- Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, koloni lebah bersarang di lokasi tidak lazim. Ada dugaan, perilaku ini dipicu oleh karhutla.
- Ramadhani Eka Putra, entomolog dari Institut Teknologi Bandung, menyebut banyak dampak karhutla pada lebah.
- Trisnu Satriadi, peneliti senior bidang Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), khususnya lebah madu dan budidaya lebah kelulut (meliponiculture), Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, hilangnya populasi dapat berdampak pada ekosistem hingga produksi pangan manusia.
- Saat ini, Kalsel berstatus siaga darurat karhutla. Kekeringan panjang dan asap akibat karhutla di diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa bulan kedepan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Fauzan, warga yang mendiami daerah itu, bilang, jenis lebah madu serupa tadinya menghuni pepohonan tinggi sekitar 50 meter ke arah barat dari lokasi sekarang. Tiga bulan terakhir, makhluk berukuran kuku jari kelingking orang dewasa itu pindah tempat yang tidak lazim.
Husni Naparin dan Ismu, pemburu lebah madu liar dari Madu Hutan Kaum, tiba di lokasi sarang setelah melacak arah terbang lebah dari jalan raya. Mereka mengamati melalui lubang di sebelah kiri. Lebah tampak aktif keluar masuk sarang.
Mereka mengintip lagi melalui celah kecil di sisi kanan penutup rantai berbahan pelat logam tua yang keropos. Saat membuka sedikit penutup, sarang bertumpuk berlapis-lapis.
Ukurannya sedikit lebih besar daripada selembar uang kertas. Di dalamnya tersimpan sarang dengan kondisi madu yang berlimpah.
Naparin katakan, lebah madu timur membutuhkan waktu sekitar 1-4 minggu untuk dapat menghasilkan nektar sampai siap panen. Itu pun bergantung pada ketersediaan pakan bila sarang sudah terbentuk.
Berbeda dengan lebah madu raksasa (Apis dorsata) yang berukuran dua kali lebih besar. Selain memiliki lebih banyak lebah pekerja, anatomi volume lambungnya juga dapat menampung lebih banyak nektar, hingga sarang cepat terisi.

Pindah rumah dampak kebakaran hutan dan lahan?
Dia menduga, perpindahan koloni juga berkaitan dengan dampak ganda karhutla. Kondisi ini mendorong lebah mencari tempat alternatif untuk berlindung dari paparan panas, sinar matahari, hingga kabut asap secara langsung.
“Kami putuskan tidak memanen. Kita kembalikan lagi kap (rantai) yang terbuka sekira mereka dapat berlindung sehingga koloni yang tersisa dapat memperbanyak diri saat musim hujan nanti.”
Dia memperkirakan ketersediaan nektar di alam semakin terbatas di tengah kekeringan sekarang. Salah satu sumber yang masih memungkinkan yakni bunga putri malu (Mimosa pudica L.)
Untuk mendapatkan air, lebah harus terbang lebih jauh hingga menemukan sumbernya. Akibatnya, lebah yang biasanya hidup di perkotaan dan bergantung bunga di halaman rumah, semak belukar, hutan kota, hingga ruang terbuka hijau, terpaksa meninggalkan sarangnya.
“Sekarang sarang banyak yang kosong, rusak, lebah juga banyak yang kita temukan mati.”
Ismu juga mengamati perilaku perpindahan lebah. Saat ini banyak dari mereka terbang menuju kawasan yang lebih tinggi, seperti perbukitan dengan hutan yang masih relatif terjaga.
Selain di pepohonan, lebah banyak membangun tempat tinggal di tebing-tebing batu yang curam. Dia pun pernah menemukan sarang lebah madu raksasa di Pegunungan Meratus, awal September. Lokasinya sekitar 102 kilometer dari ibu kota provinsi.
“Mereka banyak berada di tebing-tebing berbatu sekarang. Mungkin karena posisinya dingin di sana itu,” prediksinya.

Ganggu navigasi
Ramadhani Eka Putra, entomolog dari Institut Teknologi Bandung, lebah jelas terdampak karhutla.
“Secara langsung merusak sarang dan juga sumber bunga,” katanya. Selasa (13/10/26).
Suhu tinggi akibat kebakaran dapat menyebabkan kematin langsung. Partikel yang terkandung dalam asap dapat mencemari cadangan madu.
“Bisa seperti itu, tapi lebih pada sarang karena rumahnya hilang. Mereka pindah ke lokasi lain.”
Asap tebal juga berpotensi mengganggu kemampuan navigasi. Padahal, banyak serangga, termasuk lebah, memanfaatkan pola cahaya terpolarisasi di langit sebagai kompas.
Pemantauan Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan (BMKG) 14 Oktober, kualitas udara di provinsi itu masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Konsentrasi partikulat PM2.5 terjadi pukul 00.00-09.00 WITA dan mencapai puncak 353,8 mikrogram per meter kubik pukul 07.00 WITA, hingga masuk kategori berbahaya.
Pemantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) 10 Oktober, asap sedang hingga pekat merambat sampai ke daerah tetangga, Sarawak, Semenanjung Malaysia hingga Singapura.
Mereka mempertahankan status Alert Level 3 (siaga tertinggi) untuk kawasan selatan ASEAN akibat karhutla di Indonesia yang memicu kabut asap lintas batas.
Trisnu Satriadi, peneliti senior bidang Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), terutama lebah madu dan budidaya lebah kelulut (meliponiculture), Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, hilangnya populasi dapat berdampak pada ekosistem hingga produksi pangan manusia.
Karena, salah satu fungsi utama lebah adalah membantu penyerbukan tanaman. Jadi, ketika populasi serangga menurun, proses penyerbukan berlangsung lebih lambat.
“Salah satu fungsi lebah adalah sebagai polinator, yaitu membantu penyerbukan bunga tanaman. Sehingga apabila tidak ada lebah, proses polinasi akan terjadi dengan lebih lambat,” katanya, 14 Oktober.
Pada tanaman yang bergantung pada bantuan serangga penyerbuk, berkurangnya kunjungan lebah berpotensi menurunkan keberhasilan pembentukan buah maupun biji. Jika penurunan populasi penyerbuk terjadi masif, dampaknya bahkan jauh lebih serius: mengganggu produksi pertanian.
Sebab, sejumlah tanaman pangan, buah-buahan, dan komoditas perkebunan, membutuhkan bantuan mereka untuk menghasilkan panen secara optimal. Ketahanan pangan pada masa yang akan datang pun bisa terancam.
Dia bilang, migrasi lebah merupakan respons terhadap gangguan habitat maupun hilangnya sumber pakan.
“Ya betul, karena adanya gangguan seperti karhutla, atau hilangnya sumber pakan, lebah akan bermigrasi ke tempat yang lebih aman dan banyak sumber pakan.”
Namun, perpindahan ke wilayah lain tidak menjamin lebah dapat kembali ke habitat asal. Menurutnya, selama habitat tersebut masih rusak, lebah tidak akan kembali.
Waktu untuk memulihkan vegetasi dan ketersediaan sumber pakan secara umum turut menentukan kapan lebah dapat kembali menempati kawasan tersebut.

Kering hingga akhir tahun
Saat ini, Kalsel berstatus siaga darurat karhutla. Kekeringan panjang dan asap akibat karhutla di diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa bulan kedepan.
BMKG memprediksi curah hujan masih rendah pada Oktober, dengan peluang 100% dengan sifat hujan di bawah normal. November nanti, curah hujan kategori menengah sebesar 84% dan rendah 16% akan mendominasi. Sifat hujan di bawah normal juga masih mencapai 100 persen.
Klaus Johannes Apoh Damanik, Koordinator BMKG Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, memperkirakan hujan dengan kondisi normal mulai terjadi November.
“Pertengahan,” ujarnya kepada Mongabay, Rabu (14/10/26).
Sementara itu, peningkatan curah hujan dia perkirakan terjadi pada Desember. Pada akhir tahun, curah hujan kategori tinggi sebesar 60% dan menengah 40% akan mendominasi, dengan sifat hujan normal mencapai 88%.
Kondisi kekeringan ekstrim yang mengakibatkan panjangnya periode tanpa hujan juga terlihat di sejumlah wilayah saat ini. BMKG mencatat 10 wilayah bahkan sudah mengalami kondisi tanpa hujan lebih dari 60 hari berdasarkan pembaruan per 10 Oktober 2026.
Tamban, Kabupaten Barito Kuala, mencatat periode tanpa hujan terpanjang, 118 hari. Jorong dan Pelaihari di Kabupaten Tanah Laut masing-masing 113 hari, dan Panyipatan selama 112 hari.
Sungai Loban di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kertak Hanyar di Kabupaten Banjar masing-masing mengalami 111 hari tanpa hujan. Adapun Wanaraya di Barito Kuala dan Landasan Ulin di Banjarbaru tercatat 108 hari, sedangkan Batu Ampar dan Tabunganen masing-masing 104 hari.

*****