Bagi orangutan yang lama dipelihara manusia, hutan bukan tempat yang langsung terasa akrab. Mereka harus mengenali buah yang bisa dimakan, berpindah melalui pepohonan, dan membangun sarang untuk tidur. Semua itu perlu dilakukan tanpa bergantung pada manusia.
Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, proses tersebut dijalani Bombom, orangutan sumatera jantan yang diselamatkan di Babahrot, Aceh Barat Daya, pada 2019. Setelah rehabilitasi di Sumatera Utara, ia dipindahkan ke Jantho pada pertengahan 2026 untuk berlatih sebelum dilepasliarkan.
Tim menggunakan pendekatan soft release, yang memberi kesempatan kepada orangutan beradaptasi secara bertahap sebelum hidup mandiri.
Menurut Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, kemampuan setiap individu berbeda. Ada yang masih kembali ke stasiun atau mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujarnya.
Pengalaman itu membuat pemantauan setelah pelepasliaran penting. Memindahkan orangutan ke hutan belum berarti ketergantungannya pada manusia langsung berakhir.
Kesiapan pelepasliaran mencakup kesehatan, berat badan, usia, keterampilan, dan perilaku. Citrakasih M. Nente dari Yayasan Ekosistem Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme menjelaskan bahwa orangutan juga membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi lingkungan hutan. Individu yang belum siap melanjutkan adaptasi di hutan pra-pelepasliaran. Jantho dipilih berdasarkan survei karena memiliki sumber air, tumbuhan pakan seperti Ficus, serta keterhubungan dengan hutan Ulu Masen.
Empat orangutan pertama dilepasliarkan pada 28 Maret 2011. Hingga September 2026, jumlah pelepasliaran tercatat 186 individu, terdiri atas 146 orangutan hasil rehabilitasi dan 40 orangutan liar yang ditranslokasi karena habitat asalnya rusak.
Pada 2017, tim menemukan Marconi, salah satu orangutan yang dilepasliarkan pada 2011, membawa bayi jantan yang kemudian dinamai Masen. Berbeda dari induknya, Masen tumbuh di hutan tanpa pernah menjalani kehidupan dalam kandang.
Hingga awal Oktober 2026, tim telah memantau 12 kelahiran. Pemantauan pada 2023 juga memperkirakan probabilitas kelangsungan hidup orangutan setelah sepuluh tahun pelepasliaran lebih dari 75%. Temuan-temuan tersebut memberi harapan bagi pembentukan populasi di Jantho, meskipun keberlanjutannya tetap membutuhkan perlindungan habitat dan pemantauan jangka panjang.
Namun, menambah jumlah orangutan yang dilepasliarkan bukan tujuan utama konservasi. Menurut Citra, melindungi habitat asal, membangun koridor, dan mendorong koeksistensi manusia-orangutan tetap lebih diutamakan. Hafid pun berharap semakin sedikit orangutan yang harus diselamatkan akibat pemeliharaan maupun perdagangan.
Hutan Jantho juga menopang kehidupan masyarakat melalui sistem tata air, termasuk bagian hulu Krueng Aceh. Menjaganya berarti mempertahankan tempat orangutan mencari makan dan membesarkan anak, sekaligus melindungi ekosistem yang menyediakan kebutuhan manusia.