- El Nino memperburuk krisis petani kakao di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB). Wayan Merte dan Gede Juandra, petani kakao di KLU mengalami penurunan hasil panen akibat kemarau berkepanjangan dan meningkatnya suhu. Juandra mengaku hasil panennya turun hingga 60%, sementara buah kakao banyak menghitam dan terserang jamur. Sebagian petani mulai mengganti kakao dengan mangga dan kelapa melalui pola tumpang sari.
- Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menunjukkan produksi kakao meningkat dari 2.566 ton pada 2020 menjadi 2.717 ton pada 2025. Namun, luas lahan juga bertambah dari 4.733 hektar menjadi 5.006 hektar. Akademisi Universitas Mataram, Indriyatno, menilai kenaikan produksi tersebut tidak mencerminkan perbaikan produktivitas. Di KLU, produksi kakao tercatat turun 100 ton selama 2020–2024.
- Sebagian wilayah Lombok Utara memiliki formasi batuan yang berkemampuan rendah menyimpan air sehingga banyak lahan bergantung pada hujan. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan pada Juli 2026 sangat rendah, sekitar 21–50 milimeter per bulan. BPBD Lombok Utara pun menetapkan status siaga bencana kekeringan sejak awal Agustus. Kekurangan air mengganggu pembungaan, pembentukan buah, dan perkembangan biji kakao.
- El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau dan menunda datangnya musim hujan 2026–2027. Kondisi ini membuat petani harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk menyiram tanaman, tanpa jaminan panen membaik. Di tengah kerugian yang berulang, diversifikasi tanaman menjadi pilihan, tetapi membutuhkan modal baru. Bagi petani seperti Merte, perubahan pola tanam menjadi jalan keluar jika kondisi kekeringan terus berlanjut.
Cuaca di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) begitu terik, tengah September. Menggunakan ember, Wayan Merte berkeliling menyirami pohon kakao di kebun seluas seluas 50 are itu satu per satu.
Sembari itu, buah kakao yang tampak menghitam dia bersihkan. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” kata Marte sambil mengisi ulang air di embernya.
Sudah empat tahun ini Marte dan para petani kakao lain desanya terus merugi. Kakao yang dulu menjadi penopang utama sumber ekonomi warga, tak lagi menghasilkan. Selain harga jual murah, cuaca yang semakin panas juga menjadi musababnya.
Musim kemarau, katanya, menyebabkan cuaca makin panas hingga hasil panen terus turun atau bahkan gagal. Apa boleh buat, sebagian petani memilih mengganti pohon kakao yang sudah tua dengan komoditas lain.
“Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” cerita Marte.
Dulu, katanya, sebelum 2022, sekali panen bisa hasilkan 1-1,5 kuintal. Dalam setahun dia bisa enam kali panen. Harga jual pun relatif mahal bisa mencapai 125.000 per kilogram.
“Dulu sih enak mas. Hasil kebun banyak, harga juga bagus.”
Gede Juandra, mengalami hal serupa. Selama beberapa tahun terakhir ini hasil panen komoditas penghasil cokelat itu terus turun. Cuaca yang tak bersahabat dia duga jadi penyebabnya.
Menurut Juandra, kemarau berkepanjangan mengganggu proses pembuahan. Walhasil buah cokelat jarang dan sedikit. Selain itu, banyak buah yang terkena penyakit jamur buah. “Di daerah kami kan memang kekurangan air, ditambah sekarang gak pernah hujan sejak bulan 5 (Mei) lalu.”
Seperti kebanyakan petani lain, hasil panen Juanda turun hingga 60% ketimbang rata-rata panen sebelumnya.

Produksi menurun
Selama ini, kakao menjadi salah satu produk utama sekaligus menopang kehidupan petani di KLU. Perubahan lingkungan dan cuaca mengubah itu . Data Badan Pusat Statistik (BPS) KLU Lombok Utara menempatkan kakao sebagai salah satu produk utama perkebunan selain kelapa. Di NTB, KLU merupakan penghasil kakao terbesar. Dalam lima tahun terakhir, produksi kakao di NTB menurun.
Merujuk data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, pada 2020 produksi kakao 2.566 ton luas lahan 4.733 hektar, setara 26 kuintal per satu hektar lahan. Pada 2025, produksi kakao meningkat jadi 2.717 ton tetapi luas tanam juga bertambah jadi 5.006 hektar.
Indriyatno, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram mengatakan, dari sisi produktivitas, hasil panen kakao sejatinya tidak membaik. Ada peningkatan produksi, lebih karena luas tanam bertambah.
“Jadi sebenarnya, hasil panennya tidak membaik, hanya karena luas lahannya saja yang bertambah.”
Dengan membandingkan luas tanam yang bertambah, kata Indriyatno, produktivitas per hektar turun dari dari 26 ton menjadi 23 ton. Kondisi yang sama juga terjadi di KLU. Dalam kurun 2020-2024, produksi kakao turun 100 ton.
Merujuk berbagai literatur, katanya, kakao merupakan komoditas perkebunan yang bisa tumbuh maksimal di ketinggian 0–600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Curah hujan tahunan sekitar 1.100–3.000 milimeter serta suhu maksimum sekitar 30–32 derajat celsius.
“Artinya, ketersediaan air, kesuburan tanah, bahan organik, unsur hara, serta pengelolaan kebun turut menentukan pertumbuhan dan hasilnya. Terutama ketika kakao sedang dalam fase pembuahan.”
Dalam riset tentang tanaman kakao di Sulawesi, menemukan bahwa penurunan pasokan air selama periode kekeringan dapat menekan produksi biji kakao. Selain itu, biji kakao juga lebih sensitif terhadap kekeringan.

Karakteristik wilayah
Secara morfologi wilayah KLU didominasi pegunungan, perbukitan dan dataran rendah. Sementara Dalam Peta Geologi Bersistem Indonesia, struktur geologi KLU dominan formasi bebatauan lekopiko yaitu tuf batu apung, breksi lahar dan lava.
“Kemampuan jenis bebatuan ini menyimpan air rendah. Sehingga pas hujan airnya diserap, tapi tidak tersimpan,” kata Fauzal, Analis Ahli Kebencanaan Ahli Pertama pada Bidang Mitigasi, Peringatan Dini, dan Kesiapsiagaan BPBD KLU.
Hal itu yang menjadikan sebagian besar lahan di KLU merupakan lahan tadah hujan dan rentan terhadap kekeringan.
M. Zaldi Rahman, Kepala BPBD KLU mengatakan, untuk memberikan penanganan yang maksimal, BPBD KLU sejak awal Agustus sudah menetapkan status siaga bencana kekeringan. “Itu kita lakukan supaya ada langkah-langkah mitigasi sejak dini,” terang Zaldi.
Catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB menunjukkan curah hujan pada Juli 2026 sangat rendah, kurang dari 21-50 milimeter per bulan. Begitu juga dengan bulan ini.
Dampak dari kondisi itu, bukan hanya kekeringan dan panen tetapi lebih jauh, menggerus penghasilan keluarga, dan menambah kerentanan.
“Dampak akhir dari kekeringan ini, ya pendapatan warga. Apalagi mereka yang menggantungkan hidup dari pertanian dan perkebunan, akan lebih rentan,” tambah Zaldi
Dia katakan, pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur berdampak pada pola hujan di Indonesia. Di wilayah selatan Indonesia, termasuk NTB, fenomena ini dapat memperpanjang musim kering dan mengurangi pasokan air hujan.
Zaldi pun menyebut fenomena El-Nino berlangsung lebih kuat dan berpotensi memperpanjang kekeringan dan menyebabkan musim hujan rentan tahun 2026-2027 datang lebih lambat di banyak wilayah Indonesia. Dampaknya, kemarau berlangsung lebih lama, kelembaban tanah menurun dan kebutuhan air untuk tanaman semakin sulit.
Fauzal menambahkan, pada lahan dengan kemampuan menyimpan airnya terbatas, tanaman lebih rentan kering. Jika suhu meningkat dan air tanah semakin terbatas, tanaman dapat mengalami tekanan fisiologis.
“Kekurangan air dapat mengganggu pembungaan, pembentukan buah muda, dan perkembangan biji. Pohon yang masih tampak hidup pun belum tentu menghasilkan panen yang baik,” jelasnya.

Mengganti tanaman
Bagi Merte dan Juandra, perubahan iklim itu terasa nyata dalam rutinitas sehari-hari mereka. Ketika hujan tidak kunjung turun, mereka harus mencari cara agar pohon tetap hidup. Namun, menyirami tanaman dengan ember tidak sebanding dengan kebutuhan air kebun selama kemarau panjang.
Di tengah kondisi itu, buah kakao yang menghitam dan gagal berkembang menjadi pengingat bahwa risiko iklim dapat langsung mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Jika kekeringan berulang, petani bukan hanya kehilangan hasil panen satu musim, melainkan juga menghadapi ketidakpastian untuk musim berikutnya.
“Kalau kondisinya tidak ada perubahan, ya tidak ada jalan lain selain ganti ke tanaman yang lebih menguntungkan tapi harus siapkan modal lagi,” kata Marte.
*****