Perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi ketika dokter hewan memeriksanya. Namun, tubuh sepanjang sekitar sembilan meter tersebut sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelumnya, nelayan menemukannya terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Tim gabungan berusaha menyelamatkannya, tetapi hewan itu mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut. Makanan yang masih utuh dan tidak adanya perubahan organ yang terlihat secara kasat mata menyisakan pertanyaan: apa yang menyebabkan hiu paus tersebut terdampar dan mati begitu cepat?
Pertanyaan itu menjadi bagian dari penyelidikan rentetan kematian hiu paus di pesisir selatan Jawa. Dwi Suprapti, dokter hewan spesialis megafauna akuatik yang memimpin pemeriksaan, menyebut delapan hiu paus ditemukan terdampar mati dalam enam bulan. Tim memperoleh sampel dari enam individu yang diperiksa di Cilacap, Kebumen, dan Bantul. Melalui nekropsi, yakni pemeriksaan tubuh satwa setelah mati, peneliti mengambil jaringan untuk diuji di laboratorium.
“Hal ini dikarenakan Indonesia saat ini belum memiliki publikasi ilmiah yang benar-benar komprehensif untuk menjelaskan fenomena tersebut,” ujar Dwi. Penelitian akan menggabungkan hasil pemeriksaan organ, kualitas lingkungan, dan kondisi oseanografi.
Salah satu dugaan yang ditelusuri berkaitan dengan aktivitas mencari makan. Perairan selatan Jawa merupakan jalur pergerakan hiu paus, dengan kelimpahan makanan yang dipengaruhi kondisi laut.
Iqbal Herwata dari Yayasan Konservasi Indonesia menjelaskan bahwa upwelling, proses naiknya massa air dari lapisan dalam ke permukaan, membantu menciptakan perairan yang subur. Kondisi tersebut mendukung keberadaan udang dan ikan kecil yang menjadi makanan hiu paus. Namun, hubungan antara kelimpahan makanan, pergerakan menuju perairan dangkal, dan kejadian terdampar masih perlu dikaji. Isi lambung saja belum cukup untuk memastikan penyebab kematiannya.
Catatan nasional menunjukkan besarnya kebutuhan penelitian tersebut. Menurut Iqbal, sepanjang 2011-2023 terdapat 115 kejadian keterdamparan yang melibatkan 127 hiu paus di 23 provinsi, dengan Jawa Barat dan Jawa Timur mencatat kasus terbanyak. Setelah 2020, rata-rata laporan meningkat dari sekitar empat menjadi 20 kasus per tahun. Peningkatan pencatatan ini juga berkaitan dengan kesadaran masyarakat dan pelaporan melalui media sosial, sehingga tidak otomatis menunjukkan kenaikan kejadian dengan besaran yang sama. Sebagian besar individu yang terdampar berukuran 3-9 meter dan berada pada fase remaja.
Upaya memahami sekaligus menangani keterdamparan masih menghadapi keterbatasan anggaran, peralatan, dan pemeriksaan laboratorium. Kerumunan warga juga dapat menghambat evakuasi serta pengambilan sampel. Padahal, setiap pemeriksaan berpeluang memberi petunjuk untuk mencegah kejadian berikutnya. Jeratan jaring, sampah plastik, cuaca buruk, dan kondisi perairan dangkal merupakan sejumlah ancaman yang perlu diperhatikan, tetapi penyebab setiap kematian harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
Bagi tim peneliti, sampel dari Parangkusumo dan lokasi lainnya menjadi bagian penting untuk menjelaskan mengapa raksasa pemakan ikan kecil ini berulang kali berakhir di pantai.
Foto utama: Hiu paus yang terdampar mati di Pantai Wagir Indah di Desa Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (26/6/2025) pagi. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.