Bagi penguin afrika (Spheniscus demersus), mengganti bulu berarti menjalani masa puasa di darat. Selama proses itu, mereka tidak dapat berburu di laut dan harus mengandalkan cadangan energi dalam tubuh. Karena itulah, mendapatkan cukup makanan sebelum pergantian bulu menjadi penentu keselamatan. Namun, ketika sarden semakin sulit ditemukan, sebagian penguin memasuki fase tersebut tanpa bekal memadai.
Penelitian Richard Sherley dari Universitas Exeter, Inggris, bersama kolega memperkirakan sekitar 62.000 penguin afrika dewasa mati sepanjang 2004-2011 di wilayah yang mereka kaji, berkaitan dengan kelangkaan makanan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ostrich pada 2025 itu menyoroti hubungan antara ketersediaan mangsa dan kemampuan penguin melewati pergantian bulu tahunan. “Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelas Sherley.
Penurunan sarden terjadi di tengah tekanan penangkapan ikan serta perubahan kondisi lingkungan. Bagi penguin, persoalannya menjadi berlapis: makanan berkurang, sementara sumber daya yang tersisa juga dimanfaatkan armada perikanan. Tubuh yang kekurangan cadangan energi semakin sulit bertahan selama mereka harus menetap di daratan.
Penguin afrika (Spheniscus demersus) menghuni pesisir Namibia dan Afrika Selatan. Burung yang tidak dapat terbang ini mencari makan di laut dan kembali ke daratan untuk berkembang biak maupun berganti bulu.
Mangsanya mencakup sarden, ikan teri, serta hewan laut lain seperti cumi-cumi. Ketergantungan terhadap makanan di perairan sekitar membuat pengelolaan perikanan menjadi bagian penting perlindungannya.
Sherley menekankan perlunya mengurangi eksploitasi ketika biomassa sarden rendah, sehingga ikan dewasa memiliki kesempatan bereproduksi. Dalam penilaian konservasi yang dirujuk, penguin afrika telah masuk kategori Kritis atau Critically Endangered.
Adriani Sunuddin, ahli ekologi laut IPB University, menilai persoalan tersebut patut menjadi perhatian di luar Afrika. Indonesia memang bukan habitat alami penguin, tetapi sejumlah burung laut yang bermigrasi juga membutuhkan ikan sepanjang perjalanannya. Perairan tempat mereka mencari makan dapat berimpitan dengan lokasi penangkapan manusia.
“Walau sudah ada pengaturan, sumber makanan tetap terancam karena jalurnya dipakai manusia untuk menangkap ikan,” ujarnya. Perbandingan ini menunjukkan bahwa perlindungan burung laut perlu memperhatikan ketersediaan makanan, selain tempat singgah dan lokasi berkembang biak.
Ali Suman, peneliti perikanan BRIN, turut menekankan pentingnya pemantauan rutin agar pemanfaatan ikan tidak mengabaikan kebutuhan penguin. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sangat bergantung pada kemauan dan keberpihakan otoritas perikanan setempat.
Kasus penguin afrika memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan di darat dan perubahan di laut. Ketika ikan kecil berkurang, dampaknya dapat muncul sebagai kematian burung yang sedang berganti bulu di pantai. Menjaga mangsa tetap tersedia memberi penguin kesempatan mengumpulkan energi, melewati masa puasa, dan kembali berburu setelah bulu barunya siap.