Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di tengah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan panjang, perpindahan ini memunculkan dugaan bahwa lebah sedang mencari perlindungan setelah lingkungan tempat hidupnya terganggu.
Husni Naparin dan Ismu, pemburu madu liar dari Madu Hutan Kaum, menemukan koloni itu setelah mengikuti arah terbang lebah. Ketika penutup rantai dibuka sedikit, terlihat sarang yang menyimpan banyak madu. Namun, keduanya memilih membiarkannya.
“Kami putuskan tidak memanen. Kita kembalikan lagi kap (rantai) yang terbuka sekira mereka dapat berlindung sehingga koloni yang tersisa dapat memperbanyak diri saat musim hujan nanti.” Naparin menduga panas, asap, dan berkurangnya pakan mendorong perpindahan tersebut. Ia juga menemukan sarang kosong, rusak, serta lebah mati di sejumlah lokasi.
Karhutla dapat memengaruhi lebah melalui beberapa jalur sekaligus.
Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa kebakaran merusak sarang dan tumbuhan berbunga yang menyediakan makanan.
Suhu tinggi dapat menyebabkan kematian, sementara partikel asap berpotensi mencemari cadangan madu. Asap tebal juga dapat mengganggu navigasi karena lebah memanfaatkan pola cahaya terpolarisasi di langit sebagai petunjuk arah. Ketika rumah dan sumber makanan menghilang, koloni terdorong mencari lokasi lain. Meski demikian, penyebab perpindahan koloni di bangkai alat berat tersebut masih berupa dugaan berdasarkan pengamatan lapangan.
Dampaknya dapat menjalar ke tumbuhan dan pangan manusia. Trisnu Satriadi, peneliti lebah dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, mengingatkan pentingnya lebah sebagai penyerbuk. “Salah satu fungsi lebah adalah sebagai polinator, yaitu membantu penyerbukan bunga tanaman. Sehingga apabila tidak ada lebah, proses polinasi akan terjadi dengan lebih lambat,” katanya.
Pada tanaman yang bergantung pada serangga penyerbuk, berkurangnya kunjungan lebah berpotensi menurunkan keberhasilan pembentukan buah dan biji. Jika penurunan populasi berlangsung luas, produksi tanaman pangan, buah-buahan, dan komoditas perkebunan yang membutuhkan penyerbuk dapat ikut terganggu.
Tekanan terhadap habitat belum segera berakhir. Catatan BPBD Kalsel menunjukkan 4.926 kejadian karhutla sepanjang 1 Januari-14 Oktober 2026. Sementara itu, pembaruan BMKG pada 10 Oktober mencatat sejumlah wilayah mengalami lebih dari 100 hari tanpa hujan.
Bagi lebah, berpindah tempat merupakan respons terhadap gangguan habitat dan hilangnya pakan, tetapi tidak menjamin koloni akan kembali. Menurut Trisnu, kepulangan mereka bergantung pada pulihnya lingkungan. Pepohonan, bunga, dan sumber air perlu kembali tersedia agar kawasan yang terbakar dapat menopang kehidupan lebah, sekaligus aktivitas penyerbukan yang dibutuhkan tumbuhan di sekitarnya.
Foto utama: Koloni lebah madu timur (Apis cerana) bersarang di bangkai alat berat yang berkarat. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia.