Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung yang oleh banyak ahli disebut sebagai yang paling berbahaya di dunia.
Tapi ancaman terbesar bagi burung ini bukan datang dari predator. Ia datang dari manusia.
Di Australia, populasi kasuari Selatan kini diperkirakan tinggal kurang dari 5.000 individu dan masuk dalam daftar spesies terancam punah. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman telah memecah hutan hujan tropis yang dulunya luas menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Fragmentasi ini menghambat pergerakan kasuari untuk mencari makan dan pasangan, serta memutus konektivitas genetik antar populasi.
Jalan raya menjadi ancaman tersendiri. Kasuari dewasa sering tertabrak kendaraan saat menyeberangi jalan yang kini membelah habitat mereka. Anak-anak kasuari yang belum berpengalaman lebih rentan lagi. Anjing domestik dan liar juga kerap menyerang, terutama anakan yang belum mampu mempertahankan diri. Beberapa tahun lalu, seorang pria berusia 75 tahun di Florida meninggal akibat diserang kasuari yang ia pelihara sendiri di propertinya, sebuah pengingat bahwa bahaya itu bekerja dua arah.
Ironisnya, di balik reputasinya yang menakutkan, kasuari Selatan adalah salah satu penyebar biji paling penting di hutan hujan. Ia mampu menelan buah berukuran besar dan biji keras tanpa merusaknya, lalu mengeluarkannya bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses yang disebut endozoochory ini membantu regenerasi hutan dan menjaga keragaman genetik tumbuhan. Beberapa penelitian menunjukkan kasuari Selatan menyebarkan biji dari lebih dari 70 spesies tumbuhan, termasuk pohon-pohon besar yang bijinya terlalu besar untuk dimakan hewan lain. Beberapa jenis tumbuhan bahkan tidak bisa berkecambah tanpa terlebih dahulu melewati saluran pencernaan kasuari.
Selain itu, sebagai predator puncak, kasuari membantu mengendalikan populasi serangga, kadal, amfibi, dan mamalia kecil di ekosistem hutan. Kehadirannya adalah indikator kesehatan hutan: ketika kasuari menghilang dari suatu kawasan, itu pertanda ekosistem di sana sudah terganggu.
Perubahan iklim menambah tekanan. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem mengubah ketersediaan makanan dan komposisi vegetasi di habitat kasuari, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.
Pemerintah Australia sudah meluncurkan rencana pemulihan nasional, mencakup pembelian lahan untuk koridor satwa liar, pemasangan rambu lalu lintas, dan edukasi pemilik anjing. Tapi WWF memperkirakan tren kepunahan di Australia akan terus memburuk. Dalam sekitar 335 tahun terakhir, sekitar 100 spesies tumbuhan dan hewan unik di Australia sudah punah.
Burung yang bisa membunuh manusia dengan satu tendangan itu ternyata jauh lebih rentan dari yang terlihat. Dan jika ia punah, hutan hujan yang bergantung padanya akan ikut menanggung akibatnya.