Ketika malam turun dan pengamatan dengan mata semakin sulit, suara membuka cara lain untuk menemukan dugong. Di perairan Sangihe, Sulawesi Utara, peneliti memasang perekam bawah air untuk menangkap panggilan mamalia pemakan lamun tersebut.
Dari 707 jam rekaman, mereka mengidentifikasi 117 panggilan yang terbagi menjadi lima jenis vokalisasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan dugong dapat ditelusuri melalui suara, termasuk saat air keruh atau hewan berada di luar jangkauan pandangan pengamat.
Penelitian oleh Yapeka bersama sejumlah lembaga itu menggunakan Passive Acoustic Monitoring (PAM), atau pemantauan akustik pasif. Alat bernama Hydromoth ditempatkan di perairan Desa Batuwingkung dan Desa Likuang pada kedalaman sekitar 2-3 meter atau lebih. Kedua lokasi memiliki padang lamun seluas sekitar 1.652 hektar dengan 11 spesies lamun dan dikenal sebagai lokasi keberadaan dugong.
Hasil analisis mencatat 45 panggilan chirps, dua squeaks, empat pre thrills, 47 thrills, serta 19 barks. Pengelompokan ini membantu peneliti mengenali keragaman suara yang muncul selama perekaman. Namun, mengenali bentuk suara belum berarti seluruh maknanya sudah dipahami.
Bella Riskyta Arinda, periset dugong dari Yapeka, menjelaskan bahwa vokalisasi tertentu dikaitkan dengan perilaku hewan. “Suara-suara ini berhubungan dengan pola perilaku tertentu dari dugong, misalkan barks diasosiasikan dengan warning atau merasa terancam,” katanya.
Suara lain diduga berkaitan dengan interaksi sosial, termasuk bermain atau pemisahan induk dan anak. Dalam rekaman tersebut, panggilan mulai terdeteksi pada sore hari, kemudian aktivitas vokal meningkat dan mencapai puncak pada malam hari. Temuan ini menunjukkan manfaat pemantauan suara untuk melengkapi survei visual.
Memahami keberadaan dan perilaku dugong juga membantu peneliti menelusuri hubungannya dengan padang lamun. Sekar Mira, peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, menjelaskan bahwa aktivitas makan, ekskresi, dan interaksi dugong dengan lamun mempengaruhi aliran karbon di ekosistem pesisir.
Lamun merupakan bagian dari ekosistem karbon biru, yakni penyimpanan karbon di wilayah pesisir dan laut. Penelitiannya menunjukkan bahwa interaksi tersebut berpotensi mempengaruhi dekomposisi serta penyimpanan karbon dalam sedimen.
“Peran dugong dalam ekosistem laut tidak hanya sebagai pemakan lamun, tapi juga sebagai penggerak proses ekologi yang lebih luas. Termasuk, dalam mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Hubungan itu membuat perlindungan dugong erat dengan kelestarian habitatnya. Berkurangnya padang lamun mengancam ketersediaan makanan sekaligus ruang hidup mamalia tersebut. Bella menyebut dugong sebagai “insinyur di padang lamun” karena aktivitasnya membantu membentuk kondisi ekosistem. Pemantauan akustik memberi tambahan informasi tentang kapan dugong hadir dan aktif bersuara, yang dapat mendukung upaya konservasi.
Dengan menggabungkan rekaman suara dan pengamatan lain, peneliti memiliki peluang lebih besar memahami kehidupan dugong serta kaitannya dengan padang lamun yang juga menopang ikan dan penghidupan nelayan sekitar.
Foto utama: Dugong yang berperan penting menjaga ekosistem laut. Foto: Pixabay/dietmaha/Public Domain.