- Deretan pohon asam Jawa di sekitar Markaks Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 400 Semarang dulu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Namun, entah apa musabab, dalam beberapa tahun belakangan ini, pemandangan itu tak pernah ada lagi.
- Ribuan burung Kuntul di Kecamatan Srondol, Semarang, Jawa Tengah sudah ada sejak era tahun 1980-an. Namun kini mereka sudah bermigrasi. Kawanan burung kuntul di Srondol Semarang ada empat jenis: kuntul besar (Egretta Alba), kuntul perak (Egretta Intermedia), kuntul kecil (Egretta Garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus Ibis).
- Warga Srondol merindukan keberadaan burung kuntul di kawasan Markas Yonif Raider 400 Semarang. Mereka mengenang keberadaan kuntul sambil tersenyum dengan mata berbinar. Banyak cerita unik yang tak bisa dilupakan. Mulai dari dapat ‘rezeki’ berupa kotoran burung hingga cerita larangan berburu yang jika ketahuan mendapat sanksi yang membuat perut mual.
- Margareta Rahayuningsih, Guru Besar Ilmu Biodiversitas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Semarang katakan absennya kuntul dimungkinkan karena area Srondol sudah berubah. Awalnya persawahan dan padang rumput terbuka yang menjadi tempat mencari makan. Namun sudah beralih fungsi menjadi permukiman, real estate, apartemen, pertokoan, perkantoran, dan lainnya.
Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah, itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu.
Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Entah apa musabab, belakangan pemandangan itu tak pernah ada lagi.
Lantas, kemana perginya kawanan burung yang menjadi ikon Kota Semarang itu?
Suparti, pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi tak tahu pasti apa yang menjadi sebab burung-burung itu pergi. Perempuan 50 tahun itu masih ingat, dulu ketika remaja, kawanan burung itu menjadi pemandangan sehari-hari, datang, hinggap dan pergi.
“Ya itu, sejak pembangunan dan kota makin padat. Lahan sawah semakin berkurang mungkin pergi,” katanya.
Era 1990-an kawanan burung bermarkas di Markas Yonif. Para tentara disana kompak melindungi spesies yang pernah menjadi ikon kota itu dengan melarang perburuan. Meski tidak tertulis, warga pun mengetahui peraturan itu.
Yanto, warga Srondol Kulon juga teman sepermainan Suparti ikut menimpali. Saat dia masih muda dulu, deretan pohon asam Jawa itu berjajar lebat di sepanjang kanan kiri jalan. Sekarang, hanya tersisa di bagian Markas Yonif saja.
“Ya, burung itu seperti kita manusia, pagi berangkat kerja dan sore pulang. Mereka gitu polanya. Pagi cari makan, senja balik pulang ke markas untuk tidur,” kenangnya.
Jika warga melewati kawasan itu, biasa selalu berkelakar ‘awas dapat rejeki’. Maksudnya jika lewat area itu sering terkena kotoran burung, termasuk dia juga pernah mengalami.
“Dulu, naik sepeda dapat rejeki kotoran burung. Dulu, saya suka sebel, eh sekarang kok malah kangen ya. Kayak ada yang hilang. Anak zaman sekarang gak akan paham dengan burung itu,” kenang Yanto.
Agung, pembeli juga warga asli Srondol ikut nimbrung. Dia punya cerita tak kalah seru. Dia bilang, burung itu memang dilindungi oleh penghuni Markas Yonif. Tak ada yang berani memburu burung itu.
“Dulu, ada warga yang nembak burung kuntul dan ketahuan. Langsung disuruh makan mentah-mentah. Kapok deh jadi gak ada yang berani nembak,” ujar Agung.
Diam-diam, mereka merindukan kehadiran burung kuntul yang kaya cerita unik . Sayangnya, srondol itu kini hanya tinggal kenangan.

Beragam jenis
Margareta Rahayuningsih, Profesor Bidang Ilmu Biodiversitas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Semarang (UNS) mengatakan, saat ini warga Semarang tidak melihat lagi kawanan itu di Srondol. Memang sesekali terlihat bertengger tetapi hanya 1-2 burung sesaat lalu pergi lagi. Namun, di beberapa lokasi lain, burung kuntul masih bisa ditemui.
Misal, di sekitar Bandara Ahmad Yani Semarang. Berdasarkan catatan risetnya pada 2023, ada sekitar 1.000-an burung. Sedangkan pada 2025 sekitar 700-an. Selain itu kawanan kuntul juga terlihat di kawasan mangrove Tapak, mangrove Kendal, persawahan di Kendal dan sekitar Demak. Jumlahnya cukup banyak.
“Sudah tidak dijumpainya burung kuntul di Srondol kemungkinan karena area di sekitar Srondol yang awalnya persawahan, padang rumput terbuka yang menjadi tempat mencari makan. Saat ini sudah beralih fungsi menjadi permukiman, real estate, apartemen, kampus, mall, pertokoan dan perkantoran dan lainnya,” katanya.
Dia mengatakan, kawanan kuntul srondol Semarang ada empat jenis. Yakni, kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).
“Pola hidupnya saat di Srondol itu menjadikan deretan pohon sebagai ‘tempat tinggal’ karena mereka juga bersarang, beristirahat. Setiap pagi akan pergi mencari makan dan sore hari akan kembali ke Srondol,” katanya.
Berdasarkan informasi masyarakat, kuntul srondol bersarang di seputar Markas Yonif sekitar era 1980-an. Seingatnya, saat dia pindah dari Purwokerto ke Semarang pada 1982, burung kuntul sudah di sana dan jumlahnya banyak.
Penelitian Ummi Nur Azizah dkk berjudul Keanekaragaman Burung Ordo Ciconiiformes di kawasan Konservasi Mangrove Tambaksari Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak menyebut, ada lima spesies anggota Ordo ciconiiformes di seputar Demak pada 2015. Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) menjadi spesies yang mendominasi di lokasi itu . Burung itu memiliki naluri migrasi yang kuat dan mampu beradaptasi pada habitat baru.
Pada 2020, penelitian Amalia Zaida dan Margareta Rahayuningsih berjudul Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis Burung di Kawasan Mangrove Mangunharjo Semarang menemukan peran penting mangrove sebagai habitat berbagai jenis burung di pesisir Semarang. Ada 66 jenis burung dan familia ditemukan di kawasan Mangrove Mangunharjo. Jenis burung yang mendominasi ialah Walet Linci (15,73%) dan Kuntul Kecil (10,61%).
Burung kuntul srondol sangat terkenal hingga menjadi ikon kota Semarang. Hal ini terlihat dari keberadaan ornamen burung kuntul di sejumah taman di beberapa titik kota ini. Tidak hanya itu. Burung ini juga menjadi motif batik Semarangan yang sangat indah.
“Saya teringat ketika mendengar cerita dari saudara-saudara ayah saya kalo melintas di area Srondol siap-siap ‘diteleki manuk kuntul’ (kena kotoran burung). Informasi dari masyarakat jumlahnya sampai ribuan,” katanya.

*****