di Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat. Temuan menunjukkan tapir banyak menghuni hutan di bawah ketinggian 600 meter dengan biomassa tinggi, kawasan yang juga menghadapi tekanan pembukaan lahan. Habitatnya mencakup kawasan konservasi, hutan lindung daerah aliran sungai, hingga hutan produksi. Sementara habitat berubah, periode Strategi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Ganggu Navigasi, Tekanan Nyata Karhutla bagi Lebah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21212803/IMG_2564-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135591</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/">Asap Ganggu Navigasi, Tekanan Nyata Karhutla bagi Lebah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di tengah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan panjang, perpindahan ini memunculkan dugaan bahwa lebah sedang mencari perlindungan setelah lingkungan tempat hidupnya terganggu. Husni Naparin dan Ismu, pemburu madu liar dari Madu Hutan Kaum, menemukan koloni itu setelah mengikuti arah terbang lebah. Ketika penutup rantai dibuka sedikit, terlihat sarang yang menyimpan banyak madu. Namun, keduanya memilih membiarkannya. “Kami putuskan tidak memanen. Kita kembalikan lagi kap (rantai) yang terbuka sekira mereka dapat berlindung sehingga koloni yang tersisa dapat memperbanyak diri saat musim hujan nanti.” Naparin menduga panas, asap, dan berkurangnya pakan mendorong perpindahan tersebut. Ia juga menemukan sarang kosong, rusak, serta lebah mati di sejumlah lokasi. Karhutla dapat memengaruhi lebah melalui beberapa jalur sekaligus. Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa kebakaran merusak sarang dan tumbuhan berbunga yang menyediakan makanan. Suhu tinggi dapat menyebabkan kematian, sementara partikel asap berpotensi mencemari cadangan madu. Asap tebal juga dapat mengganggu navigasi karena lebah memanfaatkan pola cahaya terpolarisasi di langit sebagai petunjuk arah. Ketika rumah dan sumber makanan menghilang, koloni terdorong mencari lokasi lain. Meski demikian, penyebab perpindahan koloni di bangkai alat berat tersebut masih berupa dugaan berdasarkan pengamatan lapangan. Dampaknya dapat menjalar ke tumbuhan dan pangan manusia. Trisnu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 06:06:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/29055604/Macan-tutul2_Dokumentasi-Ignatius-Dwi-Wardhana-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135659</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Menjaga Predator Terakhir Pulau Jawa]]>
						</reporting-project>
					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahun menunggu dan berulang kali masuk hutan, akhirnya Ignatius Dwi Wardhana (48), berhadapan langsung dengan predator endemik Pulau Jawa. Bagi fotografer satwa liar Animalika ini, perjumpaan dengan macan tutul jawa tak hanya kesempatan memperoleh gambar langka. Melainkan, ada kegembiraan setelah penantian panjang, rasa ingin tahu terhadap perilaku Panthera pardus melas. Juga, kesadaran bahwa satu-satunya kucing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahun menunggu dan berulang kali masuk hutan, akhirnya Ignatius Dwi Wardhana (48), berhadapan langsung dengan predator endemik Pulau Jawa. Bagi fotografer satwa liar Animalika ini, perjumpaan dengan macan tutul jawa tak hanya kesempatan memperoleh gambar langka. Melainkan, ada kegembiraan setelah penantian panjang, rasa ingin tahu terhadap perilaku Panthera pardus melas. Juga, kesadaran bahwa satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau padat penduduk ini masih menyimpan banyak hal yang perlu dipelajari. Keinginan mengabadikan macan tutul sejak 13 tahun silam, berhasil didokumentasikan enam  tahun kemudian, yaitu tahun 2019. Selama rentang waktu itu, Ignaz, terus mencari kesempatan bertemu kucing yang dikenal sulit dijumpai itu. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya, Senin (26/10/26). Macan tutul jawa yang hidup dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, jadi lokasi yang didatanginya untuk mencari satwa tersebut. Tetapi, perjumpaan pertama bukan akhir pencarian. Sejak itu, Ignaz berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun, termasuk melihat macan tutul di lokasi berbeda. Saat pandemi COVID-19 berlangsung, Ignaz mendapat kesempatan lebih luas menjelajahi kawasan hutan melalui keterlibatannya dalam sebuah gugus tugas multifungsi di lingkungan kehutanan. Dia perhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. “Musim kemarau jadi waktu yang bisa jadi pertimbangan besar untuk pengamatan.” Saat sejumlah sumber air mengering, titik-titik air yang tersedia berpotensi jadi tempat macan tutul datang untuk minum. Butuh waktu 6 tahun bagi Ignatius Dwi Wardhana untuk melihat dan memotret langsung macan tutul jawa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga  Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 01:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24094312/WhatsApp-Image-2026-10-24-at-02.39.25-e1792835097199-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135490</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang)”, ucap Yuli Wetri, warga Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Koto Tangah, Padang, Minggu (11/10/26). Siang itu, dia sibuk membersihkan kasur pegas (springbed) dari sisa lumpur akibat banjir bandang sehari sebelumnya. Saat banjir bandang menerjang Sumatera November 2025, Yuli turut menjadi korban bersama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/">Warga  Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang)”, ucap Yuli Wetri, warga Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Koto Tangah, Padang, Minggu (11/10/26). Siang itu, dia sibuk membersihkan kasur pegas (springbed) dari sisa lumpur akibat banjir bandang sehari sebelumnya. Saat banjir bandang menerjang Sumatera November 2025, Yuli turut menjadi korban bersama ribuan warga lainnya. Kala itu, sebagian besar bangunan rumah dan isinya hilang terbawa arus, menyisakan satu kamar berisi springbed yang siang itu dia bersihkan. “Semua sudah hanyut, motor dua juga hanyut. Saya keluar dengan baju yang lekat di badan saja. Yang tersisa hanya satu kamar dengan barang di dalamnya masih utuh termasuk kasur ini,” kata  perempuan 45 tahun itu mengisahkan banjir bandang yang terjadi menjelang tutup tahun 2025 itu. Setelah peristiwa itu, Yuli beserta anak-anaknya sempat tinggal di hunian sementara (huntara) yang  Pemerintah Kota Padang sediakan. Lokasinya di belakang Kantor Camat Koto Tangah. Sembari menunggu hunian tetap (huntap), dia menumpang di rumah saudaranya di Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang  Ikua Koto. Baru sebulan ini tinggal di rumah kerabatnya, banjir kembali menerjang Sabtu (10/10/26) sore. Belasan rumah terendam air pekat penuh lumpur. Di beberapa lokasi, jejak sisa banjir bahkan meninggal lumpur setinggi lutut orang dewasa. Belasan rumah rusak dan sekitar 165 keluarga  atau 615 jiwa terpaksa mengungsi. Yuli membersihkan kasur pegas miliknya yang sempat terendam banjir. Foto: Vinolia/Mongabay Indonesia. Selain Kampung Apa, banjir juga melanda perumahan Lumin Park Cluster di Kelurahan Lubuk Minturun serta Kampung Guo dan Lapau Munggu di Kelurahan Kuranji. Di perumahan Lumin Park&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dana Karbon Tak Hentikan Deforestasi Kalimantan Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 23:46:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/22223136/Foto-13-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135651</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Duit karbon mengalir di Kalimantan Timur, tetapi tak mampu melindungi hutan provinsi itu. Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi di tengah guyuran uang Forest Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF-CF). Data Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan, sepanjang  10 tahun terakhir (2015-2025), luas hutan hilang di Kalimantan Timur sebesar 54 kali luas Jakarta. Laju deforestasi ini mejadikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/">Dana Karbon Tak Hentikan Deforestasi Kalimantan Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Duit karbon mengalir di Kalimantan Timur, tetapi tak mampu melindungi hutan provinsi itu. Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi di tengah guyuran uang Forest Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF-CF). Data Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan, sepanjang  10 tahun terakhir (2015-2025), luas hutan hilang di Kalimantan Timur sebesar 54 kali luas Jakarta. Laju deforestasi ini mejadikan Kalimantan Timur sebagai satu dari 10 provinsi penyumbang deforestasi terbesar di Indonesia. Auriga menghitung luas deforestasi di Kalimantan Timur 362.043,63 hektar. “Pada 2023, Kaltim menjadi provinsi dengan deforestasi terluas ketiga di Indonesia. Kemudian 2024, Kaltim naik menjadi urutan kedua seluas 44.483 hektar dan 2025 seluas 47.135 hektar,” kata Supin Triyohar, Direktur Kehutanan Auriga Nusantara akhir Juli 2026. Deforestasi di Bumi Mulawarman terjadi di berbagai status kawasan hutan, maupun luar kawasan hutan, dari hutan produksi, sampai hutan konservasi. Di luar kawasan hutan, deforestasi terjadi pada area perizinan pertambangan maupun hak guna usaha (HGU) perkebunan. Laju deforestasi juga berbanding lurus dengan peningkatan emisi gas rumah kaca di Kaltim. Berdasarkan pemantauan satelit Global Nature Watch (GNW) dan rujukan deforestasi Auriga Nusantara, akibat kehilangan hutan primer, emisi gas rumah kaca di Kaltim melesat dalam lima tahun terakhir (2021–2025). Akumulasi pelepasan emisi (gross GHG emissions) mencapai 96,42 juta MgCO2e dengan rata-rata 19,28 juta MgCO2e per tahun. Pada 2021, pelepasan emisi gas rumah kaca di Kaltim mencapai 13,84 juta MgCO2e dan pada  2022 mencapai 13,79 juta MgCO2e. Angka emisi gas rumah kaca di Kaltim melonjak hingga 73,6% pada 2023 memuncak di angka 23,94 juta MgCO2e, bertepatan dengan hilangnya 30.107 hektar hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penegakan Hukum Baru Sasar Karhutla Belum Kasus Korban Terdampak Asap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 15:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145924/Kebakaran-yang-berlangsung-selama-Agustus-2026-akhirnya-menghadirkan-kabut-asap-yang-dirasakan-hingga-ke-Kota-Palembang.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesiajpeg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135612</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum berorientasi pemulihan lingkungan dan pemenuhan hak masyarakat terdampak. Karena, gugatan pemerintah terhadap perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan itu kerap berorientasi penerimaan negara, tanpa rencana pemulihan memadai. Andri Gunawan Wibisana, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyatakan itu dalam diskusi kajian karhutla bersama Komisi Nasional Hak Asasi  Manusia  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/">Penegakan Hukum Baru Sasar Karhutla Belum Kasus Korban Terdampak Asap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum berorientasi pemulihan lingkungan dan pemenuhan hak masyarakat terdampak. Karena, gugatan pemerintah terhadap perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan itu kerap berorientasi penerimaan negara, tanpa rencana pemulihan memadai. Andri Gunawan Wibisana, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyatakan itu dalam diskusi kajian karhutla bersama Komisi Nasional Hak Asasi  Manusia  (Komnas HAM ) di Jakarta, Selasa (13/10/26). Penegakan hukum selama ini lebih fokus pada kerusakan lahan di kawasan terbakar. Sedang dampak asap terhadap kesehatan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat belum mendapat perhatian sebanding. Pemerintah, katanya, memang dapat menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas kerusakan lingkungan. Seharusnya,  gugatan  tidak berhenti pada penghitungan kerugian dan penerimaan uang oleh negara. “Bayangan kita adalah kalau pemerintah itu melakukan gugatan, maka seluruh uang yang diperoleh itu digunakan untuk pemulihan,” ujarnya. Kedua hal itu, kerusakan lingkungan lahan yang terbakar dan kerugian yang timbul karena kabut asap harusnya bisa penegak hukum bedakan dalam karhutla. Dampak pertama berkaitan dengan kerusakan ekosistem, sementara yang lain, berkaitan dengan dampak di luar dari lokasi kebakaran. Kedua jenis kerugian itu memiliki mekanisme gugatan yang berbeda. Menurut dia, gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi jadi bagian dari persoalan yang harus jadi perhitungan dalam penegakan hukum. Selama ini,  pemerintah lebih banyak menggugat kerugian lingkungan area terbakar. Gugatan yang khusus menyasar pencemaran udara dan dampaknya terhadap masyarakat masih terabaikan. Dia bilang, pemerintah dan organisasi lingkungan hidup memiliki kewenangan menggugat kerugian lingkungan. Sebaliknya, korban yang mengalami kerugian pribadi memiliki hak untuk menuntut kerugian yang mereka alami. Untuk mempelajari perbedaan itu jadi penting supaya penegakan hukum&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pepohonan dan Genangan Air yang Menopang Kehidupan Katak Harlequin di Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26084705/Katak-Pohon3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135590</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/">Pepohonan dan Genangan Air yang Menopang Kehidupan Katak Harlequin di Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan Sumatera yang kerap luput dari perhatian. Di balik penampilannya, kehidupan katak ini ditopang hubungan erat antara pepohonan, kelembapan, dan genangan air. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari, menjelaskan bahwa katak Harlequin tersebar cukup luas di Sumatera, meskipun relatif jarang dijumpai. Tubuh jantannya memiliki panjang sekitar 4-5,5 sentimeter, diukur dari ujung moncong hingga kloaka. Sisi tubuhnya kekuningan dengan bintik gelap, sementara bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan. Kaki belakang yang panjang membantu katak melompat, sedangkan selaput di antara jari memperluas permukaan saat bergerak di udara. Pada sejumlah anggota genus Rhacophorus, selaput tersebut membantu memperlambat penurunan dan mengarahkan gerakan ketika meluncur di antara pepohonan. Sebutan katak pohon ternyata tidak berarti seluruh kehidupannya berlangsung jauh dari air. Amir Hamidy, pakar herpetologi BRIN, menjelaskan bahwa katak Harlequin tetap membutuhkan genangan untuk berkembang biak. “Meskipun hidup di pohon, namun untuk bertelur, ia membutuhkan genangan air dan akan bertahan satu atau dua hari.” Pada sejumlah spesies Rhacophorus, telur diletakkan dalam sarang berbusa yang melekat pada vegetasi di atas air. Setelah menetas, berudu jatuh ke genangan dan melanjutkan perkembangannya hingga bermetamorfosis menjadi katak muda. Dengan demikian, pepohonan dan perairan kecil saling melengkapi kebutuhan hidup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Pupuskan Harapan Petani Kakao Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 04:57:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26060630/Petani-Cokelat-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135549</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cuaca di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) begitu terik, tengah September. Menggunakan ember, Wayan Merte berkeliling menyirami pohon kakao di kebun seluas seluas 50 are itu satu per satu. Sembari itu, buah kakao yang tampak menghitam dia bersihkan. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” kata  Marte sambil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/">El Nino Pupuskan Harapan Petani Kakao Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cuaca di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) begitu terik, tengah September. Menggunakan ember, Wayan Merte berkeliling menyirami pohon kakao di kebun seluas seluas 50 are itu satu per satu. Sembari itu, buah kakao yang tampak menghitam dia bersihkan. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” kata  Marte sambil mengisi ulang air di embernya. Sudah empat tahun ini Marte dan para petani kakao lain desanya terus merugi. Kakao yang dulu menjadi penopang utama sumber ekonomi warga, tak lagi menghasilkan. Selain harga jual murah, cuaca yang semakin panas juga menjadi musababnya. Musim kemarau, katanya, menyebabkan cuaca  makin panas hingga hasil panen terus turun atau bahkan gagal. Apa boleh buat, sebagian petani memilih  mengganti pohon kakao yang sudah tua dengan komoditas lain. “Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” cerita Marte. Dulu, katanya, sebelum 2022, sekali panen bisa hasilkan 1-1,5 kuintal. Dalam setahun dia bisa enam kali panen. Harga jual pun relatif mahal bisa mencapai 125.000 per kilogram. “Dulu sih enak mas. Hasil kebun banyak, harga juga bagus.&#8221; Gede Juandra, mengalami hal serupa. Selama beberapa tahun terakhir ini hasil panen komoditas penghasil cokelat itu terus turun. Cuaca yang tak bersahabat dia duga jadi penyebabnya. Menurut Juandra, kemarau berkepanjangan mengganggu proses pembuahan. Walhasil buah cokelat jarang dan sedikit. Selain itu, banyak buah yang terkena penyakit jamur buah. “Di daerah kami kan memang kekurangan air, ditambah sekarang gak pernah hujan sejak bulan 5 (Mei) lalu.&#8221; Seperti kebanyakan petani lain, hasil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tumbuh Hingga 50 cm, Jamur Raksasa Dianjunus rex dari Garis Keturunan Berusia 65 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/tumbuh-hingga-50-cm-jamur-raksasa-dianjunus-rex-dari-garis-keturunan-berusia-65-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/tumbuh-hingga-50-cm-jamur-raksasa-dianjunus-rex-dari-garis-keturunan-berusia-65-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 01:39:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/28013709/giant-fungus-d-rex-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135627</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jamur termasuk kelompok makhluk hidup yang paling sedikit dikenal sains. Hingga kini ilmuwan baru mendeskripsikan sekitar 150.000 spesies jamur, sementara sejumlah perkiraan menyebut jumlah sebenarnya berada di kisaran 2 juta hingga 13 juta spesies. Sebagian besar tubuh jamur berupa benang halus bernama hifa yang tersembunyi di dalam tanah, kayu lapuk, atau sisa tumbuhan, sehingga keberadaannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/tumbuh-hingga-50-cm-jamur-raksasa-dianjunus-rex-dari-garis-keturunan-berusia-65-juta-tahun/">Tumbuh Hingga 50 cm, Jamur Raksasa Dianjunus rex dari Garis Keturunan Berusia 65 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jamur termasuk kelompok makhluk hidup yang paling sedikit dikenal sains. Hingga kini ilmuwan baru mendeskripsikan sekitar 150.000 spesies jamur, sementara sejumlah perkiraan menyebut jumlah sebenarnya berada di kisaran 2 juta hingga 13 juta spesies. Sebagian besar tubuh jamur berupa benang halus bernama hifa yang tersembunyi di dalam tanah, kayu lapuk, atau sisa tumbuhan, sehingga keberadaannya baru terlihat ketika tubuh buahnya muncul ke permukaan. Kondisi itu membuat jamur berukuran besar pun bisa lama luput dari catatan ilmiah. Salah satu contohnya adalah Dianjunus rex, jamur dari hutan Provinsi Yunnan, China, yang struktur reproduksinya dapat tumbuh tegak hingga 50 sentimeter dengan bobot mencapai 2,2 kilogram. Tim peneliti yang dipimpin Kunming Institute of Botany mendeskripsikan jamur ini sebagai spesies, genus, sekaligus famili baru dalam makalah yang terbit di jurnal Frontiers in Fungal Biology pada 29 September 2026. Tumbuh dari Akar Pohon Ek yang Mati Warga di wilayah tersebut sebenarnya sudah lama melihat jamur ini. Para petani pernah menjumpai tubuh buahnya yang menyerupai jari tumbuh berkelompok di sekitar pohon mati. Beberapa warga bahkan pernah mencicipinya dan tidak merasakan efek buruk, meski kandungan racun jamur ini belum pernah diuji. &#8220;Namun, tidak ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang penting,&#8221; kata Indunil C. Senanayake, peneliti Bank Plasma Nutfah Spesies Liar di Kunming Institute of Botany sekaligus salah satu penulis korespondensi studi tersebut. Para peneliti baru menyadari ada sesuatu yang berbeda ketika seorang warga mengirimkan foto jamur itu kepada mereka. Dari situ, tim kemudian mengumpulkan spesimen secara langsung di lapangan. Stromata Dianjunus rex di hutan Yunnan, China. Jamur ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/tumbuh-hingga-50-cm-jamur-raksasa-dianjunus-rex-dari-garis-keturunan-berusia-65-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/tumbuh-hingga-50-cm-jamur-raksasa-dianjunus-rex-dari-garis-keturunan-berusia-65-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari 707 Jam Rekaman, Suara Dugong Makin Terdengar Saat Malam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-707-jam-rekaman-suara-dugong-makin-terdengar-saat-malam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-707-jam-rekaman-suara-dugong-makin-terdengar-saat-malam/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 00:30:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/31234828/Dugong-dugon-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135520</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika malam turun dan pengamatan dengan mata semakin sulit, suara membuka cara lain untuk menemukan dugong. Di perairan Sangihe, Sulawesi Utara, peneliti memasang perekam bawah air untuk menangkap panggilan mamalia pemakan lamun tersebut. Dari 707 jam rekaman, mereka mengidentifikasi 117 panggilan yang terbagi menjadi lima jenis vokalisasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan dugong dapat ditelusuri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-707-jam-rekaman-suara-dugong-makin-terdengar-saat-malam/">Dari 707 Jam Rekaman, Suara Dugong Makin Terdengar Saat Malam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika malam turun dan pengamatan dengan mata semakin sulit, suara membuka cara lain untuk menemukan dugong. Di perairan Sangihe, Sulawesi Utara, peneliti memasang perekam bawah air untuk menangkap panggilan mamalia pemakan lamun tersebut. Dari 707 jam rekaman, mereka mengidentifikasi 117 panggilan yang terbagi menjadi lima jenis vokalisasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan dugong dapat ditelusuri melalui suara, termasuk saat air keruh atau hewan berada di luar jangkauan pandangan pengamat. Penelitian oleh Yapeka bersama sejumlah lembaga itu menggunakan Passive Acoustic Monitoring (PAM), atau pemantauan akustik pasif. Alat bernama Hydromoth ditempatkan di perairan Desa Batuwingkung dan Desa Likuang pada kedalaman sekitar 2-3 meter atau lebih. Kedua lokasi memiliki padang lamun seluas sekitar 1.652 hektar dengan 11 spesies lamun dan dikenal sebagai lokasi keberadaan dugong. Hasil analisis mencatat 45 panggilan chirps, dua squeaks, empat pre thrills, 47 thrills, serta 19 barks. Pengelompokan ini membantu peneliti mengenali keragaman suara yang muncul selama perekaman. Namun, mengenali bentuk suara belum berarti seluruh maknanya sudah dipahami. Bella Riskyta Arinda, periset dugong dari Yapeka, menjelaskan bahwa vokalisasi tertentu dikaitkan dengan perilaku hewan. “Suara-suara ini berhubungan dengan pola perilaku tertentu dari dugong, misalkan barks diasosiasikan dengan warning atau merasa terancam,” katanya. Suara lain diduga berkaitan dengan interaksi sosial, termasuk bermain atau pemisahan induk dan anak. Dalam rekaman tersebut, panggilan mulai terdeteksi pada sore hari, kemudian aktivitas vokal meningkat dan mencapai puncak pada malam hari. Temuan ini menunjukkan manfaat pemantauan suara untuk melengkapi survei visual. Memahami keberadaan dan perilaku dugong juga membantu peneliti menelusuri hubungannya dengan padang lamun. Sekar Mira,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-707-jam-rekaman-suara-dugong-makin-terdengar-saat-malam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-707-jam-rekaman-suara-dugong-makin-terdengar-saat-malam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Badan Gambut dan Perombakan BNPB,  Bakal Benahi Penanganan Karhutla?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/badan-gambut-dan-perombakan-bnpb-bakal-benahi-penanganan-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/badan-gambut-dan-perombakan-bnpb-bakal-benahi-penanganan-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 23:03:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/27225722/Gambut-Kalbar-Widya-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135617</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinet di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru-baru ini,  Antara lain  Satyawan Pudyatmoko dan Mayor Jenderal TNI Sriyanto, jadi Kepala dan Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Badan baru ini hadir untuk merespon karhutla setelah entitas serupa terpangkas tahun awal Prabowo naik. Ada juga Letnan Jenderal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/badan-gambut-dan-perombakan-bnpb-bakal-benahi-penanganan-karhutla/">Badan Gambut dan Perombakan BNPB,  Bakal Benahi Penanganan Karhutla?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinet di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru-baru ini,  Antara lain  Satyawan Pudyatmoko dan Mayor Jenderal TNI Sriyanto, jadi Kepala dan Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Badan baru ini hadir untuk merespon karhutla setelah entitas serupa terpangkas tahun awal Prabowo naik. Ada juga Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggantikan Letnan Jenderal TNI (Purn/Tinggi) Suharyanto. Kristomei juga merangkap sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil. Selain itu, ada lagi beberapa pejabat kementerian lain yang secara resmi Prabowo lantik, di  Istana Negara, Jakarta, 15 Oktober lalu. Ada Marsekal TNI Yusuf Jauhari dan Jenderal TNI Richard Taruli Horja Tampubolon sebagai Wakil Menteri Pertahanan, Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian, serta M. Maulana Bungaran sebagai Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Lalu, Jenderal TNI Tandyo Budi Revita sebagai Kepala Staf Angkatan Darat KSAD. BPGMN dan BNPB menjadi sorotan berbagai kalangan lantaran keduanya merupakan badan penting dalam penanganan karhutla. Suharyanto copot dari jabatan menyusul kasus korupsi di lingkungan instansi itu. Sedangkan, BPGMN merupakan wujud baru Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang ‘hidup’ kembali, setelah Prabowo bubarkan di masa awal kepemimpinannya. Kristomei Sianturi memiliki rekam jejak jejak penugasan yang luas di bidang teritorial, operasional, hingga kehumasan militer. Jabatan Strategis yang ia emban seperti, Wakil Gubernur Akademi Militer (Wagub Akmil) (2024–2025) Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI (2025) dan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten (2025-2026). Sedang Satyawan, merupakan akademisi murni dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/badan-gambut-dan-perombakan-bnpb-bakal-benahi-penanganan-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/badan-gambut-dan-perombakan-bnpb-bakal-benahi-penanganan-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Korban Berjatuhan, Derita Warga  Kaltim Terdampak Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 13:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken SitoningrumYuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/27030657/Karhutla-Samarinda-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135592</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak buah hatinya terdiagnosa menderita pneumonia, Michael  dan istri  mengkhawatirkan kondisi anak yang baru berusia satu tahun delapan bulan itu. Seminggu sebelumnya, anaknya mulai batuk-batuk dan sesak napas.  Untuk memastikan kondisi kesehatannya, dia membawa anak semata wayangnya ke salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan. Usai di-rontgen, terdapat temuan inflitrat pada bagian atas paru kirinya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/">Korban Berjatuhan, Derita Warga  Kaltim Terdampak Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak buah hatinya terdiagnosa menderita pneumonia, Michael  dan istri  mengkhawatirkan kondisi anak yang baru berusia satu tahun delapan bulan itu. Seminggu sebelumnya, anaknya mulai batuk-batuk dan sesak napas.  Untuk memastikan kondisi kesehatannya, dia membawa anak semata wayangnya ke salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan. Usai di-rontgen, terdapat temuan inflitrat pada bagian atas paru kirinya. “Dari situ kami mendapatkan info, bahwasanya aspek yang bisa mempengaruhi adanya penyakit ini, karena asap yang saat ini juga semakin tebal di Kota Balikpapan,” katanya  kepada Mongabay, Rabu (14/10/26). Data indeks kualitas udara (AQI) Balikpapan yang masuk dalam kategori tidak sehat mempertegas hal itu. Hingga kini, Michael dan istrinya mulai membatasi aktivitas luar ruang untuk anaknya. Dia berharap, pemangku kebijakan dapat mengambil tindakan dan mengoptimalkan penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengatasi kabut asap yang menyelimuti kota. “Sehingga kota kita bisa kembali normal lagi, bisa beraktivitas di luar dengan nyaman lagi tanpa harus worry terhadap asap dan juga aspek-aspek yang lain.” Di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Yazlyn Syanindita, bayi berusia satu tahun dua bulan meninggal dunia karena sesak napas mendadak. Keluarga menduga, paparan asap di seantero kota yang cukup tebal.  Kepada Mongabay, Sarno, kakek korban menggambarkan kondisi asap di sekitar tempat tinggal keluarga korban yang cukup pekat. Dia menyebut, asap berasal dari karhutla yang melanda berbagai kawasan sekitar, termasuk dari arah Bentuas. “Memang di sini (Palaran) asapnya tebal. Ini dari kebakaran tadi malam juga begitu. Memang kadar asapnya tinggi sekali,” ujarnya, Kamis (15/10/26). Meski menduga asap menjadi salah satu faktor penyebab meninggalnya sang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sentuhan Duri Ulat Lonomia obliqua Bisa Memicu Pendarahan Serius</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 10:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/22031717/Lonomia-obliqua-citsc-1-768x450.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135498</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bersandar pada batang pohon bisa menjadi awal perjumpaan berbahaya dengan Lonomia obliqua. Larva ngengat asal Amerika Selatan ini memiliki tubuh cokelat kehijauan yang membaur dengan kulit pohon, sehingga keberadaannya mudah terlewatkan. Pada permukaan tubuhnya tumbuh duri-duri yang dapat melepaskan bisa ketika bersentuhan dengan kulit. Kontak tidak sengaja dengan ulat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/">Sentuhan Duri Ulat Lonomia obliqua Bisa Memicu Pendarahan Serius</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bersandar pada batang pohon bisa menjadi awal perjumpaan berbahaya dengan Lonomia obliqua. Larva ngengat asal Amerika Selatan ini memiliki tubuh cokelat kehijauan yang membaur dengan kulit pohon, sehingga keberadaannya mudah terlewatkan. Pada permukaan tubuhnya tumbuh duri-duri yang dapat melepaskan bisa ketika bersentuhan dengan kulit. Kontak tidak sengaja dengan ulat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius pada sistem pembekuan darah. Kondisi akibat paparan bisa Lonomia dikenal sebagai lonomisme, dengan dampak yang dalam kasus berat dapat mengancam nyawa. Bahaya itu bermula ketika duri ulat menembus kulit dan melepaskan bisa ke jaringan tubuh. Ulat tidak perlu mengejar atau menyerang manusia secara aktif untuk menimbulkan cedera. Kebiasaannya berkumpul dalam koloni juga memperbesar risiko paparan, sebab seseorang dapat menyentuh beberapa individu sekaligus saat memegang atau bersandar pada batang pohon. Karena warna tubuhnya menyerupai tempat beristirahatnya, kontak bisa terjadi sebelum orang menyadari keberadaan koloni. Pertahanan tubuh yang membantu ulat menghadapi gangguan tersebut menjadi sumber bahaya ketika bersinggungan dengan aktivitas manusia. Di dalam bisanya terdapat protein yang memengaruhi rangkaian pembekuan darah, termasuk Lopap dan Losac. Lopap mengaktifkan protrombin, sedangkan Losac mengaktifkan faktor X, dua bagian penting dalam proses pembentukan bekuan. Aktivasi yang tidak terkendali dapat meningkatkan pembentukan trombin dan menguras bahan yang diperlukan untuk pembekuan, termasuk fibrinogen. Akibatnya, mekanisme yang biasanya membantu menghentikan perdarahan justru mengalami gangguan. Kondisi ini disebut koagulopati konsumtif: komponen pembekuan terpakai secara berlebihan sehingga kemampuan tubuh menghentikan perdarahan menurun. Darah tidak sekadar menjadi “encer”, melainkan kehilangan sebagian kemampuan membentuk bekuan secara normal. Gejala awalnya dapat berupa rasa terbakar pada bagian kulit yang terkena, disertai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul Jawa Terpantau di Nusakambangan, Bagaimana Populasinya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 07:19:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230744/ILUSTRASI-FOTO-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135599</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Menjaga Predator Terakhir Pulau Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (12/10/26), jam 21.17 WIB. Wahyono Restanto, Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Cilacap, mengatakan, petugas memasang enam kamera jebak untuk memantau keberadaan satwa liar. Tiga kamera berhasil merekam macan tutul jawa yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/">Macan Tutul Jawa Terpantau di Nusakambangan, Bagaimana Populasinya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (12/10/26), jam 21.17 WIB. Wahyono Restanto, Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Cilacap, mengatakan, petugas memasang enam kamera jebak untuk memantau keberadaan satwa liar. Tiga kamera berhasil merekam macan tutul jawa yang teridentifikasi sebagai individu jantan yang sama. Selain dari rekaman, keberadaan macan juga diketahui melalui tanda-tanda yang ditemukan petugas di empat jalur pengamatan, berupa kotoran dan bekas cakaran. “Dari hasil rekaman, macan tutul jawa yang terpantau masih satu individu yang sama, yakni jantan,” jelasnya, Kamis (22/10/26). Macan tutul jawa yang juga ditemukan berada di Nusakambangan, Jawa Tengah. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Wahyono juga menjelaskan, pemantauan ini belum secara khusus menghitung populasi macan tutul jawa di seluruh Nusakambangan. “Berdasarkan pendataan sebelumnya, jumlahnya diperkirakan sekitar 20 individu. Namun, belum bisa dipastikan karena kami belum melakukan mendata ulang.” CA Nusakambangan Barat merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan sejak pemerintahan Hindia Belanda, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 34, Staatsblad Nomor 369, pada 4 Juni 1937. Status perlindungannya diperkuat Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 359/Menhut-II/2004 tertanggal 1 Oktober 2004 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 435/Kpts-II/1999 mengenai penunjukan kawasan hutan di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan hasil penataan batas Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jawa-Madura pada 2009, CA Nusakambangan Barat memiliki luas 656,06 hektar. Kawasan tersebut memiliki panjang batas 13.195 meter dengan 61 pal batas. Penetapan ini juga tercantum dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.2999/Menhut-VII/KUH/2014 tentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Tahun Prabowo, Nasib Hutan dan Masyarakat Makin Memprihatinkan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 03:09:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135572</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan  kabut asap yang menggila dalam tiga bulan belakangan hanya segelintir dari masalah kehutanan yang tidak terselesaikan. Bahkan, dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, catatan penggundulan hutan untuk kebutuhan proyek ekstraktif berskala luas seperti energi, pangan, perkebunan hingga pertambangan menjadi penyebab lonjakan deforestasi yang kian menggila. Analisis Mapbiomas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/">Dua Tahun Prabowo, Nasib Hutan dan Masyarakat Makin Memprihatinkan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan  kabut asap yang menggila dalam tiga bulan belakangan hanya segelintir dari masalah kehutanan yang tidak terselesaikan. Bahkan, dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, catatan penggundulan hutan untuk kebutuhan proyek ekstraktif berskala luas seperti energi, pangan, perkebunan hingga pertambangan menjadi penyebab lonjakan deforestasi yang kian menggila. Analisis Mapbiomas periode 1990-2025, Indonesia kehilangan 26.614.571 hektar hutan. Dalam skala lebih luas, Global Nature Watch mencatat, 33 juta hektar tutupan pohon di Indonesia hilang periode 2001-2025, dengan emisi sebesar 24 gigaton CO₂ ekivalen (Gt CO₂e). Yayasan Auriga Nusantara pada 2025 mencatat, lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Analisis lewat Atlas Nusantara, rentang 1 Januari-24 Oktober 2026, Indonesia kehilangan hutan 1.091.197 hektar. Laju deforestasi ini terpengaruh perluasan perkebunan sawit, pertambangan dan perkebunan kayu. Rezim Prabowo-Gibran bahkan merencanakan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran, dengan membuka lahan hutan seluas 20 juta hektar untuk proyek pangan dan energi serta memanfaatkan 12,7 juta hutan “rusak” untuk pengembangan biodiesel. “Ini bukan sesuatu hal yang membuat kita lega, justru akan buat kita emosional. Mungkin ada yang sesak napas melihat semua situasi yang terjadi setidaknya selama dua tahun terakhir,” kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengampanye Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional dalam diskusi dua tahun pemerintahan Prabowo, Kamis (15/10/26). Lewat regulasi, katanya, negara melegalkan deforestasi seperti melalui label proyek strategis nasional (PSN). Pembukaan hutan jadi sah secara hukum apabila perusahaan sudah mengantongi izin di atas wilayah berhutan. Padahal, secara ekologis, deforestasi tetaplah kerusakan. “Terminologi itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan, Peneliti Telusuri Penyebabnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230411/Hiu-Paus1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135521</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi ketika dokter hewan memeriksanya. Namun, tubuh sepanjang sekitar sembilan meter tersebut sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelumnya, nelayan menemukannya terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Tim gabungan berusaha menyelamatkannya, tetapi hewan itu mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut. Makanan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/">Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan, Peneliti Telusuri Penyebabnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi ketika dokter hewan memeriksanya. Namun, tubuh sepanjang sekitar sembilan meter tersebut sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelumnya, nelayan menemukannya terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Tim gabungan berusaha menyelamatkannya, tetapi hewan itu mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut. Makanan yang masih utuh dan tidak adanya perubahan organ yang terlihat secara kasat mata menyisakan pertanyaan: apa yang menyebabkan hiu paus tersebut terdampar dan mati begitu cepat? Pertanyaan itu menjadi bagian dari penyelidikan rentetan kematian hiu paus di pesisir selatan Jawa. Dwi Suprapti, dokter hewan spesialis megafauna akuatik yang memimpin pemeriksaan, menyebut delapan hiu paus ditemukan terdampar mati dalam enam bulan. Tim memperoleh sampel dari enam individu yang diperiksa di Cilacap, Kebumen, dan Bantul. Melalui nekropsi, yakni pemeriksaan tubuh satwa setelah mati, peneliti mengambil jaringan untuk diuji di laboratorium. “Hal ini dikarenakan Indonesia saat ini belum memiliki publikasi ilmiah yang benar-benar komprehensif untuk menjelaskan fenomena tersebut,” ujar Dwi. Penelitian akan menggabungkan hasil pemeriksaan organ, kualitas lingkungan, dan kondisi oseanografi. Salah satu dugaan yang ditelusuri berkaitan dengan aktivitas mencari makan. Perairan selatan Jawa merupakan jalur pergerakan hiu paus, dengan kelimpahan makanan yang dipengaruhi kondisi laut. Iqbal Herwata dari Yayasan Konservasi Indonesia menjelaskan bahwa upwelling, proses naiknya massa air dari lapisan dalam ke permukaan, membantu menciptakan perairan yang subur. Kondisi tersebut mendukung keberadaan udang dan ikan kecil yang menjadi makanan hiu paus. Namun, hubungan antara kelimpahan makanan, pergerakan menuju perairan dangkal, dan kejadian terdampar masih perlu dikaji. Isi lambung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Hijau Becak Listrik di Malioboro [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 23:14:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Olivia Subandi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25231804/becak-listrik-Oliv-1--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135576</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Program becak listrik di Malioboro, Yogyakarta,  minim melibatkan pengemudi sejak awal. Dalam implementasi, becak hadapi banyak kendala dari  model yang ringkih sampai kerusakan sana sini. Giyono, pengemudi becak mengatakan, tidak pernah ada produsen yang datang dan memberi kesempatan untuk berbicara. “Nggak ada. Ngapusi. Cuma ngapusi,” katanya. Proses musyawarah itu hanyalah formalitas searah. Bagi Giyono di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/">Ilusi Hijau Becak Listrik di Malioboro [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Program becak listrik di Malioboro, Yogyakarta,  minim melibatkan pengemudi sejak awal. Dalam implementasi, becak hadapi banyak kendala dari  model yang ringkih sampai kerusakan sana sini. Giyono, pengemudi becak mengatakan, tidak pernah ada produsen yang datang dan memberi kesempatan untuk berbicara. “Nggak ada. Ngapusi. Cuma ngapusi,” katanya. Proses musyawarah itu hanyalah formalitas searah. Bagi Giyono di hadapan para pejabat, tukang becak tidak memiliki daya tawar selain mengangguk patuh. “Lha cuma iya-iya to tukang becak, nggak berani ya bantah,” keluh Giyono. Para pembecak yang semula adalah pemilik penuh atas becak motornya, kini terpaksa menerima unit tanpa tahu spesifikasi detail di baliknya. Giyono baru menyadari, mereka sudah jadi korban demi ‘estetika visual berkedok transisi energi’ ketika becak motor lama terlanjur hancur dan berakhir di bawah mata roda gergaji mesin. Segala rentetan kegagalan dalam program becak listrik ini, mulai dari desain, bodi ringkih, hingga melelehnya kabel-kabel di jalanan itu bak jadi ganjaran yang harus para pembecak bayar dari rancangan dengan klaim ekosistem hijau dan transisi energi bersih. Abdullah, pendiri bengkel rujukan kendaraan listrik E-Clont Yogyakarta mengatakan, kerusakan masif berupa kabel meleleh dan modul baterai drop bukan sekadar apes tetapi dampak absennya standarisasi dan ego sektoral para produsen. Vendor-vendor manufaktur, katanya, kerap berjalan sendiri-sendiri tanpa mau duduk bersama dan mendengarkan kebutuhan para pembecak di jalanan. Mereka mengabaikan perhitungan teknis dasar seperti kemampuan hantar arus (KHA) pada ukuran kabel hingga tidak kuat menahan beban operasional harian. “Nah, itu sering kali kabel yang terlalu kecil. Sehingga ketika kami perbaiki di sini ya bukan kita perbaiki, tapi kita&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 11:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21212803/IMG_2564-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135375</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Fauzan, warga yang mendiami daerah itu, bilang, jenis lebah madu serupa tadinya menghuni pepohonan tinggi sekitar 50 meter ke arah barat dari lokasi sekarang. Tiga bulan terakhir, makhluk berukuran kuku jari kelingking orang dewasa itu pindah tempat yang tidak lazim. Husni Naparin dan Ismu, pemburu lebah madu liar dari Madu Hutan Kaum, tiba di lokasi sarang setelah melacak arah terbang lebah dari jalan raya. Mereka mengamati melalui lubang di sebelah kiri. Lebah tampak aktif keluar masuk sarang. Mereka mengintip lagi melalui celah kecil di sisi kanan penutup rantai berbahan pelat logam tua yang keropos. Saat membuka sedikit penutup, sarang bertumpuk berlapis-lapis. Ukurannya sedikit lebih besar daripada selembar uang kertas. Di dalamnya tersimpan sarang dengan kondisi madu yang berlimpah. Naparin katakan, lebah madu timur membutuhkan waktu sekitar 1-4 minggu untuk dapat menghasilkan nektar sampai siap panen. Itu pun bergantung pada ketersediaan pakan bila sarang sudah terbentuk. Berbeda dengan lebah madu raksasa (Apis dorsata) yang berukuran dua kali lebih besar. Selain memiliki lebih banyak lebah pekerja, anatomi volume lambungnya juga dapat menampung lebih banyak nektar, hingga sarang cepat terisi. Seorang pemadam membasahi lahan gambut yang terbakar di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto: Rendy&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/16133705/960px-Isistius_brasiliensis_SI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135519</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya sulit diamati secara langsung. Hiu ini mampu memperoleh makanan dari tubuh satwa laut yang berkali-kali lebih besar darinya. Cara makannya mengandalkan perpaduan bibir pengisap dan susunan gigi yang khas. Ketika mendekati hewan besar, cookiecutter menempelkan mulutnya pada kulit sasaran. Gigi bawahnya yang besar dan saling bertautan kemudian menyayat jaringan, sementara gerakan tubuh membantu melepaskan potongan daging. Paus, lumba-lumba, hingga hiu besar dapat menjadi sasaran. Pola makan ini sering disebut sebagai parasitisme karena cookiecutter mengambil bagian tubuh hewan tanpa harus membunuhnya. Ukuran kecil pun tidak menghalanginya memanfaatkan sumber makanan yang tersedia pada tubuh penghuni samudra lainnya. Selain memiliki alat makan khusus, cookiecutter membawa sumber cahaya pada tubuhnya. Organ bernama fotofor di sisi perut menghasilkan cahaya kehijauan yang membantu menyamarkan siluetnya ketika dilihat dari bawah. Mekanisme ini disebut kontra-iluminasi: cahaya tubuh menyamai latar cahaya redup dari arah permukaan, sehingga bentuk hiu lebih sulit dikenali. Adaptasi tersebut memperlihatkan bahwa menghasilkan cahaya di laut dapat membantu hewan bersembunyi. Bagi cookiecutter, kemampuan menyamarkan tubuh menjadi bagian penting dari kehidupan di perairan yang minim cahaya. Namun, terdapat bagian gelap di sekitar leher yang tidak ikut bercahaya. Sejumlah peneliti menduga bagian ini berfungsi sebagai umpan, menyerupai hewan kecil yang menarik perhatian ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>