Sabuk angin di sekeliling Antartika
Pada lintang sekitar 40 sampai 60 derajat selatan, hampir tidak ada daratan yang menghalangi angin barat. Angin ini bertiup mengelilingi bumi di atas laut terbuka, dan pelaut sejak lama menyebut sabuknya Roaring Forties, Furious Fifties, dan Screaming Sixties sesuai lintangnya. Belahan bumi utara memiliki benua yang memotong lintasan badai, sehingga kondisi seperti ini tidak ditemui di sana.
Angin yang kuat, bertiup lama, dan menempuh jarak jauh di atas air tanpa terhalang (fetch) menghasilkan gelombang yang besar. Di Samudra Selatan ketiga syarat itu mudah terpenuhi karena sistem badai bergerak ke timur sepanjang lingkar Antartika. Pada badai 2018, kecepatan badai diperkirakan sepadan dengan kecepatan gelombang, sehingga gelombang terus tumbuh selama badai bergerak. Gelombang yang tumbuh dalam kondisi seperti ini menjadi panjang dan bertenaga.

Begitu lepas dari angin yang membentuknya, gelombang menjadi swell dan dapat merambat ribuan kilometer dengan kehilangan energi yang relatif kecil. Pengukuran di Samudra Pasifik pada 1960-an berhasil melacak swell dari badai Samudra Selatan hingga ke Alaska. Karena itu, pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatra kerap menerima ombak yang berasal dari badai di lintang tinggi belahan bumi selatan.
Peselancar yang mengincar ombak di Mentawai atau Pacitan pada musim tertentu menunggangi energi dari badai itu. Warga pesisir kadang menghadapi gelombang tinggi saat angin di tempat mereka sendiri tenang, dan penyebabnya adalah swell yang tiba beberapa hari setelah badai. Pola ini juga membuat prakiraan gelombang sebagian bergantung pada pemantauan laut jauh di luar wilayah Indonesia.
Rekor gelombang dan satwa di Samudra Selatan
Ada dua cara mengukur gelombang. Tinggi gelombang individu adalah gelombang tunggal tertinggi dalam satu rekaman, sedangkan tinggi gelombang signifikan adalah rata-rata sepertiga gelombang tertinggi dan menjadi ukuran baku World Meteorological Organization (WMO). Angka 23,8 meter di Pulau Campbell adalah gelombang individu, sementara pada badai yang sama tinggi gelombang signifikannya 14,9 meter. Perbedaan ini penting karena satu gelombang tunggal bisa jauh lebih tinggi daripada kondisi laut rata-rata saat itu.

Rekor dunia tinggi gelombang signifikan yang diverifikasi WMO adalah 19 meter, terekam pelampung di Atlantik Utara antara Islandia dan Inggris pada Februari 2013. Untuk gelombang individu, kapal riset RRS Discovery mencatat sekitar 29 meter di Palung Rockall, juga di Atlantik Utara, pada Februari 2000. Kedua angka itu lebih tinggi daripada rekor Samudra Selatan, meski metode ukurnya berbeda. Samudra Selatan sendiri masih sedikit terpantau, sehingga gelombang yang lebih tinggi mungkin belum sempat terekam.
Di luar soal rekor, gelombang besar punya peran ekologis dan iklim. Gelombang yang pecah dapat mencampur lapisan atas laut dan mempercepat pertukaran gas serta panas dengan atmosfer. Samudra Selatan sendiri menyerap karbon dioksida dan panas dalam jumlah besar, sehingga kondisi lautnya ikut memengaruhi iklim global.

Satwa di kawasan ini hidup dari angin dan gelombang yang sama. Albatros pengelana (Diomedea exulans), dengan rentang sayap lebih dari tiga meter, memanfaatkan angin kencang dan perbedaan kecepatan angin di atas permukaan gelombang untuk melayang jauh dengan sedikit mengepakkan sayap. Dengan cara itu burung ini dapat mencari makan sampai ribuan kilometer dari sarangnya.
Angin dan gelombang di Samudra Selatan dengan demikian berdampak jauh di luar perairannya, dari ombak di pantai Indonesia sampai pola terbang burung laut. Rekor tertinggi dunia memang tercatat di Atlantik Utara, tetapi peran Samudra Selatan sebagai sumber swell bagi samudra lain paling kuat didukung data. Pemantauan yang lebih rapat akan membantu ilmuwan menilai apakah gelombang di sana pernah atau akan melampaui angka yang sudah tercatat.
Referensi
Holliday, N. P., Yelland, M. J., Pascal, R., Swail, V. R., Taylor, P. K., Griffiths, C. R., & Kent, E. (2006). Were extreme waves in the Rockall Trough the largest ever recorded? Geophysical Research Letters, 33(5), Article L05613. https://doi.org/10.1029/2005GL025238