- Lebah madu merupakan serangga yang penting untuk ekosistem. Sayangnya, keberadaan mereka saat ini terancam karena alih fungsi hutan terus terjadi.
- Di mana ada bunga, maka lebah akan hinggap. Indonesia memiliki 30.000 jenis bunga yang sudah teridentifikasi. Oleh sebab itu populasi ‘si pemburu bunga’ ini sangat banyak.
- Junaidi Zain, petani madu hutan dari Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, menilai program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto yang mengubah hutan menjadi kebun jagung banyak memengaruhi kurangnya koloni lebah hutan.
- Penurunan produksi madu hutan juga terjadi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Eman Kelen, dari Kelompok Madu Hutan Flores (MAHESA), mengatakan, lebah madu hutan di sana banyak bersarang di Lereng Gunung Lewotobi. Namun, gunung ini sering mengalami erupsi sehingga para lebah menurun karena pohon-pohon banyak yang hangus.
Keberadaan lebah begitu penting bagi lingkungan, tetapi alih fungsi hutan menyebabkan lebah kehilangan rumah. Keberadaan serangga kecil ini pun terancam.
“Kenapa ia [lebah hutan] keluar hutan? Kok, sekarang mulai bersarang di rumah-rumah orang? Di sekitar kebun?” kata Sih Kahono, Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam diskusi sekaligus peluncuran buku “Bees and Trees.”
Hutan tergerus, keberadaan lebah pun makin sulit. Indonesia, katanya, mempunyai banyak jenis lebah, dua merupakan spesies lebah madu raksasa Asia, yakni, Apis dorsata dan Apis binghami. Habitat keduanya di hutan. Mereka hinggap dan mengisap nektar pada bunga-bunga.
Hubungan lebah madu raksasa dengan hutan itu tidak bersifat sepihak. Hutan juga lebah untungkan dengan konservasi alami.
Kahono mengatakan, ketika lebah hinggap pada bunga, mereka tidak hanya makan nektar untuk diri sendiri. Biasanya, para koloni lebah itu juga membawa stok nektar dengan menggunakan bulu-bulu di tubuhnya untuk mereka bagikan ke anak.
Pada saat itulah, mereka juga membawa serbuk sari (pollen) yang menempel secara tidak sengaja pada bulu tubuhnya. Lebah menjadi pihak yang membantu pertemuan serbuk sari dari bunga jantan ke betina, sehingga terjadi regenerasi bunga-bunga di lokasi lain.
“Kalau pakai angin, beberapa persen pollen yang bisa menempel di tumbuhan betina. Diperkirakan tidak lebih dari 20%. Sebab itu lebah sangat diperlukan,” katanya dalam diskusi Parara Environment Day bersama Non Timber Forest Product – Exchange Programme (NTFP-EP) Asia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), 5 Juni lalu.
Lebah tidak hanya memperbanyak titik tumbuhnya tanaman, juga membuat jenis baru dari pertemuan dua jenis tanaman berbeda yang terbawa oleh banyaknya anggota koloni. Dia menilai, lebah adalah pihak paling penting dalam kelestarian tanaman di hutan.
Mereka bergerak sangat agresif dan memiliki anggota koloni yang banyak. Lebah, katanya, mempunyai jarak pindah 5 meter dari bunga satu ke yang lainnya. Namun, jika saat migrasi, jaraknya bisa mencapai ratusan kilometer.

Berkurangnya lebah di hutan
Di mana ada bunga, maka lebah akan hinggap. Indonesia memiliki 30.000 jenis bunga yang sudah teridentifikasi. Jadi, populasi ‘si pemburu bunga’ ini sangat banyak.
Para lebah, katanya, akan berfokus pada bunga-bunga yang dekat dengan mereka. Jika sudah tidak ada lagi bunga di sana, maka ia akan mencari ke tempat lain atau bermigrasi.
Hal itu lazim terjadi saat pergantian musim karena beberapa bunga dapat bermekaran pada musim-musim tertentu.
Meski begitu, para koloni lebah itu akan kembali ke sarang awalnya, hingga penting memastikan pohon tempat mereka bersarang itu masih terjaga.
Masalahnya, ucap Kahono, alam Indonesia sudah berubah. Terlihat dari banyaknya lebah-lebah yang bersarang di area rumah-rumah atau di kebun warga.
Dia mengatakan, bisa jadi pohon-pohon tempat mereka bersarang ada yang hilang dan berganti rupa hingga mencari ‘rumah’ baru. Salah satunya di pemukiman yang banyak bunga.
Sisi lain, lebah kerap masyarakat anggap sebagai ancaman. Manusia lebih mengenal lebah bisa menyengat dan beracun, ketimbang sebagai entitas yang penting dan bermanfaat.
Konflik manusia dan lebah pun tak terhindarkan. Akhirnya, banyak fenomena penyengatan oleh lebah. Padahal, kata Sih, lebah tidak akan sembarang menyerang.

Karena konversi hutan
Junaidi Zain, petani madu hutan dari Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, menyaksikan langsung perubahan kehidupan lebah Apis dorsata. Sebab dia sudah bergelut dengan madu hutan sejak 1996.
Saat itu, produksi madu membludak karena madu produksi lebah masih sangat banyak. Kondisi hutan relatif masih terjaga. Populasi lebah madu hutan pun juga banyak di Sumbawa.
Pada 2000, dia bersama para petani lain membuat Koperasi Hutan Lestari. Mereka miliki izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) 1.000 hektar di kawasan penyangga Hutan Lindung Batu Lanteh.
Meski di dalam hutan lindung, mereka berkomitmen menjaga hutan dengan tidak membuka kebun di kawasan lindung, melainkan hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu, kemiri, kayu manis, dan rotan.
Produksi dan permintaan madu hutan mereka selalu tinggi. Pemasaran produknya hingga tingkat nasional melalui jaringan JMHI dan menjadi salah satu pemasok utama madu hutan Indonesia.
Namun, pada 2018, produksi madu mulai menurun, bahkan sampai sekarang. Menurutnya, program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto yang mengubah hutan menjadi kebun jagung banyak memengaruhi.
“Mulai hutan-hutan itu dibabat, ditanam jagung,” ucapnya.
Junaidi mengatakan, perubahan hutan justru lebih banyak karena kebijakan pemerintah. Dia mengingatkan pernah ada juga dari Dinas Kehutanan mengajak kelompok untuk mengelola hutan dengan skema kemitraan.
Dari situ, katanya, banyak kelompoktani lain ingin dapat akses ke hutan lindung dan membuka perkebunan jagung.
“Itu yang bikin produksi madu kita menurun, karena hutannya juga menurun,” ujarnya.

Penelitian dalam Journal of Sustainable Agriculture mengungkapkan lebah madu Apis dorsata belum bisa dibudidayakan dalam stup. Lebah ini hanya bisa bertahan dan berkembang di pohon-pohon yang tinggi dalam hutan.
Keberlangsungan lebah madu Apis dorsata tergantung dari ketersediaan pakan/pohon-pohon tinggi di hutan.
Saat ini, Koperasi Hutan Lestari mempunyai anggota sekitar 11.000. Namun yang aktif memanen madu hanya berkisar 500 anggota.
Meski bisa keluar masuk hutan lindung, Junaidi mengaku tak pernah ingin membuka kebun. Jika membuka kebun, pasti harus membabat pohon.
Sebaliknya, dia ingin pohon lestari agar lebah-lebah juga tetap bisa hidup. Sebab, baginya, lebah sudah memberikan banyak manfaat, termasuk ekonomi.
Penurunan produksi madu hutan juga terjadi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Eman Kelen, dari Kelompok Madu Hutan Flores (Mahesa), mengatakan, lebah madu hutan di sana banyak bersarang di Lereng Gunung Lewotobi. Namun, gunung ini sering mengalami erupsi sehingga para lebah menurun karena pohon-pohon banyak yang hangus.
“Padahal di situ berpotensi. Dalam 1 pohon bisa ratusan sarang.”
Dalam setahun, kelompok taninya bisa memproduksi hingga delapan ton madu. Kini, menurun hingga di bawah lima ton per tahun.
Padahal dengan jaringan JMHI, kelompok taninya bisa sampai mengekspor madu-madu itu ke Singapura hingga Cina. Madu Flores juga banyak peminatnya karena khas dan mempunyai banyak rasa. Sebab, bunga-bunga yang tumbuh di sana beragam, sehingga menghasilkan rasa dan warna yang berbeda.
“Tapi karena permintaan tinggi dan produksi madu kita terbatas, jadi terhenti.”
Selain karena erupsi, penurunan populasi madu juga terjadi karena adanya alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman. Kebanyakan, kata dia, pemukim juga membuka kebun hingga terjadi penyempitan untuk habitat lebah.
Sebelum dan sesudah panen, para petani madu di sana selalu menggelar ritual. Tujuannya, agar pohon-pohon tetap ada dan tidak ada pihak lain yang merusak.
Ritual itu menggunakan cara dan peralatan berbeda, menyesuaikan dengan kebudayaan di wilayah yang akan panen tersebut. Selain ritual, hukum adat juga melarang pohon-pohon ditebang. Ada sanksi yang siap dijatuhkan kepada orang yang menebang pohon.
Sanksinya, kata dia, beragam, mulai dari sanksi denda uang hingga hewan. Sanksi denda bisa mencapai Rp10 juta.
Eman mengatakan pohon-pohon di sana dianggap sakral. Bahkan, ada jenis pohon, yaitu pohon leto yang dijuluki sebagai ‘pohon rezeki’. Pohon itu saat ini sudah langka.
Sembari menunggu langkah pemerintah, Eman dan kelompok tani di sana terus melakukan ritual dan menerapkan sanksi itu demi melindungi pohon dan lebah-lebah yang bersarang di sana.

*****
l