Bersandar pada batang pohon bisa menjadi awal perjumpaan berbahaya dengan Lonomia obliqua. Larva ngengat asal Amerika Selatan ini memiliki tubuh cokelat kehijauan yang membaur dengan kulit pohon, sehingga keberadaannya mudah terlewatkan. Pada permukaan tubuhnya tumbuh duri-duri yang dapat melepaskan bisa ketika bersentuhan dengan kulit. Kontak tidak sengaja dengan ulat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius pada sistem pembekuan darah. Kondisi akibat paparan bisa Lonomia dikenal sebagai lonomisme, dengan dampak yang dalam kasus berat dapat mengancam nyawa.
Bahaya itu bermula ketika duri ulat menembus kulit dan melepaskan bisa ke jaringan tubuh. Ulat tidak perlu mengejar atau menyerang manusia secara aktif untuk menimbulkan cedera. Kebiasaannya berkumpul dalam koloni juga memperbesar risiko paparan, sebab seseorang dapat menyentuh beberapa individu sekaligus saat memegang atau bersandar pada batang pohon. Karena warna tubuhnya menyerupai tempat beristirahatnya, kontak bisa terjadi sebelum orang menyadari keberadaan koloni. Pertahanan tubuh yang membantu ulat menghadapi gangguan tersebut menjadi sumber bahaya ketika bersinggungan dengan aktivitas manusia.
Di dalam bisanya terdapat protein yang memengaruhi rangkaian pembekuan darah, termasuk Lopap dan Losac. Lopap mengaktifkan protrombin, sedangkan Losac mengaktifkan faktor X, dua bagian penting dalam proses pembentukan bekuan. Aktivasi yang tidak terkendali dapat meningkatkan pembentukan trombin dan menguras bahan yang diperlukan untuk pembekuan, termasuk fibrinogen. Akibatnya, mekanisme yang biasanya membantu menghentikan perdarahan justru mengalami gangguan. Kondisi ini disebut koagulopati konsumtif: komponen pembekuan terpakai secara berlebihan sehingga kemampuan tubuh menghentikan perdarahan menurun. Darah tidak sekadar menjadi “encer”, melainkan kehilangan sebagian kemampuan membentuk bekuan secara normal.
Gejala awalnya dapat berupa rasa terbakar pada bagian kulit yang terkena, disertai sakit kepala atau mual. Keluhan yang tampak terbatas di permukaan kulit itu dapat diikuti gangguan yang lebih luas. Pada kasus berat, korban bisa mengalami memar dan perdarahan spontan, termasuk dari gusi, hidung, maupun saluran pencernaan. Perdarahan di dalam otak merupakan salah satu komplikasi yang dapat berakibat fatal. Meski demikian, kontak dengan ulat tidak selalu berakhir pada kondisi terberat; gambaran bahaya tersebut perlu dipahami sebagai kemungkinan komplikasi, bukan akibat yang pasti dialami setiap korban.
Risiko perjumpaan juga berkaitan dengan perubahan lingkungan. Sejumlah literatur mengaitkan meningkatnya kontak manusia dengan Lonomia akibat kehilangan hutan dan perubahan habitat. Ulat ini dapat ditemukan pada pohon buah di kebun serta sekitar permukiman, termasuk alpukat, persik, dan mangga. Kehadirannya di tempat warga bekerja dan beraktivitas memperbesar peluang tersentuh tanpa sengaja. Hubungan antara habitat, perilaku berkelompok, dan pertahanan berbisa itu menunjukkan bahwa persoalan lonomisme melibatkan lebih dari sifat racun seekor ulat: perubahan ruang hidup turut menentukan seberapa sering manusia berhadapan dengannya.
Foto utama: Struktur duri (setae) pada tubuh Lonomia obliqua yang menyimpan kelenjar racun di dasarnya. Duri yang rapuh ini mudah patah saat bersentuhan dengan kulit, menyuntikkan racun hemotoksik yang memicu pendarahan internal. | Foto: Wikimedia Commons/Bernal Saborio.