Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo.
Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan.
“Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya.
Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa.
Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database & Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman.
Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut.
Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga menghubungi aktor Chicco Jerikho, yang pernah bertemu Rahman. Bersama Chicco, Ani mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau untuk mendorong penyelidikan.
Upayanya berlanjut ketika Kapolda Riau berganti. Ani rutin menyebut akun Kapolda Irjen Pol Herry Heryawan di Instagram. Ia bahkan mengikuti Riau Bhayangkara Run sejauh 10 kilometer dengan kostum gajah setelah berlatih selama dua bulan. Aksi tersebut dilakukan untuk membawa kasus Rahman langsung ke ruang publik.
Setelah mengajukan audiensi, Ani akhirnya bertemu Kapolda Riau pada Agustus 2025. Kepolisian berjanji mengupayakan penyelidikan ulang, tetapi hingga dua tahun lebih setelah kematian Rahman, pelakunya belum terungkap.
Kasus ini mencerminkan lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan satwa di Riau. Ani mencatat 167 gajah mati sepanjang 2004–2025, sebagian besar akibat racun, tetapi hanya tiga kasus perburuan yang sampai ke pengadilan.
Bagi Ani, perjuangan untuk Rahman telah berkembang menjadi seruan melindungi seluruh gajah sumatera. Persoalannya tidak berhenti pada racun dan perburuan, tetapi juga mencakup penyempitan habitat, kekurangan pakan, dan ancaman penyakit. Menjaga ingatan tentang Rahman berarti memastikan kematiannya tidak menjadi sekadar angka dalam daftar panjang kehilangan gajah di Riau.
Foto utama: Ani pakai atribut gajah saat Bhayangkara Run 2025. Foto: Dokumen pribadi Ani.