<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=della-syahni&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/della-syahni/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 18 Sep 2026 08:07:07 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Ketika Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan di Laut dan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 08:07:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Haq]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/25072825/Proses-evakuasi-nelayan-yang-jatuh-dari-perahu-nelayannya-saat-dihantam-gelombang-pada-3-Desember-2025-foto-Basarna--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133798</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sembilan jam Siprianus Antonius mengambang dan bertahan di sebuah sekoci. Dia merupakan satu dari 243 penumpang KMP Virgo Transport 8 yang kandas di Laut Jawa saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/26) dini hari. Dalam penjelasannya, Siprianus, saat peristiwa itu terjadi, banyak penumpang masih tidur di kamar. Bahkan, hingga kapal itu miring, tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/">Ketika Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan di Laut dan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sembilan jam Siprianus Antonius mengambang dan bertahan di sebuah sekoci. Dia merupakan satu dari 243 penumpang KMP Virgo Transport 8 yang kandas di Laut Jawa saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/26) dini hari. Dalam penjelasannya, Siprianus, saat peristiwa itu terjadi, banyak penumpang masih tidur di kamar. Bahkan, hingga kapal itu miring, tak ada alarm pemberitahuan dan tak ada pelampung. Dia dan tiga orang lain, beruntung melihat dan melompat ke satu  sekoci. “Kalau saja awak kapal tekan alarm kami bisa tahu. Ini tidak ada informasi sama sekali. (Diduga) banyak orang yang meninggal dalam (kamar). Banyak yang masih tidur di kamar. Ada yang minta tolong, tapi kami juga sedang menyelamatkan diri. Ombak besar di tengah laut lepas,” kata Siprianus dalam video yang  BBC Indonesia rilis.  “Kami tidak ada pelampung. Kami tiga orang. Tapi di belakang ada sekoci. Kami lompat ke sekoci, jadi aman.” Rinto Arahab bertahan di atas lambung kapal yang  terbalik bersama 11 orang lain. Di jam-jam mencekam itu, dia hanya bisa berharap hingga ada kapal tongkang batubara menyelamatkan mereka, empat jam kemudian. Rinto mengisahkan tatkala kejadian itu sedang tidur. Teriakan penumpang lain membangunkannya. “Oleng-oleng. Kapal oleng,” kata Rinto mengulang teriakan, seperti dilansir Banjarmasinpost “Cuaca buruk. Ombak sekitar dua meter lebih. Semua panik. Kapal miring. Pintu evakuasi sudah kemasukan air.” Kuat dugaan, kapal menghadapi cuaca buruk. Bahkan sejak awal pelayaran telah melaporkan kepada perusahaan bahwa cuaca yang dihadapi tidak baik. Beberapa jam kemudian, kapal melaporkan mengalami perubahan center of gravity atau kemiringan yang mengindikasikan kondisi darurat dan membutuhkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 03:45:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22040122/PALA_FAKFAK_EKO-RUSDIANTO_6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=133826</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/">Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal disebut hengi, memiliki ciri berbeda dari pala Banda. Buahnya cenderung lonjong dan berparuh, dengan aroma daging buah yang khas. Tanaman ini mulai produktif pada usia sekitar enam tahun. Kebun yang dipanen hari ini banyak diwariskan oleh generasi terdahulu, sehingga keberadaannya menjadi penghubung antara leluhur, masyarakat sekarang, dan generasi mendatang. Kedekatan tersebut terlihat dalam seluruh proses pengelolaannya. Pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pohon pala dirawat tanpa pupuk kimia, sementara tanaman betina tidak boleh ditebang karena dipandang sebagai personifikasi perempuan yang memberi penghidupan. Masyarakat juga mengenal sasi, yaitu larangan memanen dalam periode tertentu untuk menjaga kualitas pala. Waktu panen ditentukan melalui tanda-tanda alam, termasuk pasang surut air laut dan buah yang mulai jatuh. Panen umumnya dilakukan melalui masuhi atau gotong royong. Namun, kebutuhan ekonomi, perubahan pasar, dan praktik panen terburu-buru dapat mengancam pengetahuan lokal tersebut. Lalu, bagaimana menjaga pala Fakfak sebagai komoditas sekaligus identitas adat? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Greg R. Daeng, Manajer Legal dan Tata Kelola Yayasan INOBU. Percakapan ini menelusuri sejarah, praktik budidaya, tradisi panen, tantangan pasar, serta pentingnya kolaborasi antara masyarakat adat, petani, pemerintah, pendamping, dan sektor swasta untuk menjaga pala Fakfak beserta nilai budaya yang menyertainya. Diskusi ini mengingatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 02:07:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18020300/Leopardus-tilcayo-new-wildcat-960x640-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133820</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil, atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/">Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil, atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap terjadi pada kelompok kucing liar berukuran kecil, yang individunya di alam sulit dipantau dan spesimen museumnya terbatas. Salah satu kasus tersebut baru saja terungkap di Bolivia. Seekor kucing kecil bertotol yang selama ini dikenal warga setempat dengan nama tilcayo resmi dinyatakan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Penemuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026, menjadi spesies kucing liar hidup pertama yang berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan dalam lebih dari satu abad terakhir, sejak kucing pampas dideskripsikan pada 1923. Dari Kucing Peliharaan hingga Analisis Genetik Kisah penemuan ini bermula pada 2016, ketika seorang warga di kawasan hutan Yungas, Bolivia, menemukan seekor anak kucing di dekat jalan hutan. Ia sempat mengira hewan itu adalah kucing kampung dan memeliharanya di rumah selama sekitar satu tahun. Namun perilakunya yang tidak lazim untuk kucing rumahan membuat pemiliknya akhirnya menyerahkan hewan tersebut ke Suaka Margasatwa Senda Verde di lereng subtropis Pegunungan Andes. Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi asal Bolivia dan National Geographic Explorer yang saat itu menjadi sukarelawan di suaka tersebut, tertarik dengan penampilan kucing itu. Wajahnya kecil dan menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya dipenuhi totol menyerupai macan tutul. Nogales-Ascarrunz sempat mengira kucing itu adalah anggota&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Tobani Tiku, Pelestari Kain Kayu dari Kulawi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/cerita-tobani-tiku-pelestari-kain-kayu-dari-kulawi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/cerita-tobani-tiku-pelestari-kain-kayu-dari-kulawi/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 01:16:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18010540/kulit-kayu-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133786</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, Tobani Tiku sibuk memukul-mukul kulit kayu beringin untuk jadi kumu nunu (kain) di belakang rumahnya.  Membuat kain kulit kayu, bagi perempuan 86 tahun ini menjadi kecintaan, sudah mendarah daging. Kumu nunu adalah kain terbuat dari kulit kayu pohon beringin. Ia merupakan pakaian adat masyarakat Kulawi, Sulawesi Tengah. Sehari-hari, Tobani dari pagi sampai sore [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/cerita-tobani-tiku-pelestari-kain-kayu-dari-kulawi/">Cerita Tobani Tiku, Pelestari Kain Kayu dari Kulawi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, Tobani Tiku sibuk memukul-mukul kulit kayu beringin untuk jadi kumu nunu (kain) di belakang rumahnya.  Membuat kain kulit kayu, bagi perempuan 86 tahun ini menjadi kecintaan, sudah mendarah daging. Kumu nunu adalah kain terbuat dari kulit kayu pohon beringin. Ia merupakan pakaian adat masyarakat Kulawi, Sulawesi Tengah. Sehari-hari, Tobani dari pagi sampai sore dia habiskan membuat kain kayu. Dia hanya istirahat saat makan dan shalat. Tobani merasa lelah dan pinggang terasa sakit kalau hanya saja seharian tanpa beraktivitas. Tobani adalah perempuan satu-satunya yang masih membuat kain kayu ini. Dia tinggal bersama tiga anaknya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Sigi, Sulawesi Tengah. Anak laki-lakinya, Syafrudin, yang selalu mengambil ranting-ranting pohon beringin setiap bulan purnama. Tobani cerita, mulai membuat kumu nunu sejak remaja, belajar turun temurun dari ibu dan neneknya. Secara tradisi, pembuat kumu nunu harus perempuan, kalau laki-laki yang buat kumu nunu, dipercaya ususnya akan turun. “Kalau orang tua bilang (laki-laki) tidak boleh, usus turun,” kata Tobani sembari tertawa, beberapa waktu lalu. Ada banyak pohon beringin di sekitar rumah Tobani. Dua jenis beringin yang biasa dia buat kain yaitu beringin merah (nunu lero) dan beringin putih (nunu bula). Namun, Tobani lebih banyak pakai nunu lero. Kulit kayu beringin. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Ambil ranting kayu di waktu dan posisi tertentu Ketika pengambilan ranting beringin pun tak boleh sembarangan, harus saat bulan purnama dan ranting harus yang menghadap langit atau tumbuh mendatar. Tak boleh ranting yang menghadap ke bawah. “Itu kan tidak boleh yang cabangnya arah ke bawah, harus merata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/cerita-tobani-tiku-pelestari-kain-kayu-dari-kulawi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/cerita-tobani-tiku-pelestari-kain-kayu-dari-kulawi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara “Klik” yang Mengungkap Spesies Katak Baru di Gunung Merapi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/suara-klik-yang-mengungkap-spesies-katak-baru-di-gunung-merapi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/suara-klik-yang-mengungkap-spesies-katak-baru-di-gunung-merapi/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 01:03:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/20043957/Candrageni2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133776</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya hanya sepanjang kira-kira dua kuku jempol orang dewasa. Kulitnya halus, warnanya relatif seragam, dan suaranya terdengar seperti bunyi “klik” singkat bernada tinggi. Katak mungil penghuni serasah di lereng Gunung Merapi ini merupakan spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni. Spesies tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti meninjau ulang taksonomi katak Genus Philautus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/suara-klik-yang-mengungkap-spesies-katak-baru-di-gunung-merapi/">Suara “Klik” yang Mengungkap Spesies Katak Baru di Gunung Merapi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya hanya sepanjang kira-kira dua kuku jempol orang dewasa. Kulitnya halus, warnanya relatif seragam, dan suaranya terdengar seperti bunyi “klik” singkat bernada tinggi. Katak mungil penghuni serasah di lereng Gunung Merapi ini merupakan spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni. Spesies tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti meninjau ulang taksonomi katak Genus Philautus di Pulau Jawa. Tim yang berasal dari BRIN, sejumlah universitas, dan Herpetological Society of Indonesia menggunakan pendekatan integratif dengan memadukan ciri morfologi, rekaman suara, serta analisis molekuler. Penelitian lapangan dilakukan di Jawa Tengah pada 2017–2025, meliputi Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Pegunungan Menoreh. Para peneliti mengumpulkan 32 individu yang sebelumnya dianggap sebagai Philautus aurifasciatus. Namun, analisis filogenetik dan morfologi menunjukkan bahwa temuan itu terdiri atas P. aurifasciatus, P. jacobsoni, dan satu takson yang belum pernah dideskripsikan dari Gunung Merapi. Rekaman suara kemudian memperkuat perbedaannya. Panggilan kawin P. candrageni berdurasi pendek, memiliki frekuensi relatif tinggi, dan biasanya hanya terdiri atas satu nada. Interval antar panggilannya juga singkat sehingga menghasilkan tempo cepat. Karakter tersebut berbeda dari suara P. aurifasciatus dan P. pallidipes. Penemuan ini menambah jumlah anggota Philautus di Jawa menjadi empat spesies. Tiga lainnya adalah P. jacobsoni dari Gunung Ungaran, P. pallidipes dari Gunung Gede Pangrango, dan P. aurifasciatus dari Gunung Tangkuban. Dua di antaranya, P. pallidipes dan P. jacobsoni, telah lama tidak ditemukan kembali. Bahkan, P. jacobsoni dikhawatirkan telah punah di alam liar. Nama “candrageni” berasal dari nama kuno Gunung Merapi dalam manuskrip Jawa klasik Serat Pustaka Raja Purwa. Nama tersebut diperkirakan tersusun dari kata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/suara-klik-yang-mengungkap-spesies-katak-baru-di-gunung-merapi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/suara-klik-yang-mengungkap-spesies-katak-baru-di-gunung-merapi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Deforestasi Indonesia Terus Menggila?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/17/mengapa-deforestasi-indonesia-terus-menggila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/17/mengapa-deforestasi-indonesia-terus-menggila/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 15:30:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003704/Gambar-udara-yang-menunjukkan-deforestasi-hutan-alam-yang-signifikan-di-dalam-konsesi-kayu-pulp-PT-Mayawana-Persada-Agustus-2023-Sumber-Greenpeace-Indonesia-768x453.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133772</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan alam di Indonesia makin terpuruk. Laporan Forest Watch Indonesia (FWI), hingga 2025, luas hutan alam Indonesia kini tersisa 88,43 juta hektar atau sekitar 47% dari total daratan. Ia menyusut 1,06 juta hektar dibanding tahun 2024. Kalimantan dan Sumatera merupakan region dengan hutan alam yang mengalami fragmentasi berat, sebesar 1,55 juta hektar dan 928.760 hektar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/mengapa-deforestasi-indonesia-terus-menggila/">Mengapa Deforestasi Indonesia Terus Menggila?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan alam di Indonesia makin terpuruk. Laporan Forest Watch Indonesia (FWI), hingga 2025, luas hutan alam Indonesia kini tersisa 88,43 juta hektar atau sekitar 47% dari total daratan. Ia menyusut 1,06 juta hektar dibanding tahun 2024. Kalimantan dan Sumatera merupakan region dengan hutan alam yang mengalami fragmentasi berat, sebesar 1,55 juta hektar dan 928.760 hektar. Papua jadi region dengan hutan alam utuh terluas, 25,46 juta hektar, atau lebih 80% sisa hutan alam Indonesia pada  2025. Sayangnya, sekitar 2,45 juta hektar hutan alam Papua mulai terfragmentasi, pada level moderat. Fragmentasi hutan dan kehilangan habitat memiliki kaitan erat dengan kenaikan deforestasi di suatu wilayah. Kalimantan adalah region dengan angka deforestasi terluas periode 2024–2025 (352.070 hektar) lalu Sumatera (269.250 hektar) dan Papua (169.020 hektar). Penyusutan ini terjadi seiring laju deforestasi yang melonjak 37% periode 2024–2025. Hampir semua region mengalami peningkatan deforestasi. Kalimantan lagi-lagi menjadi region yang mengalami peningkatan deforestasi terbesar, pada 2023–2024 total deforestasi  227.490 hektar jadi 352.070 hektar periode 2024–2025. Ogy Dwi Aulia, Kepala Divisi Riset dan Data Informasi FWI, dalam paparannya menegaskan, kehilangan hutan alam saat ini tidak lagi hanya karena ekspansi konvensional. Melainkan, bertransformasi ke dalam modus-modus baru yang mengatasnamakan transisi energi dan proyek strategis nasional (PSN). Misal, proyek pengembangan pangan skala besar (food estate) 2,3 juta hektar di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Sekitar 34,5% kawasan food estate Merauke masih hutan alam. Pada periode 2024–2025, kawasan ini deforestasi sekitar 17.900 hektar. &#8220;Selain mengancam hutan alam, kawasan food estate Merauke juga mengancam 11.000 hektar lahan gambut dan  keberlangsungan hidup dari 159&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/mengapa-deforestasi-indonesia-terus-menggila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/17/mengapa-deforestasi-indonesia-terus-menggila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sepasang Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Mendolo, Tanda Ekosistem Hutan Terjaga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/17/sepasang-macan-tutul-jawa-terekam-kamera-di-mendolo-tanda-ekosistem-hutan-terjaga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/17/sepasang-macan-tutul-jawa-terekam-kamera-di-mendolo-tanda-ekosistem-hutan-terjaga/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 10:16:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17101119/Macan-tutul-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133789</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Menjaga Predator Terakhir Pulau Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa sebenarnya yang ingin ditemukan ketika seorang petani memasang kamera jebak di tengah hutan? Pemburu? Pembalakan liar? Atau jejak satwa yang selama ini hanya diketahui dari cerita? Bagi Rohim (40), petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo, jawabannya datang setelah kamera jebak yang dipasang sekitar sebulan merekam sosok yang selama ini didengarnya dari cerita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/sepasang-macan-tutul-jawa-terekam-kamera-di-mendolo-tanda-ekosistem-hutan-terjaga/">Sepasang Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Mendolo, Tanda Ekosistem Hutan Terjaga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa sebenarnya yang ingin ditemukan ketika seorang petani memasang kamera jebak di tengah hutan? Pemburu? Pembalakan liar? Atau jejak satwa yang selama ini hanya diketahui dari cerita? Bagi Rohim (40), petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo, jawabannya datang setelah kamera jebak yang dipasang sekitar sebulan merekam sosok yang selama ini didengarnya dari cerita orang tua. Macan tutul jawa, jawabannya. Temuan tersebut sekaligus menjawab penasaran warga terhadap keberadaan Panthera pardus melas di hutan Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebelumnya, petani hanya menemukan cakaran dan kotoran satwa endemik Jawa itu. Namun, dugaan tetaplah dugaan tanpa bukti visual. “Banyak laporan petani terkait cakaran macan tutul,” terangnya, Kamis (10/9/26). Bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan, tanda-tanda seperti cakaran bukan sekadar jejak. Melainkan, petunjuk sang penghuni hutan. Rohim mengaku belum pernah melihat langsung macan tutul. Orang tuanya, pada masa lalu masih melihat macan tutul saat masuk hutan. Kini, tidak ada lagi pengalaman serupa. Macan tutul kerap hadir melalui cerita, jejak, dan kamera jebak. Macan tutul merupakan satwa dilindungi yang hanya hidup di Pulau Jawa. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Pasang kamera jebak Rohim memasang sendiri satu kamera jebak di titik yang dianggap bakal didatangi kucing besar dilindungi itu. Selama menunggu, tidak ada kepastian apa yang akan ditemukan. Bisa saja kamera hanya merekam satwa lain, manusia yang melintas, atau bahkan tidak mendapatkan gambar apa pun. Namun, saat kamera diambil dan hasil rekamannya diperiksa, jawaban itu muncul. Sepasang macan tutul terekam di hutan Mendolo. “Begitu kamera saya periksa, ada gambar macan.” Bagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/sepasang-macan-tutul-jawa-terekam-kamera-di-mendolo-tanda-ekosistem-hutan-terjaga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/17/sepasang-macan-tutul-jawa-terekam-kamera-di-mendolo-tanda-ekosistem-hutan-terjaga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Air Makin Langka, Warga Kalimantan Selatan Berhadapan dengan Karhutla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-makin-langka-warga-kalimantan-selatan-berhadapan-dengan-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-makin-langka-warga-kalimantan-selatan-berhadapan-dengan-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 10:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/12110953/IMG_2138-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133600</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan Indoesia, dan kalimantan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekeringan parah melanda Kalimantan Selatan sepanjang Agustus 2026. Di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, persediaan air semakin terbatas sehingga harus dibagi antara kebutuhan warga dan upaya pemadaman api. Dampaknya dirasakan Bambang, warga Banjarbaru, ketika api mengepung kebun seluas 1,2 hektar miliknya pada 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan yang dipersiapkan sebagai bekal pensiun hangus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-makin-langka-warga-kalimantan-selatan-berhadapan-dengan-karhutla/">Air Makin Langka, Warga Kalimantan Selatan Berhadapan dengan Karhutla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekeringan parah melanda Kalimantan Selatan sepanjang Agustus 2026. Di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, persediaan air semakin terbatas sehingga harus dibagi antara kebutuhan warga dan upaya pemadaman api. Dampaknya dirasakan Bambang, warga Banjarbaru, ketika api mengepung kebun seluas 1,2 hektar miliknya pada 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan yang dipersiapkan sebagai bekal pensiun hangus terbakar. Ia telah mengeluarkan sekitar Rp3 juta untuk membeli mesin pompa dan selang, tetapi air di kanal dekat kebunnya hampir mengering. Dua helikopter water bombing yang beroperasi di sekitar lokasi juga tidak menjangkau lahannya. “Padahal tanaman ini untuk bekal masa pensiun, tetapi sudah habis terbakar.” BMKG menyebut sejumlah daerah di Kalimantan Selatan tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari. Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus, Tanah Laut berstatus Awas, sedangkan Banjarbaru dan sembilan kabupaten lainnya berada pada kategori Siaga. Kabupaten Balangan masuk kategori Waspada. Kondisi El Niño turut memperburuk situasi hidrologis sekaligus meningkatkan risiko kebakaran lahan. Keterbatasan air juga menghambat penanganan karhutla. Pemerintah memberi perhatian khusus pada Waduk Riam Kanan karena memiliki sejumlah fungsi strategis. Selain menjadi sumber air untuk pemadaman, waduk ini menopang PLTA berkapasitas sekitar 30 megawatt, irigasi, perikanan, serta pasokan air bagi PDAM. Pengambilan air untuk penanganan kebakaran dikhawatirkan menambah tekanan terhadap kebutuhan masyarakat. PT Air Minum Intan Banjar mencatat perubahan besar dalam konsumsi pelanggan setelah banyak sumur warga mengering. Jumlah pelanggan meningkat dari sekitar 117.000 pada Juli menjadi 122.000 pada pertengahan Agustus. Konsumsi bulanan rata-rata turut naik dari 12 meter kubik menjadi sekitar 13-14 meter kubik per pelanggan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-makin-langka-warga-kalimantan-selatan-berhadapan-dengan-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-makin-langka-warga-kalimantan-selatan-berhadapan-dengan-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukti Tertua Manusia Mengisap Pinang Ada di Sulawesi, Dilakukan 25 Ribu Tahun Silam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/17/bukti-tertua-manusia-mengisap-pinang-ada-di-sulawesi-dilakukan-25-ribu-tahun-silam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/17/bukti-tertua-manusia-mengisap-pinang-ada-di-sulawesi-dilakukan-25-ribu-tahun-silam/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 07:35:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17071924/Gigi-manusia-purba-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133778</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika manusia belum mengenal cocok tanam, untuk memenuhi kebutuhan pangannya mereka harus berburu dan memungut makanan langsung dari alam. Di tengah kehidupan seperti itu, ada manusia yang mengambil sebuah biji dari pohon pinang, memasukkannya ke mulut, lalu mengisapnya berulang. Belum ada tembakau, rokok, juga minuman fermentasi seperti yang mudah ditemukan di peradaban modern. Tiga benda [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/bukti-tertua-manusia-mengisap-pinang-ada-di-sulawesi-dilakukan-25-ribu-tahun-silam/">Bukti Tertua Manusia Mengisap Pinang Ada di Sulawesi, Dilakukan 25 Ribu Tahun Silam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika manusia belum mengenal cocok tanam, untuk memenuhi kebutuhan pangannya mereka harus berburu dan memungut makanan langsung dari alam. Di tengah kehidupan seperti itu, ada manusia yang mengambil sebuah biji dari pohon pinang, memasukkannya ke mulut, lalu mengisapnya berulang. Belum ada tembakau, rokok, juga minuman fermentasi seperti yang mudah ditemukan di peradaban modern. Tiga benda itu berfungsi sebagai zat rekreasi dan sosial karena memberikan rasa rileks, meningkatkan fokus, dan menurunkan stres. Pada manusia prasejarah, mereka menemukannya pada buah pinang. Rupanya ada zat di biji pinang yang juga dapat memengaruhi otak (psikoaktif). Satu teori umum menyatakan bahwa tradisi menggunakan obat psikoaktif muncul setelah manusia mulai bertani selama periode neolitikum, mengutip ScienceDaily. “Namun, teori ini tidak menjelaskan kemungkinan bahwa penggunaan obat-obatan atau zat yang memengaruhi pikiran sudah dilakukan manusia sejak zaman sangat kuno, dan mungkin menjadi awal dari penggunaan zat psikoaktif yang paling umum kita gunakan saat ini,” kata Adam Brumm, guru besar dari Griffith University, Australia. Penelitian yang dia lakukan bersama timnya menunjukkan manusia di Sulawesi sudah terbiasa mengisap buah pinang sekitar 25 ribu tahun lalu. Pemanfaatan zat psikoaktif ini bahkan jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya, yaitu sekitar 3.500 tahun lalu. “Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Brumm, mewakili rekan-rekannya dalam artikel yang dimuat dalam jurnal Science Advances, Rabu (9/9/26). Judul artikel itu “Betel nut sucking&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/bukti-tertua-manusia-mengisap-pinang-ada-di-sulawesi-dilakukan-25-ribu-tahun-silam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/17/bukti-tertua-manusia-mengisap-pinang-ada-di-sulawesi-dilakukan-25-ribu-tahun-silam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 04:42:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/12/22070406/Dusun-sagu-di-Kampung-Yoboi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133380</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanaman sagu di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menjulang tinggi. Kampung ini terkenal sebagai desa wisata dan punya hutan sagu terluas di Kabupaten Jayapura mencapai 1.600 hektar. Sayangnya, kearifan lokal masyarakat dalam mengelola hutan sagu kian terancam. Hampir seluruh wilayah Kampung Yoboi berada di atas Danau Sentani, pengunjung perlu berjalan di jembatan kayu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/">Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanaman sagu di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menjulang tinggi. Kampung ini terkenal sebagai desa wisata dan punya hutan sagu terluas di Kabupaten Jayapura mencapai 1.600 hektar. Sayangnya, kearifan lokal masyarakat dalam mengelola hutan sagu kian terancam. Hampir seluruh wilayah Kampung Yoboi berada di atas Danau Sentani, pengunjung perlu berjalan di jembatan kayu dan sepanjang jalan banyak tanaman sagu. Sebagian batang sagu siap panen, ada juga masih kecil. Sejak September 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meresmikan Kampung Yoboi menjadi salah satu desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia. Kampung Yoboi menawarkan keindahan alam seni budaya hingga wisata edukasi. Salah satu daya tariknya adalah hutan sagu dan kearifan lokal masyarakat dalam mengelolanya. Tiap hari, Yohanes Tokoro, warga Kampung Yoboi menghabiskan waktu di hutan sagu. Lelaki 64 tahun ini merawat, membersihkan pelepah sagu, menanam dan memanen sagu. Dia mengolah sagu secara tradisional, biasanya mereka lakukan bersama keluarganya. Mulai dari menebang sagu yang sudah tua dengan kapak atau parang. Lalu, menguliti bagian luarnya dan batang dalamnya mereka pukul-pukul dengan alat seperti kapak yang terbuat dari kayu atau alat oyo hingga hancur menjadi serbuk kasar. Setelahnya, mereka meremas serbuk kasar dengan campuran air besih di atas wadah penyaring, berupa pelepah daun sagu atau kain tipis. Hingga sari patinya larut bersama air dan terpisah dari ampasnya. Lalu mendiamkan air hasil perasan itu selama beberapa jam atau hari sampai patinya mengendap. Endapan inilah yang akan dijemur hingga kering dan menjadi tepung sagu. Kepala Suku Marga Tokoro, Hans Tokoro sedang mengelola sagu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Khawatir Daya Rusak, Warga Tolak Proyek Panas Bumi Ungaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/17/khawatir-daya-rusak-warga-tolak-proyek-panas-bumi-ungaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/17/khawatir-daya-rusak-warga-tolak-proyek-panas-bumi-ungaran/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 03:11:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16150248/WhatsApp-Image-2026-09-16-at-07.54.21-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133756</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan semarang]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketenangan warga di sekitar Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah (Jateng) terusik menyusul Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) akan  melanjutkan kembali rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ungaran. Bulan lalu, KESDM terbitkan surat keputusan bernomor: 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026,  dan  mendapat penolakan warga. Melalui suratnya itu, kementerian menugaskan kepada PLN untuk eksplorasi dan pengusahaan panas bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/khawatir-daya-rusak-warga-tolak-proyek-panas-bumi-ungaran/">Khawatir Daya Rusak, Warga Tolak Proyek Panas Bumi Ungaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketenangan warga di sekitar Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah (Jateng) terusik menyusul Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) akan  melanjutkan kembali rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ungaran. Bulan lalu, KESDM terbitkan surat keputusan bernomor: 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026,  dan  mendapat penolakan warga. Melalui suratnya itu, kementerian menugaskan kepada PLN untuk eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di Gunung Ungaran. Rahman, Koordinator Aliansi Semarang Menggugat (ASM) menyebut, penolakan warga atas rencana PLTP Ungaran sudah berlangsung sejak 2008. Ketika itu, KESDM baru saja tetapkan Gunung Ungaran sebagai wilayah kerja panas bumi (WKP) sebagaimana Keputusan Menteri ESDM No. 1789 K/33/MEM/2007. Warga Kecamatan Bawen, Semarang ini bilang, penolakan atas rencana geothermal itu karena dampak operasionalnya yang merusak lingkungan. “Kami sudah sejahtera dengan bertani, kalau geothermal masuk maka sumber air kami berkurang dan tercemar yang akibatnya pertanian akan terganggu,” katanya awal September. Aktivitas panas bumi di Dieng. Foto: A. Asnawi/Mongabay Indonesia. Penolakan ini pernah Rahman dan warga lainnya sampaikan pada dua gubernur Jawa Tengah (Jateng) dalam periode berbeda. Pertama ke Bibit Waluyo sekitar 2010, kemudian Ganjar Pranowo pada 2019. “Nanti kami sampaikan lagi ke gubernur yang sekarang,” ujarnya. Selain mengancam mata air yang jadi tumpuan pertanian dan sumber penghidupan, katanya, warga menolak karena potensi bencana dan racun dari proyek ini. Dia khawatir,  pengeboran proyek geothermal akan memicu aktivitas sesar aktif yang itu berarti meningkatkan risiko gempa. Sementara risiko racun, katanya, berasal dari gas yang bocor ke permukaan tanah. “Tentu ini sangat mengganggu ketentraman kami, hidup warga jadi lebih rentan padahal selama ini sudah aman dan nyaman.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/17/khawatir-daya-rusak-warga-tolak-proyek-panas-bumi-ungaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/17/khawatir-daya-rusak-warga-tolak-proyek-panas-bumi-ungaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekspor Monyet Ekor Panjang, Bagaimana Dampak Populasinya di Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekspor-monyet-ekor-panjang-bagaimana-dampak-populasinya-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekspor-monyet-ekor-panjang-bagaimana-dampak-populasinya-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>17 Sep 2026 00:30:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26153234/Monyet-Ekor-Panjang-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133613</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Persoalannya tidak hanya terjadi saat monyet digunakan di laboratorium, tetapi bermula sejak penangkapan, pemindahan, penangkaran, hingga pengiriman. Jakarta Animal Aid Network (JAAN) secara tegas menolak rencana tersebut. Menurut Benvika, Co-Founder sekaligus National Director [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekspor-monyet-ekor-panjang-bagaimana-dampak-populasinya-di-alam/">Ekspor Monyet Ekor Panjang, Bagaimana Dampak Populasinya di Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Persoalannya tidak hanya terjadi saat monyet digunakan di laboratorium, tetapi bermula sejak penangkapan, pemindahan, penangkaran, hingga pengiriman. Jakarta Animal Aid Network (JAAN) secara tegas menolak rencana tersebut. Menurut Benvika, Co-Founder sekaligus National Director JAAN, pemanfaatan primata ini berpotensi menghadirkan rangkaian penderitaan panjang. “Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” katanya. Pemerintah menggunakan skema penangkaran untuk memastikan monyet yang diekspor tidak berasal dari alam. Namun, kemampuan penangkaran menghasilkan individu dalam jumlah besar masih dipertanyakan. Monyet ekor panjang merupakan satwa sosial dengan struktur kelompok yang kompleks dan wilayah jelajah luas. Ketika ditempatkan dalam kandang sempit dalam waktu lama, mereka rentan mengalami stres dan gangguan perilaku. Masalah lain adalah keterlacakan asal satwa. Meningkatnya permintaan dapat menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menangkap monyet liar, termasuk dari kawasan konservasi. Karena itu, pengawasan harus mampu memastikan seluruh individu benar-benar berasal dari penangkaran terstandar. Anggapan bahwa monyet ekor panjang berpopulasi berlebih juga perlu dikaji hati-hati. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menjelaskan bahwa penelitian pada 2024–2026 di sejumlah wilayah Sumatera mencatat kepadatan sekitar 5–9 individu per hektare. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan populasinya aman. Jumlah keseluruhan yang besar dapat tersusun atas kelompok-kelompok kecil yang rentan. Struktur kelompok, jumlah individu, kondisi habitat, serta kemampuan berkembang biak perlu diperhitungkan dalam menilai kesehatan populasi. Istilah “hama” juga tidak selalu mencerminkan jumlah satwa. Monyet dapat memasuki permukiman karena habitatnya menyusut atau tidak lagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekspor-monyet-ekor-panjang-bagaimana-dampak-populasinya-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekspor-monyet-ekor-panjang-bagaimana-dampak-populasinya-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Punya Hutan Mangrove Seluas 3,4 Juta Hektar, Indonesia Berpacu Wujudkan World Mangrove Center</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/punya-hutan-mangrove-seluas-34-juta-hektar-indonesia-berpacu-wujudkan-world-mangrove-center/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/punya-hutan-mangrove-seluas-34-juta-hektar-indonesia-berpacu-wujudkan-world-mangrove-center/#respond</comments>
					<pubDate>16 Sep 2026 10:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07132806/Tampilan-udara-hutan-mangrove-dan-sungai-di-pesisir-timur-Aceh-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133616</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia kembali menghidupkan rencana membangun World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Gagasan yang sempat mandek ini dinilai strategis karena Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar mangrove atau hampir seperempat luas mangrove dunia. Modal tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam perlindungan ekosistem pesisir. Mangrove bukan sekadar pepohonan di garis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/punya-hutan-mangrove-seluas-34-juta-hektar-indonesia-berpacu-wujudkan-world-mangrove-center/">Punya Hutan Mangrove Seluas 3,4 Juta Hektar, Indonesia Berpacu Wujudkan World Mangrove Center</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia kembali menghidupkan rencana membangun World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Gagasan yang sempat mandek ini dinilai strategis karena Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar mangrove atau hampir seperempat luas mangrove dunia. Modal tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam perlindungan ekosistem pesisir. Mangrove bukan sekadar pepohonan di garis pantai. Ekosistem ini berfungsi meredam abrasi dan badai, menyimpan karbon biru, menyediakan habitat bagi berbagai spesies, serta menopang kehidupan masyarakat pesisir. Menurut Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, pengelolaan mangrove mencakup tiga dimensi yang saling berkaitan: ekologi, sosial-ekonomi, dan iklim global. Namun, mangrove menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan, pencemaran, krisis iklim, serta kapasitas kelembagaan yang belum merata. “Tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian,” katanya. Perjalanan menuju WMC dimulai sejak konferensi mangrove di Bali pada 2017. Indonesia kemudian membawa gagasan tersebut ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga menghasilkan Resolusi Nomor 12 Tahun 2019 dalam UNEA-4 di Nairobi, Kenya. Resolusi itu menjadi panduan bagi negara-negara dunia, terutama pemilik mangrove, dalam mengelola ekosistemnya. Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Nasional Putera Parthama menjelaskan, WMC tidak dirancang sebagai lembaga besar dengan kompleks perkantoran megah. WMC akan menjadi simpul jaringan yang menghubungkan pemerintah, peneliti, pengusaha, organisasi, dan masyarakat dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup riset bersama, pertukaran praktik terbaik, penguatan kapasitas, serta pengembangan standar pengukuran dan verifikasi karbon biru. Keberlanjutan pendanaan menjadi salah satu kunci. Ahli kehutanan Agus Justianto mengusulkan skema blended finance yang menggabungkan anggaran&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/punya-hutan-mangrove-seluas-34-juta-hektar-indonesia-berpacu-wujudkan-world-mangrove-center/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/punya-hutan-mangrove-seluas-34-juta-hektar-indonesia-berpacu-wujudkan-world-mangrove-center/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/16/terjadi-lonjakan-sakit-pernapasan-dampak-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/16/terjadi-lonjakan-sakit-pernapasan-dampak-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Sep 2026 09:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121411/warga-Kalsel-saat-kabut-asap-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133708</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA) terus meningkat sering kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum kunjung padam di Kalimantan. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), misal, Dinas Kesehatan mencatat total 72.431 kasus ISPA. Janang Firman Palanungkai, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng, bilang, Kota Palangkaraya paling terdampak ISPA dengan 16.166 kasus, Kotawaringin Barat (12.467), Kotawaringin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/terjadi-lonjakan-sakit-pernapasan-dampak-asap-kebakaran-hutan/">Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA) terus meningkat sering kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum kunjung padam di Kalimantan. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), misal, Dinas Kesehatan mencatat total 72.431 kasus ISPA. Janang Firman Palanungkai, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng, bilang, Kota Palangkaraya paling terdampak ISPA dengan 16.166 kasus, Kotawaringin Barat (12.467), Kotawaringin Timur (7.982), Kapuas (7.910), dan Sukamara 557 kasus. “Kami sampaikan  dari 5 wilayah tersebut memang secara posisi lahan gambutnya cukup masif dan kebakarannya juga masif,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (9/9/26). Saat ini,  masyarakat membutuhkan bantuan rumah aman asap dan masker untuk menghalau kabut asap. Bantuan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah korban terdampak. “Kami sudah mendistribusikan bantuan masker dan oksigen ke 29 desa. Kami juga menyediakan dua rumah aman asap, tapi itu belum maksimal.” Secara khusus, dia kritik penanganan karhutla pemerintah yang kurang maksimal. Bukan membaik, bencana ini malah memburuk pasca penetapan status tanggap darurat karhutla, 31 Agustus. Langkah pemerintah daerah (pemda) mengerahkan aparatur sipil negara (ASN) untuk memadamkan titik api jadi persoalan baru. Karena, belum tentu mereka lengkap dengan alat pelindung dan terlatih memadamkan api. Kabut asap di Kota Pontianak, Kalbar, makin pekat, pada 12 Septem,September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia Bahaya asap karhutla, jutaan orang terdampak Fachrial Kautsar, Kepala Advokasi dan Kampanye Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI), mengatakan, partikulat dari karhutla berdampak 10 kali lebih berbahaya bagi paru-paru anak ketimbang polusi biasa. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), periode Juni–Agustus lebih 50.891 kasus ISPA terjadi di tujuh provinsi. Kelompok rentan seperti ibu hamil,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/terjadi-lonjakan-sakit-pernapasan-dampak-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/16/terjadi-lonjakan-sakit-pernapasan-dampak-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/16/jongot-dan-paye-pertahanan-terakhir-masyarakat-tempirai-hadapi-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/16/jongot-dan-paye-pertahanan-terakhir-masyarakat-tempirai-hadapi-kebakaran-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Sep 2026 04:29:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16042208/pemadaman-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133710</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Mereka yang Berjuang untuk Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Hutan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumanti (30) melaju dengan sepeda listriknya, menerobos kebun karet. Dia pulang ke dusun. Menemui keluarganya, sebab tidak satu pun yang mengangkat telepon saat dihubungi. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar. “Api (kebakaran) sudah mendekati kebun kami,” katanya kepada seorang warga di perjalanan. Setengah jam kemudian, dua lelaki dan dua perempuan menggunakan sepeda motor yang membawa dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/jongot-dan-paye-pertahanan-terakhir-masyarakat-tempirai-hadapi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumanti (30) melaju dengan sepeda listriknya, menerobos kebun karet. Dia pulang ke dusun. Menemui keluarganya, sebab tidak satu pun yang mengangkat telepon saat dihubungi. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar. “Api (kebakaran) sudah mendekati kebun kami,” katanya kepada seorang warga di perjalanan. Setengah jam kemudian, dua lelaki dan dua perempuan menggunakan sepeda motor yang membawa dua jerigen air 35 liter, serta satu alat semprot pupuk 35 liter, melaju ke kebun keluarga Sumanti. Di belakangnya, menyusul Sumanti yang membawa satu jerigen air 35 liter dengan sepeda listriknya. Sabtu (5/9/26) di tengah terik matahari yang disertai angin, Sumanti bersama empat keluarganya yang juga menetap di Desa Tempirai, berusaha memadamkan kebakaran di hutan semak dan bambu yang berbatasan dengan kebun karet dan jongot (agroforestry) mereka. Mereka terlihat tidak pernah lelah. Berulang kali mengambil air di paye yang sebagian sudah mengering. Paye adalah potongan sungai atau rawa kecil di sekitar kebun. Usaha mereka selama dua jam hanya menghambat laju kebakaran. Bara api masih tersebar. Sore, datang tiga lelaki membawa sebuah pompa air 15 PK dan belasan meter selang air. Mereka turut memadamkan api. Tiga jam kemudian api padam. Sumanti tersenyum. “Api berasal dari arah lahan transmigran di belakang perkebunan kami,” kata Sumanti. Pompa air itu milik seorang warga. Guna mengoperasikan pompa air tersebut, sejumlah warga yang berkebun di Talang Turunan Gajah, patungan uang untuk membeli bahan bakar minyak. “Tidak ada tim karhutla di sini. Warga gotong royong kalau ada kebakaran di kebun,” kata Sadikin (46), pemilik pompa air. Seorang warga tengah memadamkan api di Talang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/jongot-dan-paye-pertahanan-terakhir-masyarakat-tempirai-hadapi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/16/jongot-dan-paye-pertahanan-terakhir-masyarakat-tempirai-hadapi-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: “Living Economy” dan Ekstraktivisme Tambang Mineral Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/16/opini-living-economy-dan-ekstraktivisme-tambang-mineral-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/16/opini-living-economy-dan-ekstraktivisme-tambang-mineral-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>16 Sep 2026 02:06:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Karim*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16020019/Kabaena-cemaran-nikel.jpeg-Yudin-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133692</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekonomi berbasis ekstraktif masih mendominasi perekonomian Indonesia. Antara lain,  kini heboh pertambangan mineral kritis (nikel, emas dan timah) di pesisir dan pulau kecil. Salah satu yang mencuat kasus pertambangan nikel di Kepulauan Raja Ampat, pulau-pulau yang kerap tergambar sebagai potongan surga yang jatuh ke bumi. Ekonomi ekstraktif membuat negeri ini terjebak dalam kubangan problem struktural [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/opini-living-economy-dan-ekstraktivisme-tambang-mineral-kritis/">Opini: “Living Economy” dan Ekstraktivisme Tambang Mineral Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekonomi berbasis ekstraktif masih mendominasi perekonomian Indonesia. Antara lain,  kini heboh pertambangan mineral kritis (nikel, emas dan timah) di pesisir dan pulau kecil. Salah satu yang mencuat kasus pertambangan nikel di Kepulauan Raja Ampat, pulau-pulau yang kerap tergambar sebagai potongan surga yang jatuh ke bumi. Ekonomi ekstraktif membuat negeri ini terjebak dalam kubangan problem struktural tak berujung. Kemiskinan struktural, kesenjangan, krisis ekologi, deplesi biodiversitas, dan pencemaran merampas sumber kehidupan rakyat. Petani kehilangan lahan pertanian subur karena ekspansi pertambangan mineral kritis. Nelayan mengalami kemerosotan hasil tangkapan karena buangan limbah tambang yang menghilangkan fishing ground ikan. Limbah tambang timah yang dibuang ke sungai mencemari air dan mendangkalkan Sungai Lenggang di Belitung. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Masyarakat adat kehilangan hak atas lahan dan sumber daya etnobiologinya imbas ekspansi perkebunan monokultur seperti sawit dan pengembangan pangan skala besar (food estate). Petani sekitar hutan kehilangan mata pencaharian dari hasil hutan non-kayu (madu,  dan rotan). Imbas, ekosistem penopang metabolisme alam dan habitat fauna hilang. Tak ada lagi ruang hidup fauna (orang hutan, monyet dan lain-lain) di daratan. Ekosistem terumbu karang memutih imbas pencemaran logam berat  (Cu, Pb, Hg) dan tailing. Hutan mangrove alami deforestasi, padahal sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Pendek kata, deplesi biodiversitas dan bencana ekologi tak terhindar. Apa yang bisa diharapkan? Tampak jelas kerukan nikel di daratan Pulau Kawei, Raja Ampat, menghancurkan hutan dan selanjutnya, bisa cemari perairan sungai sampai ke laut. Foto: Greenpeace Ekonomi ekstraktif Secara teoritis, bukan sekadar aktivitas mengeruk kekayaan alam (menambang) melainkan  sistem dan hubungan kekuasaan, pertama, mengutamakan ekspor bahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/16/opini-living-economy-dan-ekstraktivisme-tambang-mineral-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/16/opini-living-economy-dan-ekstraktivisme-tambang-mineral-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Hanya Cerdas, Lumba-lumba Juga Benteng Ekosistem Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-hanya-cerdas-lumba-lumba-juga-benteng-ekosistem-sehatnya-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-hanya-cerdas-lumba-lumba-juga-benteng-ekosistem-sehatnya-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>16 Sep 2026 01:16:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015515/Gambar-2.-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133601</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemunculan lumba-lumba di permukaan laut bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran mamalia cerdas ini dapat menjadi tanda bahwa perairan masih menyediakan makanan dan habitat yang mendukung kehidupan. Jika mereka semakin jarang terlihat, ada kemungkinan ekosistem laut sedang menghadapi masalah. Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut, termasuk 17 jenis lumba-lumba. Letak perairannya yang menghubungkan Samudra Pasifik dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-hanya-cerdas-lumba-lumba-juga-benteng-ekosistem-sehatnya-laut-indonesia/">Bukan Hanya Cerdas, Lumba-lumba Juga Benteng Ekosistem Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemunculan lumba-lumba di permukaan laut bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran mamalia cerdas ini dapat menjadi tanda bahwa perairan masih menyediakan makanan dan habitat yang mendukung kehidupan. Jika mereka semakin jarang terlihat, ada kemungkinan ekosistem laut sedang menghadapi masalah. Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut, termasuk 17 jenis lumba-lumba. Letak perairannya yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia membuat Indonesia menjadi habitat, tempat singgah, sekaligus jalur migrasi penting. Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu merupakan beberapa kawasan yang kerap dilalui lumba-lumba. “Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” kata Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University. Jenis yang sering dijumpai di Indonesia antara lain lumba-lumba hidung botol, pemintal, tutul, dan Risso. Sebagian hanya melintas, sedangkan lainnya memilih menetap untuk sementara atau dalam waktu lama. Namun, perjalanan mereka dipenuhi ancaman. Lumba-lumba dapat terjerat alat tangkap sebagai tangkapan sampingan atau bycatch. Mereka juga menghadapi sampah plastik, pencemaran laut, kerusakan habitat pesisir, perburuan, serta kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan kemampuan ekolokasi. Pariwisata yang tidak terkendali juga dapat menambah tekanan. Krisis iklim memperbesar ancaman tersebut. Peningkatan suhu laut dapat mengubah ekosistem dan mempengaruhi ketersediaan makanan. Gangguan-gangguan ini diduga turut meningkatkan risiko lumba-lumba terdampar dan mati. Ironisnya, data populasi lumba-lumba di Indonesia masih sangat terbatas. Mira Sekar, pakar mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengatakan penelitian populasi baru banyak dilakukan terhadap pesut mahakam. “Penelitian sangat mahal, butuh anggaran besar dan keberpihakan lebih besar terhadap spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-hanya-cerdas-lumba-lumba-juga-benteng-ekosistem-sehatnya-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-hanya-cerdas-lumba-lumba-juga-benteng-ekosistem-sehatnya-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ritual Adat Belian, Ucap Syukur Warga Muara Kate Jemput Keadilan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ritual-adat-belian-ucap-syukur-warga-muara-kate-jemput-keadilan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ritual-adat-belian-ucap-syukur-warga-muara-kate-jemput-keadilan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 22:57:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhibar Sobary Ardan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15225319/Muata-Kate-11-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133679</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pukulan gong bergetar rendah menyusul tabuhan gendang dan gamelan bertaut irama. Aroma wangi kayu agatis yang terbakar, merebak dari tungku ke udara malam di Dusun Muara Kate, di Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, penghujung Juli lalu. Tak ada deru truk melintas malam itu. Yang ada hanyalah puluhan pasang mata warga menyaksikan ritual adat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/ritual-adat-belian-ucap-syukur-warga-muara-kate-jemput-keadilan/">Ritual Adat Belian, Ucap Syukur Warga Muara Kate Jemput Keadilan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pukulan gong bergetar rendah menyusul tabuhan gendang dan gamelan bertaut irama. Aroma wangi kayu agatis yang terbakar, merebak dari tungku ke udara malam di Dusun Muara Kate, di Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, penghujung Juli lalu. Tak ada deru truk melintas malam itu. Yang ada hanyalah puluhan pasang mata warga menyaksikan ritual adat Belian Bawo, upacara adat Dayak Deah untuk memanjatkan doa dan berkomunikasi dengan leluhur. Warga ada yang berdiri, duduk di kursi maupun bersila beralaskan beton jalan. Di bawah pendar lampu, empat pria bertelanjang dada menari mengelilingi struktur janur kuning yang terangkai. Gerak langkah empat pria itu mengikuti irama musik.  Rohani, salah satunya. Pria 56 tahun ini seorang mulung, pemimpin ritual adat belian. Bersama tiga mulung lain, dia memimpin ritual untuk berkomunikasi kepada Sangiang atau roh/leluhur Masyarakat Adat Dayak Deah. Dalam keheningan sesaat, Rohani memanggil Misran Toni. Dari kerumunan, Misran Toni berjalan mendekati Rohani. Idah, istri Misran Toni, mengikuti setelah itu bersama tiga anaknya. Rohani kembali memanjatkan doa. Dia lalu mengoleskan minyak ke kening Misran Toni, Idah dan ketiga anaknya. Warga menyebutnya itu lio sagan, minyak yang sudah ada mantra atau doa. “Tujuannya tolak bala, sekalian pelas (bersih-bersih) kampung, mengusir roh-roh yang jahat,” kata Rohani. Tiga mulung kembali menari mengikuti irama yang bertempo cepat. Sedang Rohani berjalan berkeliling menembus kerumunan warga. Mulut tak berhenti komat-kamit memanjatkan doa. Jemarinya terus mengoleskan minyak tolak bala ke setiap kening warga yang hadir. Subuh kian dekat. Prosesi belian yang berlangsung selama tiga hari pun selesai. Satu per satu warga beranjak pulang.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/ritual-adat-belian-ucap-syukur-warga-muara-kate-jemput-keadilan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ritual-adat-belian-ucap-syukur-warga-muara-kate-jemput-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Rapuh Gua dan Karst</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 13:53:17 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044738/IMG_9953-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=133656</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Rapuh Gua dan Karst dan Krisis]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/">Jejak Rapuh Gua dan Karst</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling terhubung, menjadikan perlindungan ekosistem karst kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan hidup kita. The post Jejak Rapuh Gua dan Karst appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Fitriani Mengubah Duka &#8220;For Gajah Rahman&#8221; Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15075222/Ani-pakai-atribut-gajah-saat-Bhayangkara-Run-2025.-Foto-Dokumen-pribadi-708x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133582</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, sumatera, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo. Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/">Kisah Fitriani Mengubah Duka &#8220;For Gajah Rahman&#8221; Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo. Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan. “Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya. Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa. Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database &amp; Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman. Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut. Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>