<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=mardili&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/mardili/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 23 Jun 2026 17:34:59 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 17:34:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23162404/20251020_112835-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129596</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah,  itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/">Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah,  itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Entah apa musabab, belakangan pemandangan itu tak pernah ada lagi. Lantas, kemana perginya kawanan burung yang menjadi ikon Kota Semarang itu? Suparti, pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi tak tahu pasti apa yang menjadi sebab burung-burung itu pergi. Perempuan 50 tahun itu masih ingat, dulu ketika  remaja, kawanan burung itu menjadi pemandangan sehari-hari,  datang, hinggap dan pergi. “Ya itu, sejak pembangunan dan kota makin padat. Lahan sawah semakin berkurang mungkin  pergi,” katanya. Era 1990-an kawanan burung bermarkas di Markas Yonif. Para tentara disana kompak melindungi spesies yang pernah menjadi ikon kota itu dengan melarang  perburuan. Meski tidak tertulis, warga pun mengetahui peraturan itu. Yanto, warga Srondol Kulon  juga teman sepermainan Suparti ikut menimpali. Saat dia masih muda dulu, deretan pohon asam Jawa itu berjajar lebat di sepanjang kanan kiri jalan. Sekarang, hanya tersisa di bagian Markas Yonif saja. “Ya,  burung itu seperti kita manusia, pagi berangkat kerja dan sore pulang. Mereka gitu polanya. Pagi cari makan, senja balik pulang ke markas untuk tidur,” kenangnya. Jika  warga melewati kawasan itu, biasa selalu berkelakar ‘awas dapat rejeki’. Maksudnya  jika lewat area itu sering terkena kotoran burung, termasuk dia  juga pernah mengalami. “Dulu,  naik sepeda dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sagu Simbol Kedaulatan Pangan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 16:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anton Wisuda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23162554/mama-penjual-sagu-di-pasar--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129600</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pangan di Indonesia tidak hanya beras. Indonesia punya sumber bahan makanan sehat dan multiguna yang dikenal luas, yaitu sagu. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, gula, bahkan beras sagu. “Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” jelas Mochamad Hasjim Bintoro, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University, yang dikenal sebagai pakar sagu nasional kepada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/">Sagu Simbol Kedaulatan Pangan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pangan di Indonesia tidak hanya beras. Indonesia punya sumber bahan makanan sehat dan multiguna yang dikenal luas, yaitu sagu. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, gula, bahkan beras sagu. “Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” jelas Mochamad Hasjim Bintoro, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University, yang dikenal sebagai pakar sagu nasional kepada Mongabay Indonesia, Jumat (17/4/26). Menurut Bintoro, banyak keunggulan sagu dibandingkan sumber makanan lain. Sagu mempunyai pati resistence tinggi. Kalori energi yang tidak dipakai, tidak akan disimpan dalam bentuk lemak, melainkan langsung dibuang sekaligus dalam bentuk kotoran, sehingga tidak membuat gemuk. “Sagu juga tidak ditanam seperti tanaman lainnya, karena sangat banyak tumbuh di Indonesia, terutama di Papua dan Maluku.” Sagu merupakan sumber kedaulatan pangan Indonesia yang potensinya dapat dikembangkan. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia. Bintoro menambahkan, Indonesia memiliki 85% lahan sagu dunia yang sebagian besar berada di Papua. Di dalam hutan sagu juga, habitat satwa liar tetap terjaga. “Ini bisa dibandingkan dengan area perkebunan lain atau persawahan, yang bisa menghilangkan satwa liar,” jelasnya lagi. Taufik HIdayat, Kepala Pusat Riset Agroindustri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menuturkan sagu merupakan komoditas lokal Indonesia dengan potensi besar sebagai pangan dan bahan baku industri non-pangan, seperti biomaterial dan farmasi. “Pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri berdaya saing tinggi,” jelasnya, dikutip dari situs BRIN, edisi 31 Mei 2025. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, hingga beras sagu. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia. Dikutip dari Pantau Gambut, sagu memiliki potensi agronomis karena pohonnya dapat tumbuh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaguarundi, Kucing Liar Yang Mirip Berang-berang, Punya 13 Suara Berbeda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 08:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002015/8974533993_01cb18699d_h-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129586</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ratusan spesies kucing liar yang pernah tercatat di muka bumi, jaguarundi adalah salah satu yang paling sulit untuk dikenali, bahkan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan satwa liar. Ia tidak memiliki totol seperti ocelot, tidak memanjat pohon dengan anggun seperti margay, dan tidak terancam punah seperti harimau yang selalu muncul di poster kampanye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/">Jaguarundi, Kucing Liar Yang Mirip Berang-berang, Punya 13 Suara Berbeda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ratusan spesies kucing liar yang pernah tercatat di muka bumi, jaguarundi adalah salah satu yang paling sulit untuk dikenali, bahkan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan satwa liar. Ia tidak memiliki totol seperti ocelot, tidak memanjat pohon dengan anggun seperti margay, dan tidak terancam punah seperti harimau yang selalu muncul di poster kampanye konservasi. Dengan tubuh memanjang, kepala pipih, telinga bulat kecil, dan bulu polos tanpa satu pun tanda, sebagian orang mengatakan ia lebih mirip berang-berang daripada kucing. Dan tidak seperti kebanyakan kucing liar, ia mampu mengeluarkan sedikitnya 13 suara berbeda, mulai dari siulan, kicauan seperti burung, hingga dengkuran, sebuah repertoar vokal yang tidak tertandingi di antara seluruh famili kucing. Jaguarundi (Herpailurus yagouaroundi) juga bukan kerabat jaguar meski namanya terdengar demikian, melainkan lebih dekat dengan puma, dengan garis keturunan yang diperkirakan berpisah 4-7 juta tahun silam. Ia aktif di siang hari, bukan malam, sesuatu yang tidak lazim untuk kucing liar. Dan ia adalah felid kecil yang paling tersebar luas di seluruh belahan bumi barat, dengan distribusi yang hanya kalah dari puma di antara seluruh karnivora Amerika. Lalu mengapa kita hampir tidak tahu apa-apa tentangnya? Punah di AS, Tak Terlihat di Mana-mana Pada 2025, jaguarundi resmi dinyatakan punah di Texas, AS. Individu terakhir yang tercatat di AS adalah seekor jaguarundi yang mati tertabrak kendaraan di dekat Brownsville, Texas, pada 1986. Hampir empat dekade tanpa satu pun penampakan yang terdokumentasi. Para peneliti dari Caesar Kleberg Wildlife Research Institute di Texas A&amp;M University menghabiskan 18 tahun memasang kamera di 685 titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 05:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/03/22064833/jakarta-NIIIIIII-20190305_091848-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129544</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, ekonomi dan bisnis, pencemaran, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiap hari, Junaedi bekerja sebagai penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur. Sapu, topi caping, sarung tangan dan masker kain menjadi bekal hariannya untuk melindungi diri dari debu dan polusi kendaraan yang padat. Dia menjadi satu dari banyak kelompok rentan di Jakarta yang terpapar polusi udara karena pekerjaannya. “Kalau batuk sering, paling minum obat warung,” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/">El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiap hari, Junaedi bekerja sebagai penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur. Sapu, topi caping, sarung tangan dan masker kain menjadi bekal hariannya untuk melindungi diri dari debu dan polusi kendaraan yang padat. Dia menjadi satu dari banyak kelompok rentan di Jakarta yang terpapar polusi udara karena pekerjaannya. “Kalau batuk sering, paling minum obat warung,” kata Junaedi ditemui saat bekerja Sabtu, (9/6/26). Hal yang sama juga dirasakan Yatno, juga petugas pasukan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU)  Jakarta. Dia sering mengalami gangguan pernapasan ketika bekerja harian di jalan sebagai penyapu jalanan. Baik Junaedi dan Yatno, mengatakan, mereka kerap kali merasakan intensitas penyakit batuk saat musim kemarau. Meski begitu, mereka tak pernah memeriksakan penyakitnya, obat warung menjadi andalan. Gaji Yatno, biasa untuk kebutuhan sehari-hari, sementara itu mereka tak pernah mendapatkan akses pemeriksaan rutin soal kesehatannya. Pengendara menggunakan masker sebagai upaya mitigasi agar tidak terpapar polusi. Hingga kini, polusi udara masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di DKI Jakarta. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Junaedi dan Yatno, hanya dua dari jutaan warga Jakarta yang terdampak polusi udara Jakarta. Pencemaran udatra di ibukota negara Indonesia ini seakan jadi keseharian. Udara segar dan aman jadi barang langka bagi warga Jakarta. Perkiraan kemarau panjang atau El-Nino Godzilla tahun ini berisiko membuat kondisi udara Jakarta lebih buruk lagi. Berdasarkan data Stasiun Pemantau Kualitas Udara DKI04 Lubang Buaya, Jakarta Timur menyebutkan, rata-rata indeks kualitas udara PM2.5 pada Sabtu (6/6/26) menyentuh angka 125,25 dengan indikator tidak sehat. Sejak awal Juni, berdasarkan analisa data IQAir di Jakarta, Indonesia masuk dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 03:26:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010316/kawasi-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129578</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Transisi energi global menuju target dekarbonisasi total kerap digadang-gadang sebagai solusi penyelamat krisis iklim. Di balik narasi hijau itu, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, tembaga, dan kobalt menciptakan banyak masalah di lapangan dan mengancam target pembatasan suhu global 1,5 derajat Celcius sesuai Kesepakatan Paris. &#8220;Jadi,  transisi energi dalam implementasinya ternyata tidak benar-benar mentransmisikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/">Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Transisi energi global menuju target dekarbonisasi total kerap digadang-gadang sebagai solusi penyelamat krisis iklim. Di balik narasi hijau itu, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, tembaga, dan kobalt menciptakan banyak masalah di lapangan dan mengancam target pembatasan suhu global 1,5 derajat Celcius sesuai Kesepakatan Paris. &#8220;Jadi,  transisi energi dalam implementasinya ternyata tidak benar-benar mentransmisikan energi,” kata Astuti N. Kilwauw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara dalam peluncuran riset kolaborasi Greenpeace dengan Universitas Teknologi Sydney, Jakarta, Mei lalu. Di sektor nikel misal, menjadi primadona global untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel global melonjak signifikan. Dalam enam tahun ini, pada 2020, produksi nikel global 2,50 juta ton, meningkat menjadi 3,90 juta ton pada 2025. Kelompok Studi Nikel Internasional International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan, produksi meningkat jadi 4,08 juta ton di 2026. Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,9 miliar ton dan logam nikel 62 juta ton, terbesar di dunia. Deposit nikel Indonesia terkonsentrasi di Maluku dan Sulawesi. Narasi pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dalam hilirisasi nikel tak sejalan dengan kenyataan. Alih-alih menjaga bumi dari krisis iklim, pertambangan dan industri nikel justru menyebabkan deforestasi, merusak biodiversitas, memicu bencana ekologis, merampas ruang hidup masyarakat hingga menciptakan kemiskinan struktural. Satu contoh masyarakat Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Tambang dan kawasan industri nikel Harita di pulau ini membuat masyarakat harus hidup dalam jurang ekonomi. Hutan sagu yang menjadi lumbung pangan mereka tergusur sampai laut tercemar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 02:55:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/01/22065750/kaki-kasuari.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129577</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/">Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung yang oleh banyak ahli disebut sebagai yang paling berbahaya di dunia. Tapi ancaman terbesar bagi burung ini bukan datang dari predator. Ia datang dari manusia. Di Australia, populasi kasuari Selatan kini diperkirakan tinggal kurang dari 5.000 individu dan masuk dalam daftar spesies terancam punah. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman telah memecah hutan hujan tropis yang dulunya luas menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Fragmentasi ini menghambat pergerakan kasuari untuk mencari makan dan pasangan, serta memutus konektivitas genetik antar populasi. Jalan raya menjadi ancaman tersendiri. Kasuari dewasa sering tertabrak kendaraan saat menyeberangi jalan yang kini membelah habitat mereka. Anak-anak kasuari yang belum berpengalaman lebih rentan lagi. Anjing domestik dan liar juga kerap menyerang, terutama anakan yang belum mampu mempertahankan diri. Beberapa tahun lalu, seorang pria berusia 75 tahun di Florida meninggal akibat diserang kasuari yang ia pelihara sendiri di propertinya, sebuah pengingat bahwa bahaya itu bekerja dua arah. Ironisnya, di balik reputasinya yang menakutkan, kasuari Selatan adalah salah satu penyebar biji paling penting di hutan hujan. Ia mampu menelan buah berukuran besar dan biji keras tanpa merusaknya, lalu mengeluarkannya bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses yang disebut endozoochory ini membantu regenerasi hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 00:53:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/19152034/Buah-pisang-kena-penyakit-darah-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129576</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. &#8220;Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,&#8221; katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung. Yang tersisa di pasar, harganya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/">Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. &#8220;Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,&#8221; katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung. Yang tersisa di pasar, harganya melonjak. Sebelumnya satu tandan pisang kepok dihargai Rp25.000 hingga Rp35.000 di tingkat petani. Kini bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000. Di Pasar Alok Maumere, pedagang sudah menjual satu tandan hingga Rp150.000 hingga Rp200.000. Ini adalah wabah penyakit darah pisang, dan ia sedang bergerak cepat. Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan betapa cepatnya penyebaran itu. Pada April 2024, serangan baru mencakup 25,62 hektar dari total 1.348 hektar lahan pisang di kabupaten ini. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 366,62 hektar dari total lahan yang kini menyusut menjadi 1.142 hektar. Area yang berhasil dikendalikan hanya 57,46 hektar, atau sekitar 15 persen dari yang terserang. Produksi pisang Sikka sendiri sudah anjlok drastis: dari 823.132 kuintal pada 2020 menjadi hanya 125.892 kuintal pada 2024. Penyebabnya adalah bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang. Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Nusa Nipa Maumere, menjelaskan bahwa bakteri ini memblokir aliran air dan nutrisi di dalam tanaman, memunculkan gejala layu dan pembusukan internal yang tampak seperti darah kehitaman di dalam buah. &#8220;Rsc memblokir aliran air dan nutrisi, sehingga muncul gejala layu dan pembusukan internal,&#8221; ujarnya. Penyebarannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. Bakteri ini tidak hanya menular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jun 2026 12:13:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/22120220/3C_sorgum-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129547</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, nusa tenggara, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut. “Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026). Dia baru menanam sorgum pada Januari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/">Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut. “Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026). Dia baru menanam sorgum pada Januari karena musim hujan terlambat. Untuk tumbuh bagus, satu lubang maksimal ditanam empat benih sorgum dengan jarak tanam 40&#215;20 cm. Penanaman baiknya dilakukan saat hujan turun menerus. Bila setelah dua hari ditanam tidak ada hujan, maka benih sorgum akan dimakan belalang dan semut. Jika ditanam ulang, bulirnya tidak akan besar. “Bila tumbuh empat daun, artinya panen akan berhasil,” ucapnya. Siprianus menanam sorgum sejak 2017, sepulang dari Malaysia. Di lahan itu juga, ditanami jagung dan padi. Pemasukannya saat panen sekitar Rp10 juta. “Uang dari sorgum untuk kebutuhan lainnya, sementara hasil padi dan jagung untuk harian.  Selepas panen, kami mancing untuk penghasilan tambahan,” ucapnya. Siprianus Belawa Kolah sedang penen sorgum di kebunnya di Likotuden, Desa Kawalelo, Flores Timur, NTT. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Bonifasius Soge Kolah, anggota kelompok petani sorgum Likotuden Herin Lela, menyatakan masyarakat mulai menanam sorgum sejak 2015. “Tahun ini, kami menanam agak terlambat,” jelasnya, Selasa (19/5/2026). Luas lahan sorgum di Likotuden sekitar 26 hektar yang dikembangkan 40 petani. Tahun 2025, hasil panen mencapai sekitar 32 ton dan 2026 diprediksi 35-40 ton. Sorgum yang dijual gelondongan tanpa dirontok atau disosoh, dihargai Rp9 ribu per kilogram. “Lahan saya satu hektar lebih. Tahun lalu produksi 1,8 ton,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proses Hukum Lamban, Buruh Sawit Korban Pemerkosaan Lapor Komnas HAM</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jun 2026 04:29:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/22054743/Sawit-perkosa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129531</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, EZ berangkat dari rumah menumpang mobil jemputan perusahaan. Perempuan 19 tahun ini bekerja sebagai buruh harian lepas perkebunan sawit PT Usaha Sawit Unggul (USU) di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Hari itu, Rabu, (12/11/25), berjalan seperti biasa, EZ menyemprot pestisida di areal kerja. Sekitar pukul 10.00 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/">Proses Hukum Lamban, Buruh Sawit Korban Pemerkosaan Lapor Komnas HAM</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, EZ berangkat dari rumah menumpang mobil jemputan perusahaan. Perempuan 19 tahun ini bekerja sebagai buruh harian lepas perkebunan sawit PT Usaha Sawit Unggul (USU) di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Hari itu, Rabu, (12/11/25), berjalan seperti biasa, EZ menyemprot pestisida di areal kerja. Sekitar pukul 10.00 WIB, seseorang datang dari arah belakang. Dia menutup wajah EZ, merebut alat semprot, dan mendorong tubuh EZ hingga jatuh telentang di tanah. Kedua tangan EZ diikat ke belakang. Dalam kondisi tak berdaya, perempuan disabilitas tuli ini diperkosa oleh rekan sesama pekerja kebun sawit. Si pelaku yang mengenakan penutup wajah dan berbaju biru, kabur dengan mengendarai motor. EZ ditemukan rekan kerjanya sedang duduk menangis dengan badan lemas pada saat jam makan siang. Dia lalu dibawa ke rumah. EZ menceritakan pemerkosaan itu kepada ibunya. Para buruh sawit perempuan rentan alami perkosaan ketika sedang bekerja di kebun. Perusahaan harus mempunya ketentuan ketat soal kekerasan terhadap perempuan di tempat kerja ini.  Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia Proses hukum lamban Dua hari pasca peristiwa, korban didampingi Federasi Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (F-Serbundo) melaporkan kasus ke Polres Mandailing Natal. Jhohan Kabera Hasibuan, pendamping hukum korban dari F-Serbundo mengatakan, proses hukum di polres berjalan lambat. “Polisi ini tidak bisa memahami situasi korban. Karena tidak ada saksi dan tidak ada bukti kuat, menurut polisi, mereka tidak bisa mentersangkakan pelaku,” katanya saat konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu, (17/6/26). Dia menegaskan, kasus kekerasan seksual tidak perlu banyak bukti, cukup dengan kesaksian si&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>3 Tahun Penjara, Vonis Hakim untuk Penyelundup Satwa Liar Dilindungi di Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 13:18:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/03100425/Satwa-yang-disita-oleh-tim-gabungan_Foto-Dokumen-Bea-Cukai-Langsa-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129526</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengadilan Negeri Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh memvonis tiga tahun penjara kepada Agussalim, terdakwa penyelundup satwa liar dilindungi, di Aceh Timur, dalam persidangan Rabu (17/6/26). Dalam perkara Nomor 73/Pid.Sus-LH/2026/PN Idi, Dikdik Haryadi, Ketua Majelis Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana mengangkut satwa dilindungi hidup maupun mati. “Perbuatan terdakwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/">3 Tahun Penjara, Vonis Hakim untuk Penyelundup Satwa Liar Dilindungi di Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengadilan Negeri Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh memvonis tiga tahun penjara kepada Agussalim, terdakwa penyelundup satwa liar dilindungi, di Aceh Timur, dalam persidangan Rabu (17/6/26). Dalam perkara Nomor 73/Pid.Sus-LH/2026/PN Idi, Dikdik Haryadi, Ketua Majelis Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana mengangkut satwa dilindungi hidup maupun mati. “Perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pelanggaran UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.” Majelis hakim menjatuhkan pidana penjara dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi terdakwa, barang bukti yang diajukan di persidangan, serta peran dan keuntungan yang diperoleh dalam perkara tersebut. Satwa yang dibawa terdakwa berasal dari Sumatera, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Keragaman jenis satwa menunjukkan adanya indikasi jaringan perdagangan terorganisir yang beroperasi lintas pulau. Barang bukti yang diamankan berupa simpai surili atau lutung sumatera (3 individu), orangutan sumatera betina (1 individu), nuri bayan (4 individu), burung paruh panjang kepala biru metalik (3 individu), enggang papan (5 individu), beo (3 individu), cendrawasih (3 individu), jalak (1 individu), parkit mini (12 individu), parkit jumbo (1 individu), dan parkit (17 individu). Berikutnya, kelelawar albino (4 individu), burung kakatua maluku (4 individu), kakatua jambul kuning (2 individu), Melanesian megapode (2 individu), serta 2 kotak kecil berisi ular, 5 kerangka tengkorak hewan bertaring, serta 30 koli belangkas beku. Agussalim merupakan warga Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, yang terlibat pengangkutan dan pernyelundupan satwa liar dilindungi. Dia ditangkap saat mengemudikan mobil pick up Isuzu Traga di Desa Pante Bayam, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 08:01:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/11/22091752/Pengunjung-memotret-hutan-bambu-di-Desa-Penglipuran-Bangli-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129499</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunita lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu dalam menghadapi bencana bukanlah kebetulan. Selain mampu menyimpan cadangan air hingga sekitar 3.500 liter dalam satu rumpun, sistem perakaran bambu yang rapat juga efektif menahan tanah di sempadan sungai sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor. Cerita bambu dalam menjaga ketersedian air juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan. Dua dekade lalu, sebagian warga desa itu harus membeli air lantaran sumber-sumber air mengering. Hingga pada 2004, warga berinisiatif menanam bambu di kawasan perbukitan dan lahan-lahan kritis. Upaya itu  terus berlanjut hingga membentuk hutan bambu seluas sekitar 100 hektar dengan lebih dari 50 jenis bambu. Setelah lebih 20 tahun, warga mulai merasakan hasilnya. Mata air kembali mengalir dan menyuplai kebutuhan masyarakat, tidak hanya di Desa Sandan  juga wilayah hilir di sekitarnya. Untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu, masyarakat  menerapkan aturan adat atau awig-awig yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Pameran produk olahan bambu di Festival Bambu Samsara, Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia. *** Dalam kehidupan masyarakat Bali, bambu hampir selalu hadir dalam berbagai ritual dan tradisi. Ironisnya, makin sedikit generasi muda yang memahami peran bambu sebagai penjaga sumber air, bahan kerajinan, elemen seni pertunjukan, hingga bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Persoalan inilah yang menjadi salah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 07:56:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233504/Brondolan-sawit-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129525</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelapa sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/">Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang industri dari bawah. Penjelasan resminya adalah keragaman genetik. GAPKI bersama Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit menyebut langkah ini sebagai upaya memperkaya varietas dan mendongkrak produktivitas yang stagnan. Para petani dan organisasi masyarakat sipil tidak meyakini penjelasan itu. Gunawan dari Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjuk akar masalah yang berbeda. Data Kementerian Pertanian Oktober 2025 menunjukkan 40 hingga 70 persen benih sawit yang beredar belum bersertifikat. Benih ilegal dan pengawasan yang lemah itulah yang membuat produktivitas stagnan, bukan kurangnya varietas dari Afrika. &#8220;Jika produktivitas sawit stagnan, persoalannya bukan semata genetika tanaman, melainkan tata kelola yang sejak lama dibiarkan bocor di banyak sisi,&#8221; katanya. Bagi petani kecil, masuknya benih impor bisa mendistorsi harga benih lokal. Perusahaan besar bisa menyesuaikan diri dengan varietas baru, petani kecil tidak punya kemewahan itu. Benih dari Afrika belum terbukti cocok dengan kondisi tanah, iklim, dan penyakit lokal Indonesia. Risiko gagal panen ditanggung petani sendiri. &#8220;Realitasnya adalah petani kecil berada dalam posisi yang lebih rentan,&#8221; kata Gunawan. Marselinus Andri dari SPKS menambahkan bahwa masalah produktivitas sawit jauh lebih kompleks dari sekadar soal bibit. Keterbatasan akses pupuk, realisasi program peremajaan sawit rakyat yang rendah, dan infrastruktur yang tidak memadai adalah hambatan nyata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 05:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/20132109/Foto-bencana-Riyad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129502</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Pertambangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan Kalimantan terus tergerus bisnis yang mengeksploitasi bumi, mulai dari perkebunan sawit, perkebunan kayu, pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur. Akibatnya, bencana dan konflik agraria pun bermunculan. Eskalasinya meningkat setiap tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Regional Kalimantan mencatat, sepanjang satu dekade terakhir, sekitar 33,59% lanskap ekologis wilayah ini mengalami kerusakan. Dengan kehilangan rata-rata 412.790 hektar hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/">Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan Kalimantan terus tergerus bisnis yang mengeksploitasi bumi, mulai dari perkebunan sawit, perkebunan kayu, pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur. Akibatnya, bencana dan konflik agraria pun bermunculan. Eskalasinya meningkat setiap tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Regional Kalimantan mencatat, sepanjang satu dekade terakhir, sekitar 33,59% lanskap ekologis wilayah ini mengalami kerusakan. Dengan kehilangan rata-rata 412.790 hektar hutan tropis setiap tahunnya. Berbagai kebijakan investasi yang memberikan akses besar-besaran ke kawasan hutan menjadi pemicunya. Meliputi 4.110 izin hak guna usaha (HGU) untuk perkebunan terutama  sawit, 1.717 izin pertambangan, dan 330 perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) untuk kebun kayu serta aktivitas pemanfaatan lain. Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi satu wilayah yang laju kehilangan hutan terbesar akibat aktivitas industri. Dari luas wilayah 12,7 juta hektar, 10,740 juta hektar atau 84,36% telah terbebani izin konsesi. “Mencakup PBPH seluas 5,571 juta hektar, IUP pertambangan 4,131 juta hektar, dan perkebunan sawit 1,037 juta hektar,&#8221; kata Yudi Saputra, Deputi Eksekutif Walhi Kaltim, Rabu (10/6/26). Periode 2001-2025, Walhi Kaltim mencatat, deforestasi di provinsi ini mencapai sekitar 5,2 juta hektar. Kehilangan hutan paling masif terjadi di Kutai Timur dengan estimasi 1,4 juta hektar, lalu Kutai Kartanegara 920.000 hektar, Berau 760.000 hektar, Paser 620.000 hektar dan Kutai Barat sekitar 580.000 hektar. Terjadi lompatan kerusakan dua tahun terakhir. Pada 2023, hutan hilang seluas 28.633 hektar, melonjak jadi 44.483 hektar pada 2024–setara 55% hanya dalam satu tahun. Kondisi serupa di Kalimantan Tengah (Kalteng). &#8220;Pada 2025 saja, luas deforestasi di Kalteng mencapai 56.900 hektar,&#8221; kata Janang Firman, Direktur Eksekutif Walhi Kalteng. Temuan Walhi Kalteng pada  2023, dari &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 03:02:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17034035/WhatsApp-Image-2026-06-17-at-5.49.32-AM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129360</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/">Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. Sampah plastik memenuhi akar-akar mangrove di Teluk Youtefa. Warna air pun keruh. Kawasan Teluk Youtefa adalah wilayah adat tiga kampung, yaitu Tobati, Enggros, dan Nafri. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada hutan mangrove sebagai sumber penghidupan. “Sampah sudah banyak di dalam (mangrove). Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” kata Persila Sanyi, perempuan dari Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua saat bertemu di rumahnya pada Kamis (14/5/26). Mama Persila, panggilan akrabnya biasa mencari bahan makanan di hutan mangrove. Seperti kerang (bia), kepiting dan lain-lain. Perempuan 70 tahun itu ingat, dulu hutan mangrove punya air yang bersih dan tempat banyak kerang (bia), ikan, kepiting, udang dan lainnya berkembang biak. Namun ingatannya hilang setelah masifnya pembangunan di hutan mangrove Teluk Youtefa. Tampak bangunan kafe di pinggiran jalan yang berdekatan dengan hutan mangrove Teluk Youtefa di Holtekam Kota Jayapura, Papua pada Kamis (14/5/26). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia Sejak Juni 1978, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.372/Kpts/UM/6/1978, hutan mangrove Teluk Youtefa jadi  Taman Wisata Alam. Selanjutnya pada 1996, status kawasan ini diperkuat melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 714/Kpts/1996 tentang Penetapan Kawasan Teluk Youtefa sebagai Kawasan Konservasi dengan peruntukan sebagai Taman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Bank Tanah di Wilayah Adat Pekurehua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 23:28:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/07083913/petani-DPR-2-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129508</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Masyarakat adat Pekurehua di Poso, Sulawesi Tengah, hadapi persoalan agraria bertubi-tubi. Sebelumnya, mereka bermasalah tanah dengan perkebunan PT Sandabi Indah Lestari di Kecamatan Lore Timur dan Lore Peore. Ketika hak guna perusahaan habis,  persoalan baru muncul, ketika bank tanah hadir melalui skema hak pengelolaan (HPL). Skema itu merupakan turunan dari UU Cipta Kerja melalui [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/">Menyoal Bank Tanah di Wilayah Adat Pekurehua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Masyarakat adat Pekurehua di Poso, Sulawesi Tengah, hadapi persoalan agraria bertubi-tubi. Sebelumnya, mereka bermasalah tanah dengan perkebunan PT Sandabi Indah Lestari di Kecamatan Lore Timur dan Lore Peore. Ketika hak guna perusahaan habis,  persoalan baru muncul, ketika bank tanah hadir melalui skema hak pengelolaan (HPL). Skema itu merupakan turunan dari UU Cipta Kerja melalui Peraturan Pemerintah Nomor 64/2021 tentang Bank Tanah. Sejak awal, sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Kawal Pekurehua menilai,  bank tanah berisiko jadi instrumen negara yang bisa memperpanjang konflik agraria yang sudah berlangsung lama. Dana Prima Tarigan, Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan Walhi Nasional, menegaskan, kehadiran bank tanah yang mengambil lahan eks HGU SIL menunjukkan tidak ada itikad baik negara, dalam menyelesaikan konflik agraria dan memulihkan ruang hidup masyarakat adat yang hilang dampak ekspansi perkebunan monokultur. “Jika,  negara benar-benar berpihak kepada rakyat, maka sudah seharusnya bank tanah dihapus karena hanya akan memperpanjang konflik agraria,” katanya. Negara, katanya,  melalui KATR/BPN harus segera menjalankan reforma agraria bagi komunitas adat di wilayah tersebut serta menjamin pemulihan ruang hidup mereka,” kata Dana. Padahal, wilayah itu merupakan tanah adat sebelum perusahaan maupun bank tanah ada di sana. Masyarakat Adat Pekurehua yang memperjuangkan hak hidupnya berulang kali hadapi tekanan terkait keberadaan bank tanah  ini. Perwakilan perempuan adat Pekurehua dari Desa Watutau mengatakan, tanah mereka manfaatkan untuk menanam sayuran, cabai, dan berbagai kebutuhan pangan lain untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak Mei 2026, dia datang ke Jakarta mewakili perempuan adat Pekurehua dari Tanah Napu, Sulawesi Tengah, untuk memperjuangkan kembali tanah mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 07:12:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17025003/foto-amar-gb-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129354</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketegangan kembali terjadi di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (9/6/26). Kali ini, buntut aktivitas pematokan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat atau Sekolah Merah Putih  di  Simpang Pantai Melayu. Peristiwa bermula ketika warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) memperoleh informasi ada pengukuran dan pemasangan patok di area pembangunan sekolah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/">Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketegangan kembali terjadi di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (9/6/26). Kali ini, buntut aktivitas pematokan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat atau Sekolah Merah Putih  di  Simpang Pantai Melayu. Peristiwa bermula ketika warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) memperoleh informasi ada pengukuran dan pemasangan patok di area pembangunan sekolah, Selasa pagi. Informasi itu juga menyebut ada alat berat dan ratusan personel aparat. Kabar itu pun dengan cepat menyebar ke sejumlah kampung di Rempang. Warga dari berbagai kampung seperti di Sembulang, Sungai Raya, hingga Pantai Melayu  berdatangan ke lokasi dan berkumpul di sekitar Simpang Pantai Melayu. Di sana, sejumlah personel pengamanan dari Ditpam BP Batam dan kepolisian bersiaga di lokasi. Cekcok pun tak terelakkan setelah warga mendapati salah satu patok yang  BP Batam pasang berada di lahan keluarga Gerisman Ahmad, tokoh masyarakat Rempang. “Kami lihat patoknya sudah masuk ke wilayah lahan warga. Karena itu kami datang ramai-ramai,” kata Miswadi,  warga Rempang. Bersama warga lain, dia mempertanyakan pemasangan patok itu. “Jangan sampai lahan warga diambil. Kami menilai BP Batam mencaplok tanah kami,” kata Miswandi,  warga  lokasi kejadian. Kejadian serupa juga pernah terjadi  9 Maret 2026. Keributan terjadi di lokasi  proyek Sekolah Rakyat dengan pemilik lahan. Sopia, pengurus Amar-GB, mengatakan, pengukuran seharusnya melibatkan pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek. “Harusnya saat pengukuran memanggil pemilik lahan yang berbatasan. Izin melalui RT saja tidak ada,” katanya. Kamsiah, Ketua RT Kampung Pantai Melayu, juga ada di lokasi mengaku tak tahu menahu perihal aktivitas pengukuranitu. Dia menyebut apa yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buntut Bencana Sumatera, LBH Padang Surati PBB</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 04:29:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03080821/1-Kayu-yang-memenuhi-sungai-mati-Desa-Geudumbak-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129436</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengirimkan special report kepada Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), awal Juni. Laporan bertajuk “Dismantling State-Engineered Eco-Catastrophes: The Sumatran Citizen Lawsuit (CLS) as Strategic Litigation Against Environmental Governance Failure” itu LBH kirimkan jelang sidang Dewan HAM PBB. Dalam laporannya, LBH Padang menyampaikan fakta lapangan dan analisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/">Buntut Bencana Sumatera, LBH Padang Surati PBB</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengirimkan special report kepada Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), awal Juni. Laporan bertajuk “Dismantling State-Engineered Eco-Catastrophes: The Sumatran Citizen Lawsuit (CLS) as Strategic Litigation Against Environmental Governance Failure” itu LBH kirimkan jelang sidang Dewan HAM PBB. Dalam laporannya, LBH Padang menyampaikan fakta lapangan dan analisis spasial mendalam terkait bencana banjir dan tanah longsor masif yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025. LBH menyebut, bencana yang renggut 1.207 nyawa, 137 orang hilang, dan merusak lebih dari 184.000 rumah itu bukan semata akibat cuaca ekstrem. “Malapetaka ekologis ini adalah buah dari pembiaran terstruktur dan kegagalan tata kelola lingkungan oleh pemerintah (state omission)” tulis LBH dalam laporan yang mereka serahkan awal Juni itu. Habieb Aulia Sufi, Bidang Ruang Hidup dan Gerakan Rakyat LBH Padang menyebut, pemerintah acapkali berlindung di balik narasi cuaca ekstrem dan perubahan iklim global untuk menghindari tanggung jawab hukum atas dampak bencana yang terjadi. Namun, analisis spasial dan data riil dia lakukan membuktikan sebaliknya. “Krisis ini adalah bencana yang diproduksi oleh kebijakan negara yang eksploitatif di wilayah hulu,” katanya. Kehancuran rumah di Aek Parira, Sibolga, Sumatera Utara karena banjir dan longsor. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia. Dokumen yang dia serahkan ke PBB memuat sejumlah bukti ilmiah dan kuantitatif atas tudingannya itu. 1. Deforestasi masif berkedok izin negara. Sejak 1990, Pulau Sumatera telah kehilangan sedikitnya 9.190.618 hektar tutupan hutan alam akibat konversi lahan legal yang direstui oleh otoritas penerbit izin. 2. Monopoli korporasi  sawit. Kerusakan hutan berjalan beriringan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 01:39:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15014547/Anak-siamang-yang-disita-dari-penyeludup-di-Tanjung-Balai-Asahan-Sumatera-Utara-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129230</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rusli, bukan nama sebenarnya,  baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama  sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/">Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rusli, bukan nama sebenarnya,  baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama  sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Bentang hutan tropis terakhir di Asia Tenggara, yang menjadi habitat penting siamang dan orangutan sumatera. Siamang, primata berwarna hitam dengan kantung suara khas di leher, merupakan spesies dilindungi di Indonesia. Populasinya terancam akibat kehilangan habitat dan perburuan liar. Di Leuser dan hutan hujan Sumatera, siamang memiliki peran penting menebar biji dan membantu meregenerasi hutan secara alami. Hilangnya siamang bukan hanya soal berkurangnya satu spesies, tetapi juga ancaman bagi keseimbangan ekosistem. Di tingkat tapak, perburuan yang terjadi, dipicu persoalan ekonomi, minimnya alternatif pekerjaan, serta lemahnya pengawasan. “Kebutuhan hidup bertambah, setelah saya memiliki dua anak. Saat itu, umur saya 30 tahun dan tidak punya pilihan. Bertani terasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya, mengenang awal mula terjerumus perburuan satwa liar, Minggu (10/8/25). Sekitar  2004, Rusli kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Dia merantau ke Kota Langsa dan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk mencari pekerjaan. Namun, keterampilan terbatas membuatnya tersisih dari pasar kerja. “Tidak ada yang mau mempekerjakan. Saya hanya bisa berkebun atau jadi buruh bangunan.” Di Kota Langsa, awalnya dia bekerja sebagai buruh bangunan. Beberapa bulan kemudian, menjadi sopir becak penumpang. “Ternyata, semua tidak cukup untuk kebutuhan rumah.” Dua tahun bekerja tanpa hasil berarti, Rusli&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 01:20:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/10/22023945/zebra-hewan-tunggangan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129483</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha. Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/">Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha. Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal yang sama dengan motivasi yang lebih praktis: zebra tahan terhadap lalat tsetse yang mematikan bagi kuda, sehingga ideal untuk mengangkut beban di wilayah pedalaman Afrika. Mereka menangkap zebra liar, melatihnya untuk menarik gerobak, dan menghadapi kenyataan yang sama: zebra yang agresif, mudah panik, dan tingkat kematian tinggi di penangkaran akibat stres. Proyek itu dihentikan. Dua eksperimen terpisah, dua abad berbeda, satu kesimpulan yang sama. Zebra tidak bisa didomestikasi secara massal. Pertanyaannya bukan lagi apakah sudah cukup dicoba, melainkan mengapa secara biologis hal itu hampir mustahil dilakukan. Jawabannya ada pada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan. Pertama, temperamen. Zebra memiliki insting &#8220;kabur dulu, pikir kemudian&#8221; yang sangat kuat, hasil adaptasi jutaan tahun hidup berdampingan dengan predator di savana Afrika. Penelitian yang membandingkan flight initiation distance antara kuda dan zebra dataran menunjukkan bahwa zebra secara konsisten menjaga jarak lebih jauh dari manusia dan lebih sulit terbiasa dengan kehadiran manusia. Ini adalah hambatan mendasar bahkan sebelum pelatihan dimulai. Kedua, fisiologi. Zebra sangat rentan terhadap capture myopathy, kondisi mematikan yang dipicu oleh stres ekstrem saat hewan ditangkap atau dipindahkan dari lingkungan alaminya. Studi makroevolusi menunjukkan bahwa kerentanan terhadap kondisi ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam domestikasi mamalia berkuku.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Dekade Konflik Agraria Sinar Mas di Jambi, Akankah Ada Penyelesaian?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 23:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19232557/Jalan-yang-diputus-WKS-di-Desa-Bukit-Bakar.dok_.Suwarno.1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129467</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sadili kesal lantaran harus mutar jauh ke Dusun Tanjung Beringin untuk mengeluarkan hasil kebunnya. Bukan karena jalan rusak, banjir atau longsor, tetapi jalan itu sengaja PT Wirakarya Sakti (WKS), putus. Sejak 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &#38; Paper (APP), Sinarmas Grup ini sudah memutus 10 titik jalan di Desa Bukit Bakar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/">Dua Dekade Konflik Agraria Sinar Mas di Jambi, Akankah Ada Penyelesaian?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sadili kesal lantaran harus mutar jauh ke Dusun Tanjung Beringin untuk mengeluarkan hasil kebunnya. Bukan karena jalan rusak, banjir atau longsor, tetapi jalan itu sengaja PT Wirakarya Sakti (WKS), putus. Sejak 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &amp; Paper (APP), Sinarmas Grup ini sudah memutus 10 titik jalan di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Dua titik di RT05, satu di RT06, lima di RT07, dan dua di RT09. Jalan itu merupakan akses penting bagi warga, menuju ke Puskesmas, rumah sakit, sekolah hingga pasar. Sejak itu, lebih dari 830 warga praktis terisolasi. Dampaknya,  harga-harga mulai merayap naik karena kebutuhan pokok sulit masuk. Setidaknya,  66 anak kehilangan akses ke sekolah dan terpaksa pindah. Pemutusan jalan itu tidak hanya mengisolasi warga Bukit Bakar, juga berdampak pada 80-an keluarga di Dusun Tanjung Beringin, Desa Lubuk Mandarsah Ulu, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. “Jalan itu nyambung dari RT08, RT09 Dusun Tanjung Beringin, terus ke Desa Bukit Bakar RT08 dan RT09,” kata Sadili, warga Lubuk Mandarsah Ulu. Pemutusan jalan desa di Desa Bukti Bakar, Jambi. Foto: Suwarno Hasil kebun sulit akses jalan Mereka kesulitan mengeluarkan hasil kebun. Buah sawit menumpuk. Tengkulak tak bisa masuk. Warga terpaksa memutar jauh melewati jalan Dusun Tanjung Beringin menuju jalan poros WKS untuk bisa mengeluarkan sawit. “Tapi jalan itu buruk, kalau musim hujan nggak bisa lewat.” Upah angkut sawit yang dulu Rp200 per kilogram melonjak menjadi Rp300-Rp350 per kilogram. Kenaikan itu datang tepat ketika harga sawit di pasaran sedang anjlok. “Harga sawit turun,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>