- Angin mulai membuat kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek ke Sumatera Utara. Pemandang ini janggal, karena provinsi ini biasanya dominan angin sejuk dari pegunungan dan lautan di sana. Kondisi ini berbahaya bagi kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut mencatat total penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari anga itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta perempuan, dan 1,58 juta lansia.
- Hendro Nugroho, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, menjelaskan, sebaran asap terdeteksi di seluruh wilayah Sumut akibat pola pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara.
- Azura Borotan, Tim Periset dari for Madina, mengatakan, keterbatasan gerak lansia ini juga diperparah kesepian karena tidak bisa bertemu tetangga atau mengikuti kegiatan komunitas di Balai Desa. Kecemasan kesehatan keluarga dan ketidakpastian kapan langit akan kembali biru menciptakan tekanan mental yang signifikan.
- Sektor pertanian juga mulai merasakan imbas berkurangnya intensitas sinar matahari. Tanaman pangan dan hortikultura yang membutuhkan fotosintesis optimal mengalami perlambatan pertumbuhan.
Kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek masuki Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat Sumut terlebih kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari angka itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta perempuan, dan 1,58 juta lansia.
Secara keseluruhan, lebih 13 juta jiwa atau hampir 85% populasi Sumut kategori kelompok rentan yang sistem biologis dan sosialnya paling mudah terdampak oleh krisis kualitas udara ini.
Hendro Nugroho, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, menjelaskan, sebaran asap terdeteksi di seluruh wilayah Sumut akibat pola pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara.
“Asap yang menyelimuti Sumut saat ini adalah kiriman dari Sumatera bagian selatan dan Kalimantan yang terbawa oleh hembusan angin,” katanya, 16 Oktober.
Heri Wahyudi Marpaung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut, dalam konferensi pers menyebut tidak ada lagi titik api di provinsi itu sejak satu setengah bulan lalu.
“Wilayah Sumut relatif aman dari titik api, kabut asap yang terjadi murni akibat hembusan angin dari daerah luar,” katanya.
Wilayah-wilayah yang terpapar secara langsung kabut asap meliputi Kota Medan yang mengalami gangguan penerbangan dan peliburan sekolah. Sektor ekonomi seperti perdagangan dan jasa mulai lesu karena masyarakat enggan beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, Kabupaten Karo, kawasan Danau Toba di Kabupaten Toba, Kota Sibolga, Kabupaten Humbahas, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal meliburkan sekolah sesuai instruksi gubernur.
Muhammad Bobby Afif Nasution, Gubernur Sumut, mengambil inisiatif dengan memerintahkan operasi modifikasi cuaca untuk mempercepat turunnya hujan. Pesawat jenis Cessna pun terbang dari Terminal Kargo Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, 16 Oktober.
“Penerbangan modifikasi cuaca akan difokuskan di wilayah Medan, Binjai, dan Deliserdang sebelum menyasar daerah lain,” kata Bobby.
Surya, Wakil Gubernur Sumut, melepas penerbangan dan menjelaskan tantangan teknis operasi ini.
“Proses penaburan bahan kimia membutuhkan keberadaan awan yang tepat, sehingga tidak bisa serta merta dilakukan di semua titik.”

Dampak pada warga dan ekosistem
Debora Boru Sihite, perempuan berusia 61 tahun asal Tapanuli Utara, merasakan langsung dampak buruk kabut asap yang menyelimuti tempat tinggalnya, jarak pandang pun jadi pendek. Kondi ini memaksanya berada di dalam rumah demi menghindari masalah.
Biaya hidup meningkat memperparah situasi. Dia harus alokasikan sebagian kecil penghasilannya untuk membeli masker dan obat-obatan bagi keluarganya. Dia menuntut keadilan bagi rakyat kecil.
“Pemerintah harus tegas menindak korporasi perusak hutan yang tinggal di luar negeri, mereka menghancurkan alam kita dan membawa keuntungan ke luar negeri, bukan membangun negeri ini, terutama pembangunan desa-desa terpencil seperti di tempat kami ini yang nihil,” serunya.
Azura Borotan, Tim Periset dari for Madina, mengatakan, keterbatasan gerak lansia ini juga diperparah kesepian karena tidak bisa bertemu tetangga atau mengikuti kegiatan komunitas di Balai Desa. Kecemasan kesehatan keluarga dan ketidakpastian kapan langit akan kembali biru menciptakan tekanan mental yang signifikan.
Dia bilang, kabut asap ini memberikan pukulan pada kesehatan, ekonomi, dan sosial-budaya. Paparan partikel halus PM2.5, memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan memperburuk penyakit kronis seperti asma dan jantung pada lansia. Anak-anak, dengan paru-paru yang masih berkembang, menghadapi risiko gangguan pertumbuhan organ pernapasan jangka panjang.
Sementara itu, secara ekonomi, penundaan penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu dan sepinya wisatawan di destinasi seperti Danau Toba menyebabkan kerugian materi bagi pelaku usaha. Bagi perempuan dan keluarga berpenghasilan rendah, hari tanpa bekerja berarti hilangnya pendapatan, sementara beban biaya kesehatan terus membengkak.
Dampak sosial budaya juga terasa ketika interaksi komunitas berkurang dan kegiatan adat atau keagamaan di ruang terbuka terpaksa batal.
Kabut asap, katanya, tidak hanya berdampak pada manusia, juga mengancam keseimbangan ekosistem alam yang menjadi paru-paru dunia.

Di Kabupaten Mandailing Natal, misal, hamparan Taman Nasional Batang Gadis kini tertutup selimut abu kebakaran hutan dan lahan yang tampak dari kejauhan. Hutan hujan tropis itu kehilangan kicauan burung dan lolongan satwa liarnya.
Spesies arboreal seperti kera serta beruk, terpaksa menghadapi partikel halus yang menempel pada dedaunan sumber makanan mereka. Napas berat terasa tidak hanya bagi pendaki yang melintasi jalur konservasi, tetapi bagi setiap makhluk hidup yang bergantung pada kualitas udara bersih untuk bertahan hidup.
Ancaman serupa membayangi ekosistem Batang Toru, benteng terakhir orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), primata terlangka di dunia. Kabut asap ini merupakan racun yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh satwa-satwa endemik tersebut.
Peneliti dan aktivis konservasi mengamati dengan cemas bagaimana perubahan kualitas udara dapat mempengaruhi pola makan dan perilaku sosial primata cerdas ini.
“Nyanyian Pongo tapanuliensis dan kicauan burung di ekosistem Batang Toru adalah indikator kesehatan hutan yang kini terancam oleh polusi partikulat,” ungkap Azura.
Di saat yang sama, hutan lindung dan kawasan konservasi di Labuhanbatu Utara serta Labuhanbatu Selatan juga tidak luput dari kepungan asap.
Kawasan-kawasan ini rumah berbagai spesies burung pantai dan burung hutan yang sensitif perubahan lingkungan. Partikel asap yang jatuh ke permukaan air dan tanah dapat mengubah pH ekosistem perairan dangkal, tempat burung mencari makan, sehingga mengganggu rantai makanan alami yang terbentuk ribuan tahun.

*****
Gelagapan Tangani Karhutla, Pemerintah Malah Kambinghitamkan Tradisi Masyarakat Adat?