- Pemerintah Yogyakarta berencana secara bertahap menggantikan becak motor di kawasan Malioboro dengan becak listrik. Dalam laman resmi Pemerintah Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DI Yogyakarta katakan, akan ada 1.000 becak listrik yang lebih ramah lingkungan.
- Transisi transportasi dari yang gunakan BBM ke listrik, menimbulkan berbagai persoalan bagi para pengemudi dari tagihan listrik bulanan membengkak sampai becak sering rusak.
- Winih Wicaksono, Manager Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memandang rancangan awal becak listrik ini bukan untuk menjadi alat mobilitas cepat para pekerja keras. Kecepatan maksimal 15 km perjam agar selaras dengan aturan yang ada di kawasan Sumbu Filosofis.
- Sebenarnya, masalah terjadi dari pembentukan prototype awal becak listrik di Malioboro, yaitu, becak listrik Selis. Becak listrik Selis pertama kali rilis akhir 2023 sebanyak 50 unit kepada para pembecak motor. Pengemudi becak Selis mengeluhkan masalah dari ukuran kabel terlalu kecil hingga mudah meleleh. Juga, cacat desain fatal, karena sama sekali tidak memiliki peredam kejut atau shockbreaker.
Gio sumringah penuh asa ketika mendapat hibah becak listrik dari program Kementerian Keuangan 16 Juli lalu. Harapannya, bisa dapat kendaraan penunjang hidup, lebih bersih dan murah.
Naas, saat becak dia bawa pulang ke rumahnya di daerah Piyungan, sambungan kabel soket listrik mendadak kendur hingga hangus terbakar di tengah jalan. Becak listrik mati total.
“Itu kemarin terbakar itu. Enggak bisa jalan. Ya, didatangi di rumah. Setelah itu ya itu untuk jalan susah. Lambat. Wah, susah. Ya lambat sekali,” kata pria 64 tahun ini.
Gio lapor kepada Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY). Produsen datang untuk memperbaiki tetapi tak bisa pulih.
Dia berupaya mengumpulkan uang dengan becak pinjam punya teman. Gio pun bisa kumpulkan uang untuk perbaikan beberapa bagian becak listrik itu.
Gio juga ganti roda becak listrik dengan ukuran lebih tebal dan kokoh, seperti yang biasa becak motor gunakan.
“Satu roda itu kalau baru, habis Rp500.000,” kata Gio.
Dia harus merogoh kocek dalam-dalam mengganti ketiga roda becak listrik. Biayanya tidak main-main bagi seorang pengayuh becak, sampai Rp1,5 juta.
Gio ganti ban karena roda becak listrik pipih dan tipis. Desain pijakan kaki becak listrik juga sangat tinggi, hingga para penumpang perempuan kadang menolak naik.
Sejak gunakan becak listrik, penumpang berkurang, otomatis pendapatan menurun. Penumpang banyak tetap menginginkan naik becak motor karena alasan desain yang kokoh.
“Tapi sekarang kendalanya itu, kalah sama yang masih apa ya, seperti becak motor. Itu nggak pernah menarik. Dilihat gini. Wah, kok becak manual. Nggak jadi, cari yang roda motor itu.”
Tak hanya Gio, tukang becak lain juga alami hal serupa. Mereka nyatakan, penumpang alami penurunan setelah mereka gunakan becak listrik.
Giyono, pengemudi becak listrik berhadapan dengan siksaan yang merenggut jam kerjanya. Mesin becak listrik berjalan sangat lambat, hanya bisa melaju di kecepatan 10 kilometer per jam.
Bagi lelaki 57 tahun yang jadi tulang punggung bagi keenam anggota keluarganya ini, kelambatan adalah bencana ekonomi.
Pagi hari, saat berangkat dari rumah pukul 6.00 pagi, baru sampai di Malioboro pukul 11.00. Saat gunakan becak motor berkisar satu jam saja.
Waktu Giyono habis termakan dalam perjalanan.

Giyono bahkan pernah mencoba berlomba dengan sepeda ontel cucunya untuk menguji kecepatan dari becak listrik. Hasilnya, lebih cepat sepeda ontel mungil cucunya itu.
“Sama cucu saya, ayo anu lomba ayo apa? Lomba sepeda ini. Wah cepat… cepatan cucu saya. Untuk saya coba ini. Banter anu sepedae cucu saya.”
Giyono dan Gio katakan, tak mendapatkan informasi utuh soal program ini sejak awal.
Giyono dan tukang becak lain mengira mereka akan mendapatkan becak listrik bertenaga besar dengan roda motor kokoh.
Harapan itu sirna seketika melihat penyerahan becak listrik.
Petrus Juli Hartono, Ketua Koperasi Becak katakan, para pengemudi selalu ditanya kesediaan mereka menerima becak listrik. Mereka semua sepakat.
Andi, pengemudi becak listrik juga merasakan ritme kerja terganggu.
Baru dua minggu dia pakai, kabel-kabel di bagian bawah jok becak meleleh dan mengeluarkan bau hangus akibat mengalami panas berlebih.
“Kabelnya itu kurang safety. Kabelnya itu selain kalau kena panas, dia mudah terbakar,” katanya.
Berbeda dengan becak motor yang cukup isi bensin sekali bisa tancap gas sepekan penuh tanpa rewel, becak listrik bolak balik servis hanya dalam sepekan.
Ketika mesin mandek, kata Andi, mesin hidup namun ketika digas tidak mau berjalan, hanya berbunyi tek-tek-tek.

Asa kendaraan rendah polusi, tekan emisi
Pemerintah Yogyakarta berencana secara bertahap menggantikan becak motor di kawasan Malioboro dengan becak listrik. Dalam laman resmi Pemerintah Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DI Yogyakarta katakan, akan ada 1.000 becak listrik yang lebih ramah lingkungan.
Namun, transisi transportasi dari yang gunakan BBM ke listrik, menimbulkan berbagai persoalan seperti tagihan listrik bulanan membengkak. Tarif listrik biasa Rp100.000, kini dua kali lipat Rp200.000 per bulan.
Gio harus mengisi daya baterai becak listrik 6-7 jam setiap malam untuk bertolak ke Malioboro, keesokan hari.
Dia berupaya bertahan gunakan becak listrik, di tengah penumpang turun, biaya BBM naik, demi bisa mencari nafkah di Malioboro.
“Kalau ya anu ya terpaksa mengikuti pemerintah. Gitu aja. Kita nggak… Kalau masih ingin mbecak harus mengikuti pemerintah,” kata Gio.
Sebenarnya, masalah terjadi dari pembentukan prototype awal becak listrik di Malioboro, yaitu, becak listrik Selis. Becak listrik Selis pertama kali rilis akhir 2023 sebanyak 50 unit kepada para pembecak motor.
Pengemudi becak Selis mengeluhkan masalah dari ukuran kabel terlalu kecil hingga mudah meleleh. Juga, cacat desain fatal, karena sama sekali tidak memiliki peredam kejut atau shockbreaker.
Akibatnya, setiap kali becak menghantam lubang atau polisi tidur, benturan keras langsung mendera tubuh penumpang dan pengemudi sekaligus.
Becak listrik program hibah Kementerian Keuangan ini bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pengembangan hingga proses pembuatan. Ide awal PT Langit Biru Istimewa (LBI) menggandeng PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (YPTI) sebagai penunjang di bidang manufaktur.
Kerja sama bermula dari LBI yang merancang konsep becak kayuh listrik untuk mendukung green tourism (pariwisata bebas emisi) di kawasan Sumbu Filosofis/Malioboro dengan tetap mempertahankan bentuk klasik atau heritage becak Jogja era 1930-an.
Konsep yang LBI bawa ini menarik minat dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan beserta konsorsium lembaga pendanaan terkait seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk memberikan dukungan dana hibah pembuatan becak untuk Pemerintah Yogyakarta.
Dengan dukungan kapasitas engineering manufaktur, Petrus Tedja Hapsono, Direktur Utama YPTI sekaligus pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang vokasi bersedia untuk membantu dengan syarat utama, mewajibkan proses produksi dan perawatan melibatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lokal di DIY.
Rantai kerja sama dalam pendanaan, produksi hingga perawatan melahirkan ekosistem pembangunan Becak Listrik Wisata (Bekalista) yang terstruktur. Ada lima SMK memegang tanggung jawab perakitan komponen sekaligus lokasi bengkel induk perawatan becak listrik.
Winih Wicaksono, Manager Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memandang rancangan awal becak listrik ini bukan untuk menjadi alat mobilitas cepat para pekerja keras.
Kecepatan maksimal 15 km perjam agar selaras dengan aturan yang ada di kawasan Sumbu Filosofis.
Pembuatan becak listrik wisata ini, katanya, bukan sebagai pengganti alat transportasi seperti yang para pembecak miliki sebelumnya. Melainkan untuk mereinkarnasi dan mendokumentasikan memori sejarah masa lalu becak tradisional dengan bentuk yang ringkih.

Romansa indah itu luntur saat berbenturan dengan realitas aspal di Malioboro. Bagi para pengayuh becak yang terbiasa membawa penumpang dengan becak motor, pembatasan kecepatan dan spesifikasi teknis bagaikan pukulan.
“Lha kita cari uang ya bukan wisata e… Kalau begini kan ya repot to,” protes Giyono.
Para produsen, LBI dan YPTI mengklaim, dalam tahap perancangan, produsen sudah melibatkan para pembecak yang menerima hibah program ini sebelum semua unit rilis.
Ary Tjahyono, Presiden Direktur LBI mengatakan, sudah uji 10 becak listrik kepada para pembecak dan turut mendampingi dan menerima masukan selama masa uji coba itu.
“Kemarin kita uji coba yang 10 unit, coba pinjamkan ke pengayuh becak suruh naik satu minggu. Kita mendampingi.”
Ary sebagai konseptor membeberkan bahwa tangan para pembuat sejatinya juga terbelenggu oleh aturan baku. Ketika para pengayuh meminta tenaga mesin kuat layaknya becak motor, produsen tidak bisa serta merta mewujudkannya.
“Sudah menyampaikan, tidak semua keinginan bisa kita penuhi karena kita terbentur dengan peraturan gubernur,” kata Ary.
Aturan ini merujuk pada Surat Keputusan (SK) Gubernur DIY dan Peraturan Gubernur Nomor 39/2024 tentang Penyelenggaraan Becak Kayuh dengan Penguat Tenaga Listrik.
Dalam lembar-lembar regulasi itu, spesifikasi kendaraan terkunci ketat mulai dari diameter dan lebar roda, jarak as, kemampuan rem, hingga kecepatan operasionalnya.
Penanggung jawab perakitan dari YPTI hanya menerjemahkan standar dari regulasi itu ke dalam wujud gambar teknis.
Aturan ini tercipta berdasar keinginan mewujudkan lingkungan rendah emisi di Sumbu Filosofis, kawasan bersejarah warisan Unesco yang meliputi Jalan Malioboro.
Ary jelaskan, kebijakan substitusi dari becak motor ke becak listrik bertujuan melindungi bangunan-bangunan bernilai sejarah di sepanjang Sumbu Filosofis agar tidak hancur perlahan akibat polusi udara dalam seratus tahun ke depan.
DI kawasan itu harus 100% bebas emisi (emission free), kendaraan yang melintas tidak hanya harus dari listrik, tetapi bentuk fisik pun wajib menyerupai becak tradisional demi menjaga kearifan lokal.
Petrus mengaku tidak mudah dalam perancangan ekosistem baru seperti becak listrik ini. Dia menyadari pasti akan ada penolakan dari berbagai pihak.
Dia mengatakan, selain membangun ekosistem di jalan demi tercipta energi bersih, juga ada pembelajaran bagi para siswa di SMK dalam mendapatkan praktik lebih masif dalam membuat produk.
“Tentunya tidak mudah, barang baru pasti banyak resistensi, itu biasalah. Ya, tapi mohon juga dipahami jangka panjangnya, ini bukan sekadar pariwisata, tapi inisiasi membuat teman-teman sekolah vokasi percaya diri.”
Meski begitu, pemberian becak listrik ini juga menyasar beberapa becak kayuh, yang memang tidak meninggalkan emisi.
Pemberian pada pengayuh becak tradisional, kata Ary, untuk mempermudah mereka dalam bekerja, karena mayoritas para pembecak kayuh sudah memasuki usia senja, hingga perlu dorongan dari tenaga listrik bekalista ini.
“Pengayuh becak tradisional itu seneng banget menerima bekalis ini, ya, karena lebih efektif, lebih mudah, lebih ringan.” (Bersambung)

*****
Di Negeri Belanda Kemana-mana Naik Sepeda, Bagaimana di Indonesia?