Pangan di Indonesia tidak hanya beras. Indonesia punya sumber bahan makanan sehat dan multiguna yang dikenal luas, yaitu sagu. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, gula, bahkan beras sagu.
“Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” jelas Mochamad Hasjim Bintoro, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University, yang dikenal sebagai pakar sagu nasional kepada Mongabay Indonesia, Jumat (17/4/26).
Menurut Bintoro, banyak keunggulan sagu dibandingkan sumber makanan lain. Sagu mempunyai pati resistence tinggi. Kalori energi yang tidak dipakai, tidak akan disimpan dalam bentuk lemak, melainkan langsung dibuang sekaligus dalam bentuk kotoran, sehingga tidak membuat gemuk.
“Sagu juga tidak ditanam seperti tanaman lainnya, karena sangat banyak tumbuh di Indonesia, terutama di Papua dan Maluku.”

Bintoro menambahkan, Indonesia memiliki 85% lahan sagu dunia yang sebagian besar berada di Papua. Di dalam hutan sagu juga, habitat satwa liar tetap terjaga.
“Ini bisa dibandingkan dengan area perkebunan lain atau persawahan, yang bisa menghilangkan satwa liar,” jelasnya lagi.
Taufik HIdayat, Kepala Pusat Riset Agroindustri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menuturkan sagu merupakan komoditas lokal Indonesia dengan potensi besar sebagai pangan dan bahan baku industri non-pangan, seperti biomaterial dan farmasi.
“Pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri berdaya saing tinggi,” jelasnya, dikutip dari situs BRIN, edisi 31 Mei 2025.

Dikutip dari Pantau Gambut, sagu memiliki potensi agronomis karena pohonnya dapat tumbuh di rawa atau gambut. Tumbuhan ini toleran terhadap tanah dengan tingkat keasaman atau pH rendah, dapat dipanen kapan saja jika telah mencapai usia 8-10 tahun, bahkan dapat dipanen terus-menerus tanpa perlu memperbaruinya.
Pemeliharaan yang intensif tidak diperlukan, sehingga budidaya sagu menjadi lebih mudah dan murah, namun tetap menghasilkan sumber pangan berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan karbohidrat masyarakat.
Selain pangan, limbah sagu jika diolah kembali bisa menjadi pakan ternak dan pupuk. Penelitian Rina Novia Yanti dan kolega (2022) di Jurnal Hutan Lestari, menunjukkan sagu juga bisa diubah menjadi biomassa.
“Sumber bahan baku biomassa adalah tanaman sagu (Metroroxylon sp). Sagu merupakan vegetasi yang dapat menghasilkan pati untuk dapat dijadikan sebagai sumber bahan pangan.”
Sudah saatnya sagu dikembangkan, sebagai bentuk kedaulatan pangan Indonesia.
Referensi:
Yanti, R. N., Suarno, E., & Ratnaningsih. A.T (2022). Karakteristik limbah biomassa kulit batang sagu sebagai bahan baku energi alternatif di provinsi Riau. Jurnal Hutan Lestari.
*****


