<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=junaidi-hanafiah&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2026 10:00:13 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
				<item>
					<title>Sekiak, Ikan Pelangi Kebanggaan Masyarakat Maybrat Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/sekiak-ikan-pelangi-kebanggaan-masyarakat-maybrat-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/sekiak-ikan-pelangi-kebanggaan-masyarakat-maybrat-papua/#respond</comments>
					<pubDate>08 Nov 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/06033838/Ikan-Pelangi-Boeseman2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=136033</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Separuh tubuhnya kebiruan, separuh lainnya menyala jingga kemerahan. Pertemuan dua warna itu membuat ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani) mudah dikenali di antara ikan hias lainnya. Pola mencolok terutama terlihat pada jantan dewasa, sementara betina memiliki warna lebih sederhana dengan garis gelap membujur di tengah tubuh. Ukurannya biasanya kurang dari sepuluh sentimeter. Meski kini dipelihara pecinta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/sekiak-ikan-pelangi-kebanggaan-masyarakat-maybrat-papua/">Sekiak, Ikan Pelangi Kebanggaan Masyarakat Maybrat Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Separuh tubuhnya kebiruan, separuh lainnya menyala jingga kemerahan. Pertemuan dua warna itu membuat ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani) mudah dikenali di antara ikan hias lainnya. Pola mencolok terutama terlihat pada jantan dewasa, sementara betina memiliki warna lebih sederhana dengan garis gelap membujur di tengah tubuh. Ukurannya biasanya kurang dari sepuluh sentimeter. Meski kini dipelihara pecinta akuarium di berbagai negara, habitat alaminya terbatas di kawasan Danau Ayamaru dan sejumlah danau sekitarnya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Jauh sebelum dikenal dalam perdagangan ikan hias internasional, masyarakat Maybrat telah mengenalnya sebagai sekiak. Nama lokal itu tercatat pada label spesimen yang dikumpulkan Marinus Boeseman pada 1955. Gerald Allen kemudian mendeskripsikan ikan tersebut pada 1980 dan menyematkan nama boesemani sebagai penghormatan kepada Boeseman. Pada 1982, Allen bersama Heiko Bleher mengumpulkan spesimen hidup dari Ayamaru. Ikan-ikan itu kemudian dibawa untuk dikembangbiakkan di luar Papua. Keindahan warnanya membuka perjalanan panjang dari danau asal menuju akuarium di berbagai belahan dunia. Namun, popularitas tersebut pernah membawa tekanan besar bagi populasi liar. Laporan pemerintah Australia pada 2023 mencatat penangkapan intensif di Ayamaru pada pertengahan 1980-an, dengan perkiraan hingga 60.000 ikan jantan diambil setiap bulan. Kini, sebagian besar pasokan perdagangan internasional berasal dari pembiakan komersial, sehingga kebutuhan menangkap ikan langsung dari alam berkurang. Meski demikian, keberadaan di akuarium tidak menggambarkan kondisi populasi asalnya. Penelitian Hidayah dan kolega yang diterbitkan pada 2021 menyebut kelimpahan ikan pelangi boeseman di Danau Ayamaru sangat rendah atau sulit ditemukan. Tekanan terhadap ikan ini juga berasal dari perubahan habitat. Penelitian tersebut menyoroti penangkapan berlebihan, masuknya ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/sekiak-ikan-pelangi-kebanggaan-masyarakat-maybrat-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/sekiak-ikan-pelangi-kebanggaan-masyarakat-maybrat-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rabies Masih Terus Hantui Sumatera Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/08/rabies-masih-terus-hantui-sumatera-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/08/rabies-masih-terus-hantui-sumatera-utara/#respond</comments>
					<pubDate>08 Nov 2026 02:30:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031805/anjing-vaksin-anti-rabies-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=136051</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rabies sempat muncul beberapa kali di Sumatera Utara. September, A, pemuda 18 tahun dan EL, anak 10 tahun, meninggal karena penyakit yang tersebar salah satu lewat gigitan anjing ini. Paruhum, paman A, menyebut anjing menggigit ketika A dalam perjalan ke rumahnya di Medan. Anjing  terlihat gelisah, air liur menetes, serta mata sayu dan kosong. Setiba [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/08/rabies-masih-terus-hantui-sumatera-utara/">Rabies Masih Terus Hantui Sumatera Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rabies sempat muncul beberapa kali di Sumatera Utara. September, A, pemuda 18 tahun dan EL, anak 10 tahun, meninggal karena penyakit yang tersebar salah satu lewat gigitan anjing ini. Paruhum, paman A, menyebut anjing menggigit ketika A dalam perjalan ke rumahnya di Medan. Anjing  terlihat gelisah, air liur menetes, serta mata sayu dan kosong. Setiba di rumah, luka gigitan itu keluarga bersihkan dengan obat merah dan antiseptik. Mereka anggap luka itu sepele sehingga tidak membawa ke rumah sakit. Pengalaman di Tano Batak, Tapanuli Utara, gigitan anjing hal biasa. Obat merah akan membuat luka cepat sembuh. “Itu adalah kesalahan yang kini kami sesali seumur hidup,” ucap Paruhum. Kondisi A terus menurun. Tubuh melemah, dan dalam waktu sekitar 48  jam, dia meninggal dunia. Vaksin anti rabies yang seharusnya bisa menyelamatkannya tidak pernah sampai ke tubuhnya. Tidak lama setelah peristiwa itu, anjing itu mati. Warga sekitar meyakini hewan itu positif rabies. Di Nias Utara, EL meninggal dunia kena gigit anjing yang menyerang betisnya saat melewati jalan dekat sekolahnya. Zega Zebua, kakaknya, menyebut sang adik pulang dengan luka di kaki. Mereka membersihkan lukanya, lalu membawa ke bidan desa untuk mendapat vaksin yang ternyata tidak tersedia. Kondisi serupa di Puskesmas di kecamatan. Mereka kemudian berangkat ke Lotu, Ibu Kota Kabupaten Nias Utara. Mereka harus menempuh 4-5 perjalanan Desa Hiliotalua. Jalannya berkelok dan belum sepenuhnya beraspal. Bagi keluarga itu, perjalanan tersebut bukan hanya soal waktu, tetapi juga beban biaya yang berat. Namun, vaksin anti rabies juga tidak tersedia di sana. Tidak ada pilihan lain, mereka pun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/08/rabies-masih-terus-hantui-sumatera-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/08/rabies-masih-terus-hantui-sumatera-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beruang Madu, Spesies Terkecil di Dunia yang Hidup di Hutan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/beruang-madu-spesies-terkecil-di-dunia-yang-hidup-di-hutan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/beruang-madu-spesies-terkecil-di-dunia-yang-hidup-di-hutan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>08 Nov 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/05092851/Sun-bear-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=136023</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cakarnya membuka sarang lebah, sementara lidah panjangnya membantu menjangkau makanan di dalamnya. Kegemaran mencari madu membuat Helarctos malayanus dikenal sebagai beruang madu. Namun, makanannya jauh lebih beragam. Satwa ini juga menyantap larva lebah dan buah-buahan. Ketika buah ditelan, sebagian bijinya ikut masuk ke saluran pencernaan, lalu keluar bersama kotoran. Dari kebiasaan makan itulah beruang madu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/beruang-madu-spesies-terkecil-di-dunia-yang-hidup-di-hutan-indonesia/">Beruang Madu, Spesies Terkecil di Dunia yang Hidup di Hutan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cakarnya membuka sarang lebah, sementara lidah panjangnya membantu menjangkau makanan di dalamnya. Kegemaran mencari madu membuat Helarctos malayanus dikenal sebagai beruang madu. Namun, makanannya jauh lebih beragam. Satwa ini juga menyantap larva lebah dan buah-buahan. Ketika buah ditelan, sebagian bijinya ikut masuk ke saluran pencernaan, lalu keluar bersama kotoran. Dari kebiasaan makan itulah beruang madu menjalankan peran penting sebagai penyebar biji, membantu tumbuhan berpindah dari pohon induknya ke tempat lain di hutan. Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia. Panjang tubuhnya sekitar 1–1,4 meter, dengan tinggi punggung mencapai 70 sentimeter. Ukurannya tidak mengurangi kekuatannya: kuku panjang dan tajam membantu mencari makanan serta beraktivitas di pepohonan. Corak terang pada dada memberinya nama lain, beruang matahari atau sun bear. Di Indonesia, satwa ini hidup di Sumatera dan Kalimantan. Sebarannya juga mencakup sejumlah negara Asia lainnya. Kehidupannya berkaitan erat dengan hutan yang menyediakan makanan, tempat berlindung, dan pohon untuk beristirahat. Penelitian Khohirul Hidayah dan Fahma Wijayanti yang diterbitkan pada 2019 menelusuri keberadaannya di empat lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat: Tandai-Talao, Gunung Tujuh, Ladeh Panjang, dan Pungut. Lokasi-lokasi tersebut memiliki kondisi berbeda, mulai dari hutan sekunder bertajuk relatif terbuka hingga hutan primer dengan gangguan lebih kecil. Berdasarkan tanda keberadaan yang ditemukan, indeks kelimpahan relatif tertinggi tercatat di Ladeh Panjang, sedangkan terendah di Gunung Tujuh. Hasil ini menggambarkan perbedaan temuan selama penelitian, bukan jumlah pasti beruang madu yang menghuni seluruh kawasan taman nasional. Pepohonan juga menjadi tempat beruang madu beristirahat. Satwa ini mengumpulkan dahan-dahan kecil untuk membuat tempat tidur di atas pohon, biasanya dekat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/beruang-madu-spesies-terkecil-di-dunia-yang-hidup-di-hutan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/beruang-madu-spesies-terkecil-di-dunia-yang-hidup-di-hutan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Korban Kabut Asap Karhutla, Siapa yang Bertanggung Jawab?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/07/korban-kabut-asap-karhutla-siapa-yang-bertanggung-jawab/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/07/korban-kabut-asap-karhutla-siapa-yang-bertanggung-jawab/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 21:38:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13005458/Karhutla-Muara-Jambi-BNPB-6-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135711</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunita lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah Indonesia berdampak buruk bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Jutaan orang terpaksa harus menghirup asap beracun karhutla, pepohonan hangus terlalap api, begitu juga satwanya. Kabut asap bahkan melintas ke beberapa negara sekitar Indonesia. Siapa yang harus bertanggung jawab? Data Greenpeace per 1 Oktober 2026, tercatat sekitar 1.634 titik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/korban-kabut-asap-karhutla-siapa-yang-bertanggung-jawab/">Korban Kabut Asap Karhutla, Siapa yang Bertanggung Jawab?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah Indonesia berdampak buruk bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Jutaan orang terpaksa harus menghirup asap beracun karhutla, pepohonan hangus terlalap api, begitu juga satwanya. Kabut asap bahkan melintas ke beberapa negara sekitar Indonesia. Siapa yang harus bertanggung jawab? Data Greenpeace per 1 Oktober 2026, tercatat sekitar 1.634 titik sumber asap berada di Papua, dengan 1.413 titik  di Papua Selatan. Sejumlah titik terdeteksi di dua kawasan konservasi utama di Kabupaten Merauke, wilayah yang kini menjadi sasaran pengembangan proyek strategis nasional (PSN) berbasis lahan. Secara lebih spesifik, Greenpeace mengidentifikasi 294 titik sumber asap di area persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) Kementerian Pertahanan, tepatnya di sekitar akses jalan sepanjang 135 kilometer yang izinnya diberikan Kementerian Kehutanan. Ratusan titik itu berada di kawasan pengembangan PSN tebu yang terbakar sejak Agustus 2026. “Eksploitasi tanpa batas yang mengorbankan keselamatan warga dan kelestarian ekosistem demi kepentingan komoditas ekspor tidak boleh lagi ditoleransi,” kata  Belgis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace. Menurut dia, pemerintah perlu segera mengevaluasi dan menghentikan ekspansi agroekstraktif di kawasan rawan, meninjau izin konsesi yang terbukti merusak ekosistem gambut, serta menindak tegas korporasi yang terbukti bertanggung jawab atas karhutla sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. “Udara bersih dan keselamatan rakyat adalah hak mutlak yang tidak boleh terus-menerus ditukar demi keuntungan oligarki global,” katanya. Data BMKG mencatat jumlah titik panas jauh lebih besar di Papua Selatan, mencapai 6.702 titik per 11 Oktober 2026. Ribuan hotspot itu tersebar di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, terutama di Kabupaten Boven Digoel, Mappi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/korban-kabut-asap-karhutla-siapa-yang-bertanggung-jawab/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/07/korban-kabut-asap-karhutla-siapa-yang-bertanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Para Pahlawan Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/07/cerita-para-pahlawan-pemadam-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/07/cerita-para-pahlawan-pemadam-kebakaran-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 16:15:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03112150/karhutla-Greenpeace-di-Kubu-Raya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135934</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nurdin, relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) meninggal dunia pasca membantu padamkan kebakaran di belakang Kantor Kecamatan Alalak, Jalan Handil Bhakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala, 21 Oktober. Kejadian ini menambah panjang daftar dampak bencana ulah buruknya tata kelola hutan dan lahan. “Kebakarannya memang parah sekali, asapnya tebal,” kata Iskandar, rekan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/cerita-para-pahlawan-pemadam-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Cerita Para Pahlawan Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nurdin, relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) meninggal dunia pasca membantu padamkan kebakaran di belakang Kantor Kecamatan Alalak, Jalan Handil Bhakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala, 21 Oktober. Kejadian ini menambah panjang daftar dampak bencana ulah buruknya tata kelola hutan dan lahan. “Kebakarannya memang parah sekali, asapnya tebal,” kata Iskandar, rekan Nurdin di lokasi kejadian. Amat, rekan lainnya, bilang, kondisi yang bersangkutan sehat dan tidak ada gejala sakit sebelum berangkat ke lapangan. Namun, kondisinya memburuk usai menghadapi api kebakaran. Di sana, pria 51 tahun itu sempat mendapat bantuan pernafasan menggunakan tabung oksigen portabel sembari menunggu ambulans datang. “Sambil diberi oksigen, tetapi dia tetap bilang sakit dadanya,&#8221; kata Amat. Setelah ambulans datang, Nurdin pun dipindahkan dan langsung mereka bawa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Sepanjang perjalanan, Nurdin teus keluhkan dadanya yang sakit. Beberapa kali dia hilang kesadaran namun bisa kembali. Dia juga sempat mengalami kejang-kejang. &#8220;Dia sempat mencengkeram tangan saya, dia bilang kalau dadanya sakit. Kemudian saya masih berusaha menyadarkannya. Enggak lama setelah itu sampai ke rumah sakit dan dinyatakan tidak selamat.&#8221; Area pemakaman di Kabupaten Barito Kuala tak luput dari kebakaran lahan. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Relawan berguguran Daftar relawan yang menjadi korban karena berjibaku menghadapi karhutla semakin bertambah panjang. Selain Nurdin, tiga relawan meninggal saat bertugas di Kalimantan Tengah (Kalteng), sedangkan enam lainnya gugur dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Selain mengancam keselamatan relawan, asap karhutla juga membahayakan kesehatan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/cerita-para-pahlawan-pemadam-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/07/cerita-para-pahlawan-pemadam-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Saat Sarden Menipis, Penguin Afrika Kehilangan Bekal Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/saat-sarden-menipis-penguin-afrika-kehilangan-bekal-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/saat-sarden-menipis-penguin-afrika-kehilangan-bekal-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 10:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/24073957/Penguin-Afrika-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=136010</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi penguin afrika (Spheniscus demersus), mengganti bulu berarti menjalani masa puasa di darat. Selama proses itu, mereka tidak dapat berburu di laut dan harus mengandalkan cadangan energi dalam tubuh. Karena itulah, mendapatkan cukup makanan sebelum pergantian bulu menjadi penentu keselamatan. Namun, ketika sarden semakin sulit ditemukan, sebagian penguin memasuki fase tersebut tanpa bekal memadai. Penelitian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/saat-sarden-menipis-penguin-afrika-kehilangan-bekal-hidup/">Saat Sarden Menipis, Penguin Afrika Kehilangan Bekal Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi penguin afrika (Spheniscus demersus), mengganti bulu berarti menjalani masa puasa di darat. Selama proses itu, mereka tidak dapat berburu di laut dan harus mengandalkan cadangan energi dalam tubuh. Karena itulah, mendapatkan cukup makanan sebelum pergantian bulu menjadi penentu keselamatan. Namun, ketika sarden semakin sulit ditemukan, sebagian penguin memasuki fase tersebut tanpa bekal memadai. Penelitian Richard Sherley dari Universitas Exeter, Inggris, bersama kolega memperkirakan sekitar 62.000 penguin afrika dewasa mati sepanjang 2004-2011 di wilayah yang mereka kaji, berkaitan dengan kelangkaan makanan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ostrich pada 2025 itu menyoroti hubungan antara ketersediaan mangsa dan kemampuan penguin melewati pergantian bulu tahunan. “Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelas Sherley. Penurunan sarden terjadi di tengah tekanan penangkapan ikan serta perubahan kondisi lingkungan. Bagi penguin, persoalannya menjadi berlapis: makanan berkurang, sementara sumber daya yang tersisa juga dimanfaatkan armada perikanan. Tubuh yang kekurangan cadangan energi semakin sulit bertahan selama mereka harus menetap di daratan. Penguin afrika (Spheniscus demersus) menghuni pesisir Namibia dan Afrika Selatan. Burung yang tidak dapat terbang ini mencari makan di laut dan kembali ke daratan untuk berkembang biak maupun berganti bulu. Mangsanya mencakup sarden, ikan teri, serta hewan laut lain seperti cumi-cumi. Ketergantungan terhadap makanan di perairan sekitar membuat pengelolaan perikanan menjadi bagian penting perlindungannya. Sherley menekankan perlunya mengurangi eksploitasi ketika biomassa sarden rendah, sehingga ikan dewasa memiliki kesempatan bereproduksi. Dalam penilaian konservasi yang dirujuk, penguin afrika telah masuk kategori Kritis atau Critically Endangered. Adriani Sunuddin, ahli ekologi laut IPB University,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/saat-sarden-menipis-penguin-afrika-kehilangan-bekal-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/saat-sarden-menipis-penguin-afrika-kehilangan-bekal-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Raja Buah dari Bengkulu yang Belum Banyak Dikenal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/raja-buah-dari-bengkulu-yang-belum-banyak-dikenal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/raja-buah-dari-bengkulu-yang-belum-banyak-dikenal/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 03:35:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030455/Durian-salah-satu-varietas-durian-lokal-Bengkulu.-Foto-BPTP-Balitbangtan-Bengkulu.-550x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=136043</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, hutan indonesia, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Durian dikenal sebagai “raja buah” karena aroma, rasa, dan nilai ekonominya. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat keragaman varietas lokal yang belum banyak dikenal. Setiap daerah dapat memiliki durian dengan karakter berbeda, mulai dari warna, ketebalan daging, ukuran biji, hingga tingkat kemanisannya. Salah satunya adalah Durian Bentara dari Bengkulu Utara. Nama Bentara merupakan singkatan dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/raja-buah-dari-bengkulu-yang-belum-banyak-dikenal/">Raja Buah dari Bengkulu yang Belum Banyak Dikenal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Durian dikenal sebagai “raja buah” karena aroma, rasa, dan nilai ekonominya. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat keragaman varietas lokal yang belum banyak dikenal. Setiap daerah dapat memiliki durian dengan karakter berbeda, mulai dari warna, ketebalan daging, ukuran biji, hingga tingkat kemanisannya. Salah satunya adalah Durian Bentara dari Bengkulu Utara. Nama Bentara merupakan singkatan dari Bengkulu Utara, daerah asal pohon induknya. Sebelum ditetapkan sebagai varietas unggul nasional, durian ini dikenal sebagai durian tembaga lokal Batu Layang karena warna dagingnya yang kuning menyerupai tembaga. Pada 2005, Kementerian Pertanian melepas Durian Bentara sebagai varietas unggul nasional. Durian Bentara memiliki daging tebal, kulit relatif tipis, aroma harum, serta rasa manis dan legit. Namun, ketersediaannya masih terbatas. Pohon penghasil Durian Bentara belum banyak, sementara bibitnya perlu dikembangkan melalui okulasi agar mempertahankan sifat unggul pohon induk. Meski demikian, durian tetap dipengaruhi perubahan iklim. Hujan berkepanjangan, kemarau terlalu lama, dan angin kencang dapat mengganggu pertumbuhan serta pembuahan. Kondisi ini memperlihatkan hubungan timbal balik: pohon durian dapat berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, tetapi keberlangsungannya juga bergantung pada kestabilan iklim. Mongabay Indonesia membahasnya bersama Gunggung Senoaji, dosen kehutanan Universitas Bengkulu dalam sebuah percakapan dalam mengulas keunggulan Durian Bentara, teknik budidaya, manfaat ekonomi dan ekologis, serta tantangan menjaga varietas durian lokal di tengah perubahan iklim. The post Raja Buah dari Bengkulu yang Belum Banyak Dikenal appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/raja-buah-dari-bengkulu-yang-belum-banyak-dikenal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/raja-buah-dari-bengkulu-yang-belum-banyak-dikenal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kesempatan Kedua Orangutan Sumatera Hidup Liar di Hutan Jantho</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kesempatan-kedua-orangutan-sumatera-hidup-liar-di-hutan-jantho/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kesempatan-kedua-orangutan-sumatera-hidup-liar-di-hutan-jantho/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 00:30:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/05084244/7-Satu-orangutan-betina-yang-sedang-belajar-hidup-liar-di-hutan-Cagar-Alam-Jantho-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=136007</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi orangutan yang lama dipelihara manusia, hutan bukan tempat yang langsung terasa akrab. Mereka harus mengenali buah yang bisa dimakan, berpindah melalui pepohonan, dan membangun sarang untuk tidur. Semua itu perlu dilakukan tanpa bergantung pada manusia. Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, proses tersebut dijalani Bombom, orangutan sumatera jantan yang diselamatkan di Babahrot, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kesempatan-kedua-orangutan-sumatera-hidup-liar-di-hutan-jantho/">Kesempatan Kedua Orangutan Sumatera Hidup Liar di Hutan Jantho</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi orangutan yang lama dipelihara manusia, hutan bukan tempat yang langsung terasa akrab. Mereka harus mengenali buah yang bisa dimakan, berpindah melalui pepohonan, dan membangun sarang untuk tidur. Semua itu perlu dilakukan tanpa bergantung pada manusia. Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, proses tersebut dijalani Bombom, orangutan sumatera jantan yang diselamatkan di Babahrot, Aceh Barat Daya, pada 2019. Setelah rehabilitasi di Sumatera Utara, ia dipindahkan ke Jantho pada pertengahan 2026 untuk berlatih sebelum dilepasliarkan. Tim menggunakan pendekatan soft release, yang memberi kesempatan kepada orangutan beradaptasi secara bertahap sebelum hidup mandiri. Menurut Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, kemampuan setiap individu berbeda. Ada yang masih kembali ke stasiun atau mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujarnya. Pengalaman itu membuat pemantauan setelah pelepasliaran penting. Memindahkan orangutan ke hutan belum berarti ketergantungannya pada manusia langsung berakhir. Kesiapan pelepasliaran mencakup kesehatan, berat badan, usia, keterampilan, dan perilaku. Citrakasih M. Nente dari Yayasan Ekosistem Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme menjelaskan bahwa orangutan juga membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi lingkungan hutan. Individu yang belum siap melanjutkan adaptasi di hutan pra-pelepasliaran. Jantho dipilih berdasarkan survei karena memiliki sumber air, tumbuhan pakan seperti Ficus, serta keterhubungan dengan hutan Ulu Masen. Empat orangutan pertama dilepasliarkan pada 28 Maret 2011. Hingga September 2026, jumlah pelepasliaran tercatat 186 individu, terdiri atas 146 orangutan hasil rehabilitasi dan 40 orangutan liar yang ditranslokasi karena habitat asalnya rusak. Pada 2017, tim menemukan Marconi, salah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kesempatan-kedua-orangutan-sumatera-hidup-liar-di-hutan-jantho/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kesempatan-kedua-orangutan-sumatera-hidup-liar-di-hutan-jantho/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Membedakan Welang dan Weling, Ular Belang Berbisa Kuat yang Sama-Sama Pemangsa Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/07/membedakan-welang-dan-weling-ular-belang-berbisa-kuat-yang-sama-sama-pemangsa-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/07/membedakan-welang-dan-weling-ular-belang-berbisa-kuat-yang-sama-sama-pemangsa-ular/#respond</comments>
					<pubDate>07 Nov 2026 00:16:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/07001622/bungarus-candidus-w-1500-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=136037</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia dihuni ratusan jenis ular, dan sebagian di antaranya berbisa kuat. Kobra dan krait termasuk kelompok ular berbisa yang bisanya menyerang sistem saraf, sehingga gigitan yang parah dapat menyebabkan kelumpuhan otot dan gagal napas. Tingkat bahaya dan cara penanganan gigitan berbeda dari satu spesies ke spesies lain, misalnya dalam hal efektivitas antivenom. Karena itu, mengenali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/membedakan-welang-dan-weling-ular-belang-berbisa-kuat-yang-sama-sama-pemangsa-ular/">Membedakan Welang dan Weling, Ular Belang Berbisa Kuat yang Sama-Sama Pemangsa Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia dihuni ratusan jenis ular, dan sebagian di antaranya berbisa kuat. Kobra dan krait termasuk kelompok ular berbisa yang bisanya menyerang sistem saraf, sehingga gigitan yang parah dapat menyebabkan kelumpuhan otot dan gagal napas. Tingkat bahaya dan cara penanganan gigitan berbeda dari satu spesies ke spesies lain, misalnya dalam hal efektivitas antivenom. Karena itu, mengenali spesies ular yang ditemui menjadi langkah awal yang penting bagi warga maupun tenaga kesehatan. Di Pulau Jawa, genus krait Bungarus diketahui memiliki tiga spesies. Dua di antaranya, welang (Bungarus fasciatus) dan weling (Bungarus candidus), umum dijumpai di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua ular ini sama-sama berbelang dan berbisa kuat, sehingga warga kerap menganggapnya satu jenis dengan dua nama. Catatan ilmiah juga mendokumentasikan kebiasaan keduanya memangsa ular lain. Tulisan ini membahas ciri yang membedakan welang dan weling, apa saja mangsanya, serta bagaimana warga sebaiknya bersikap saat berpapasan dengan keduanya. Ciri Pembeda Welang dan Weling Dalam bahasa Inggris, genus Bungarus dikenal sebagai krait. Welang disebut banded krait, sedangkan weling disebut Malayan krait atau blue krait. Welang tersebar di Asia bagian selatan dan tenggara, termasuk Indonesia. Di Jawa, ular ini paling banyak dijumpai di dataran rendah sekitar rawa, sawah, dan sungai dekat permukiman, dan jarang ditemukan di pegunungan. Karena itu, welang yang ditemukan di Kaliurang, lereng selatan Gunung Merapi, pada 2012 dicatat sebagai temuan baru untuk genus ini di kawasan tersebut. Ular welang (Bungarus fasciatus) yang berbisa tinggi sekaligus predator alami ular. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia Weling tercatat di Kamboja, Laos, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, yakni di Sumatera,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/07/membedakan-welang-dan-weling-ular-belang-berbisa-kuat-yang-sama-sama-pemangsa-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/07/membedakan-welang-dan-weling-ular-belang-berbisa-kuat-yang-sama-sama-pemangsa-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02060158/5-Pemadaman-Api-Kebakaran-Hutan-dan-Lahan-Karhutla-Kawasan-Tempat-Pembuangan-Akhir-TPA-Kelurahan-Takome-Ternate-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/">Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya. Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas. Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak. Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak. Kepala BPBD Maluku Utara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/karhutla-maluku-utara-membakar-sumber-pangan-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 05:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zulkifli Mangkau]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/06012623/Foto-6-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135994</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Devianti Sesa, perempuan adat Suku Nafswa, Papua Barat Daya, begitu bersemangat keluar-masuk hutan adat yang masih terjaga dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan adalah sumber penghidupan baginya dan warga Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Dia tidak merasa khawatir saat berada di dalam hutan, dengan bebas melanglang buana di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/">Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Devianti Sesa, perempuan adat Suku Nafswa, Papua Barat Daya, begitu bersemangat keluar-masuk hutan adat yang masih terjaga dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan adalah sumber penghidupan baginya dan warga Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Dia tidak merasa khawatir saat berada di dalam hutan, dengan bebas melanglang buana di sana dan manfaatkan semua yang ada untuk menunjang sumber penghidupan. Obat-obatan alami pun dan sumber pangan bisa dia dapatkan dari tanaman yang tumbuh di hutan adatnya. “Tidak perlu keluar uang banyak, asal hutan masih ada, semua kebutuhan hidup bisa terpenuhi,” ucapnya kepada Mongabay. Selain aktif berkegiatan di kebun, perempuan 37 tahun ini juga rajin membuat noken. Kebutuhan bahan baku kerajinan itu dia dapat dari hutan. Memanfaatkan pohon-pohon melinjo atau genemo yang tumbuh alami di wilayah adatnya. Kerajinan menganyam noken sudah menjadi tradisi dan budaya bagi Orang Papua. Devi, sapaan akrabnya, bilang, noken melambangkan kehidupan. Ia memiliki banyak fungsi, untuk mengangkut hasil kebun dan hasil hutan. Dalam pernikahan, noken seringkali jadi syarat utama. Tidak boleh sembarangan pakai yang berbahan plastik atau tali yang terjual di pasaran. Harus dari hutan (kulit kayu). “Sudah jadi ketentuan adat seperti itu. Noken bagi kami adalah lambang budaya dan tradisi adat. Dan juga noken ini erat hubungannya dengan hutan. Semua sumber utama noken berasal dari hutan adat yang kami jaga.” Namun, tantangan mulai muncul. Baginya, generasi muda kurang meminati tradisi membuat noken dan tidak ada lagi yang mau melanjutkan dari generasi berikutnya. Jika ini terjadi, pikirnya, budaya asli Orang Papua dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/komunitas-mama-noken-jaga-budaya-dan-ekonomi-kampung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 03:44:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/06033614/Ikan-Pelangi-Boeseman1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=136013</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepala dan bagian depan tubuhnya abu-abu kebiruan. Kadang hampir kehitaman, dengan sirip dan bagian belakang tubuh sebagian besar berwarna merah jingga. Di belakang sirip dada, terdapat garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Ukuran tubuhnya dapat mencapai maksimum 12 cm, tetapi biasanya kurang dari 10 cm. Itulah penampakan ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani). Di dunia, ikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/">Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepala dan bagian depan tubuhnya abu-abu kebiruan. Kadang hampir kehitaman, dengan sirip dan bagian belakang tubuh sebagian besar berwarna merah jingga. Di belakang sirip dada, terdapat garis vertikal terang dan gelap selang-seling. Ukuran tubuhnya dapat mencapai maksimum 12 cm, tetapi biasanya kurang dari 10 cm. Itulah penampakan ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani). Di dunia, ikan ini hanya tercatat di sebuah tempat kecil Pulau Papua, tepatnya di Danau Ayamaru, Kabupaten Maybrat, serta beberapa danau di sekitarnya seperti Aitinjo (Aitinyo) dan Uter, Papua Barat Daya. Ikan ini baru dideskripsikan tahun 1980 oleh ilmuwan Gerald Allen dari spesimen yang dikumpulkan ahli ikan Belanda, Marinus Boeseman, pada Maret 1955 di sekitar Ayamaru. Nama boesemani kemudian disematkan sebagai penghormatan untuk sang kurator ikan tersebut, Marinus Boeseman. Meski demikian, pada label spesimen 1955 itu tercatat nama lokal bagi orang-orang Maybrat untuk ikan ini: sekiak. Secara umum, namanya sering disebut ikan pelangi boeseman dan memiliki ciri fisik unik serta punya perbedaan seksual (dimorfisme seksual) yang sangat jelas antara jantan dan betina. Sang jantan sangat mencolok dengan warna abu-abu kebiruan terang (kadang hampir kehitaman) pada kepala hingga setengah tubuh bagian depan, serta warna oranye-merah terang pada setengah tubuh bagian belakang dan sirip-siripnya. Sementara betina, memiliki garis membujur gelap yang lebar di tengah tubuh, diiringi deretan garis-garis longitudinal sempit berwarna kuning atau oranye-kemerahan. Betina tua kadang menunjukkan warna mirip jantan subordinat. Keunikan paling menonjol yang membuat ikan pelangi boeseman populer di kalangan pencinta ikan hias global karena disebut memiliki pola warna &#8220;separuh-separuh&#8221; (Half-and-half colouration), yakni warna ikan jantan matang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/pelangi-boeseman-ikan-endemik-papua-yang-tubuhnya-terbelah-dua-warna/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 02:41:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/05154213/Warga-tolak-eksplorasi-LTJ-di-Mamuju-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135980</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ardi Basir terperangah saat ekskavator menarik mesin bor PT Perusahaan Mineral Nasional  (Perminas)  masuk ke Dusun Palada, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) awal September 2026. Apalagi, alat berat itu juga membuka lahan berukuran sekitar 10&#215;10 meter untuk setiap titik bor yang jaraknya hanya 50 meter satu sama lain. Basir sadar bahwa ruang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/">Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ardi Basir terperangah saat ekskavator menarik mesin bor PT Perusahaan Mineral Nasional  (Perminas)  masuk ke Dusun Palada, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) awal September 2026. Apalagi, alat berat itu juga membuka lahan berukuran sekitar 10&#215;10 meter untuk setiap titik bor yang jaraknya hanya 50 meter satu sama lain. Basir sadar bahwa ruang hidup mereka sedang terancam kehancuran. “Otomatis lahan itu sudah hancur dengan limbah-limbah mesin, baik dari mesin pembor maupun ekskavator,” ujar Basyir, yang merupakan Koordinator Lingkar Aksi Warga Tapalang, organisasi warga yang menolak aktivitas eksplorasi logam tanah jarang  oleh Perminas. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pada 2024, polusi dan limbah dari pengeboran berdampak langsung pada tanaman warga. Pohon  cengkih dan durian  warga mati tak lama setelah pengeboran itu. Kecamatan Tapalang,  berada di ketinggian sekitar 200 mdpl merupakan  wilayah penghasil durian jenis montong di Sulbar. Warga rata-rata memiliki lahan sedikitnya setengah hektar,  berisi 40 pohon durian dengan jarak tanam sekitar 5&#215;10 meter. Satu pohon durian produktif menghasilkan nilai ekonomi Rp5.000.000 per tahun, dengan satu siklus berbuah  dua kali dalam satu tahun. Di sela-sela itu, warga juga memanfaatkan dengan menanam cengkih dan kakao. Kekhawatiran  meluasnya dampak itu pula yang membuat Basir dan warga lain menolak rencana perusahaan meneruskan rencananya. “Kami juga tidak mau kalau kebun (kami) digantikan dengan tambang. Karena memang itu ruang hidup kami,” ujar Basir. Menurut dia, tanah bukan sekadar benda yang dapat dihitung berdasarkan kandungan mineral di dalamnya. Tanah adalah ruang hidup yang memiliki nilai ekonomi, sosial budaya, dan ekologis. Akhir September, warga Takandeang menggelar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/06/tambang-logam-tanah-jarang-resahkan-warga-mamuju/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Nov 2026 00:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03051309/Dewi-sedang-menyelesaikan-tenun-Pandai-Sikek-motif-Saga-Merah-Novia-Harlina-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135914</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/">Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing. Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak. Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap. Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan. Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/jalur-tol-di-tanah-pusako-warga-pandai-sikek-resah-lahan-pertanian-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 23:55:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana dan Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/11/Sawit-Rendy-1.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135987</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing!” teriak massa dari koalisi masyarakat sipil di tengah hadangan petugas keamanan di depan ruangan Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di PIK 2, Tangerang, Selasa, (3/11/26). Belasan orang aktivis dari Walhi dan TuK Indonesia datang sekitar pukul 10.30 WIB, mendesak RSPO bertanggung jawab atas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/">Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing! RSPO is greenwashing!” teriak massa dari koalisi masyarakat sipil di tengah hadangan petugas keamanan di depan ruangan Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di PIK 2, Tangerang, Selasa, (3/11/26). Belasan orang aktivis dari Walhi dan TuK Indonesia datang sekitar pukul 10.30 WIB, mendesak RSPO bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Sebagai lembaga sertifikasi berlabel keberlanjutan, mereka nilai RSPO hanya jadi wadah kamuflase menutupi dosa ekologi korporasi perkebunan sawit alias greenwashing. Poster-poster tuntutan dan sindiran terhadap RSPO massa bentangkan. Mereka menuntut RSPO tidak sekedar menjadi penonton saat hutan dan lahan Indonesia terbakar. Pemicu api juga terdeteksi ada bersumber dari konsesi perkebunan sawit sertifikasi RSPO. Kedatangan mereka langsung disambut petugas keamanan yang mencoba menghentikan aksi. Dorong-dorongan antara kedua belah pun tak terhindarkan, namun, massa tetap lantang bersuara dan mengangkat poster. Tak lama kemudian, koalisi masyarakat sipil terpaksa mundur meninggalkan lokasi karena terus mendapat tekanan. Abdul Haris,  Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia mengatakan, RSPO tidak pernah serius menyelesaikan masalah lingkungan dan sosial anggotanya lakukan. Aksi di luar gedung pertemuan RSPO di PIK 2, 4 November 2016. Puluhan massa koalisi masyarakat sipil dari Satya Bumi, Transnational Palm Oil Labour Solidarity (TPOLS), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Lingkaran Advokasi dan Riset (LinkAR) Borneo turut bersolidaritas.Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Mekanisme penanganan keluhan RSPO sangat lambat dan cenderung berbelit-belit, hingga terkesan lebih berpihak pada citra korporasi ketimbang pemulihan lingkungan dan hak masyarakat terdampak. “Kami disini berteriak untuk menyampaikan kepada kawan-kawan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/masyarakat-sipil-desak-rspo-dari-soal-tanggung-jawab-karhutla-sampai-keterancaman-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 10:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074346/Babi-berjanggut-733x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/">Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, atau keputihan. Tubuhnya cukup besar. Panjang jantan dapat mencapai sekitar satu setengah meter, sementara betina umumnya lebih kecil. Kajian Matthew S. Luskin dan Alison Ke membedakan dua subspesies berdasarkan wilayah sebarannya. Sus barbatus oi dikaitkan dengan Sumatera, sedangkan Sus barbatus barbatus menghuni Kalimantan, Semenanjung Malaysia, serta sejumlah pulau di sekitarnya. Namun, batas sebaran kedua kelompok itu belum sepenuhnya jelas. Para peneliti menyebut babi berjanggut di Bangka dan sebagian Kepulauan Riau sulit dipastikan termasuk kelompok mana. Kemampuan satwa ini berenang di perairan terbuka membuat para peneliti menduga bahwa penyeberangan Selat Malaka mungkin pernah terjadi. Mereka juga menilai hilangnya hutan di kedua pesisir mengurangi kemungkinan penyeberangan tersebut. Di darat, babi berjanggut berpindah mengikuti musim buah. Satwa ini menghuni berbagai tipe hutan hujan tropis dan dapat dijumpai pula di hutan yang telah ditebang. Buah bukan satu-satunya makanan: babi berjanggut juga mencari biji, umbi, cacing, dan serangga di tanah. Pencarian pakan kadang membawanya masuk ke lahan pertanian. Kebiasaan berpindah itu memperlihatkan mengapa kondisi hutan di sepanjang jalur pergerakannya penting, terutama ketika sumber makanan di satu tempat mulai berkurang. Perjumpaan di ladang juga menjadi bagian dari hubungan warga dengan satwa ini. Dalam penelitian Nining Liswanti dan kolega di Malinau, masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/babi-berjanggut-penjelajah-hutan-yang-mengikuti-musim-buah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 08:47:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/05083311/2-Petugas-Stasiun-Reintroduksi-memberikan-buah-buahan-pakan-kepada-orangutan-yang-masih-berada-di-kandang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135966</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh, orangutan sumatera (Pongo abelii) yang pernah kehilangan kebebasannya, mendapat kesempatan hidup di alam liar. Mereka harus mencari makanan sendiri, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengenali sumber pakan, memilih tempat yang aman, hingga membangun sarang tidur. Tidak ada manusia yang menyiapkan makanan setiap hari. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/">Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh, orangutan sumatera (Pongo abelii) yang pernah kehilangan kebebasannya, mendapat kesempatan hidup di alam liar. Mereka harus mencari makanan sendiri, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengenali sumber pakan, memilih tempat yang aman, hingga membangun sarang tidur. Tidak ada manusia yang menyiapkan makanan setiap hari. Namun, bagi orangutan yang pernah dipelihara manusia, kembali menjadi satwa liar bukan perkara mudah. Ini yang dialami Bombom, orangutan jantan yang diselamatkan pada 2019 di Babahrot, Aceh Barat Daya. “Setelah menjalani rehabilitasi di Sumatera Utara, pada pertengahan 2026, Bombom dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho untuk menjalani pelatihan bertahap sebelum benar-benar dilepasliarkan,” kata Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, Jumat (25/9/26). Orangutan sumatera jantan duduk di kandang yang terbuka saat dilatih di Stasiun Reintroduksi Orangutan Jantho. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Proses tersebut meru[akan metode soft release, yaitu pendekatan pelepasliaran yang memberi kesempatan kepada orangutan untuk beradaptasi dengan lingkungan sebelum hidup sepenuhnya mandiri. Mengembalikan orangutan ke alam bukan pekerjaan yang selesai ketika satwa dipindahkan dari pusat rehabilitasi ke hutan. “Proses adaptasi orangutan bergantung tingkat kemandirian bertahan di alam liar.” Pengalaman tim menunjukkan, tidak semua orangutan langsung menjauh dari manusia setelah dilepasliarkan. Ada individu yang kembali ke stasiun. Beberapa individu, bahkan mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujar Hafid. Petugas Stasiun Reintroduksi Janho memberikan buah-buahan pakan kepada orangutan yang masih berada di kandang. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Citrakasih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/cagar-alam-jantho-dan-masa-depan-orangutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 04:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011222/Nikel-laut-Wawonii-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135910</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Perusahaan bukan kasih hidup, dia mau kasih mati.” Begitu kata Utete, perempuan Adat Bajo yang tinggal di Morombo Pantai, Sulawesi Tenggara (Sultra), gambarkan kehidupan warga setelah ada industri nikel di wilayahnya, dalam dokumenter pendek “Busy Surviving: Women on Indonesia’s Nickel Frontier” besutan Climate Rights International (CRI). Dia harus merasakan seabrek kesulitan setelah perusahaan nikel beroperasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/">Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Perusahaan bukan kasih hidup, dia mau kasih mati.” Begitu kata Utete, perempuan Adat Bajo yang tinggal di Morombo Pantai, Sulawesi Tenggara (Sultra), gambarkan kehidupan warga setelah ada industri nikel di wilayahnya, dalam dokumenter pendek “Busy Surviving: Women on Indonesia’s Nickel Frontier” besutan Climate Rights International (CRI). Dia harus merasakan seabrek kesulitan setelah perusahaan nikel beroperasi di sana. Memasang lebih banyak jaring dan melaut makin jauh, sementara tangkapan ikan pun menyusut. Jika biasa dalam satu malam dia sudah mendapat ikan yang banyak. Kini, dia harus berusaha ‘setengah mati’. Kesulitan itu dia rasakan setelah air laut berubah menjadi merah, tercampur limbah dari aktivitas tambang nikel di perbukitan, tepat di atas desanya. Kerugian itu hanya perusahaan ganti dengan sebatas ‘uang debu’ yang cair 90 hari sekali. Tak sebanding dengan kerugiannya. Dia pun harus beberapa kali demo untuk menagih haknya. Imbas air laut tercemar bukan hanya menyulitkan dia menangkap ikan untuk kebutuhan sehari-hari, tradisi Suku Bajo pun ikut terancam. Utete juga merupakan dukun beranak. Mempraktikkan ritus kelahiran khas masyarakat adat Bajo puluhan tahun lamanya. Ketika bayi lahir, masyarakat Adat Bajo melakukan ritual mencelupkan bayi ke laut. Praktik itu biasanya pada hari ke-3 setelah lahir dan saat bayi berusia 40 hari. Plasenta atau ari-ari bayi juga harus dihanyutkan ke laut sebagai bentuk penyatuan dengan alam. Ritual itu sudah tak bisa dia lakukan karena tak tega mencelupkan bayi di laut yang tercemar. “Bidan dulu belum ada, hanya kita-kita di dukun orang Bajo. Kita orang Bajo itu mi kekuatannya kita air asin,” ucapnya. Esti, perempuan yang tinggal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/05/nestapa-perempuan-terdampak-industri-nikel-di-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/#respond</comments>
					<pubDate>05 Nov 2026 02:10:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022140/Bintang-laut-mahkota-berduri-di-Kepulauan-Togean-Kabupaten-Tojo-Una-Una-Sulawesi-Tengah.-Foto_-Christopel-Paino-di-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135956</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya. Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/">Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya. Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, keberadaannya merupakan bagian dari ekosistem terumbu. Ketika populasinya melonjak, pemangsaan dapat meluas hingga menghabiskan sebagian besar karang hidup di lokasi terdampak. Neviaty P. Zamani, peneliti yang mengkaji kelimpahan bintang laut berduri di perairan Pulau Tunda, Banten, menyebut satu individu dapat memangsa karang seluas 5–6 meter persegi dalam setahun. Angka itu memberi gambaran mengapa perubahan jumlah satwa ini begitu berarti. Dalam kondisi normal, kepadatannya dapat berkisar sekitar 10 ekor per hektar, tetapi saat terjadi ledakan populasi jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor pada luasan yang sama. Di Pulau Tunda sendiri, penelitian tersebut menemukan kelimpahan yang masih berada dalam kisaran alami dan belum menjadi ancaman berarti bagi terumbu. Apa yang membuat jumlahnya melonjak? Neviaty menjelaskan tiga kemungkinan. Pertama, populasi bintang laut memang dapat naik turun secara alami. Kedua, berkurangnya hewan pemangsa dapat membuat lebih banyak bintang laut bertahan hidup. Ketiga, aktivitas manusia di darat dan pesisir dapat menambah ketersediaan makanan bagi larva di laut. Jika lebih banyak larva bertahan, lebih banyak pula yang berpeluang tumbuh menjadi pemangsa karang. Ketiganya merupakan penjelasan yang dibahas dalam kajian tersebut. Lonjakan populasi di suatu lokasi belum cukup untuk menentukan penyebabnya. Di Togean, pengelola kawasan telah mencoba menekan jumlah bintang laut di lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/mengapa-ribuan-bintang-laut-berduri-diangkat-dari-perairan-togean/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hujan Redakan Api Kalteng, Proses Hukum Karhutla Harus Tetap Jalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 22:50:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04223946/Krismes-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hujan sudah mengguyur Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlahan padam. Meski begitu, pegiat lingkungan ingatkan, meskipun api padam tetapi penegakan hukum  terhadap korporasi yang diduga terlibat karhutla harus tetap berjalan. BMKG mencatat, curah hujan cukup signifikan turut membasahi lahan gambut dan diikuti penurunan drastis titik panas. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/">Hujan Redakan Api Kalteng, Proses Hukum Karhutla Harus Tetap Jalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hujan sudah mengguyur Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlahan padam. Meski begitu, pegiat lingkungan ingatkan, meskipun api padam tetapi penegakan hukum  terhadap korporasi yang diduga terlibat karhutla harus tetap berjalan. BMKG mencatat, curah hujan cukup signifikan turut membasahi lahan gambut dan diikuti penurunan drastis titik panas. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) pada 28 Oktober 2026, tidak terdeteksi titik panas di Kalteng selama 12 jam terakhir, baik pada tingkat kepercayaan rendah, sedang, maupun tinggi. Agung Sesa, Manager Advokasi, Kajian dan Kampanye Walhi Kalimantan Tengah, mengatakan,  hujan turun dalam beberapa hari terakhir memang membantu meredakan kabut asap dan mengurangi ancaman kesehatan bagi masyarakat. Namun, katanya, kondisi itu tak boleh menjadi alasan untuk menghentikan penegakan hukum terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam karhutla. “Hujan memang membantu meredakan dampak karhutla, terutama kabut asap dan ancaman kesehatan bagi masyarakat. Tetapi, bukan berarti persoalannya selesai,” katanya kepada Mongabay Indonesia. Penegakan hukum terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam kebakaran harus tetap berjalan. Pemerintah, katanya, tak boleh berhenti pada pemadaman api, juga harus menelusuri akar persoalan dan memastikan perusahaan yang terbukti melanggar bertanggung jawab. Penegakan hukum terhadap pelaku karhutla harus tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu. Penegakan hukum, katanya,  tak boleh sekadar menjadi respons sesaat atau momentum menunjukkan seolah-olah pemerintah sudah bekerja. Aparat penegak hukum, katanya,  harus menelusuri dugaan keterlibatan korporasi, memastikan pertanggungjawaban hukum terhadap setiap pelaku. Juga, mendorong sanksi administratif hingga pencabutan perizinan bagi perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran. Aksi massa pada 19 Oktober di Palangka Raya, Kalteng, protes penanganan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/hujan-redakan-api-kalteng-proses-hukum-karhutla-harus-tetap-jalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>