- Pegunungan Menoreh sejatinya habitat banyak burung. Warga mulai sadar menjaga kawasan tersebut sebagai upaya mengundang burung kembali.
- Hasil sementara pemetaan oleh Kelompok Girimukti, kelompok khusus pelestarian burung di Desa Donorejo, menunjukan habitat burung, khususnya yang sudah menyusut drastis, berada di sekitar mata air atau sendang. Total, ada 5 titik yang teridentifikasi kritis. Terlihat dari kurangnya debit air.
- Upaya serupa juga di desa tetangga Pandanrejo. Penyelamatan mata air jadi medium untuk meningkatkan kesadaran warga akan habitat burung di wilayahnya.
- Warga Desa Purwosari di Kulonprogo bahkan lebih dulu melakukan penyelamatan koridor burung ini sejak 2020. Budaya masyarakat Purwosari dari dulu menitikberatkan keharmonisan dengan lingkungan dan satwa di dalamnya. Terutama dalam pertanian dan perkebunan yang tetap memberikan ruang bagi burung.
Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo.
Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Parman bilang, sikatan cacing di desanya cukup banyak peminatnya karena karakter suaranya yang digemari penghobi burung kicau.
“Peminat paling banyak dari luar daerah, terutama Jogja dan Magelang. Mereka minta warga sini untuk menangkapnya, nanti dijual dengan harga yang cukup mahal juga,” katanya, pertengahan Juni.
Sewaktu masih aktif jadi pemburu burung, dia mengincar burung yang masih anakan yang masih belum bisa terbang. Memeliharanya, lalu jual setelah dewasa.
“Lima tahun lalu sudah susah sekali dapat burung disini, lalu berhenti dan pilih fokus ternak kambing saja.”
Namun, berhenti cari sarang burung untuk mengambil anakan itu ternyata tidak membuat populasi burung di Donorejo pulih. Pasalnya, pemburu dari luar desa justru tambah banyak.
Hal ini memaksa desa memberlakukan pelarangan penangkapan burung dengan model apapun dua tahun terakhir. Kondisi ini sempat membuahkan hasil, burung, terutama sikatan cacing, mulai muncul, walau sedikit.
Untuk membuat upayanya optimal, Parman dan belasan orang lain membentuk Kelompok Girimukti. Mereka mencatat dan memetakan burung Perbukitan Menoreh di desanya.
“Data-data ini jadi bahan kami untuk menyelamatkan koridor burung disini.”
Koridor burung ini penting sebagai jalur dan habitat satwa ini berkembanh biak. Menurutnya, banyak lanskap di desa yang turut berubah seiring waktu.
“Kami juga sadar bahwa burung-burung ini tidak sepenuhnya tinggal di Donorejo, tapi terhubung ke berbagai wilayah sekitar sini terutama Jatimulyo di Kulonprogo.”

Konservasi mata air
Hasil sementara pemetaan oleh Kelompok Girimukti menunjukan habitat burung, khusus yang sudah menyusut drastis, berada di sekitar mata air atau sendang. Total, ada 5 titik yang teridentifikasi kritis. Terlihat dari kurangnya debit air.
“Bahkan ada yang sudah tidak mengeluarkan air lagi, terutama saat musim kemarau ini,” kata Parman.
Menurut dia, mata air yang kritis ini tak hanya berdampak pada kehadiran burung, juga kebutuhan warga akan air. Untuk itu, penyelamatan mata air mereka lakukan sebagai bagian dari membangun koridor burung.
Upaya serupa juga di desa tetangga Pandanrejo. Penyelamatan mata air jadi medium untuk meningkatkan kesadaran warga akan habitat burung di wilayahnya.
Adhita Virya Akmilius Lala, pemuda yang aktif dalam penyelamatan ekosistem burung di Pandanrejo, menyebut, sendang jadi habitat banyak burung. Misal, raja udang, kuntul, cekakak, hingga madu jawa.
“Selain faktor pemburu burung yang meningkat, habitat ternyata setelah kami cek juga banyak yang rusak makanya dilakukan perbaikan.”
Perbaikan koridor burung di Pandanrejo juga dengan pemetaan kawasan hutan di sekeliling desa ini yang hampir seluruhnya dalam kelola Perhutani. Adhita menyebut, area ini habitat elang ular bido, alap-alap, jalak suren, hingga trucuk.
Selama ini, warga berkoordinasi dengan perhutani untuk menjaga habitat di kawasan hutan itu.
“Karena memang bukan kewenangan kami, maka yang bisa dilakukan adalah koordinasi. Kami juga memastikan tegakan pohon yang ada sarangnya dijaga dan dipantau.”
Warga juga memastikan cakupan makanan burung-burung di sana dengan menanam aneka pohon pakan. Mereka menanam pepaya, kersen, hingga mangga untuk burung pemakan buah. Sedangkan burung pemakan nektar bunga dengan aneka jenis tanaman seperti telang, kamboja, hingga kaca piring.
Sedangkan untuk burung pemakan biji, kebanyakan mengambil kopi, sorghum, hingga jagung yang warga tanam.
“Warga percaya kalau burung yang memakan biji, buah, dan lainnya ini tidak mengganggu hasil panen. Justeru dengan adanya burung membantu proses penyerbukan yang ada,” katanya.
Serupa dengan warga Desa Purwosari di Kulonprogo, tetangga Pandanrejo. Mereka bahkan lebih dulu melakukan penyelamatan koridor burung ini sejak 2020.
Tegar Cahaya Putra, inisiator Kelompok Lestari Purwosari yang melakukan upaya penyelamatan habitat burung ini menjelaskan, ekosistem Perbukitan Menoreh sejatinya habitat alami burung.
“Dari lanskap perbukitan ini semuanya tersedia dari dulu, tapi karena perubahan yang ada jadi berangsur tergeser. Kemudian kami memasukan pentingnya habitat ini dalam rencana pembangunan desa.”

Terapkan tumpangsari
Tegar bilang, budaya masyarakat Purwosari dari dulu menitikberatkan keharmonisan dengan lingkungan dan satwa di dalamnya. Terutama dalam pertanian dan perkebunan yang tetap memberikan ruang bagi burung.
Contoh, pada komoditas kopi yang sistemnya tumpangsari. “Bahkan berkat pelestarian burung ini, kopi yang dulu terbengkalai kini jadi hidup lagi budidayanya dan menguntungkan warga,” katanya.
Penelitian UGM menemukan, terdapat tiga pola tanam oleh petani di Perbukitan Menoreh yang menopang komunitas burung di sana. Dari pola-pola itu yang paling menguntungkan burung ialah vegetasi sub kanopi, contoh, kopi.
Tegakan dengan ruang tajuk bertipe vegetasi sub kanopi ini tingginya 4,1 meter-8 meter. Model pertanian dan perkebunan itu menyediakan substrat, seperti ranting, cabang, dan udara yang menjadi daya dukung berbagai jenis burung untuk bergerak, bertengger, berkomunikasi, mencari makan, dan berlindung dari predator.
Kajian Food and Agriculture Organization di Perbukitan Menoreh menunjukkan masa depan burung di sana tidak terpengaruh luas hutan lindung yang tersisa, melainkan dari bentang agroforestri, hutan rakyat, sempadan sungai, dan kantong-kantong hutan yang saling terhubung sebagai satu lanskap.
Keterhubungan antar area ini terutama karena petani di sana tak pernah menggunakan sistem monokultur. Tumpangsari ini menghasilkan habitat yang kompleks, sehingga menunjang komunitas burung di Perbukitan Menoreh bertahan dan berkembang.
Fragmentasi kawasan hutan di Perbukitan Menoreh memang tak terhindarkan. “Tapi setidaknya sekarang ada upaya dari warga untuk membangun koridor burung agar keberagaman dan populasinya tetap terjaga,” kata Tegar.
Tantangan utama merawat koridor burung ini adalah kepemilikan lahan di atas habitat yang kebanyakan pribadi. Untungnya, Yayasan Kanopi Indonesia yang belasan tahun mendampingi warga Perbukitan Menoreh menjelaskan, kondisi teratasi dengan edukasi.
Arif Rudiyanto, Associate Programme Implementation Yayasan Kanopi Indonesia yang turut mendampingi warga dalam menjaga koridor burung menjelaskan, warga Perbukitan Menoreh punya pengetahuan lokal soal menjaga habitat ini.
“Contohnya pemilik lahan bertebing di sana sudah tahu kalau areanya jadi tempat bersarang Sikatan Cacing maka tidak akan memapas bukit.”
Pengetahuan lokal akan fungsi ruang yang warga miliki, menurutnya, sudah ada sejak lama, termasuk pilihan vegetasi yang tepat untuk menjaga habitat burung. Misal, semak bambu untuk cikrak dan bondol jawa.
Modal budaya ini terus warga lestarikan hingga sekarang dan diwariskan ke generasi muda di Perbukitan Menoreh.
“Terpenting lagi memang perlu ada koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga tata ruang wilayah di sana agar tetap memungkinkan agar burung terjaga kelestariannya.”
Sementara pemerintah desa di tiap wilayah Perbukitan Menoreh sudah mempertimbangkan aspek tersebut, terutama saat Musrenbang hingga jadi peraturan.
“Maka mestinya sampai tingkat kabupaten dan provinsi mesti berangkat dari kondisi lokal di desa dan kalurahan.”
Jangan sampai, katanya, ada proyek pembangunan di Perbukitan Menoreh yang merusak habitat burung dan kearifan warganya dalam menjaga ekosistem tersebut. Terutama karena berbagai titik di sana jadi wilayah dengan kerentanan longsor yang cukup tinggi.
“Sehingga upaya ini juga bagian dari mitigasi bencana.”

*****