Separuh tubuhnya kebiruan, separuh lainnya menyala jingga kemerahan. Pertemuan dua warna itu membuat ikan pelangi boeseman (Melanotaenia boesemani) mudah dikenali di antara ikan hias lainnya. Pola mencolok terutama terlihat pada jantan dewasa, sementara betina memiliki warna lebih sederhana dengan garis gelap membujur di tengah tubuh. Ukurannya biasanya kurang dari sepuluh sentimeter.
Meski kini dipelihara pecinta akuarium di berbagai negara, habitat alaminya terbatas di kawasan Danau Ayamaru dan sejumlah danau sekitarnya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
Jauh sebelum dikenal dalam perdagangan ikan hias internasional, masyarakat Maybrat telah mengenalnya sebagai sekiak.
Nama lokal itu tercatat pada label spesimen yang dikumpulkan Marinus Boeseman pada 1955. Gerald Allen kemudian mendeskripsikan ikan tersebut pada 1980 dan menyematkan nama boesemani sebagai penghormatan kepada Boeseman. Pada 1982, Allen bersama Heiko Bleher mengumpulkan spesimen hidup dari Ayamaru. Ikan-ikan itu kemudian dibawa untuk dikembangbiakkan di luar Papua. Keindahan warnanya membuka perjalanan panjang dari danau asal menuju akuarium di berbagai belahan dunia.
Namun, popularitas tersebut pernah membawa tekanan besar bagi populasi liar. Laporan pemerintah Australia pada 2023 mencatat penangkapan intensif di Ayamaru pada pertengahan 1980-an, dengan perkiraan hingga 60.000 ikan jantan diambil setiap bulan. Kini, sebagian besar pasokan perdagangan internasional berasal dari pembiakan komersial, sehingga kebutuhan menangkap ikan langsung dari alam berkurang. Meski demikian, keberadaan di akuarium tidak menggambarkan kondisi populasi asalnya.
Penelitian Hidayah dan kolega yang diterbitkan pada 2021 menyebut kelimpahan ikan pelangi boeseman di Danau Ayamaru sangat rendah atau sulit ditemukan.
Tekanan terhadap ikan ini juga berasal dari perubahan habitat. Penelitian tersebut menyoroti penangkapan berlebihan, masuknya ikan asing, serta pembukaan hutan di daerah tangkapan air. Sedimentasi dan penurunan volume air dapat mengganggu ruang hidup ikan yang sebarannya terbatas.
Danau Ayamaru sendiri merupakan ekosistem karst yang menerima aliran sejumlah sungai. Kondisi di daratan sekitarnya ikut menentukan keadaan perairan. Karena itu, menjaga ikan pelangi tidak cukup dilakukan dengan melindungi ikan di dalam danau, tetapi juga hutan dan aliran air yang menopang habitatnya.
Bagi masyarakat adat Maybrat, Ayamaru merupakan sumber penghidupan sekaligus bagian dari identitas budaya.
Studi Kambu dan kolega pada 2026 membahas praktik sasi, yakni larangan memanen sumber daya dalam jangka waktu tertentu, serta perlindungan kawasan keramat melalui aturan adat. Praktik tersebut memberi kesempatan bagi ekosistem dan populasi ikan untuk pulih. Pengetahuan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan danau bersama pemerintah dan pihak lain. Kelangsungan sekiak bergantung pada terjaganya perairan tempat ia berkembang biak, bukan hanya keberhasilan membiakkannya untuk pasar ikan hias.
Foto utama: Ikan pelangi boesemani merupakan endemik di Danau Ayamaru, Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Dok. Martin L. Salossa.